
Dengan perasaan yang masih kesal, Rena memulai pencariannya sambil terus berusaha melupakan kejadian memalukan yang tadi menimpanya.
"Kalau kutahu siapa pemilik kucing itu, maka akan kuberi dia pelajaran!" gerutunya.
Rena memulai pencariannya dari area di sekitar lereng. Namun, hasilnya nihil, akhirnya Rena memutuskan untuk berkeliling ke dalam hutan di bawah lereng untuk mencari orang yang terjatuh tersebut, karena siapa tahu orang itu sedang berjalan mencari jalan keluar.
Belum lama Rena berkeliling, tiba-tiba dia melihat sesuatu di kedalaman hutan dan berjalan perlahan mendekatinya. Memang tidak tampak jelas, tapi dia yakin kalau yang sedang dilihatnya itu adalah seorang gadis.
Seorang gadis yang tengah duduk di tengah hutan tanpa beralaskan apa pun, dia mengenakan gaun berwarna putih dengan rambut hitamnya yang terurai, kusut, dan tampak tak terurus.
Dia terlihat sedang sibuk melakukan sesuatu, tetapi karena gadis itu duduk membelakangi Rena, jadinya dia tak bisa melihat apa yang sedang dilakukannya.
"Tunggu, yang jatuh dari atas lereng itu laki-laki apa perempuan? Tapi … gadis tadi bilang yang jatuh itu pacarnya, apa jangan-jangan …."
Rena mulai berpikiran yang aneh-aneh terhadap hubungan dari perempuan yang tadi ditemuinya, tetapi dia pun mencoba untuk menepisnya.
Karena bingung dan tidak yakin dengan informasi yang dia dapatkan, Rena pun memutuskan untuk berjalan lebih dekat ke arah gadis itu untuk mencari tahu. Semakin dia mendekat, hawa aneh dan kejanggalan pun mulai dirasakan, sampai ….
Duuk!
"Apa ini?"
Rena mengarahkan pandangannya ke arah benda yang baru saja dia tendang. Benda tersebut menggelinding dan akhirnya berhenti setelah menabrak sebuah pohon yang tak jauh dari posisi Rena berada.
Rena mengamati dan mendekati benda itu, karena penasaran dia pun sampai mengambil benda tersebut dan mengamatinya dari dekat.
"Akh-"
__ADS_1
Rena terkejut dan hampir berteriak saat menyadari benda yang dipegangnya itu ternyata adalah sebuah kepala dari seorang pria yang terpisah dari tubuhnya.
Tapi untungnya Rena segera membuang kepala itu dan menutup mulutnya rapat-rapat sehingga gadis yang berada tak jauh di depannya tersebut tidak menyadari keberadaannya karena sibuk dengan dengan urusannya sendiri.
Kedua kakinya mulai bergetar, wajahnya berubah menjadi pucat, dan keringatnya pun bercucuran. Selagi gadis tersebut masih sibuk dan tak menyadari keberadaannya, Rena mencoba mundur selangkah demi selangkah dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.
"Rena!"
Langkah Rena seketika terhenti begitu mendengar suara Rian yang memanggilnya dari arah belakang. Rian berlari menghampirinya dan menepuk bahunya. Namun, Rena sama sekali tidak meresponnya sedikit pun.
"Ada apa? Kau seperti habis melihat hantu saja," ujar Rian.
Rena tetap diam, badannya masih saja kaku dan pandangannya tetap diarahkan ke depan tanpa berpaling sedikit pun dari sana. Rian merasa ada yang tidak beres dengan tingkah Rena dan memutuskan untuk melihat ke arah yang dia lihat.
Rian melihat seorang gadis yang tengah duduk membelakanginya dan Rena. Namun, perlahan-lahan kepala gadis itu mulai berputar 180 derajat dan akhirnya menatap mereka berdua dengan dua mata besarnya yang tampak tak biasa.
"Makanan lagi?" ucap gadis itu seraya memperlihatkan gigi-giginya yang tajam dan dipenuhi dengan noda darah.
Awan yang menutupi sang rembulan perlahan mulai menghilang. Cahayanya menyinari Gunung Seribu dan daerah sekitarnya, menjadikan malam itu menjadi malam yang terasa terang benderang.
Arya berlari melewati jalanan berbatu yang agak menanjak sambil sesekali memalingkan kepalanya ke segala arah. Sesaat kemudian, Arya pun berhenti sejenak karena kelelahan, napasnya tidak beraturan dan dia pun memutuskan untuk menelepon seseorang.
Tetapi, karena dia sedang berada di Gunung Seribu, teleponnya pun tak bisa tersambung.
"Dasar! Kenapa harus di saat-saat seperti ini sih? Rian, kau di mana sekarang?" gerutunya.
Srek! Srek!
__ADS_1
Tiba-tiba semak-semak di belakangnya bersuara seperti ada seseorang yang melewatinya. Arya segera mengarahkan pandangannya ke sana sambil menyorotinya dengan lampu pada ponselnya dan seorang anak perempuan berbaju hitam, dekil, serta bermata bolong terlihat tengah berdiri di samping sebuah pohon sambil menghadap Arya.
"K-kau?! Kau hantu yang waktu itu kan?" ucap Arya yang terkejut melihat hantu yang ditemuinya tujuh bulan yang lalu kini kembali muncul di hadapannya.
Kondisi hantu tersebut tidaklah berubah sehingga Arya dapat langsung mengingat pertemuan pertamanya dengannya tujuh bulan yang lalu, tepatnya di hari di mana dia memutuskan untuk menjadi Demon hunter dan bergabung dengan kelompok revolusi Torak.
"Tujuh bulan yang lalu aku masih belum bisa membedakan antara energi spirit, energi gelap, dan energi murni. Sekarang aku sudah bisa, tapi apa-apaan dengannya? Dia sudah jelas-jelas dapat dikategorikan sebagai agmar level satu, tapi kenapa dia sama sekali tak memiliki energi gelap? Apakah dia tidak tercipta dari emosi negatif?" batinnya.
Arya memunculkan pedangnya dan mengarahkan pedangnya ke anak itu.
"Aku tidak tahu sebenarnya kau itu apa bocah hantu! Tapi apa maumu sampai menampakkan dirimu padaku? Apa kau ingin mati di tanganku seperti agmar lain yang telah kubunuh?"
Anak perempuan itu tak menjawab, kedua matanya yang bolong tetap mengarah pada Arya, dan perlahan tangan kanannya mulai diangkat dan menunjuk dirinya seperti kejadian yang sebelumnya.
Tiba-tiba Arya merasakan ada sesuatu di belakangnya yang tengah mendekat dengan sangat cepat. Arya segera menoleh dan kemudian segera melompat menghindar ke samping setelah mengetahui apa yang tengah mendekatinya.
Seorang pria yang mengenakan jubah usang muncul dari belakangnya dan nyaris membelah tubuhnya dengan satu ayunan tombak dengan ujung berbentuk pisau besar di tangannya jika saja dia terlambat untuk menghindar.
Braak …!!
Ujung tombak tersebut menghantam jalanan yang berbatu hingga membuat debu-debu sedikit mengepul dan kemudian pria tersebut pun berdiri tegak dengan tombaknya yang kini diletakkannya di bahunya.
"Refleksmu bagus juga, rencananya aku ingin membunuhmu dengan satu ayunan tombakku begitu kau berjalan mendekati posisiku. Tapi sepertinya bocah hantu itu menggagalkannya, bahkan serangan dadakan ini jadinya gagal. Haa … kalau seperti ini aku tidak akan naik peringkat dalam waktu dekat," ujar pria itu.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mencoba untuk membunuhku?!" balas Arya.
"Hah?! Apa kau bilang? Tidak perlu berpura-pura bodoh ya, dari aura energimu aku bisa tahu kalau kau itu penyihir! Dan oleh sebab itu, membunuhmu itu termasuk ke dalam salah satu kode etik Demon hunter yang mengharuskan kami untuk membunuh setiap musuh dari Altera."
__ADS_1
Arya masih tidak dapat mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. Matanya tiba-tiba mengarah ke pakaian yang dikenakan oleh pria itu dibalik jubah usangnya. Pakaian berwarna hitam dengan model yang mengingatkannya pada seragam Demon hunter milik Rena.
"Siapa kau? Apa kau salah satu orang dari organisasi Demon hunter?" tanya Arya dengan tatapan tajam.