
Alex, itulah nama dari orang yang merangkul bahu Romi sekarang. Dia adalah salah satu murid SMA Gagak dan dia juga sekelas dengan Arya.
Wajahnya memang tampan dan dirinya populer di kalangan siswi. Tetapi sayang, sikapnya itu seperti berandalan yang suka bertindak semena-mena pada siswa yang lebih lemah darinya.
Dia sudah sering berulah, tetapi tak ada teguran apa pun dari pihak sekolah karena dia merupakan anak dari salah satu pengusaha kaya raya yang mendanai SMA Gagak.
Meskipun tak ada yang berani macam-macam dengannya, tetapi ada tiga orang yang selalu berani melawannya setiap kali mengetahui dirinya berulah, ketiga orang tersebut adalah Arya, Rian, dan Nanda.
"Kalian tidak akan kabur, kan?" tanya Alex memastikan.
Romi dan Danu sama-sama diam membisu sehingga Alex pun menjadi geram karena pertanyaannya diabaikan. Dia pun memancing Romi untuk bersuara dengan mendekatkan kepalanya hingga bersentuhan langsung dengan kepala Romi sambil bertanya sekali lagi.
"Kalian akan ke sana, kan?" tanyanya lagi.
"Te-tentu saja kami akan ke sana, kan Danu?" jawab Romi sambil memberi kode padanya untuk menjawab.
"I-iya, kami akan ke sana dan yang pasti sekarang juga," sahutnya setelah beberapa saat akhirnya dia menangkap maksud dari kode yang diberikan Romi.
Alex memandangi mereka berdua secara bergantian selama beberapa saat dan kemudian dia berjalan melewati mereka.
"Baguslah kalau begitu, jika saja kalian sampai tidak datang, maka kalian akan tahu akibatnya!" ancam Alex.
Romi dan Danu sama-sama menelan air liur mereka dan segera mengikuti Alex. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka bertiga pun sampai di sebuah taman yang terisolasi oleh gedung-gedung yang dibangun di sekitarnya yang mengakibatkannya menjadi tak terawat lagi.
Di taman tersebut terdapat banyak orang-orang berseragam SMA Gagak dan SMA Elang sedang berdiri mengelilingi sesuatu sambil bersorak seperti sedang menonton sesuatu yang seru. Romi yang penasaran berusaha melihatnya dengan cara menaiki sebuah pijakan yang agak tinggi di samping tempatnya berdiri.
__ADS_1
Walau tak jelas, Romi berhasil melihat ada seorang anak berseragam SMA Gagak sedang dihajar secara sepihak oleh seseorang yang bertelanjang dada hingga akhirnya dia pun tumbang. Tak lama berselang, sorakan kemenangan pun bergema di telinganya.
"Victor!" teriak Alex.
Seketika semua orang yang bersorak pun terdiam, mereka menoleh ke arah Alex dan segera membukakan jalan untuknya menuju ke tengah kerumunan.
"Kau baru sampai ya? Kukira kau tidak akan datang, kalau begitu maaf karena aku memulainya terlebih dulu tanpamu," ujar Victor sambil mengenakan seragam SMA Elang miliknya lagi.
Seketika Romi dan Danu bergidik ketakutan saat melihat orang yang berbicara tersebut adalah Victor, si Raja Berandalan yang tak pernah tertangkap.
"Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf padaku, Victor. Kau boleh memulainya kapan saja yang kau inginkan, justru seharusnya akulah yang meminta maaf karena datang terlambat."
Alex berjalan ke tengah dan saat dia tiba di tengah kerumunan, dia menghentikan langkahnya. Dia kemudian berdiri tegak dan berusaha untuk menjaga sikap agar permohonan maafnya tadi diterima.
Butiran-butiran keringat mulai muncul di keningnya dan perlahan menjadi satu hingga mengalir ke bawah dagunya, entah itu keringat karena rasa takutnya pada Victor atau karena cahaya matahari panas yang menyengat.
"Baik!"
Victor kemudian pindah ke tepi kerumunan dan duduk di kursi panjang yang ada di sana sambil menunggu pertunjukan pembuka dimulai, sedangkan Alex menghembuskan napas lega karena dirinya akhirnya berhasil lolos dari maut di hadapannya.
Tanpa membuang-buang waktu, Alex pun memanggil Romi dan Danu ke tepi kerumunan. Alex menarik kerah baju Danu dan menjatuhkannya ke tengah kerumunan hingga tersungkur mencium tanah.
Sambil menahan rasa sakit, Danu mencoba untuk bangkit dan melihat ke sekelilingnya. Sekarang dirinya berada di tengah-tengah kerumunan bersama dengan seseorang yang tak dikenalnya yang baru saja muncul dihadapannya.
Orang tersebut mengenakan seragam SMA Elang dan berdiri di hadapannya dengan posisi siap bertarung. Tubuhnya memang tidak besar, tetapi postur tubuhnya itu berhasil membuat Danu ketakutan setengah mati sampai dirinya tak mampu untuk bergerak.
__ADS_1
Alex berjalan ke tepi kerumunan dan menjelaskan sesuatu kepada Danu dan Romi dengan suara yang keras.
"Biasanya kami mengadakan sabung orang sekali dalam seminggu kepada budak kelas dua di masing-masing sekolah. Siapa pun yang berhasil menang sepuluh kali berturut-turut, maka statusnya sebagai budak akan dicabut.
Jadi, jika kau ingin bebas dan tak ingin diganggu lagi, maka bertarunglah disini dan menang!" jelas Victor.
"Lawan! lawan! lawan! lawan! lawan!"
Semua penonton mulai bersorak sambil menghentakkan kaki mereka ke tanah, meminta sebuah pertarungan untuk mereka tonton. Seketika Danu dan Romi yang mendengarnya terkejut sekaligus takut dengan apa yang akan mereka hadapi.
Suara dari semua penonton perlahan mulai berhenti saat Alex memberikan isyarat dengan tangannya dan dia pun melanjutkan penjelasannya.
"Karena kakakmu Arya, Nanda kami jadi terluka dan kau sebagai adiknya harus membayar perbuatannya itu!"
"Apa?! Jadi kalian melakukan hal ini kepada kami hanya karena hal itu?" ujar Romi yang tak percaya mendengar alasannya.
"Iya, memangnya kenapa? Arya sudah berurusan dengan para mafia dan melibatkan Nanda hingga membuatnya terluka. Mungkin Arya tak akan datang, jadi kau dan temanmu harus menggantikannya untuk membayar perbuatannya!" ucap Alex yang langsung disambung dengan sorakan penonton kembali.
"Habisi dia!" perintah Alex kepada orang yang berdiri di hadapan Danu.
"Lawan! lawan! lawan! lawan!"
Suara sorakan tersebut kembali terdengar dan orang yang berdiri di hadapan Danu mulai melakukan persiapan terakhir. Tatapannya tertuju ke arah Danu tanpa memperdulikan sorakan dari orang-orang yang berada di sekitarnya.
Ingin sekali Danu mengajaknya untuk berdamai, tetapi tatapannya itu terlihat seperti mengatakan kalau dia harus menang apa pun caranya.
__ADS_1
Danu kemudian menoleh ke arah Romi sesaat untuk meminta bantuannya. Namun, saat dia menoleh kembali ke depannya, sebuah kepalan tangan telah berada tepat di depan wajahnya untuk memberikan sebuah salam pembuka.
Buuk …!!