Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
034 - Peringkat 9


__ADS_3

"Sepertinya kau baru sadar, apa sebelum-sebelumnya kau selalu diperlakukan buruk oleh Herman? Aku benar-benar merasa kasihan padamu," ucap pria tersebut sambil tersenyum tipis. 


"Baiklah, karena aku adalah orang dewasa yang baik, pemurah, penyayang, lagi maha serakah, maka aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Kanami, peringkat 9 dari Divisi 7 yang akan dipromosikan menjadi peringkat 8 jika aku berhasil dalam misi yang tengah aku jalani ini," sambungnya lagi.


"Divisi 7? Jadi dia satu divisi dengan Rena ya? Kalau begitu, pasti dia mau diajak untuk membantu mengalahkan agmar level tiga itu," batin Arya.


Kanami menyeringai, lalu dia memegang tombaknya dengan kedua tangannya dan mengarahkan mata tombaknya ke arah Arya seperti orang yang tengah bersiap untuk menyerang.


"Tu-tunggu dulu! Aku tidak mau bertarung denganmu," ucap Arya cepat sebelum terlambat.


"Tenang saja, aku juga tak mau bertarung denganmu kok. Tapi, aku hanya akan… membunuhmu!"


Wuuush …!!


Triiiiingg …!!


Sambil mengayunkan tombaknya Kanami melesat ke arah Arya secepat angin berhembus. Tetapi untungnya Arya berhasil menahan serangannya dengan sisi tipis dari perangnya.


"Hah! Refleksmu ternyata memang bagus, jadi yang tadi itu memang bukan kebetulan," komentar Kanami sambil menekan tombaknya.


"Sudah cukup! Aku bilang aku tidak mau bertarung dengan-"


"Tidak dengar," potongnya.


Wuuush …!!


Kanami mengerahkan seluruh tenaganya dan membuat tubuh Arya beserta pedang yang dipengangnya terpental jauh ke belakang hingga membuatnya terguling-guling di jalan berbatu.


"Maaf, tadi aku tidak dengar apa yang kau katakan, bisa kau katakan sekali lagi?"


"Cuih! Sialan! Aku bilang aku tidak mau bertarung denganmu! Apa kau tidak paham, hah?!" ucap Arya dengan kesal.


"Ooo … begitu ya, aku tidak tahu apa alasanmu berkata seperti itu. Tapi, jika itu keinginanmu maka … biarkan aku membunuhmu agar aku bisa naik peringkat!" 


Kanami memosisikan tombaknya dan kemudian kembali melesat ke arah Arya sambil mengayunkan tombaknya.


Triiiiingg …!!

__ADS_1


Mata tombak Kanami dan bilah pedang Arya sekali lagi beradu. Tak lama kemudian Kanami mulai memutar-mutarkan tombaknya dan menyerang Arya secara terus-menerus menggunakan ujung dan pangkal tombak.


Serangan tersebut dapat ditangkis dengan mudah. Namun, semakin lama kecepatan serangan Kanami semakin cepat sehingga Arya hanya mampu untuk menangkis dan berjalan mundur dengan perlahan tanpa bisa menyerang balas sedikit pun.


"Sial! Jika kau tidak tahu apa alasanku tidak mau bertarung denganmu harusnya kau diam dan dengarkan penjelasanku dulu bukannya malah menyerang," gerutu Arya dalam hati.


Buk…!


Pangkal tombak Kanami berayun dan berhasil mengenai perut sebelah kanan Arya. Karena serangan itu, tubuh Arya sekali lagi terpental hingga menabrak sebuah pohon yang membuatnya berhenti.


"Argh …!! Benar-benar sakit, tapi untung yang kena itu pangkalnya, kalau mata tombaknya bisa-bisa tamat sudah riwayatku." 


Arya yang kini terduduk lemas di pohon yang tadi dia tabrak mulai mencoba untuk bangkit kembali dengan pedangnya yang kembali dia genggam.


Tanpa aba-aba dan tanpa peringatan apa pun, Kanami lagi-lagi melesat dengan mata tombaknya yang langsung diarahkan ke arah Arya. Arya yang terkejut tak sempat untuk melompat menghindarinya dan ….


Jleb …!!


Entah itu karena Kanami sedikit meleset atau karena Arya yang berhasil menghindar, tapi yang jelas mata tombak tersebut malah menusuk pohon yang ada di belakang Arya. 


Di saat yang seperti itu, Arya memegangi pedangnya dengan kedua tangannya dan segera mengayunkan pedangnya sekuat tenaga ke leher Kanami tanpa ragu dan berpikir panjang.


Begitu pedang Arya telah selesai berayun, dengan sigap Kanami langsung menangkap salah satu pergelangan tangannya dan melempar tubuh Arya dengan mudah ke udara.


Bruuk …!!


Arya jatuh ke tanah dengan cukup keras, lalu dengan susah payah dia berusaha berdiri kembali dan mengarahkan pedangnya ke arah Kanami tanda bahwa dia masih belum menyerah.


Napasnya terengah-engah sampai suara napasnya tersebut terdengar dengan sangat jelas, kakinya mulai bergetar karena merasa tak yakin jika harus kembali bertarung melawannya.


"Sial! Padahal dia hanya peringkat 9, tapi kenapa aku sampai kewalahan menghadapinya? Apa hanya sejauh ini hasil latihanku selama tujuh bulan? Kalau memang hanya ini maka aku tak akan bisa memenangkan ramalan itu," batinnya.


Kedua mata Arya mulai menatap tajam ke arah Kanami seperti tak mau melewatkan kesempatan apa pun untuk bisa menang. Lalu, Kanami pun melihat Arya dengan tanda tanya di kepalanya.


"Hei nak, aku tahu kau memilikinya dan kau sudah kubuat tak berdaya hingga sejauh ini. Tapi kenapa kau masih tidak menggunakannya?" tanya Kanami.


Arya tidak mengerti maksud dari pertanyaan tersebut dan dia pun diam sejenak sambil memikirkannya.

__ADS_1


"Menggunakan apa?"


"Tidak perlu pura-pura tidak tahu, yang kumaksud itu adalah gerbang pertama, kau sudah menguasainya kan?"


"Menguasai … gerbang … gerbang apa tadi?"


Kanami menepuk jidatnya dengan keras, dia seakan tidak percaya begitu mendengar Arya yang tidak mengetahuinya.


"Apa kau tidak tahu?" 


Arya hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Gerbang pertama, tekanan energi spiritmu sekarang sudah mencapai tingkat di mana seharusnya kau sudah sanggup menguasai gerbang pertama. Mustahil jika kau tidak tahu, kecuali jika tipe blade soulmu adalah tipe sihir," jelasnya dengan tatapan serius.


"Maksudmu-"


Wuuush …!!


Tiba-tiba Rena melompat keluar dari dalam hutan yang membuat ucapan Arya terpotong dan mendarat di antara Arya dan Kanami. 


"Rena?" ucap Arya dan Kanami serentak.


"Sihir nomor 20 : sambaran petir!" 


Tiba-tiba sebuah petir keluar dari tangan Rena yang diarahkan dan melesat ke arah hutan, tepatnya ke arah di mana tadi dia melompat keluar.


Blaaarr …!!


Sihir yang Rena lepaskan itu berhasil mengenai sesuatu yang dia targetkan dan menyebabkan ledakan yang cukup besar. Asap dan debu dari hasil ledakan mengepul menutupi area ledak sehingga kondisi dari targetnya itu tak dapat dipastikan.


"Apa aku berhasil?" ucap Rena.


Perlahan asap dan debu yang mengepul dari hasil ledakan mulai menghilang. Karena pada malam itu sang rembulan tengah bersinar dengan terang, maka di tempat tersebut samar-samar terlihat ada sesosok gadis yang tengah berjalan mendekat dari balik kepulan asap yang kini telah hilang.


Gadis tersebut adalah gadis yang tadi dilihat Rena di tengah hutan. Dia mengenakan gaun berwarna putih, kulitnya pucat kebiruan, giginya tajam dan mulutnya dipenuhi dengan noda darah. Rambutnya hitam terurai tak terurus, kuku-kukunya panjang, dan kedua matanya hitam dengan pupil berwarna merah darah.


Bahaya mulai dirasakan oleh Kanami, dia mencabut tombaknya yang tertancap di pohon dan berjalan mendekati Rena tanpa memalingkan pandangannya dari gadis itu. Arya yang melihat tindakan Kanami pun ikut-ikutan berjalan mendekati Rena dengan posisi pedang di tangannya siap tempur.

__ADS_1


"Rena, kau tahu kan kalau sekarang kau sudah menjadi seorang buronan?" ucap Kanami.


__ADS_2