Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
021 - Kawan atau Lawan?


__ADS_3

Kucing hitam itu terus berlari dan berubah menjadi sesosok gadis yang dikenal Rian dan Arya.


"Temuilah neraka," ucap salah satu anak buah Herman yang mengepung Arya.


Para anak buah Herman mulai menjatuhkan pedang mereka ke tubuh Arya. Tetapi, mereka sedikit terlambat. 


"Rantai pengekang!"


Beberapa rantai seketika muncul dan mengikat tubuh mereka semua hingga membuat serangan mereka yang hampir menusuk Arya pun terhenti.


"Arya! Sekarang!" ucap kucing hitam yang telah berubah yang ternyata adalah Rena.


"Baiklah!"


Di saat mereka semua tak dapat bergerak Arya segera bangkit dan menjatuhkan pedangnya begitu saja. 


"Aku tak bisa melukai mereka. Aku bukan orang jahat, apalagi seorang pembunuh seperti Victor. Karena itu…."


Arya bergerak ke belakang mereka sambil meraih sarung pedangnya dan dia pun memukul tengkuk mereka semua dengan keras hingga membuat mereka pingsan. 


"Boleh juga," ujar Rena yang terkejut melihat tindakannya yang di luar perkiraan. 


"Mereka juga manusia, aku tak mau membunuh mereka. Aku bukan pembunuh," balas Arya. 


Herman menyaksikan beberapa anak buahnya itu dikalahkan. Dia merasa geram dan memerintahkan anak buahnya yang bersamanya untuk menembak ke arah Arya dan Rena.


"Cepat! Tembak mereka! Tapi jangan sampai gadis itu mati!" perintahnya. 


"Tak akan aku biarkan!" 


Jleb!


Jleb!


Jleb!


Beberapa belati hitam dilepaskan Victor dan berhasil melubangi kepala semua anak buahnya yang bersamanya, tapi tidak dengan Herman yang hanya tertusuk di tangannya yang memegang revolver.


Serangan tersebut membuatnya menjatuhkan revolvernya, darahnya menguncur keluar, dan dia mengarahkan pandangannya ke arah Victor hendak mengumpatnya. 


"Dasar kau-"


Ucapannya terhenti saat melihat Victor akhirnya berhasil mengalahkan golem miliknya yang kini hancur menjadi beberapa bagian.


"Kenapa melihatku seperti itu? Akhirnya aku berhasil mengalahkan golem milikmu setelah menembakkan belati milikku entah berapa kali aku melakukannya," jelas Victor sambil tertawa kecil.


Wuush …!!


Tiba-tiba Rian melompat tinggi dan kemudian jatuh dengan tangan yang siap menghantam golem yang tersisa. Golem tersebut juga menyerangnya yang masih berada di udara, tetapi Rian menghindarinya dan kembali melompat dengan tumpuan tangan batunya itu ke kepalanya yang sudah retak parah.

__ADS_1


Bruuukk …!!


Setelah sebelumnya melancarkan serangan beberapa kali, akhirnya serangan terakhirnya itu pun menghancurkan kepala golem dan tubuh besarnya hingga berserakan di lantai.


"Akhirnya hancur juga," ujar Rian. 


"Baiklah, sekarang kau tinggal sendirian! Jadi, cepat lepaskan Bella atau kau tahu akibatnya!" ancam Rena dengan pedangnya yang diarahkan ke arah Herman. 


Herman tak berkata-kata, sekarang dia terpojokkan oleh empat orang sekaligus, kedua golemnya yang merupakan kemampuan gerbang pertamanya juga sudah dikalahkan. Menggunakannya lagi tidaklah mungkin, ditambah lagi tangannya terluka akibat belati Victor yang membuatnya tak bisa menggunakan sihir apa pun. 


"Hah! Bella sudah dikirim ke Dimensi Dasar, kalian tak akan bisa bertemu dengannya lagi! Dan sekarang, aku akan membunuh kalian!" 


"Hah! Apa yang kau katakan? Memangnya apa yang bisa kau lakukan sekarang?" balas Victor sambil menyeringai.


"Siapa yang akan kau bunuh?" 


Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari dalam lorong di belakang Herman dan mereka semua pun terkejut dengan Herman yang menoleh ke belakang. 


"Erik?" 


Mata Herman terbelalak melihat sesosok orang yang dikenalnya muncul dari dalam sana. Dia berjalan keluar dari lorong sehingga, Arya, Rian, Rena, dan Victor pun dapat melihat orang tersebut. 


Orang tersebut kini berdiri di samping Herman, dia mengenakan mantel berwarna hitam dengan sebagian wajahnya tertutupi oleh penutup wajah yang juga berwarna hitam.


"Apa yang kau lakukan Herman? Bukankah Kau harus membawa dua orang suruhan Tuan ke hadapannya?" tanya orang tersebut yang bernama Erik.


"Ee … i-itu … ada sedikit gangguan. Victor datang dengan bocah-bocah itu dan mengacaukan pekerjaanku," jelas Herman sambil menunjuk Arya dan Rian. 


"Tidak perlu," potong Erik.


"Apa?" 


"Tuan sudah memberikan perintah terbaru untuk melepaskannya," 


"Apa maksudnya? Bukankah dia juga punya-" 


"Aku tahu, gadis itu memiliki Chains dan begitu juga dengan tiga orang yang berada di dekatnya itu," 


"Apa?! Tidak mungkin!" 


"Memang, tapi nyatanya memang seperti itu. Oh ya, ada perintah dan pesan dari Tuan yang harus kusampaikan padamu,"


"Be-benarkah?"


"Tentu, mau mendengarnya?" 


Herman menganggukkan kepalanya dan kemudian perlahan Erik mengangkat tangannya dan memegangi kepala Herman. 


Tatapannya menjadi tajam dengan asap berwarna hitam keluar dari telapak tangannya dan masuk ke telinga, mata, lubang hidung, dan mulut Herman yang membuat kepalanya mulai berwarna ungu dengan urat-uratnya mulai tampak dengan jelas.

__ADS_1


Herman merasakan sakit yang luar biasa saat menerima energi gelap berlebih dalam tubuhnya, jangankan menghentikan tindakannya, untuk berpikir saja sekarang dia sudah tidak bisa.


"Dia bilang, 'Kau memang salah satu wakil pemimpin penyihir yang sangat berpengaruh dulunya, tapi sekarang kau mulai berubah dan banyak melakukan kesalahan sejak aku memberimu tugas santai untuk membaur dan menjaga Chains yang telah ditemukan.


"Karena itu, sebagai hukumannya, beristirahatlah dengan tenang, Herman Luter Vl,' itu katanya." 


Kepala Herman perlahan mulai membengkak dan tak lama berselang ….


Duaar …!


Tak lama berselang, akhirnya kepala Herman meledak meninggalkan tubuhnya saja yang segera tergeletak di lantai.


Arya, Rian, dan Rena menyaksikan kejadian sadis tersebut dengan mata mereka yang terbuka lebar. Perasaan yang tak terasa jelas dirasakan oleh mereka bertiga, terkhusus Arya yang kemudian diselimuti oleh amarah.


"Apa yang kau lakukan, hah?! Kenapa kau tega membunuh rekanmu sendiri?!" 


"Arya?" ucap Rian yang terkejut. 


Pandangan Erik segera mengarah ke arah Arya yang tengah marah dengan apa yang dia lakukan pada Herman.


"Memangnya kenapa? Yang kulakukan ini adalah perintah dari atasanku, jadi aku harus menurutinya. Lagi pula, dia bukan rekanku lagi,"


"Kau ini …!!" gumam Arya sambil menggertakkan giginya.


"Arya, aku tahu kau marah dengan perbuatanku. Tapi jangan salah, jalan menuju takdirmu itu mengharuskanmu untuk melukai dan terkadang membunuh orang lain. Jadi, cobalah untuk tidak takut untuk melukai lawanmu dan jangan pikirkan jika saja lawanmu mati oleh pedangmu sendiri. 


Rian, kau orang baik dan kuat. Kekuatanmu memang tidak sekuat Arya yang memiliki kekuatan layaknya seorang Demon hunter, tapi keinginanmu untuk melindungi orang lemah itu sangatlah besar. Jadi, teruslah menjadi lebih kuat agar kau tidak kalah dari Arya.


Dan Rena, kau sudah besar ya. Aku tak menyangka kalau X bisa membesarkan seorang anak perempuan dengan sangat baik," 


"Apa maksudmu?" tanya Rena yang terkejut mengetahui Erik yang tahu latar belakangnya.


"Saat kau pulang nanti, tolong sampaikan salamku padanya. Tunggu, setelah dipikir-pikir sebaiknya jangan lakukan itu, karena rencana Torak pasti akan berantakan jika kau melakukannya," tambah Erik.


"Siapa kau? Kenapa kau mengenal kami? Dan apa maksud dari semua perkataanmu itu?! Cepat jawab!" tanya Arya yang penuh kecurigaan terhadapnya.


"Maaf, ini belum saatnya kalian tahu siapa aku yang sebenarnya, yang pasti namaku Erik. Suatu saat nanti kita akan bertemu dan jika waktunya pas, maka aku akan menjawab semua pertanyaan kalian. 


Oh ya, apa kalian ingin menyelamatkan seorang gadis bernama Bella? Dia tidak jadi dibawa ke Dimensi Dasar, jadi sekarang dia berada di dalam kamar sebelah kiri di ujung lorong," jelasnya sambil menunjuk lorong di belakangnya.


"Semudah itu?" ucap Rian yang bingung dengan situasi apa yang sedang terjadi.


"Hei …! Apa kau melupakan aku, Erik?!" panggil Victor yang merasa tak dianggap ada olehnya.


"Oh ya, maafkan aku. Aku sampai lupa denganmu," ucap Erik dengan tatapan yang terlihat tidak senang dengan Victor.


"Hah! Terserah! Aku sudah bertekad untuk membantai kalian semua para penyihir! Jadi, apa kau sudah siap untuk menjadi wakil pemimpin penyihir pertama yang kubunuh?" 


"Haa … dasar bocah gila," gumam Erik.

__ADS_1


Erik mengulurkan tangannya perlahan ke arah mereka berempat dan secara perlahan mereka berempat mulai merasakan tubuh mereka seperti sedang tertarik ke belakang.


__ADS_2