Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
037 - Duo Berandal


__ADS_3

"Jangan seenaknya mengubah topik pembicaraan dasar Kanami bod-"


Sekali lagi ucapan Rena terpotong, bukan karena Kanami tetapi kali ini karena dia tiba-tiba teringat dengan Arya yang tengah bertarung sendirian melawan Vera. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rena pun langsung berlari ke arah Arya berada dan meninggalkan Kanami seorang diri.


"Hei! Jangan tinggalkan aku sendirian …! Setidaknya bantu lepaskan benang yang mengikat tanganku ini dulu …!!" 


Kanami mencoba berteriak untuk memanggil Rena kembali, tapi sayangnya Rena tidak memperdulikan teriakannya dan terus berlari.


"Cih, dasar anak zaman sekarang, selalu saja mementingkan pacarnya lebih dulu daripada orang yang lebih tua. Tunggu dulu, anak muda itu pacarnya Rena apa bukan?" gumam Kanami yang menjadi bingung sendiri.


*****


Sreet! Sreet!


Vera terus menarik setiap benang-benang yang membentang di sekitarnya dan sesaat kemudian benang yang lain pun bergerak menyerang ke arah Arya.


Namun, dari semua benang yang menyerangnya, sebagian besar berhasil dihindari oleh Arya dan terkadang dia juga sampai harus melompat ke belakang menjauhi Vera beberapa kali.


"Ha … ha … ha …."


Arya terlihat begitu kewalahan dalam menghindari semua benang-benang yang menyerangnya tersebut. Karena benang menyebalkan tersebut, baju yang dikenakannya sampai rusak dan tubuhnya pun mendapat luka gores.


"Hah! Bagaimana? Apa kau sudah mencapai batas kemampuan bertarungmu? Benang-benangku yang membentang memang tidak terlalu memadati semua area dalam penghalang. 


Walaupun begitu, aku salut padamu yang telah memperkirakan bahwa aku bisa menggerakkan benang-benang yang membentang hanya dengan menarik satu benang yang membentang lainnya," ujar Vera sambil menampakkan gigi-gigi tajamnya.


"Diam kau dasar Gadis Agmar Buruk Rupa!" sindir Arya.


Arya langsung mengambil keputusan, menarik kaki kanannya sedikit ke belakang dan dengan sekali entakan, dia pun melesat kencang ke arah Vera melewati benang-benang yang membentang sambil bersiap mengayunkan pedangnya.


Vera tidak tinggal diam, dia sudah menunggu kesempatan itu dan menarik beberapa benang di dekatnya sekaligus secara bersamaan.


"Dasar bocah bodoh! Matilah dengan tubuh yang tercincang!" teriak Vera sambil tersenyum jahat.

__ADS_1


Beberapa benang ditariknya secara bersamaan dan puluhan benang lain pun muncul membentang menghalangi Arya dengan pola yang siap memotong Arya menjadi bagian kecil-kecil begitu melewatinya.


Jarak antara Arya dengan benang-benang tersebut sudah terlalu dekat, sehingga tidak memungkinkan lagi baginya untuk berhenti atau pun menghindar. 


Arya menatap benang-benang tersebut dengan mata melotot. Sedangkan di dalam hati dan pikiran Arya, tidak ada kata lain yang muncul selain kata 'Mati'.


Jleb …!!


"Hahahahahaha ...!!! Hahahahaha ...!!!"


Vera tertawa terbahak-bahak begitu dia melihat benang-benangnya kini telah berlumuran darah.


Setelah beberapa saat, Arya tiba-tiba merasakan ada yang aneh, dia tidak merasakan ada bagian tubuhnya yang terpotong atau pun terluka, tetapi dia malah merasakan tubuhnya seperti menabrak sesuatu yang keras.


Arya membuka matanya secara perlahan dan mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dia melihat ada sebuah tubuh yang menghalanginya dari benang-benang yang seharusnya dia tabrak, lalu dia segera mundur beberapa langkah untuk melihatnya lebih jelas tubuh siapakah itu.


Alangkah terkejutnya Arya begitu melihat tubuh yang melindunginya dari benang-benang yang siap memotong tubuhnya adalah tubuh Rian yang berusaha melindunginya.


Pedang yang berada dalam genggaman Arya dijatuhkannya dan dia langsung mencoba membantu Rian melepaskan diri dari benang-benang yang tersangkut di punggungnya.


Setiap benang yang berhasil dilepas membuat darahnya menguncur keluar. Sebagian dari benang tersebut dapat dilepaskannya dengan mudah, tapi sebagiannya yang lagi harus membuat tangan Arya sampai berdarah saat mencoba melepaskannya yang sudah melukai tubuh Rian terlalu dalam.


Setelah semua lepas, Rian langsung ambruk ke atas tanah, tubuhnya terasa begitu lemas karena banyak darahnya yang keluar.


Namun, untunglah kemampuan regenerasi milik Rian tetap berfungsi sebagaimana mestinya dan tak lama kemudian luka-lukanya pun perlahan mulai sembuh.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Arya yang masih tidak percaya dengan tindakan yang dilakukan Rian padanya.


"Kita kan teman, jadi wajar saja jika aku menyelamatkanmu," jawab Rian yang masih lemas.


"Ta-tapi kenapa?"


"Arya, bagiku kau adalah temanku yang sangat berharga, ini adalah balasanku karena waktu itu kau telah menyelamatkanku. Lagi pula, daripada pada kau terus bertanya lebih baik kau bantu aku berdiri."

__ADS_1


Rian berusaha untuk berdiri dengan susah payah, tetapi kemudian Arya segera membantunya agar dapat berdiri dengan benar.


"Hahahahaha …!! Ternyata kau masih hidup, kukira kau sudah mati dasar bocah!" ujar Vera.


"Aku tidak akan mati semudah itu. Bagiku, luka sekecil ini bukanlah apa-apa," sahut Rian.


Arya mengambil pedangnya yang tergeletak di tanah dan mereka berdua pun menatap Vera dengan tajam selama beberapa saat.


"Arya, ayo kita kalahkan dia bersama-sama! Tapi sebaiknya jangan meremehkannya, karena sebelumnya dia berhasil membuatku tak berkutik. Meskipun dia level tiga, tapi kemampuan bertarungnya bisa dibilang sangat jauh berbeda dari agmar level dua," 


"Iya, aku juga tahu itu. Semua benang-benang yang membentang dalam penghalang ini sangat tajam dan juga sangat kuat. Aku tak bisa memotongnya, apalagi memanfaatkan untuk dijadikan serangan seperti yang dia lakukan.


Meskipun kau bisa beregenerasi, tapi aku sudah tak mau melihatmu terluka parah lagi, karena itu tolong berhati-hatilah."


Mata Rian sedikit melebar saat mendengar Arya berkata seakan menyetujui rencananya. Lalu, dengan percaya diri, Rian pun membalas, "Baiklah, jika itu maumu."


Kemudian Rian dan Arya sama-sama tersenyum bersama sambil memandangi Vera, menunggu kesempatan yang pas untuk bergerak menyerangnya.


"Apa pun yang kalian rencanakan, kalian tak akan bisa mengalahkanku!" ucap Vera dengan yakin.


Vera menarik kembali benang-benang yang berada di dekatnya dan secara mengejutkan benang-benang yang membentang di depan mereka terbelah menjadi dua bagian yang saling berhadapan dengan mereka dan kemudian bergerak menyerang mereka.


Dengan sigap Arya dan Rian merespons serangan tersebut. Arya melompat ke sebelah kiri sedangkan Rian melompat ke sebelah kanan. Tak berhenti di situ, setelah itu mereka berdua pun segera berlari kencang ke arah Vera melalui dua arah yang berbeda.


Vera sedikit kebingungan melihatnya. Dia menarik benangnya dan kemudian beberapa benang mulai muncul silih berganti menyerang dari hadapan mereka.


Arya dan Rian terus berlari mendekat sambil terus menghindar. Posisi dari setiap benang-benang yang muncul di hadapan mereka mulai tidak tepat sebagai akibat dari Vera yang tidak bisa fokus terhadap dua orang yang berada di dua arah yang berbeda sekaligus.


"Usaha kalian tidak akan berhasil!" gerutu Vera sambil terus menarik benangnya.


Rian dan Arya terus melewati semua benang-benang yang datang menyerang mereka tanpa kesulitan sedikit pun. Jarak mereka berdua sudah semakin dekat dengan Vera dan kini Vera sudah emosi karena tak ada satu pun benangnya yang berhasil melukai salah satu dari mereka berdua.


"Sialan! Sialan! Sialan! Kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan menyerangku secara bersama-sama atau ada salah satu dari mereka yang akan menjadi umpan?" pikir Vera dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2