
"Kau tahu tidak? Aku hampir mati bosan karena kau tidak ada di sini, bagaimana bisa seorang murid dengan teganya membiarkan gurunya sendirian?"
Langkah Torak yang awalnya penuh gaya bak artis kini mulai sedikit melompat-lompat sambil sesekali berputar hingga dia sampai di depan muridnya tersebut.
"Seharusnya seorang murid yang baik itu pulang lebih awal dan menatap gurunya jika dia sedang bicara."
Torak mencoba membuka kedua mata Andika secara paksa sampai dia merasa tak tahan dan melakukan perlawanan terhadap gurunya itu.
Baik Torak maupun Andika tak ada yang mau mengalah, sampai akhirnya Andika tak sengaja mendorong Torak hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
"Bisa tidak jangan meniru gaya di televisi setiap kali aku pulang?!" bentak Andika. "Dari pada kau menonton televisi dan menirunya, lebih baik kau berlatih saja untuk persiapan penyerangan kita yang akan datang!"
Torak menatap wajahnya lalu tertawa sejenak dan berkata dengan nada bicara yang kembali normal, "Jangan seperti itu, aku hanya merasa sedikit kesepian karena ditinggal sebentar olehmu yang pergi untuk menjenguk murid kesayanganmu,"
"Lagi pula, Aku ini masih sekuat saat pertama aku datang ke Altera. Meskipun Tirta si Raja Elf menggunakan pedang absolutnya dan memerintahkan semua ketua divisi untuk membunuhku, kekuatan mereka semua masih belum sebanding denganku," tambah Torak dengan pandangan ke langit sore dan mengenang kemenangan terbesarnya dulu.
"Terserah kau saja, yang penting kau tidak meniru gaya norak dari televisi dan menggunakannya saat aku pulang. Sebelum kau memotong ucapanku, ada sebuah info yang ingin kuberitahu padamu," kata Andika sambil membenarkan kacamata yang dikenakannya.
"Eh? Info apa?"
"Aslan, Ketua Divisi 3 baru saja memberi tahuku melalui surat yang dia kirim, bahwa kemarin malam rapat ketua divisi baru saja digelar dan menghasilkan sebuah perintah.
"Yaitu perintah penangkapan Rena yang akan dilakukan oleh Ketua Divisi 8 dan 10 beserta pasukan divisi yang akan mereka bawa,"
"Aku sudah tahu,"
"Apa?! Bagaimana bisa? Padahal Ketua Aslan mengirimkan suratnya padaku," ucap Andika yang tak percaya.
"Sebenarnya dia juga baru saja mengirimkanku sebuah surat dengan informasi yang sama," jawab Torak sambil tersenyum dan mengeluarkan surat yang dimaksudnya dari balik pakaiannya.
Torak berbalik dan perlahan berjalan ke arah pintu masuk Kediaman, setelah dia sampai di depan pintu masuk tersebut, dia pun menatap kediaman tersebut dari dekat tanpa berbalik lagi ke arah Andika.
"Dari informasi yang Aslan bocorkan pada kita, sebaiknya kita tidak ikut campur dalam misi yang akan mereka jalankan. Bukan karena ada dua ketua dalam misi itu, melainkan karena misi tersebut akan membawa dampak bagus untuk kita dan juga Arya tentunya," jelas Torak dengan nada serius.
"Tapi tetap saja kita harus ikut campur. Bagaimana kalau Raja Elf sudah tahu bahwa Arya adalah titisan kesatria cahaya dalam ramalan? Lagi pula Divisi 8 itu divisi yang menangani misi rahasia, pasti mereka diberi perintah khusus untuk menangkap Arya dan menjadikannya senjata untuk menang dalam perang ramalan tersebut,"
"Kau benar-benar khawatir dengannya ya?" tebak Torak.
__ADS_1
"Bu-bukan seperti itu,"
"Kalau kau khawatir padanya maka larang dia untuk tidak menyusul Rena, aku yakin seratus persen bahwa Arya akan tetap ingin pergi menyusulnya dan aku yakin juga bahwa Raja Elf belum menyadari bahwa Arya adalah titisan kesatria cahaya.
"Kalau itu belum cukup untuk menenangkanmu. Maka masih ada Dante si Ketua Divisi 10 yang akan melindungi Arya dari Eden sekaligus memberinya sedikit motivasi agar menjadi lebih kuat. Kau tidak lupa kalau dia juga termasuk dalam pasukan revolusi kita sekaligus muridku juga kan?"
"Tentu tidak,"
"Kalau begitu tenanglah dan awasi saja Arya dari jauh jika dia tetap pergi menyusulnya. Pertunjukan yang akan membuat titik balik untuk Arya yang lemah menjadi Arya yang kuat akan segera dimulai."
Torak menyeringai, rasa senang yang dirasakannya sekarang begitu besar seakan pembuluh darahnya akan meledak saat itu juga.
*****
Dua hari pun berlalu, Arya dinyatakan sembuh dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Pak Alen pulang lebih dulu karena ada urusan mendadak yang harus diselesaikannya. Jadi, mau tidak mau Wulan harus mengantar Arya dan Rena pulang ke rumah.
Ya … sekalian Wulan juga ingin mengambil beberapa barang-barangnya yang tertinggal.
Dua jam di dalam bus cukup untuk membuat mereka bertiga kelelahan, sampai ketika mereka tiba di rumah, Arya langsung berbaring di sofa yang ada di ruang tamu saking lelahnya dia selama dalam perjalanan.
"Apa ini?" tanya Arya.
"Ini taskulah, memangnya tas siapa lagi?"
"Kalau itu sih aku juga tahu, tapi apa maksudnya ini?" tanya Arya lagi karena masih bingung.
Wulan tak segera menjawabnya dan tersenyum licik ke arah Arya seperti sedang menginginkan sesuatu. Arya langsung mengetahui maksud dari senyuman tersebut dan berusaha untuk kabur ke kamarnya.
Namun, sayangnya Wulan langsung menangkap kerah baju Arya dari belakang sehingga dia tidak bisa ke mana-mana.
"Mau ke mana …? Karena aku sudah mengantarmu jadi sekarang kau harus mengantarku sambil membawa tasku," ucap Wulan perlahan.
"Kita baru saja pulang kan? Kenapa kau tidak kembali besok saja? Apa kau tidak lelah?" tanya Arya mencoba mengubah topik.
"Besok aku ada kuliah pagi, jadi lelah tidak lelah aku harus balik hari ini juga. Jadi tolong bawakan tasku ya!"
Arya tak dapat berkata-kata lagi, dia hanya bisa mengalah dan mengambil tas Wulan. Tetapi saat dia mengambilnya, ternyata berat dari tas tersebut berbeda jauh dengan perkiraannya.
__ADS_1
Entah apa yang Wulan masukkan ke dalamnya, sampai-sampai Arya merasa sedikit kesulitan untuk membawanya.
"Berat, sebenarnya apa yang kau masukkan?"
"Terima kasih. Tolong bawa dengan hati-hati," pinta Wulan dengan senyum di wajahnya.
"Hei! Jawab pertanyaanku!"
"Kau tak akan mengerti jika aku menjelaskannya. Tapi ingat! Jika ada barang yang rusak maka kau harus menggantinya!" kata Wulan dengan suara yang ditekan.
Wulan terlebih dulu berjalan ke arah pintu depan dan keluar meninggalkan Arya yang berusaha membawa tasnya itu di punggungnya. Arya tak berkata apa-apa dan segera menyusul Wulan yang telah berada di luar.
*****
15 menit setelah Arya dan Wulan keluar, tiba-tiba seseorang datang dan mengetuk pintu depan.
Tok tok tok!
Romi yang mendengar pintu rumah diketuk segera berjalan ke sana dan membukakan pintu. Di balik pintu tersebut, Romi melihat ada seorang Pria berkemeja merah marun berdiri dan tersenyum kepadanya, rambutnya berwarna merah, panjang, dan sedikit acak-acakan.
"Selamat sore, apakah ini kediaman pak Alen?" tanya pria tersebut.
"Oh iya benar, silakan masuk."
Pria itu terlihat berumur sekitar 40 tahun, Romi mengira pria itu adalah rekan kerja ayahnya dan langsung mempersilakannya masuk ke dalam.
"Siapa itu?" tanya Rena dari dapur setelah melihat Romi kembali dari pintu depan.
"Tidak tahu, tapi sepertinya teman kerja ayah. Aku akan memanggil ayah dulu dan sebagai gantinya kau pergi menyambutnya,"
"Baiklah."
Romi berlari kecil menaiki tangga menuju kamar pak Alen, sedangkan Rena menuju ruang tamu untuk menyambut tamu yang sedang menunggu di sana.
Ketika sampai, Rena terkejut dan berdiri mematung melihat pria yang sedang duduk sofa sebagai tamu. Pria itu menatap Rena dengan senyum hangat ke arahnya dan menyapanya, "Bagaimana kabarmu, Rena?"
"X?" ucap Rena pelan.
__ADS_1