
"Hiyaa …!!"
Buuk …!!
Di tengah gelapnya malam dan dikelilingi oleh beberapa agmar level satu yang menonton, Rian bertarung seorang diri melawan agmar level dua yang berwujud manusia setengah rusa setinggi tiga meter.
Duuk!
Tanduk panjang agmar tersebut memukul tubuh Rian hingga terpental ke belakang sejauh beberapa meter dan membuatnya harus menerima luka lecet di beberapa bagian tubuhnya.
"Ha … ha … ha … ternyata sesulit ini jika aku melawan agmar level dua seorang diri, tapi akan kutunjukkan pada Arya kalau aku bisa membantunya!" gumam Rian.
Groooooaaaarrr …!!!
Saat luka-lukanya kembali pulih, Rian pun berlari ke arah agmar tersebut. Agmar tersebut menyerangnya dengan tangannya, tetapi dengan cepat Rian melompat dan menjadikan tangannya tersebut sebagai jalan menuju bagian atas tubuhnya.
Rian kembali melompat dan kemudian menusuk matanya dengan sebelah tangannya hingga membuat darah berwarna biru kehitaman menyembur keluar.
"Rasakan ini!"
Rian menusukkan tangannya yang satunya lagi dan mulai membelah kepalanya menjadi dua bagian. Agmar tersebut pun mati, bersamaan dengan Rian yang jatuh ke tanah, dan jasad serta semua darahnya berubah menjadi asap hitam berisi energi gelap yang kemudian lenyap tanpa sisa.
"Apa lihat-lihat, hah?!" ucap Rian kepada sekumpulan agmar level satu yang berkumpul dan menyaksikan pertarungannya tadi.
"Hei tuyul sialan! Kuntilanak sialan! Kuyang sialan! Cepat kemari dan lawan aku, sekarang!" tantang Rian.
Bukannya maju, agmar-agmar level satu tersebut malah mundur dan pergi menjauhinya.
"Hei! Mau ke mana kalian?!"
Drrrtt …!
Rian hendak mengejar agmar-agmar tersebut, namun dia mengurungkan niatnya karena tiba-tiba ponselnya bergetar karena ada pesan masuk dari Andhika. Rian segera membuka pesan tersebut dan mulai membacanya.
"Halo Rian, urusanku dan Torak dengan pasukan revolusi yang kami pimpin sudah selesai. Seharusnya kami sekarang sudah pulang, tapi aku membaca pesanmu tiga hari yang lalu.
"Jadi, kami memutuskan untuk pergi menyelidiki hubungan antara teman kalian yang bernama 'Bella' dengan para penyihir seperti yang kau katakan salam pesan.
"Aku memang belum mengatakan apapun tentang kelompok Penyihir, tetapi berhati-hati dengan kelompok tersebut. Sekilas mereka memang mirip dengan para Demon hunter, tapi sebenarnya mereka adalah sebuah organisasi yang akan menjadi musuh kalian dalam memenangkan ramalan 200,000 tahun yang lalu."
__ADS_1
*****
Keesokan harinya, matahari bersinar cerah dan membawa hari yang baru bagi semua orang. Saat ini, jam istirahat sedang berlangsung di SMA Gagak, salah satu SMA swasta populer di kota Bandung.
Sejak awal bel istirahat berbunyi, Nanda sudah sibuk mencari seseorang yang ingin ditemuinya. Dia sudah mencarinya ke kantin, atap gedung sekolah, dan juga ke kelasnya. Namun, dia tetap saja masih tidak bisa ditemukan.
"Rian! Apa kau melihat Arya?" tanya Nanda ketika berpapasan dengan Rian di koridor.
"Arya? Kau cari saja sendiri," jawabnya acuh tak acuh.
Nanda merasa kesal dan terus menggerutu melihat Rian yang melewatinya sambil menjawab seperti acuh tak acuh terhadap temannya tersebut.
Nanda terus berkeliling ke seluruh bagian sekolahnya sendirian, hingga pada akhirnya dia pun berhasil menemukan Arya yang sedang berada di depan pintu ruangan kepsek.
"Arya!" panggil Nanda sambil berlari mendekat ke arahnya.
"Nanda?"
Arya memalingkan pandangannya ke arah Nanda dengan penuh tanda tanya. Nanda berhenti tepat di depan Arya dan mengambil napas untuk sesaat.
"Arya, ayo kita laporkan kejadian kemarin! masih ada waktu sebelum kau dituduh olehnya," ajak Nanda.
"Terlambat, pak kepsek sudah memanggilku duluan," ucapnya.
"Apa?! Jadi kau kesini karena dia memanggilmu?!"
"Iya,"
"Kalau begitu ayo! Aku akan ikut dan akan bantu bicara!" ucap Nanda sambil menarik tangan Arya dan meraih gagang pintu. Namun, Arya segera menghentikannya.
"Sudahlah Nanda, ini tak ada hubungannya denganmu. Ini urusanku, aku tidak mau melibatkanmu atau siapa pun lagi dalam masalahku,"
"Tapi kau adalah temanku! Aku tak akan membiarkanmu dituduh lagi!"
Nanda berusaha menarik gagang pintu ke ruangan kepsek, tapi lagi-lagi tindakannya tersebut digagalkan oleh Arya.
"Sudahlah! Jangan membuat dirimu ikut terlibat! Jika kau sampai ikut terseret dalam masalahku, mukaku mau kutaruh di mana lagi?"
Nanda tersentak mendengar kata-kata itu, tak pernah terlintas dalam pikirannya tentang nasib Arya selanjutnya jika saja hal itu terjadi.
__ADS_1
"Maaf," ucap Arya sambil berjalan masuk ke ruangan kepsek dengan perlahan, meninggalkan Nanda yang berdiri sambil terdiam melihatnya menghilang dari hadapannya.
Setelah Arya berada di dalam, dia pun menutup pintu dengan perasaan bersalah dan berbalik menghadap kepsek yang sudah berada di tempatnya.
"Maaf aku terlam-"
Ucapan Arya seketika terpotong saat melihat seorang pria yang tidak disangkanya akan hadir di sana tengah duduk dengan tatapan dingin mengarah padanya melalui kacamata yang dia kenakan.
Pria tersebut adalah orang yang telah dibencinya sejak kecil, tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Alen, ayahnya sendiri.
Sudah kuduga kau akan terlambat, jadi aku sudah memulainya lebih dulu tanpamu, silakan duduk, Arya," ucap Pak Dirga selaku kepsek SMA Gagak seraya mempersilahkannya duduk di samping Pak Alen.
Arya melirik ke semua orang yang berada di ruangan itu sesaat. Di sana terdapat dua sofa untuk tamu dan satu kursi yang diduduki Pak Dirga di belakang meja kerjanya.
Di sofa pertama yang berada di sisi kirinya di duduki oleh Danu dan seorang pria yang menatapnya sambil menahan amarah yang kemungkinan adalah ayahnya Danu.
Sedangkan di sofa kedua yang berada di sisi kanannya hanya di duduki oleh Pak Alen yang merupakan ayah kandungnya sendiri. Namun, Arya sama sekali tak berniat untuk duduk bersamanya di satu sofa yang sama.
"Maaf, lebih baik aku berdiri saja," tolak Arya dengan wajah datar.
Pak Dirga selaku kepsek yang sudah menjabat sepuluh tahun lebih lama sebelum Arya berada di SMA Gagak, hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan Arya yang tak pernah dekat dengan ayahnya itu.
Ingin sekali dia mendamaikan keduanya, tetapi usahanya tak pernah membuahkan hasil. Mungkin karena dia tidak pernah tahu akar dari permasalahan yang terjadi di antara keduanya.
"Baiklah, aku akan langsung ke intinya saja. Jadi, sesuai yang telah kami bicarakan sebelum kau datang, apakah benar kau telah memalak Danu dan menghajarnya kemarin setelah pulang sekolah?" ucap Pak Dirga yang seakan sudah tahu jawaban yang akan di dengarnya.
"Tidak, itu tidak benar," bantah Arya dengan nada suara biasa.
"Kalau begitu, tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
Arya hendak menceritakannya, tetapi suaranya tiba-tiba tertahan di tenggorokan.
Sesuai dengan pengalamannya sebelumnya, jika dia menceritakan kejadian sebenarnya yang menyangkut Victor, maka Victor akan berulah lagi dan mungkin akan membuatnya mendapat hukuman yang sama seperti tahun lalu.
Yaitu, tidak diluluskan. Di tambah lagi pada kejadian tersebut Rian juga ikut terlibat di saat-saat terakhir.
"Ada apa? Kenapa kau terdiam?" tanya Pak Dirga setelah Arya terdiam selama beberapa saat.
"Arya, aku tanya sekali lagi, apa itu semua benar? Kusarankan kau untuk berkata sejujurnya jika kau tidak ingin mendapat hukuman terberat."
__ADS_1