Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
046 - Pulang (2)


__ADS_3

"Jadi … Tuan Eden, apa tujuan Anda kemari?" tanya Pak Alen.


Pria berambut merah yang memperkenalkan dirinya sebagai Eden kepada Pak Alen meminum teh yang baru saja disajikan oleh Romi.


Rena duduk di antara Pak Alen dan Romi, kepalanya menunduk dan tubuhnya tampak menggigil ketakutan semenjak dia melihat kehadiran pria berambut merah itu di rumah tersebut.


Dia tahu nama aslinya adalah X dan bukan Eden. Eden adalah nama dari Ketua Divisi 8, yang mana jika X menyamar ke menggunakan nama tersebut, itu berarti akan ada seseorang yang akan ditangkap.


"Seperti yang Anda tahu, beberapa saat lalu Rena datang dan meminta izin kepada Anda melalui salah satu anak Anda untuk tinggal sementara di rumah ini.


"Hal itu dikarenakan keluarga kami sedang menghadapi permasalahan sehingga kami melakukan kesalahan yang seharusnya tidak kami lakukan pada Rena," jelasnya.


Melihat kondisi Rena yang tak biasa membuat Romi merasa khawatir dan berbisik padanya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Ti-tidak ada yang baik-baik saja," jawabnya dengan pandangan yang terpaku ke arah segelas teh di atas meja.


X yang menyamar menggunakan nama Eden menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali berkata-kata.


"Tujuan saya datang ke sini adalah untuk membawa Rena pulang. Jadi, saya harap Anda dapat membiarkannya pulang bersama saya dan terima kasih telah menerimanya tinggal di rumah ini."


Seketika Pak Alen, Romi, dan Rena tersentak mendengarnya, bagaikan sebuah peluru yang langsung mendarat tepat di jantung mereka. Tubuh Rena semakin bergetar, tetapi Pak Alen yang terlihat tak terima dengan ucapannya pun tiba-tiba kembali bersuara.


"Tunggu, sebelumnya siapa kau bagi Rena?" tanya Pak Alen yang berusaha menyembunyikan ekspresi tak terimanya dan melepaskan tatapan andalannya.


"Saya adalah ayahnya. Bukankah begitu, Rena?" sahut X sambil melirik ke arah Rena.


Rena yang melihat lirikannya tersebut segera menganggukkan kepalanya dengan cepat. Romi merasakan ada yang janggal di antara Rena dengan tamu yang berada di hadapannya.


Karena sudah tak tahan lagi, dia pun pamit kepada Pak Alen dan juga tamunya tersebut untuk pergi ke dapur untuk menelepon seseorang.


*****


Setelah beberapa waktu, akhirnya Wulan dan Arya sampai di terminal yang sebelumnya menjadi tempat pemberhentian mereka dari kota tempat Wulan kuliah sekaligus tempat Arya dirawat.


Arya meletakkan tas Wulan yang dibawanya ke atas kursi panjang yang ada di sana dan duduk di sebelahnya. Tak berselang lama, Wulan yang tadinya pergi untuk membeli karcis akhirnya kembali ke hadapan Arya.


"Terima kasih ya, sudah membawakan tasku, ternyata kau ada gunanya selain membuat masalah," puji Wulan sambil tersenyum jahat.

__ADS_1


"Kalau aku membawanya lebih lama lagi, bisa-bisa aku harus dirawat di rumah sakit lagi. Memangnya apa yang ada dalam tasmu? Benar-benar berat tahu!"


"Kan sudah kubilang, kau tak akan mengerti meskipun aku menjelaskannya. Jadi lebih baik diam daripada harus capek-capek memberitahumu," sahutnya dengan mata dipejam dan kedua tangan di pinggang.


Arya yang geram merasa ingin membalas perkataannya. Tetapi tiba-tiba ponsel milik Wulan berdering mendahului Arya yang hampir bersuara.


"Tunggu sebentar," ucapnya.


Wulan mengangkat ponselnya dan sebuah percakapan pun terjadi dengan orang yang berada di balik telepon. Raut wajah dan nada bicara Wulan yang awalnya tampak biasa kini berubah menjadi serius.


Kekhawatiran pun dirasakan Arya saat melihatnya, seperti ada hal buruk yang sedang terjadi.


"Siapa yang menelepon?" tanya Arya begitu Wulan menutup ponselnya.


"Romi, Romi yang menelepon," jawabnya dengan wajah yang murung.


Arya semakin khawatir dan kemudian bangkit dari duduknya sambil memperlihatkan wajah kebingungannya.


"Ada apa? Kalau kau ingin mengatakan sesuatu katakan saja,"


"Ada orang yang datang ke rumah dan ingin membawa Rena pulang, orang itu mengaku sebagai ayahnya."


"Lalu? Bukankah itu bagus? Akhirnya dia bisa pulang dan berkumpul kembali dengan keluarganya," balas Arya yang tampak merelakannya pergi begitu saja.


Suasana di antara mereka menjadi hening dengan orang-orang yang berlalu-lalang melewati mereka karena beberapa bus telah datang dan membukakan pintu agar bus kembali diisi dengan penumpang yang hendak berangkat.


"Dasar tidak peka!"


Plaak …!!


Bersamaan dengan suara tamparan tersebut, perhatian semua orang yang berada di terminal mengarah kepada mereka, menyaksikan pertengkaran yang terjadi di antara lelaki dan perempuan yang hubungan mereka tidak mereka ketahui.


"Dasar idiot! Aku tak percaya kau adalah saudaraku!" bentak Wulan dengan nada suara yang memperlihatkan betapa marahnya dia.


"Kau ini kenapa sih?"


"Bagus apanya dasar tidak peka! Apa kau masih belum sadar, hah?! Orang itu bukanlah ayahnya!"


"Memangnya dari mana kau tahu? Tidak ada bukti kalau orang itu bukan ayahnya, tapi kau dengan yakinnya berkata demikian," balas Arya yang sudah mulai kesal dengan sikapnya.

__ADS_1


"Kau benar-benar idiot ya? Apa mungkin karena kau kalah terus saat berkelahi makanya seperti ini? Walau kau terlambat menyadarinya, tapi aku yakin kau sudah merasakannya juga. Tapi karena kau masih belum sadar, kau malah tidak mempercayainya dan memilih untuk mempercayai berita di televisi sepuluh tahun yang lalu."


Tiba-tiba, perkataan Wulan tersebut mengingatkan Arya dengan isi surat dan kata-kata yang pernah diucapkan Rena padanya saat malam pertama dia datang ke rumahnya.


Dengan rasa bersalah, Arya berbalik dan hendak pergi dari terminal. Namun, Wulan segera menangkap tangannya untuk menghentikannya sesaat.


"Kau mau ke mana?"


Arya berhenti sejenak dan menoleh ke arah Wulan yang juga menoleh ke arahnya, "Aku akan menyusulnya dan membawanya pulang,"


"Kalau begitu … hati-hati,"


"Tentu."


Wulan melepaskan tangan Arya sehingga dia dapat berlari secepat yang dia bisa menuju rumahnya.


Beberapa saat pun berlalu, dengan tubuh yang baru keluar dari rumah sakit akhirnya Arya hampir sampai di rumahnya. Hanya tinggal beberapa meter lagi, tetapi tiba-tiba Arya menyadari keberadaan Andika yang menunggunya sambil bersandar di pagar depan rumahnya.


"Haa … haa … apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arya dengan napas yang terengah-engah.


"Aku sedang menunggumu, menunggumu karena ingin memperingatkanmu agar kau tidak menyusul Rena,"


"Memangnya kenapa?"


"Yang akan menjadi lawanmu adalah dua ketua divisi, dua wakilnya, beserta beberapa anggota divisi mereka yang mereka bawa sekaligus. Kau tak akan sanggup mengatasi mereka semua," terang Andika.


"Sudah kuduga, sudah kuduga bahwa mereka adalah Demon hunter. Apa kalian melaporkannya? Memangnya apa salahnya?"


"Aku tidak tahu, tapi yang jelas bukan aku ataupun Torak yang melaporkannya karena kami juga adalah buronan dan kau sebaiknya jangan terlibat dengannya lagi karena kau tidak ada hubungannya dengan Rena."


Arya menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya dikepal dengan kuat. Tak lama kemudian, tiba-tiba saja dia mencengkeram kerah baju Andika dan mengangkatnya ke atas meskipun tidak bisa karena tenaganya yang kurang.


"Hubungan? Tanpa aku, kau, dan semua orang sadari, ternyata hubunganku dengannya itu jauh lebih dekat dari apa pun yang selama ini aku, kau, atau semua orang lain pikirkan! Jadi, katakan ke mana Rena di bawa atau kau kubunuh!" ancam Arya dengan tatapan membunuh.


"Kalau kau tetap bersikeras, aku tidak akan menghalangimu lagi. Mereka sekarang ada di area konstruksi, aku yakin kau tahu di mana tempat itu," ucap Andika yang pergi meninggalkan Arya setelah melepaskan cengkeramannya pada kerah bajunya.


Tanpa pikir panjang, Arya pun bergegas menuju area kontruksi yang dimaksud. Setelah Arya menghilang di perempatan, Andika berbalik dan menatap ke arahnya menghilang.


"Tak kusangka ini akan sesuai dengan perkiraanmu, Torak. Tapi mari kita lihat, apa perkiraanmu akan terus sesuai hingga akhir?" gumam Andika.

__ADS_1


__ADS_2