Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
050 - Energi Gelap (2)


__ADS_3

Nada suara Arya tiba-tiba berubah menjadi berat. X sampai terbelalak mendengarnya karena sekarang lawannya tersebut kini terasa seperti orang lain.


Tiba-tiba ledakan energi terjadi pada pedang Arya yang membuat energi berwarna putih yang sebelumnya memancar pada pedangnya, kini berubah menjadi berwarna ungu yang memancar dengan ganas dan lebih besar dari sebelumnya.


Bulu kuduk dari setiap Demon hunter yang menyaksikan kejadian itu dibuat berdiri begitu merasakan hawa energi gelap yang terpancar keluar dari tubuh Arya.


"Pe-penyihir! Bocah itu adalah Penyihir!" teriak salah satu Demon hunter.


Semua Demon hunter yang menyaksikannya pun berdiri dan meraih gagang pedang mereka untuk menariknya. Namun, Eden selaku Ketua Divisi 8 dan Dante selaku Ketua Divisi 10 sama-sama memberi perintah kepada anggota divisi mereka untuk tidak ikut campur dalam pertarungan tersebut.


"Arya! Hentikan!"


Tiba-tiba Rena berlari keluar dari dalam gedung dan berteriak ke arah Arya sambil berlari dengan sekuat tenaga ke arahnya. Arya yang sekarang telah dirasuki oleh sesuatu yang lain mendengar teriakan tersebut dan segera meningkatkan tenaganya secara tiba-tiba.


Karena itu, dengan mudah Arya membuat X terhempas jauh ke belakang hingga menghantam dua gundukan pasir besar yang menghalanginya.


Perlahan Arya menoleh ke arah Rena dan memperlihatkan tatapan haus akan darah. Rena yang melihatnya seketika teringat akan penampilan Vera, agmar yang dihadapinya di Gunung Seribu.


"A-arya?" ucap Rena yang telah menghentikan langkahnya.


Groooooaaaarrr …!!!


Arya meraung layaknya seekor agmar dan kemudian melesat ke arahnya bersama dengan pedangnya yang dialiri energi gelap. Rena yang terkejut mencoba mundur, tetapi sayangnya dia terjatuh karena kakinya sendiri.


Tak butuh waktu lama, Arya pun tiba di hadapan Rena. Tetapi, dengan cepat Dante muncul untuk menghalanginya dan ….


Jleb!


Dia menusukkan pedang berkaratnya pada tubuh Arya yang membuat gerakannya seketika berhenti dan menjadi diam selama sesaat.


"Pergilah dari sini, ini bukan tempat bermain," ujar Dante kepada Rena.


Rena yang melihat Arya ditusuk merasa sangat syok dan segera bersujud pada Dante memohon agar Arya dilepaskan. Namun, beberapa Demon hunter muncul dari dalam gedung dan langsung menyeret Rena kembali masuk ke dalam.


Dante kembali fokus pada urusannya dan mendorong Arya dengan kakinya hingga tubuhnya terlepas dari pedangnya.


Groooooaaaarrr …!!!


"Jangan berteriak padaku!"

__ADS_1


Arya maju dan menyerang secara horizontal. Namun, Dante segera menangkap tangan Arya yang memegang pedang dan tanpa ragu dia pun melakukan tebasan vertikal padanya hingga darah segar menyembur keluar dari tubuhnya.


"Hentikan! Tolong hentikan! Jangan bunuh dia!" teriak Rena histeris.


Selama Rena diseret, dia terus saja meronta-ronta sehingga para Demon hunter yang menyeretnya pun menjadi kewalahan karenanya.


"Kenapa dia bisa lepas?" tanya Eden sambil menghampiri seorang elf yang merupakan Demon hunter yang bertugas untuk menjaga Rena.


"Ma-maafkan kami, kami terlalu sibuk berusaha untuk membuka gerbang menuju Altera sampai-sampai kami tak menyadari jika dia berusaha melepaskan diri," jawab salah satu dari mereka sembari menundukkan kepala kepada Eden yang datang menghampiri.


"Baiklah, kali ini kumaafkan. Apa kalian sudah bisa membuka gerbang menuju Altera?"


"Sudah, Ketua," 


"Kalau begitu segera buka gerbangnya, kita harus kembali ke Kota Cahaya sekarang juga,"


"Baik!"


Para Demon hunter tersebut pun membagi tugas, yang manusia menahan Rena, dan yang elf membaca mantra untuk membuka gerbang menuju Kota Cahaya yang berada di Altera.


Di sisi lain, tubuh Arya mulai lemas karena telah kehilangan sebagian darahnya dan energi yang terpancar dari pedangnya pun juga ikut melemah. Arya yang masih kerasukan mengumpulkan tenaganya yang tersisa untuk mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Dante.


Groooooaaaarrr …!!!


Sesaat kemudian, Dante mengangkat tubuh Arya dengan pedangnya tersebut hingga kakinya tak lagi menyentuh tanah dan menghempaskannya dengan kuat hingga terlepas dari pedangnya.


Dante hendak mendekati Arya yang sudah tergeletak tak berdaya. Namun, langkahnya langsung berhenti karena Nicolas dengan cepat mendekatinya lebih dulu.


"Apa dia sudah mati?" tanya Dante.


"Belum, tapi akan jika kita membiarkannya seperti ini selama kurang lebih 20 menit lagi,"


"Kalau begitu kita tinggalkan saja dia, membunuh orang yang sudah tak bisa bangkit itu bukanlah gayaku," kata Dante sambil berbalik dan pergi meninggalkan Arya begitu saja.


Nicolas tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh Dante. Dan karena itu dia pun segera memanjat dari jubahnya dan naik ke atas bahu Dante.


"Kau benar-benar pandai berakting ya," batin Nicolas.


"Diam kau Cebol Hitam!" balas Dante.

__ADS_1


"Kau bisa saja membunuhnya,"


"Aku tahu, tapi Torak memintaku berbuat seperti itu jika saja dia lepas kendali dan dikuasai oleh kekuatannya yang satu lagi. Jadi, mau tidak mau aku harus melakukannya karena jika Eden yang melakukannya bisa-bisa bocah itu langsung dibunuh," 


"Hahaha! Benar juga, kuharap kita bisa bertemu bocah emas itu di lain kesempatan."


Sebuah cahaya muncul dan membentuk sebuah gerbang dengan dua pintu. Begitu gerbang tersebut dibuka, cahaya terang yang menyilaukan mata pun keluar.


Nicolas, Dante, dan semua Demon hunter berjalan dari posisi mereka melewati Arya dan melewati gerbang bercahaya tersebut satu per satu.


Matanya yang mirip seperti agmar dan pembuluh darahnya yang tadinya menghitam kini perlahan kembali normal. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menatap kepergian Rena dan para Demon hunter yang melewati gerbang bercahaya tersebut secara bergiliran.


X mendekatinya, dia segera berjongkok dan langsung mengatakan apa yang ingin dikatakannya.


"Tak kusangka kau adalah seorang Penyihir, apa ini benar-benar dirimu? Meskipun begitu aku minta maaf karena telah mengambil Rena darimu. Lain kali, ayo kita bertarung mati-matian dan menjadikan Rena sebagai taruhannya."


Setelah itu, X, Demon hunter yang tersisa segera berjalan melewati gerbang bercahaya tersebut dan tak lama setelahnya, gerbang itu pun lenyap meninggalkan Kilauan cahaya yang bertahan sesaat.


Kesadaran Arya semakin berkurang dan tiba-tiba saja Andika muncul dan menghampirinya yang kini sudah tak berdaya. Dia berdiri di hadapannya sambil memperhatikan kondisinya yang menurutnya sangat memprihatinkan.


"Bagaimana? Apa kau ingin menjadi lebih kuat?" tawar Andika.


Arya segera mengangguk pelan dan kemudian Andika berkata sekali lagi, "Kalau begitu setelah kau sembuh nanti bersiaplah untuk menerima latihan keras."


Tak lama setelahnya, kesadaran Arya kembali berkurang hingga akhirnya kesadarannya pun menghilang.


*****


Angin berhembus pelan hingga mengenai Arya yang berdiri dengan mata terpejam. Dia membuka matanya perlahan dan seorang pria berwajah mirip dengannya berdiri di hadapannya sambil tersenyum. 


Arya mengenali pria tersebut sebagai pria yang ditemuinya dulu yang mengaku sebagai suara pertama yang membantunya saat melawan Vera. Namun, matanya tetap saja terbuka lebar karena terkejut melihat dirinya lagi.


"Hai, akhirnya kita bertemu lagi," sapa pria itu.


"K-kau?! Kenapa kau ada di sini?" tanya Arya yang masih terkejut.


"Kenapa? Tentu saja karena ini adalah tempatku." 


Arya sedikit tersentak mendengarnya dan segera menoleh ke sekelilingnya. Hamparan tanah dan langit yang berwarna kemerah-merahan, ratusan pedang dan bendera yang tersebar tertancap di atas tanah, serta bulan sabit yang menerangi langit sore menggantikan matahari. Semua itu seketika mengingatkannya pada pertemuan mereka yang sebelumnya.

__ADS_1


"I-ini … sebenarnya di mana? Kenapa aku berada di sini? Harusnya aku sedang bertarung dengan si Rambut Merah," tanya Arya yang dimaksudnya adalah X.


__ADS_2