Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
014 - Rantai Pertama


__ADS_3

"Sejak aku kecil, kedua orang tuaku selalu sibuk dengan urusan perusahaan. Meskipun begitu, mereka selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu bersamaku.


"Setiap kali liburan tiba, kami selalu berlibur ke rumah kakek yang letaknya sangat jauh dari tempat tinggal kami. Aku sangat senang setiap kali ke sana, karena rumah milik kakek sangat besar dan kami selalu melakukan berbagai macam hal di sana.


"Dari berbagai hal yang kami lakukan, ada satu hal yang paling kusukai, yaitu menikmati pemandangan dari balkon lantai teratas. Karena di sana aku bisa menikmati pemandangan yang sangat indah."


Bella menghentikan ceritanya untuk sesaat, dia mengumpulkan tenaganya kembali dan menyeka air matanya yang mulai kembali berjatuhan agar dia bisa melanjutkan ceritanya.


"Sebaiknya kau minum dulu agar merasa lebih baik," saran Rian kepada Bella.


Bella mendengarkan saran tersebut dan meneguk minuman yang diberikan Rian kepadanya. Setelah itu, Bella menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.


"Saat liburan kenaikan kelas lima, kami berlibur kembali ke rumah kakek seperti pada liburan kami yang biasanya. Di tiga hari pertama semua berjalan normal. Namun, di hari selanjutnya … hiks … tiba-tiba kakek muntah darah dan terjatuh di depanku.


"Aku yang saat itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa hanya bisa panik sambil menangis. Tapi, di saat yang seperti itu … kakek malah memanggilku dan memintaku untuk mendekatinya.


"Aku menurutinya dan mendekatinya perlahan. Ketika sampai … kakek memberikanku sebuah liontin berwarna hijau yang merupakan liontin peninggalan nenek."


Lagi-lagi air matanya kembali berlinang. Karena itu, dia pun berhenti sejenak sebelum akhirnya dia melanjutkan ceritanya kembali.


"Dia bilang liontin itu adalah liontin yang diwariskan secara turun-temurun. Jadi, kakek menyuruhku untuk selalu menjaga liontin itu baik-baik.


"Tak lama setelahnya, ayah pun datang dan melihat kakek yang tak berdaya. Ayah segera membawa kakek ke rumah sakit terdekat. Namun, sayangnya … hiks … kakek tak dapat diselamatkan, hiks…."


Akhirnya air matanya pun keluar membasahi kedua pipinya dan Bella pun menangis tersedu-sedu untuk beberapa saat.


"Ee … sebaiknya sudah cukup. Kau tidak perlu melanjutkan ceritamu lagi, Bella," ucap Rian yang merasa tak enakan.

__ADS_1


"Tidak, hiks … aku masih ingin bercerita," ucapnya sambil berusaha menahan air matanya.


"Saat itu, dokter bilang kakek meninggal karena mengidap penyakit parah yang sudah dideritanya sejak lama. Tak ada yang tahu selain paman Rei. 


"Ayahku pun marah kepadanya dan sejak saat itu, kami tidak pernah lagi datang ke rumah kakek. Aku tidak pernah menyangka kalau itu akan menjadi liburan terakhir kami di sana.


"Hari demi hari berlalu, hari ulang tahun semakin dekat, tetapi orang tuaku malah semakin jauh denganku. Sejak liburan terakhir itu, mereka berdua menjadi semakin sibuk dengan urusan perusahaan sampai mereka berdua jarang pulang dan menghabiskan waktu denganku lagi.


"Semakin hari perusahaan ayah semakin bangkrut, kebangkrutannya semakin parah sampai akhirnya ayah pun harus berutang kepada banyak perusahaan lain.


"Sampai suatu ketika, hal aneh pun terjadi. Ibu yang awalnya menjadi mudah marah sejak perusahaan bangkrut tiba-tiba berubah dan selalu membawa pulang barang-barang mahal dengan merek terkenal ke rumah.


"Ayah pun demikian, yang awalnya mulai tak peduli denganku tiba-tiba berubah dan malah mengajakku untuk berlibur ke luar negeri saat hari ulang tahunku tiba.


"Pernah sekali aku bertanya dari mana mereka mendapat uang dan bagaimana keadaan perusahaan saat itu. Tetapi mereka tak menjawab dan hanya menatapku seakan aku tak perlu tahu tentang hal itu.


"Karena kejadian itu, aku merasa sedikit takut pada mereka sekaligus merasakan ada yang tidak beres. Tapi yang bisa aku lakukan ketika itu hanyalah diam dan menurut karena aku merasa tidak sopan jika terlalu ikut campur dengan urusan mereka."


"Suatu hari, kedua orang tuaku pergi bekerja seperti biasanya dan berjanji pulang lebih awal untuk mempersiapkan liburan kami ke luar negeri.


"Aku merasa senang saat mendengarnya dan duduk di ruang tamu sambil menunggu kepulangan mereka dengan rasa cemas yang tiba-tiba menghantuiku.


"Waktu kepulangan mereka tiba, suara pintu gerbang yang dibuka pun terdengar dan aku pun berlari ke pintu depan hendak menyambut kepulangan mereka. Namun, saat aku membuka pintu, bukannya orang tuaku yang berada di baliknya, melainkan beberapa pria berjas hitam yang terlihat mencurigakan,"


"Berjas hitam?!" ucap Rian terkejut.


Seketika Bella pun menoleh ke arah Rian. Rian yang menyadari kesalahannya itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan meminta maaf.

__ADS_1


"Maaf, lanjutkan saja ceritamu," 


"Tidak apa-apa," balasnya dengan senyuman.


"Mereka mengaku sebagai teman lama ayahku. Mereka bilang ayahku menyuruh mereka untuk menjagaku karena kedua orangtuaku mendadak harus ke luar negeri karena ada urusan bisnis. Awalnya aku tidak percaya, tapi saat mereka menelepon ayahku untuk membuktikannya, akhirnya aku pun mempercayainya.


"Sekarang sudah lebih dari lima tahun orang tuaku tidak pulang. Sejak telepon hari itu, aku tak pernah dapat menghubungi mereka lagi. Hingga akhirnya aku sadar, ternyata selama ini orangtuaku telah menjualku pada orang-orang berjas hitam tersebut.


"Orang-orang itu memang merawat dan menjagaku dengan baik. Tapi tetap saja aku terus merasa takut setiap kali berada di dekat mereka, rasanya ada hal buruk yang cepat atau lambat akan terjadi. Haa …."


Bella menghembuskan napas panjang dengan lega sebagai tanda bahwa ceritanya kini telah berakhir. Air matanya sudah tak menetes lagi dan perasaannya kini sudah terasa lebih tenang setelah bercerita panjang.


Rian yang sedari tadi menjadi pendengar yang budiman merasa bersimpati pada Bella karena dia merasakan ada kesamaan di antara mereka.


"Jadi, kau duduk malam-malam di sini sendirian karena kau rindu dan ingin bertemu dengan orangtuamu lagi?" tanya Rian langsung ke inti pertanyaannya.


Bella tak menjawabnya dengan suara. Tetapi dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban 'Iya'.


"Kalau begitu pulanglah, sekarang sudah larut malam, tidak baik seorang gadis sepertimu sendirian malam-malam di tempat seperti ini,"


"Ta-tapi, aku takut bertemu dengan mereka, aku takut hal yang selama ini aku takutkan akan segera terjadi begitu aku pulang," ucap Bella gelisah.


Rian berdiri dari duduknya dan melirik ke arah Bella sesaat.


"Tidak perlu takut, mereka tidak akan menyakitimu. Jika itu terjadi hubungi saja aku, Nanda, ataupun Arya. Kami bertiga pasti akan membantumu karena kita berempat adalah teman, kan?"


"Iya kau benar, terima kasih banyak sudah mau mendengar ceritaku," ucap Bella sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bella,"


"Iya?"


__ADS_2