
Bugh!
Bugh!
Danu dipukul secara sepihak, darahnya mulai menetes ke tanah dari ujung bibirnya yang robek. Danu tidak melawan, dia hanya berusaha bertahan dari setiap pukulan yang dia terima dengan cara merapatkan seluruh anggota tubuhnya seperti kura-kura dalam cangkang.
"Hei! Apa-apaan ini? Kami sudah membayar untuk sebuah tontonan seru dan kami malah mendapat tontonan membosankan ini?" kata salah satu penonton yang kecewa.
Para penonton yang lain mulai mengeluh dengan perkelahian membosankan yang terjadi, karena itu perlahan-lahan suasana pun berubah menjadi riuh dan mengabaikan perkelahian yang mereka tonton tersebut.
Sebagian dari mereka ada yang meminta paksa uang mereka kembali. Karena hal itu, Alex dan beberapa bawahannya pun menjadi kewalahan dalam mengendalikan situasi yang terjadi.
Namun, di sisi lain Romi merasa cemas sekaligus lega dengan situasi yang sedang terjadi saat ini. Dia cemas karena temannya sekarang sudah mulai babak belur dan lega karena sepertinya sabung orangnya akan segera dihentikan.
"Siapa pun yang berani bergerak dari posisinya akan kubunuh!"
Seketika suasana menjadi sunyi bak kuburan dengan semua orang ketakutan setengah mati mendengar suara itu. Hanya ada suara pukulan dari tinju yang diterima Danu yang terdengar dan itu membuat Victor menyeringai karena semua orang langsung mendengarkan kata-katanya.
"Te-terima kasih, Victor. Maaf karena sudah membuatmu turun tangan," ucap Alex sambil membungkukkan sedikit badannya di depan Victor yang bangkit dan mulai berjalan ke arahnya.
Victor kembali menyeringai dan terus mendekati Alex dengan perlahan. Semua mata tertuju ke arahnya dengan rasa takut dan rasa penasaran yang teraduk menjadi satu akan apa yang sebentar lagi terjadi.
Duuk …!!
Sebuah tendangan lurus ke atas tiba-tiba dilancarkan Victor dari bawah dagu Alex. Tendangan tersebut masuk dengan telak dan membuat kepalanya seakan terbang dan terlepas dari tubuhnya.
Akibat tendangan tersebut, Alex menjadi tidak sengaja menggigit lidahnya sendiri dan membuatnya terpaksa mengambil beberapa langkah ke belakang untuk menyeimbangkan tubuhnya sambil memegangi kepalanya untuk memastikannya tetap berada di tempatnya.
"Hahahaha …!!"
Victor tertawa senang melihat beberapa tetes darah keluar dari mulut Alex.
"Mengurus pertunjukan pembuka saja tidak bisa, dasar tidak berguna!"
"Ma-maaf," ucap Alex dengan yang sekali lagi membungkukkan badannya.
Victor tidak memperdulikannya lagi dan mulai berjalan ke tengah kerumunan dengan Alex dan semua orang yang menghalangi jalannya segera menyingkir untuk memberinya jalan.
Setelah berada di tengah, Victor menatap Danu yang terbaring di tanah dengan jijik. Sekujur tubuhnya babak belur, dia menangis tanpa suara, seragamnya kotor dan ada sobekan di beberapa bagian.
"Sepertinya kita semua tahu siapa pemenangnya," terang Victor sambil mengarahkan pandangannya ke arah orang yang menghajar Danu.
Napas orang tersebut terengah-engah karena lelah menghajar Danu habis-habisan dan saat dia melihat Victor tersenyum ke arahnya, dia pun merasa senang.
"Agus, karena kau sudah menang sepuluh kali berturut-turut maka statusmu sebagai budak akan kucabut, tapi setelah kau memenuhi satu syarat terlahir,"
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Agus yang merasa bingung.
"Kau harus membayar sepuluh juta kepadaku,"
"A-apa?! Kenapa aku harus membayar? Seingatku aku hanya perlu menang dan tidak perlu membayar?"
"Yaa … di peraturannya memang seperti itu,"
"Sejak kapan?"
"Baru saja kutambahkan," jawab Victor dengan mudahnya.
Seketika rasa senang Agus berubah menjadi rasa kesal, dia tidak bisa membendung kekesalannya dan segera menghampirinya sambil melayangkan tinju ke arah Victor.
Namun, dengan cepat beberapa penonton yang berdiri di tepi dekat dengannya segera menghentikan aksinya itu dan membuat tinjunya tak bisa menyentuh Victor sedikit pun.
"Kau pikir aku akan melepaskanmu, Agus? Kau adalah petarung hebat yang berhasil menghiburku, meskipun pertarungan hari ini agak mengecewakan. Jadi, sangat disayangkan jika kau kulepas begitu saja,"
"Dasar keparat! Phuf!"
Agus menghinanya dan meludahinya tepat di seragamnya yang bersih. Victor sempat dibuat terkejut dan tak lama kemudian dia pun marah dengan perbuatannya tersebut.
"Beri dia pelajaran!" perintah Victor.
Beberapa penonton yang menghentikan Agus mulai menyeretnya ke belakang kerumunan dan mulai menghajarnya bersama-sama. Agus tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah dikeroyok oleh mereka hingga akhirnya dia pingsan.
"Danu …!!"
Romi berteriak dan hendak berlari ke arah temannya itu. Namun, dengan sigap para penonton yang berada di belakangnya segera menghentikannya.
"Bawa dia kemari," perintah Victor lagi.
Beberapa penonton yang menghentikan Romi segera menyeretnya dan melemparnya ke hadapan Victor hingga membuatnya mencium tanah.
Duuk …!!
Beberapa detik kemudian, Victor menyambutnya dengan sebuah tendangan kuat yang mendarat di wajahnya hingga membuat Romi langsung bangkit dan berjalan mundur sambil memegangi hidungnya yang kini berdarah.
Romi terus berjalan mundur ran mundur sampai akhirnya dia tak sengaja menabrak seseorang yang ada di belakangnya.
"Ma-maafkan aku," ucap Romi sambil segera berbalik.
Tak ada cacian, makian, atau pun pukulan yang diterimanya, hanya ada rasa ketidakpercayaan pada dirinya melihat orang yang tak sengaja dia tabrak adalah Arya.
Rasa ketidakpercayaan itu juga dirasakan oleh semua orang yang menonton, termasuk Victor sendiri.
__ADS_1
"Jangan salah sangka, aku datang ke sini bukan untuk menolongmu, melainkan karena ada hal penting yang kebetulan harus kuurus," terang Arya dengan tatapan dingin ke arah Romi.
Romi langsung menundukkan kepalanya dan segera menyingkir dari hadapan Arya, dirinya merasa malu karena sempat berpikir Arya datang untuk menyelamatkannya.
"Hei, bukannya dia Arya yang tidak lulus tiga kali itu?"
"Kenapa dia ada di sini?"
"Hah! Berani juga dia datang ke sini, apa dia mau dihajar sampai pingsan untuk yang ke sekian kalinya?"
"Dasar pecundang!"
Begitulah komentar para penonton yang melihat sosoknya yang hadiran. Victor tersenyum puas dan tertawa terbahak-bahak untuk beberapa saat.
"Kukira kau tidak akan datang," ujarnya.
"Kau pikir aku mau datang, hah?! Kalau bukan karena kata-katamu pada malam itu, aku tidak akan pernah mau datang menemuimu meskipun dibayar dengan harga tinggi sekalipun!"
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu ayo kita mulai saja. Peraturannya sangat mudah, jika aku kalah maka aku tidak akan muncul dihadapanmu lagi dan semua teman-temanmu, seperti yang aku katakan malam itu,"
"Bagaimana kalau aku kalah?"
"Tentu saja kau akan tetap menjadi pecundang dan kau harus menuruti perintahku, bagaimana?"
"Setuju,"
"Hah! Sesuai dugaanku kau pasti akan langsung menyetujuinya,"
"Sudahlah, jangan banyak basa-basi lagi! Lebih baik kita mulai saja!"
Arya mulai berlari secepat yang dia bisa dan melayangkan tinjunya ke arah Victor.
Pats!
Buagh …!!
Namun, dengan cepat tinjunya itu ditangkap dan Victor pun melancarkan serangan balasan ke ulu hatinya yang membuat Arya terpukul mundur sambil sedikit membungkuk menahan rasa sakit.
Posisi wajah Arya sekarang sedang berada agak rendah, Victor segera meletakkan kedua tangannya di belakang kepala Arya dan melancarkan sebuah serangan ke wajahnya dengan lutut sebelah kanannya.
Duaakk …!!
Serangan itu masuk dengan mudahnya dan membuat hidung Arya berdarah. Arya yang tak terima mulai melancarkan serangan balasan secara terus-menerus. Namun, Victor mampu menghindari semua serangannya dengan sangat mudahnya.
"Apa-apaan ini? Bukankah kau orang yang paling ditakuti di SMA Gagak? Dan apakah rumor tentang geng motor yang kau kalahkan tahun lalu itu sebuah kebohongan?" pancing Victor di sela-sela dia menghindar.
__ADS_1
"Diam kau!" gerutu Arya.
Duuuk …!!