Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
035 - Peringkat 9 Vs Level 3


__ADS_3

"Tentu," jawab Rena sambil mengangguk pelan.


"Buronan? Jadi Rena seorang buronan?" tanya Arya yang bingung.


"Kalau kau tahu baguslah, jadi kita kesampingkan hal itu dulu dan mari kita bekerjasama untuk memberi pelajaran kepada agmar yang satu ini,"


"Baiklah," balas Rena singkat.


"Hei! Kalian belum menjawab pertanyaanku!" ucap Arya kesal.


"Tenanglah anak muda, ini bukan saatnya untuk menjawab pertanyaanmu, jadi simpan saja untuk nanti."


Kanami dan Rena mengarahkan senjata mereka ke depan siap untuk menyerang, tetapi Arya malah mendengus kesal karena pertanyaannya diabaikan.


Gadis agmar itu berjalan semakin mendekat dan akhirnya berhenti di jarak sekitar 20 meter dari posisi mereka bertiga.


"Jadi … sekarang tiga lawan satu?" tanya gadis itu.


"Kenapa? Kau takut?" tanya Kanami balik berusaha mengintimidasinya.


"Takut? Buat apa aku harus takut pada kalian?" 


"Yaa … karena kami akan mengalahkanmu dan menjadikanmu sebagai kelinci percobaan lagi di Divisi 11 hahahaha …!!" tawa Kanami dengan keras.


Gadis itu mengepalkan kedua tangannya karena geram, lalu menatap tajam dengan senyum lebar yang mengerikan ke arah Kanami.


"Teruslah sombong kalian para Demon hunter. Tapi cobalah untuk mengatasi ini,"


"Hah? Mengatasi apa?" tanya Kanami.


"Aktifkan penghalang!" 


Seketika energi gelap terpancar keluar dari gadis agmar itu yang perlahan membentuk sebuah kubah raksasa yang mengurung mereka semua dan memisahkan area dalam dengan area luar.


Pohon-pohon yang rimbun dan rumput-rumput yang hijau mulai dipenuhi oleh benang-benang putih yang membentang ke mana-mana seperti tak membiarkan mereka pergi dari posisi mereka berdiri. 


"Bagaimana?"


"Apanya? Kau pikir aku takut hanya karena kau bisa menggunakan jurus itu, hah? Ini bukan kali pertama aku melihat seekor agmar bisa menggunakannya, aku sudah melihat sampai ribuan jenis penghalang saat perang Demon hunter melawan agmar sampai-sampai rasanya aku mau muntah setiap kali mengingatnya," jawab Kanami dengan berlagak tenang dan sombong.


Gadis agmar itu menyipitkan kedua matanya ke arah Kanami karena tak yakin dengan ucapannya. Bahkan Rena yang berdiri di sampingnya pun sampai terkejut dan menanyakan kebenarannya dengan cara berbisik.

__ADS_1


"Hei, memangnya yang kau katakan itu ben-"


"Tentu saja tidak. Sebenarnya ini pertama kalinya aku melihat ada agmar menggunakan penghalang. Lagi pula, mana mungkin aku bisa hidup lebih dari 400 tahun? Itu mustahil!" potong Kanami cepat.


"Apa?! Tapi tadi kau bilang …," 


"Itu hanya gertakan, itu diperlukan untuk  mengintimidasi lawanmu agar dia mewaspadaimu dan tidak meremehkanmu. Ini adalah pelajaran, jadi ingat itu Rena," 


"Tapi bukannya bagus jika dia malah meremehkanmu? Karena jika dia meremehkanmu maka kau akan memiliki peluang menang yang lebih besar," ujar Arya.


"Lalalalala …!! Tidak dengar tidak dengar lalala …!!" ucap Kanami yang tak memperdulikan pendapat Arya.


Gadis agmar itu mulai tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak.


"Dasar Demon hunter pembohong! Aku tahu ucapanmu itu bohong!"


"Hah?! Apa katamu?" teriak Kanami yang merasa tersinggung.


"Mungkin yang selama ini kau lihat itu adalah penghalang palsu, karena para penyihir sekarang telah berhasil meniru teknik penghalang kami meskipun tidak sehebat milik kami yang asli tentunya.


Lagi pula, perang yang kau maksud itu terjadi sekitar 400 tahun yang lalu. Jika kau ingin berbohong sebaiknya lain kali belajarlah dulu," jelas gadis agmar itu.


"Haa … kenapa sekarang dia yang malah mengintimidasi? Sial! Jika dilihat dari kondisi di sekitar, rasanya hampir tidak ada kesempatan untuk menang. 


Jika ingin kabur pun setidaknya harus ada yang menjadi pengalih perhatian, kira-kira … siapa di antara mereka berdua yang cocok ya?" batin Kanami sambil melirik ke arah Rena dan Arya.


"Hei Rena, anak muda, maafkan aku karena mungkin ini terdengar egois. Tapi aku mohon, tolong biarkan aku melawan gadis agmar itu seorang diri," pinta Kanami.


"Apa maksudmu? Apa kau mau mengulur waktu dan menyuruh kami untuk kabur? Dengar ya, jika dugaanku benar maka aku tidak akan pernah mau meninggalkanmu, titik!" balas Rena yang tak setuju.


Kanami yang mendengarnya merasa tersentuh sekaligus terharu, dan dia kemudian menoleh ke arah Rena.


"Kau sudah membantuku dan merawatku selama aku berada di Divisi 7. Jika kau harus bertarung sampai mati, maka aku tak akan meninggalkanmu!" ucap Rena lagi.


"Terima kasih sudah mencemaskanku, tapi sebenarnya bukan itu maksudku," 


"Eh? Jadi?"


"Aku hanya ingin melawannya seorang diri karena jika aku berhasil maka aku akan dipromosikan ke peringkat yang lebih tinggi. Jadi, tolong jangan ke mana-mana dan saksikanlah pertarunganku dengan baik karena kau akan menjadi saksi kemenanganku ini, hah!" jelas Kanami dengan penuh semangat dan percaya diri.


Seketika wajah Rena berubah menjadi merah padam karena dirinya salah paham hingga membuatnya malu dan Kanami melihat wajah malunya sambil tersenyum karena menurutnya wajah Rena sekarang terlihat sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Hei …! Apa kalian sudah siap menemui ajal kalian?" tanya si gadis agmar.


"Tentu saja belum, tapi aku minta maaf karena telah membuatmu menunggu lama, tapi dalam kesempatan kali ini aku sendiri yang akan mengalahkanmu," ucap Kanami sambil berjalan beberapa langkah ke depan Rena dan Arya.


"Dasar sombong! Apa kau yakin bisa mengalahkanku sendirian, hah?!"


"Ya, sudah pasti, 'Orang yang percaya diri adalah pemenang', itulah motoku." 


Kanami kembali berjalan ke depan dan mulai mengambil posisi tempurnya sambil memutar-mutar tombaknya beberapa kali. Pandangannya tajam ke depan ke arah gadis agmar itu dengan posisi yang siap menerjang ke arahnya kapan pun dia mau.


"Hei agmar! Aku tidak tahu apa kau punya nama atau tidak selain kode G-34 yang diberikan Divisi 11, jika kau punya tolong beritahu aku,"


"Untuk apa aku memberitahumu?" 


"Kau tahu? Orang-orang baru akan bertarung serius tanpa ragu jika mereka tidak penasaran lagi terhadap lawan mereka, dan sekarang aku sangat penasaran dengan namamu,"


"Heh! Menarik juga, namaku Vera, dan sekarang siapa namamu?" 


"Vera ya? Nama yang bagus, aku berani bertaruh kalau nama itu bukan pemberian dari orang tuamu hahahaha …!!" tawa Kanami setelah mengoloknya.


"Sudahlah! Sekarang cepat katakan siapa namamu!"


"Maaf, tapi sayangnya aku tak akan memberitahumu,"


"Kenapa?" 


"Karena …."


Wuuush …!!


"Mata tombakku akan membunuhmu sebelum kau mengingat siapa namaku!" jawab Kanami sambil melesat menerjang dengan cepat ke arah Vera.


Kanami mengayunkan tombaknya hendak membelah kepala Vera menjadi dua bagian. Namun, tiba-tiba muncul tiga helai benang yang menghalanginya begitu Vera menarik sehelai benang yang ada di dekatnya.


Begitu mata tombak milik Kanami mengenai ketiga helai benang tersebut, tak ada satu pun dari benang-benang tersebut yang putus, karena itu gerakan Kanami pun menjadi berhenti begitu saja.


"Sial! Kenapa benang-benang ini tak bisa putus?" batin Kanami.


Kanami yang tidak percaya dengan apa yang terjadi mencoba untuk menekan mata tombaknya sekuat tenaga berusaha untuk memotong benang-benang tersebut. Tetapi usahanya itu sia-sia dan benang-benang itu tetap tidak mau terpotong.


"Ada apa? Di mana kesombongan yang tadi kau banggakan? Bagaimana bisa benang-benang seperti ini saja tidak bisa kau potong?" sindir Vera sambil tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2