
Eden menggenggam gagang pedangnya yang tersarung di pinggang sebelah kiri dan bersiap untuk menariknya jika diperlukan.
"Memangnya kau siapa, hah?! Berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku, apa semua elf semenyebalkan dirimu?" balas Dante.
Kata-katanya tersebut membuat Eden merasa tersinggung, karena itu dia pun ikut melepaskan energi spiritnya sebanyak mungkin untuk dapat mengimbangi jumlah energi spirit yang Dante lepaskan.
Tidak ada diantara mereka yang mau mengalah dan terus melepaskan energi spirit mereka sambil mengeluarkan aura membunuh yang kuat. Karena itu, para Demon hunter lain yang duduk di sekitar merasa merinding ketakutan meskipun mereka berada pada jarak yang jauh dari mereka.
Arya yang berada di dekat Dante merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, rasanya sebentar lagi tubuhnya bisa hancur karena tekanan energi yang mereka berdua lepaskan.
Tetapi, tiba-tiba Nicolas turun dari atas bahu Dante dan mendekatinya. Tanpa berkata-kata apa-apa, Nicolas berjongkok di samping Arya dan menyentuh tubuhnya yang seketika membuatnya tidak lagi terpengaruh oleh energi spirit berlebih yang dilepaskan Dante dan Eden.
X si pria berambut merah yang sejak tadi berada di belakang Eden maju dengan susah payah dan kemudian bersujud di depan Dante. Seketika perbuatannya tersebut membuat Eden dan Dante menurunkan jumlah energi spirit yang mereka lepaskan hingga mereka berhenti melepaskannya.
"Kumohon! Aku mohon padamu Ketua Divisi 10, biarkan kami mengabulkan permohonan Rena," ucap X berharap Dante mau mendengarkannya.
"Haaa?! Memangnya buat apa aku harus memenuhi permohonan manusia kotor sepertimu?"
"Kumohon, hanya kali ini saja," ucapnya sekali lagi.
"Baiklah, tapi angkat kepalamu itu, aku tidak menerima sujud dari orang kotor sepertimu."
X mematuhi perkataannya dan mulai mengangkat kepalanya beserta tubuhnya yang hampir sejajar dengan pinggang Dante.
Namun, tiba-tiba Dante menusukkan pedang berkaratnya ke tubuh X yang membuat darah segar keluar dari tusukan tersebut sekaligus dari mulutnya hingga akhirnya membasahi seragam hitamnya.
"Hei Eden! Bagaimana? Apa kau marah jika aku merusak mainanmu ini?" tanya Dante sembari tersenyum kegirangan.
Dante ingin melihat reaksi dari Eden dan dia pun mengarahkan pandangannya ke arahnya. Namun, sayangnya Eden sudah berbalik dan berjalan pergi terlebih dahulu.
Dante lagi-lagi merasa kesal, alih-alih bisa melihat ekspresi Eden dia malah melihat angka delapan dan lambang kerajaan elf di bagian belakang dari jubah hijau yang dikenakannya.
"X bukanlah mainan, dia adalah Wakil Ketua Divisi 8 yang hebat," sahut Eden sambil berjalan menjauh.
"Cih, sekarang ini sama sekali tidak menyenangkan lagi. Ayo Nicolas! Kita ke tepi saja dan melihat apa yang akan dilakukan orang kotor ini," ajak Dante sambil mencabut pedangnya dari tubuh X dan berjalan ke tepi.
__ADS_1
"Baik!" sahut Nicolas.
Nicolas yang tadinya melindungi Arya dari energi spirit berlebih dari Eden dan Dante langsung berlari dan memanjat jubah hijau yang dikenakan Dante untuk naik ke bahunya lagi.
Setelah beberapa saat, Arya mencoba untuk menggerakkan tubuhnya lagi dan kali ini dia pun berhasil. Arya berusaha berdiri perlahan dengan kedua kakinya yang bergetar akibat tekanan luar biasa dari energi spirit yang tadi sempat dia rasakan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Arya yang khawatir dengan keadaan X yang berdarah.
Mendengar pertanyaan tersebut X malah tersenyum, dia sama sekali tidak menyangka kalau Arya akan menanyakan keadaannya.
"X! Ini mungkin bisa jadi sedikit hiburan sambil menunggu gerbang menuju Altera berhasil terhubung, jadi lakukanlah dengan baik dan jangan permalukan Divisi 8!" perintah Eden dengan suara lantang.
Kini, Eden tengah duduk di atas tumpukan besi di dekat para Demon hunter lain yang duduk melingkar untuk menyaksikan sesuatu yang akan segera terjadi. Karena suasana di tempat tersebut sangat sunyi tanpa ada suara apa pun, maka dengan jelas X pun dapat mendengar perintahnya.
"Baik!"
X kemudian bangkit tanpa kesusahan sama sekali dan menyeka mulutnya yang ternoda oleh darahnya.
"Terima kasih sudah menanyakan keadaanku, aku baik-baik saja karena aku telah menekan pendarahanku dan sedikit menutupinya dengan aliran energi spiritku. Niatmu datang ke sini mungkin saja baik, tapi maaf aku harus menghentikan apa pun niatmu tersebut karena itulah permohonan terakhir Rena,"
"Iya, kau tidak salah dengar. Rena memohon kepada Ketua Eden agar aku yang menghentikanmu jika saja kau datang untuk menyelamatkanmu, awalnya aku pikir kau tidak akan datang tapi sepertinya aku salah."
X menarik pedangnya dan menancapkannya ke tanah di depannya dengan kedua tangannya yang diletakkan di atas pangkal pedangnya sambil membusungkan dadanya.
"Siapa namamu, Nak?" tanya X dengan ramah.
"A-arya Ananda Putra,"
"Baiklah Arya, beberapa jam yang lalu aku menjemput Rena dengan meminjam nama Ketua Eden sebagai penyamaran. Aku tidak punya nama, tapi banyak yang memanggilku dengan sebutan X. Jadi panggil aku seperti itu,"
"Sudah cukup basa-basinya, Rena memintamu untuk menghentikanku kan? Kalau begitu kukalahkan kau dan akan kubawa Rena pulang!" ucap Arya dengan tatapan tajam.
Sedikit demi sedikit Arya mengalirkan energi spirit dalam dirinya dan perlahan muncul sebuah pedang yang tersarung di sisi kiri pinggangnya.
Sriiing …!!
__ADS_1
Arya menarik pedangnya dan semua Demon hunter yang melihat bilah pedangnya itu pun tertawa terbahak-bahak, kecuali X dan Eden.
Awalnya Arya bingung. Tetapi saat melihat ke arah bilah pedangnya, dia pun terkejut melihat bilah pedangnya yang kini hanya memiliki setengah dari panjang aslinya.
"Apa kau ingin mengalahkanku dengan pedang patah itu?" tanya X dengan nada serius.
"Memangnya kenapa? Kau takut?" ucap Arya berusaha mengintimidasinya.
"Tentu saja tidak, aku Wakil Ketua Divisi 8, dengan ini aku akan menghentikanmu!"
X mencabut pedangnya dari tanah dan memosisikannya siap untuk menyerang sambil menarik sebelahnya ke belakang.
Triiiiingg …!!
Tak butuh waktu sampai sedetik, X melesat melewati Arya dengan kecepatan tinggi sambil mengayunkan pedangnya. Arya tak dapat melihat gerakannya, tetapi untungnya dia masih dapat menangkis serangan tersebut berkat refleksnya yang bagus.
Meskipun begitu, setetes darah mulai menetes dari luka gores kecil yang diterimanya di pipi sebelah kanan dan itu menciptakan keterkejutan bagi Arya.
"Cepat sekali, bagaimana dia dapat melesat secepat itu?" batin Arya.
"Hah! Aku yakin kau pasti terkejut. Yang tadi itu namanya 'Langkah Kilat', semakin jauh jarak penggunaannya maka semakin rendah kecepatannya, tetapi jika semakin pendek jarak penggunaannya maka semakin cepat pula kecepatannya," terang X dengan posisinya yang masih dalam keadaan selesai melesat dan menyerang.
X kemudian berbalik dengan tiba-tiba dan menyerang Arya secara cepat dan terus-menerus tanpa memberinya celah. Arya yang menerima serangan tersebut mau tidak mau harus terus terpukul mundur sambil menangkisnya untuk dapat bertahan.
"Kenapa? Apa kau merasa kesulitan?" ucap X sembari terus mengayunkan pedangnya.
Arya merasa terpancing, pada serangan X selanjutnya dia pun berusaha membelokkannya ke arah lain dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengayunkan pedangnya ke leher X.
"Lambat," gumam X.
Wuuush …!
X mundur satu langkah dan serangan Arya pun hanya berhasil mengenai angin. X segera mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan menganyungkannya ke arah Arya.
Namun, Arya berguling menghindarinya dan segenggam pasir pun dilempar olehnya ke wajah X untuk mengganggu penglihatannya.
__ADS_1