Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
018 - Perburuan Malam (3)


__ADS_3

Setelah agak menjauh dari Bella, dari arah samping muncul sebuah mobil yang melaju kencang dan menabrak Rian hingga membuat pengait yang menembus tubuhnya itu terlepas.


Braakk …!!


Tubuhnya menghantam aspal dengan sangat keras dan terguling-guling beberapa kali hingga akhirnya berhenti di dekat sebuah tiang lampu jalanan.


"Bagaimana sekarang hah?! Apa kau masih bisa berlagak sok kuat seperti tadi?" ledek Herman yang senang melihat kondisi Rian sekarang yang mengenaskan.


Rian berusaha untuk bangkit. Namun, darahnya terus keluar dan perutnya yang terkoyak seperti dicabik-cabik binatang buas, dan yang terparah adalah kecepatan regenerasi pada lukanya tersebut sangatlah lambat.


Yang bisa dilakukannya sekarang hanya terbaring lemas dan menonton apa yang akan terjadi sesaat lagi.


"Da-dasar!" cela Rian dengan nada suara lemah. 


"Apa yang kau katakan itu hah?"


Doorr! Doorr! Doorr!


Herman menembakkan sisa peluru yang masih ada dalam revolvernya ke tubuh Rian dan salah satu dari anak buahnya pun datang dari arah belakang untuk melapor.


"Bos! Kami sudah memasukkan Bella ke dalam mobil, dan anak-anak lain juga sudah siap untuk berangkat. Sekarang apa yang harus kita lakukan pada bocah itu? Apa kami perlu membunuhnya sekarang juga?"


"Tidak perlu! Dia sudah kutembak dengan peluru perak. Sebentar lagi juga dia bakalan mati karena kemampuan regenerasinya yang melambat, daripada mengurusnya lebih baik kita berangkat sekarang jug-" 


"Berangkat ke mana?"


Tiba-tiba suara seseorang yang lain terdengar. Herman berbalik sambil menoleh ke belakang bersama dengan anak buahnya tersebut dan melihat sosok Arya yang telah berdiri beberapa meter di belakang anak buahnya itu. 


Tak ada satu pun dari semua anak buah Herman yang menyadari kehadirannya sehingga mereka semua pun menjadi terkejut dan bersiap menerima perintah untuk menyerang.


"Sepertinya kalian sedang terburu-buru, kalian mau ke mana? Apa pestanya sudah selesai?" 


"Ba-bagaimana kau bisa masuk? Bukannya penghalangnya masih aktif?" ujar Herman dengan tubuh bergetar dan keringat dingin yang bercucuran.


"Penghalang? Maksudmu kubah aneh yang tadi menutupi area ini?"


Herman terkejut, dia lalu melihat ke langit, kiri, dan ke kanannya. Kubah penghalang yang tadi dibentuk kini telah hilang dan itu membuat matanya terbelalak tak percaya.


"Penghalang itu hancur dengan sendirinya, mungkin karena sudah waktunya. Jadi, cepat lepaskan teman-temanku atau aku habisi kalian!"


"Melepaskan? Maaf itu tidak bisa kulakukan," jawab Herman sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau itu pilihanmu, maka bersiaplah!" 


Arya menarik pedangnya dan berlari ke arah Herman hendak menyerangnya.


"Terlalu lambat!" ujar Herman.


Herman melemparkan beberapa tabung kecil dari balik jasnya ke jalanan dan seketika saat tabung-tabung tersebut pecah, beberapa agmar pun level dua pun muncul dari dalam tabung yang pecah tersebut dan langsung melompat menerkam Arya.

__ADS_1


"Sialan!" gerutunya.


Arya sempat terkejut, tetapi dia masih sempat untuk berhenti dan melompat mundur sambil menebas kepala dari agmar-agmar tersebut yang berada paling dekat dengannya.


Groooooaaaarrr …!!


Slaash!


"55!"


Slaash!


"56!"


Arya terus melompat-lompat ke sana kemari, menghindari serangan agmar, dan membunuh mereka dengan satu tebasan  kuat yang langsung membelah tubuh mereka menjadi dua bagian.


Slaash!


"57! Dan ini yang terakhir."


Slaash!


"58!"


Agmar terakhir mati dengan tubuh yang terbelah menjadi dua bagian, perlahan tubuh semua agmar yang telah berhasil membunuhnya pun berubah menjadi sekumpulan butiran energi gelap yang menghilang entah ke mana.


"Maaf! Tapi sepertinya kau tak akan bisa menangkapku. Tapi tenang saja, aku akan memberimu sedikit hadiah karena sudah sampai sejauh ini!" ucap Herman yang menjulurkan kepalanya dari balik jendela mobil.


Secara bersamaan, Herman dan seluruh anak buahnya melempar sebuah tabung kecil yang tadi dilemparnya dari balik  seragam hitam mereka secara bersamaan.


Tabung-tabung tersebut pun menghantam jalanan dan seketika pecah menjadi puluhan agmar level dua yang langsung berlari menyerang ke arah Arya.


"Semoga kau menyukai hadiahnya hahahaha …!!" tawa Herman yang kemudian melaju pergi bersama anak buahnya dari sana.


"Dasar pecundang! Arya larilah dari sana!" teriak Rian sekeras yang dia bisa


Arya mendengar teriakkan tersebut. Namun, dia tetap tak bergerak sedikit pun dari tempatnya, seperti orang yang pasrah dengan keadaan yang sedang dihadapinya. Lalu, sayup-sayup Rian mendengar suara Arya yang sedang menghitung sesuatu.


"65, 66 …."


Arya berhenti menghitung dan menoleh ke arah Rian sambil tersenyum.


"Jangan mengkhawatirkanku," ucapnya.


Jleb!


Jleb!


Jleb!

__ADS_1


Satu per satu agmar yang mendekat tertusuk oleh beberapa belati hitam yang terbang dan menembus tubuh mereka. Beberapa belati tersebut terus bergerak dan menusuk agmar-agmar yang lain hingga tak menyisakan satu pun.


"Hei! Apa kau tidak mau menyisakan satu ekor pun untukku?" tanya Arya ke arah belati-belati tersebut berasal.


"Menyisakan? Maaf kau terlalu lemah dan tak akan sanggup untuk menghadapi satu agmar pun," balas Victor yang berjalan ke arah Arya dengan kedua tangan di dalam saku celana.


"Terserah," ucap Arya yang tak memperdulikannya lagi.


Arya kemudian berbalik dan berlari ke tempat Rian berada, berharap dia masih belum terlambat.


"Woi! Jangan seenaknya kabur seperti itu!" teriak Victor yang berusaha menghentikan Arya.


Namun sayangnya usahanya itu sia-sia dan Arya tetap berlari ke arah Rian yang sekarang tengah sekarat.


"Dasar! Padahal aku sudah mau datang dan membantunya, tapi inikah balasannya?" gerutu Victor dengan pandangan yang mengarah ke Arya yang sedang berlari.


Sesampainya Arya di tempat Rian, dia melihat Rian yang kini terlihat telah sangat tidak berdaya. Kulitnya pucat, darahnya masih keluar, dan kemampuan regenerasinya tampak tak bekerja dengan baik.


Arya segera menyandarkan tubuh Rian ke sebuah tiang yang berada di dekatnya. Lalu, dia pun berjongkok sambil memperhatikan kemampuan regenerasi Rian yang bekerja sangat lambat.


"Kenapa? Kenapa lukamu tidak sembuh juga?" tanya Arya cemas.


"Pe-peluru … peluru perak …," jawab Rian singkat dan sangat pelan sambil menunjukkan keenam peluru perak di dalam genggaman tangannya yang berhasil dia keluarkan.


Arya langsung mengerti begitu melihatnya dan segera merogoh ke dalam saku celananya yang tak lama kemudian sebuah botol kecil dikeluarkannya.


"Ini, minumlah," kata Arya sambil memberikan Rian minum cairan dalam botol tersebut.


"Tidak… itu obat penyembuhmu yang terakhir, kan?" ucapnya sambil menolaknya.


Arya terdiam sejenak, yang dikatakan Rian memang benar. Tetapi dia lebih memilih untuk memberikannya kepada Rian daripada dia harus melihat temannya itu mati karena lukanya yang tidak sempat sembuh.


"Tidak apa-apa. Minumlah, aku tak mau kau meninggalkanku secepat ini," ucapnya.


Ucapan Arya membuat Rian tak dapat berkata apa-apa lagi dan segera meminumnya. 


Tak lama berselang, kemampuan regenerasi Rian yang sebelumnya sempat melambat akibat efek dari peluru perak kini telah kembali normal, bahkan meningkat melebihi kecepatan regenerasinya dari sebelumnya untuk beberapa saat.


Dan dalam hitungan detik, semua luka yang dimiliki Rian pun akhirnya pulih tanpa meninggalkan satu pun bekas luka, bahkan tubuhnya yang telah kehilangan banyak darah kini telah kembali terisi oleh darah baru yang dihasilkannya dari obat penyembuh.


"Kita harus mengejar mereka dan menyelamatkan Bella," ujar Rian sambil berusaha untuk berdiri.


"Jangan terlalu memaksakan diri, ini sudah diluar kemampuan kita," sanggah Arya.


"Terus? Apa yang harus kita lakukan?" Bella dalam bahaya dan kita harus menyelamatkannya!"


"Tidak! Itu terlalu berbahaya, kau yang memiliki kemampuan regenerasi saja bisa dibuat tak berdaya seperti tadi, apalagi aku?" jelasnya.


"Lalu kita harus bagaimana?"

__ADS_1


__ADS_2