
Rian dan Arya semakin mendekat, tetapi Vera masih belum mengambil keputusan dari perkiraannya itu.
Arya mengayunkan kedua tangannya ke belakang dan meningkatkan kecepatan berlarinya. Vera akhirnya menyerah dan lebih memilih untuk menghabisi Arya terlebih dulu.
Vera menarik benangnya dan memfokuskan penyerangan ke arah Arya. Benang-benangnya kembali berdatangan untuk menyerang, lalu dengan sekuat tenaga Arya berusaha menghindarinya. Beberapa dari benang tersebut ada yang berhasil menggores tubuhnya hingga berdarah.
Jaraknya dengan Vera sudah sangat dekat. Lalu, Arya pun melompat dan mengayunkan kedua tangannya ke depan, melihat hal itu Vera pun berusaha untuk menahan serangannya dengan tangan kirinya.
Namun, sesuatu yang tak diduga olehnya pun terjadi. Ketika Arya mengayunkan kedua tangannya, tak ada pedang dalam genggamannya yang mendarat di tangan Vera.
"Apa?! Di mana pedangnya? Apa jangan-jangan …," batin Vera.
Dengan cepat Vera kemudian memutar tubuhnya ke arah Rian. Dia melihat Rian yang tengah berlari mendekat sambil melemparkan sebilah pedang ke arahnya.
Vera yang terkejut langsung menghindari lemparan pedang tersebut dan segera berbalik ke arah Arya karena dia merasa lemparan pedang tersebut masih termasuk umpan.
Tetapi sekali lagi hal yang tak terduga pun terjadi, Rian melompat dan mengunci tubuh Vera dengan kuat dari belakang sehingga dia tidak dapat melakukan apa-apa.
"Arya! Sekarang!" teriak Rian sambil menahan Vera yang mencoba melepaskan diri.
Arya menangkap pedangnya yang dilempar oleh Rian dan kemudian mengayunkan dengan kuat ke kepala Vera hendak membelahnya.
"Tak akan kubiarkan rencana kalian berhasil!" teriak Vera.
Sreet! Sreet!
Tiba-tiba beberapa benang muncul dari belakang dan mengikat tubuh Arya beserta pedangnya sehingga pergerakannya pun terhenti.
"Sedikit lagi!" batin Arya sambil terus mencoba menjatuhkan pedangnya ke kepala Vera.
Vera merasa puas karena mulai kembali menguasai alur pertarungan. Dan dengan bangga dia pun tersenyum dan memuji usaha mereka berdua.
"Usaha kalian bagus, tapi sayangnya masih kurang untuk mengalahkanku."
Arya melirik ke kedua tangan dan kaki kanan Vera yang ternyata menarik beberapa benang yang membuatnya gagal melakukan serangan.
Vera kembali menarik benang-benang tersebut sekali lagi dan kemudian tubuh Arya pun tertarik dan terlempar jauh ke belakang.
"Arya!" teriak Rian.
"Hah! Selanjutnya adalah kau!"
Vera mengantukkan hidung Rian dengan kepalanya untuk melonggarkan kuncian yang dia lakukan padanya. Lalu, dengan cepat dia bergerak membelakanginya dan memukul punggung hingga suara tulang belakangnya yang patah pun terdengar.
__ADS_1
"Sekarang sentuhan terakhir!"
Dengan mudah dia melempar tubuh Rian ke udara dan menarik benang-benang yang lain yang membuat tubuh Rian disambut oleh puluhan benang yang kemudian mengikatnya dengan kuat di udara, seperti mangsa yang terjerat dalam jaring laba-laba.
"Kau di sana dulu ya, aku ada urusan dengan temanmu," kata Vera kepada Rian.
Melihat Rian yang kini sudah tidak berdaya membuat Vera merasa senang dan kemudian pergi meninggalkannya ke arah Arya terlempar.
*****
Setelah terlempar, Arya mencoba untuk berdiri dengan menggunakan pedangnya sebagai tumpuan. Vera yang semakin mendekat melihat Arya masih sanggup berdiri sambil menyeringai.
"Aku merasa kasihan padamu karena berdasarkan tingkat kekuatan, sekarang aku sudah setara dengan para ketua," ujar Vera sambil berhenti berlari tak jauh dari Arya.
"Memangnya kenapa, hah?! Aku tak peduli kau sekuat apa, gadis agmar buruk rupa tetaplah gadis agmar buruk rupa, dan aku tidak akan menyerah sampai aku berhasil mengalahkanmu!"
Arya menyeka darahnya yang keluar di ujung bibirnya dengan lengannya. Lalu, dia memegang pedangnya dengan benar sambil berdiri bersiap untuk menyerang.
"Semangat yang bagus, aku suka itu. Aku sudah lama tidak bersenang-senang karena sudah dijadikan kelinci percobaan di laboratorium Divisi 11 selama sepuluh tahun lamanya. Jadi, bagaimana kalau kita lakukan sebuah permainan saja?" tawar Vera.
"Permainan?"
"Ya, peraturan sangat mudah. Kau hanya harus menerima dan bertahan dari semua serangan yang aku lakukan padamu selama semenit. Jika kau berhasil maka aku akan melepaskan temanmu itu," jelas Vera sambil menunjuk Rian yang terjerat tak berdaya di udara dengan benang-benang yang mengikatnya bagaikan jaring laba-laba.
"Tepat sekali, jika kau menyerangku atau menghindari seranganku walau sekalipun maka aku akan memotong tubuh temanmu itu menjadi beberapa bagian, aku harap kau tidak lupa kalau benangku itu tajam, bagaimana?"
Arya menggertakkan giginya karena geram dengan peraturan dari permainan yang berat sebelah dan dia pun mencoba berpikir untuk mencari celah yang menguntungkan untuknya.
"Bagaimana jika aku kalah?"
"Sudah jelas, aku akan langsung memotong tubuh temanmu,"
"Kalau begitu, aku meno-"
"Kalau kau menolak aku juga akan langsung memotong temanmu," potong Vera sebelum Arya menyelesaikan kata-katanya.
"Temanmu mungkin dapat menyembuhkan luka-lukanya, tetapi apakah dia bisa menumbuhkan bagian tubuhnya yang telah terpotong?" tambahnya yang membuat Arya semakin geram.
"Ini benar-benar tidak adil!" keluh Arya.
"Hahaha! Memang, tapi sebagai gantinya kau boleh memperkuat dirimu dengan energi spirit milikmu untuk bertahan dari seranganku,"
"Baiklah baiklah, kalau begitu cepat mulailah permainannya dan tepati janjimu," ucap Arya yang sudah pasrah dan mengikutinya saja.
__ADS_1
"Buang pedangmu,"
"Apa?!"
"Aku bilang buang pedangmu!"
"Iya tapi kenapa?"
"Jangan banyak tanya atau kau ingin melihat temanmu menderita?" ancam Vera sambil menarik sedikit satu benang di dekatnya dengan jari kelingking.
Benang-benang yang mengikat tubuh Rian sedikit mengencang dan membuat tubuhnya sedikit tersayat sampai darahnya menguncur keluar dan menetes ke tanah. Rian menjerit kesakitan, walau dia sudah pernah menerima luka fatal, tetapi rasa sakit tetaplah rasa sakit.
Arya tidak tega melihat temannya merasakan kesakitan seperti itu. Oleh karena itu, dengan terpaksa dia pun melempar pedangnya jauh-jauh.
"Hah! Seandainya kau mendengar ucapanku lebih awal maka temanmu tak akan merasakan sakit yang tidak perlu," ujar Vera senang.
Dengan senyum kebar di wajahnya, Vera bersiap dan kemudian melesat ke arah Arya dengan sangat cepat. Saking cepatnya Arya sampai terkejut melihat telapak tangan Vera kini telah berada tepat di depan wajahnya dalam sekejap mata.
"Ayo kita mulai," ucap Vera.
Dengan kuat, Vera kemudian mendorong kepala Arya hingga membuat tubuhnya terlempar jauh ke belakang dan menabrak sebuah pohon besar yang membuatnya seketika berhenti.
Braak …!!
Beberapa saat setelah terlempar, Arya mencoba untuk bangkit dengan sekujur tubuh yang terasa sakit dan tiba-tiba saja dia pun muntah darah.
"Benar-benar sakit, sekujur tubuhku langsung terasa hancur meskipun aku sudah melapisi seluruh tubuhku dengan energi spirit. Apakah ini kekuatan agmar level tiga?" batin Arya.
Vera tak memberinya waktu, dia kemudian muncul di sebelah kirinya dalam sekejap mata dan langsung memukul perut Arya dengan kuat. Sekali lagi Arya terlempar ke belakang sampai pada akhirnya dia terguling-guling beberapa kali di hamparan rumput yang luas.
"Bertahanlah Arya! Bertahanlah sebentar lagi dan semuanya akan berakhir!" ucap Arya dalam hatinya.
Arya mencoba bangkit dan tiba-tiba saja dirinya langsung disambut oleh Vera dengan sebuah tendangan dari atas kepalanya.
Duaak …!!
Tendangan tersebut mengenainya dan membuat Arya harus menghantam tanah dengan keras. Rasa sakit kembali dirasakannya, tetapi tak berhenti di situ, selang beberapa saat Vera menarik tubuh Arya untuk memaksanya berdiri dan kemudian pukulan beruntun pun dilepaskannya secara terus-menerus ke tubuh Arya.
Vera tidak menggunakan seluruh tenaganya dalam pukulannya tersebut, tetapi tenaga yang dipakainya itu cukup untuk membuat Arya terus melangkah mundur sedikit demi sedikit setiap kali menerima pukulan.
"Bertahanlah! Tinggal beberapa detik lagi! Sembilan, delapan, tujuh," hitung Arya dalam hati.
"Tiga, dua, sat-"
__ADS_1
Duaaar …!!!