
"Ini bukan urusanmu! Aku bilang minggir!"
"Kalau aku tak mau?" balas Pak Alen dengan tatapan dan sikap yang tak kalah dari Arya.
Tatapan Arya kepada Pak Alen semakin dipertajam dan begitu juga sebaliknya dengan Pak Alen. Baik Arya maupun Pak Alen, tak ada satu pun dari mereka berdua yang mau mengalah, hingga pada akhirnya mereka saling berdiri dan menatap selama hampir semenit.
Romi yang sedari tadi menyaksikan kejadian tersebut dari dapur tak berani untuk ikut campur. Baginya, kejadian tersebut sama seperti dua negara yang akan melakukan peperangan dahsyat yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Jangankan mendekat, menyaksikan kejadian itu dari dapur saja masih bisa membuat bulu kuduknya berdiri.
"Enyahlah dari hadapanku!" ucap Arya dengan kasar.
Pak Alen akhirnya menyerah, dia menghela napas dan berjalan melewati Arya dengan tenang.
"Kau tidak boleh bersikap seperti ini terus, Arya. Jaga cara bicaramu itu, jadilah orang baik, dan pulanglah ke rumah ini ketika urusanmu di luar sudah selesai," pesan Pak Alen saat berhenti sejenak di belakang Arya.
"Apa? Lebih baik kau bercermin dulu sebelum menasihati orang lain," balasnya.
Pak Alen sedikit kesal dengan jawaban tersebut dan berbalik menoleh ke arah Arya yang kini telah menghilang meninggalkan rumah setelah melewati pintu depan.
Dirinya pun teringat, setiap kali dia bertengkar dengan Arya, selalu saja tak pernah berakhir dengan baik dan kepalanya juga selalu terasa pusing setelahnya hingga membuatnya harus memegangi kepalanya sendiri.
Sebenarnya hubungannya dengan Arya sudah meregang sejak beberapa tahun yang lalu. Tetapi hingga saat ini, semua usaha Pak Alen untuk memperbaikinya, tak ada satu pun yang berhasil.
"Apa kau tidak bisa seperti Wulan saja, Arya?" gumam Pak Alen yang masih memegangi kepalanya yang pusing.
*****
Dua jam telah berlalu, sekarang Rian dan Rena telah berada di dalam hutan lebat di Gunung Seribu. Rena berjalan di depan sambil sesekali memperhatikan lokasi yang ditampilkan oleh ponselnya dan Rian hanya mengikutinya saja dari belakang tanpa berkomentar apa pun.
"Sedikit lagi kita akan sampai," kata Rena sambil menengok ke arah Rian.
__ADS_1
Rian menghentikan langkahnya sejenak dan memeriksa ponselnya.
"Ada apa? Apa kau merasakan sesuatu?"
"Tidak, tidak ada, aku hanya memeriksa jam saja," sahutnya.
"Baiklah, karena dari tadi kita berjalan terus tanpa henti, sebaiknya sekarang kita istirahat seben-"
"Aaaaa …!!!"
Tiba-tiba dari arah depan terdengar sebuah Suara teriakan yang sangat keras. Saat suara tersebut lenyap, mereka berdua pun segera berlari secepat mungkin ke arah suara itu berasal.
Setelah melewati pepohonan yang rimbun, mereka berdua akhirnya sampai ke tempat asal suara yang tadi mereka dengar, di sana mereka melihat ada seorang gadis tengah terduduk di dekat sebuah pohon sambil menangis ketakutan. Dia menangis ketakutan sambil melihat ke arah lereng yang berada beberapa meter di depannya.
Rena yang merasa ada yang tak beres pun menghampiri gadis tersebut dan bertanya padanya, "Apa yang terjadi?"
"I-itu bukan salahku, a-aku tidak bermaksud mendorongnya," guman gadis itu sambil menangis dan mendekatkan kedua lututnya ke wajahnya tanpa melihat ke arah Rian atau pun Rena.
"Hei! Sadarlah! Apa yang baru saja terjadi?" ucap Rian dengan suara yang agak keras.
Gadis itu pun akhirnya tersadar dan menatap Rian dengan kedua matanya yang tak berkedip. Rian bisa merasakan tubuh gadis tersebut yang menggigil ketakutan melalui kedua tangannya yang masih memegangi bahunya.
"Tenanglah, coba ceritakan apa yang terjadi dengan pelan," ucap Rena mencoba menenangkannya.
"Ta-tadi, aku dan pacarku bertengkar di sini, aku yang kesal tak sengaja mendorongnya dengan pelan, ta-tapi dia malah terjatuh ke lereng itu. I-itu bukan salahku! Aku sama sekali tak berniat membunuhnya, a-aku hanya tak sengaja mendorongnya pelan, ta-tapi dia malah jatuh ke sana," terangnya tak karuan.
Mendengar penjelasan itu membuat Rena pun menoleh ke arah lereng yang ada di belakangnya. Dia mendekat ke sana dengan perlahan dan mencoba untuk melihat ke bawah sana.
Meskipun kondisi di bawah sana sangatlah gelap dan Rena melihat tanpa bantuan cahaya apa pun, dia tetap saja memaksakan kedua bola matanya untuk melihat ke bawah lereng. Namun, hasilnya tak ada yang terlihat.
__ADS_1
"Kemungkinan dia masih hidup," ujar Rena.
"Apa kau yakin?"
"Sedikit, tapi jika dilihat dari tingkat kemiringannya seharusnya dia masih bisa selamat meski harus terluka. Jadi, aku akan turun sekarang dan memeriksanya,"
"Baiklah, kalau begitu aku akan bawa gadis ini ke dekat kamp sekolah kita dulu, setelah itu, aku akan menyusulmu,"
"Baiklah dan ingat untuk selalu hati-hati," pesan Rena.
"Hah! Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu," balas Rian sambil menggendong gadis itu dan pergi menembus hutan yang gelap.
Rena tersenyum kecil mendengar ucapan Rian. Kemudian, dia memunculkan pedangnya dan mulai menuruni lereng di depannya itu dengan menggunakan pedangnya sebagai alat bantu untuk menuruni lereng agar tidak terpeleset.
Wuuush …!!
Meskipun Rena telah mencoba turun dengan hati-hati dengan menggunakan pedangnya sebagai tumpuan, tetapi pada akhirnya dia tetap saja saja terpeleset saat dia baru sampai setengah jalan.
Rena jatuh terguling-guling dari setengah lereng yang belum dia turuni hingga ke bawah. Saat dia mencoba bangkit, pakaiannya kini telah sedikit terbalut dengan tanah dan dedaunan kering yang berserakan di mana-mana.
Rena meringis kesakitan karena luka kecil di beberapa bagian tubuhnya. Setelah beberapa saat, tiba-tiba dia pun teringat akan pedangnya yang kini jatuh entah ke mana di antara dedaunan kering yang menutupi tanah.
Dia mulai meraba ke bawah dedaunan untuk mencarinya. Tetapi, tiba-tiba sebuah aroma aneh yang tak asing lagi di hidungnya pun mulai muncul, tetapi sayangnya Rena lupa aroma apa itu sampai-sampai dia pun penasaran dan mulai mencari sumbernya.
Dia meraba dan terus meraba ke balik dedaunan, bukan untuk mencari pedangnya yang hilang, melainkan untuk mencari sumber dari aroma yang dia cium.
Aroma itu semakin kuat dan Rena mulai meraba dedaunan kering yang ada di depannya dengan tangan kirinya untuk mencari tahu.
Sesaat kemudian, akhirnya tangannya pun menggenggam sebuah benda yang merupakan sumber dari aroma yang sejak tadi dia cium.
__ADS_1
Bukannya rasa puas yang dirasakannya setelah berhasil mengetahuinya, melainkan rasa kesal saat melihat benda apa yang kini dia genggam, hingga membuat sebelah matanya berkedut.
"Dasar kucing sialan! Kucing siapa yang berak sembarang, hah?! Berak kok di tengah hutan!" oceh Rena sambil bangkit dan menggesek-gesekkan tangan kirinya ke pohon terdekat untuk membersihkan sisa-sisa kotoran kucing yang masih menempel di tangannya.