Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
047 - Permohonan Rena


__ADS_3

Hari telah berganti malam. Meskipun matahari telah terbenam, Arya tetap berlari sebisanya hingga akhirnya dia sampai di area konstruksi yang dimaksud Andika.


"Apa benar di sini?" gumamnya.


Karena dia telah sampai, Arya melangkah masuk ke dalam area tersebut dengan langkah pelan berhubung tubuh serta kakinya telah letih akibat terus berlari tanpa henti. 


Di sana terdapat banyak bahan bangunan yang ditumpuk begitu saja di atas tanah yang lapang. Semua bahan bangunan tersebut rencananya akan digunakan untuk menyelesaikan proyek pembangunan sebuah gedung di sana yang baru setengah jadi.


Saat Arya tengah berada di tengah-tengah lapangan dan sibuk melihat-lihat keadaan di sekitar, tiba-tiba empat buah lampu sorot menyala dan menyorotinya dari empat arah yang berbeda.


Tak lama setelahnya, satu per satu orang berseragam hitam muncul dari balik tumpukan bahan-bahan bangunan. Mereka mengelilingi Arya dengan jarak mereka dengannya yang cukup jauh dan kemudian duduk bersila di atas tanah.


Arya mencoba untuk menghalangi cahaya dari lampu-lampu sorot yang menyinarinya sekaligus mencoba untuk melihat satu per satu dari wajah setiap orang yang duduk mengelilinginya.


Tanpa disadarinya, seorang pria bertubuh besar berjalan ke arahnya dari belakang. Arya yang baru merasakan kehadirannya begitu dekat mengira jika itu adalah Rian, tetapi tak lama kemudian dia pun sadar bahwa hawa keberadaannya sangatlah berbeda.


Arya segera berbalik dan bersiap dalam posisi siaga jika saja hal buruk terjadi padanya.


"Siapa kau?" tanya Arya dengan tatapan tajam.


Pria itu memiringkan kepalanya sambil menampilkan wajah dan reaksi yang datar. Kulit wajahnya tampak keriput bagaikan orang yang berusia 60 tahun dan di sana juga terlihat ada bekas luka besar di bagian mata sebelah kirinya yang membuat matanya tersebut tertutup yang kemungkinan dia telah kehilangan satu bola matanya.


Tak lama kemudian, pria tersebut pun tertawa terbahak-bahak sambil diikuti oleh sebagian orang yang duduk melingkarinya. Arya merasa bingung, tapi kejadian tersebut tidak mengurangi tingkat kewaspadaannya sedikit pun.


"Aku bisa merasakan energi spirit dan energi gelap secara bersamaan di dalam tubuhmu. Itu berarti kau adalah orang yang dimaksud oleh Kanami," ujar pria tersebut sambil menunjuk Arya.


Arya tahu bahwa orang yang berada di depannya tersebut bukan orang sembarang. Arya dapat merasakan energi spirit dalam jumlah yang sangat besar dalam tubuhnya dan melihat ada sebuah jubah berwarna hijau di atas seragam Demon hunter yang dia kenakan.


"Pakaian yang dikenakannya sedikit berbeda dari yang lain. Apa jangan-jangan dia adalah salah satu dari dua ketua divisi yang dikatakan si Kacamata?" pikir Arya.


"Si-siapa kau?" 


Sebelum pria itu sempat menjawabnya, tiba-tiba seseorang bertubuh kerdil merayap dari bagian belakang jubah pria itu dan kemudian duduk di atas bahunya yang lebar.

__ADS_1


"Hah! Dia adalah Dante Ketua Divisi 10, sebuah divisi yang bertarung tanpa memikirkan keselamatan nyawa mereka sendiri," jawab orang kerdil tersebut.


Arya melihat orang tersebut dengan mata yang melebar karena terkejut melihat kulit tubuhnya yang berwarna hitam pekat hingga terlihat menyatu dengan pakaian Demon hunter yang dia kenakan. Tapi untungnya gigi dan sepasang bola matanya yang bulat tidak ikut berwarna hitam, melainkan berwarna putih bersih.


"Nicolas? Kenapa kau di sini? Aku kan sudah menyuruhmu untuk duduk manis di samping Zildan," ucap Dante sambil melirik dengan raut wajah tak senang ke arah Nicolas.


"Ayolah Dante … aku kan lebih suka duduk di bahumu daripada duduk di samping Dadan, lagi pula aku tidak akan mengganggumu kok, apalagi jatuh dari bahumu," sahutnya dengan senyum yang terlihat tak bisa luput dari wajahnya.


"Di mana Rena?" tanya Arya yang langsung ke terus terang.


Dante dan Nicolas mengarahkan pandangan mereka secara bersamaan untuk menatap Arya dan tiba-tiba saja Arya merasakan tubuhnya sekarang tidak dapat digerakkan walau sedikit.


Dante berjalan mendekat dengan Nicolas yang masih duduk di bahunya. Sebuah pukulan dilayangkan Dante ke tubuh Arya tanpa peringatan dan Arya pun langsung terpental ke belakang tanpa bisa mengelak ataupun menahannya.


"Hati-hati, dia adalah titisan kesatria cahaya dalam ramalan. Jika kau terlalu kuat maka dia bisa mati," ucap Nicolas kepada Dante melalui kemampuan telepati yang hanya menghubungkan mereka.


"Aku tahu itu, aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran agar dia termotivasi untuk menjadi kuat seperti perintah yang diberikan guruku," balas Dante.


"Hah! Sudah tahu masih tanya lagi."


Arya mencoba untuk bangkit, Namun tiba-tiba tubuhnya kembali tak bisa digerakkan. Ditambah lagi kini tubuhnya terasa ditarik kuat ke bawah oleh gravitasi bumi yang terasa beberapa kali lebih kuat daripada seharusnya begitu Dante berjalan mendekat.


Dante menarik sebilah pedang berkarat yang tersembunyi di pinggang sebelah kiri dibalik jubah hijau yang dikenakannya. Lalu, dia mengarahkannya ke atas kepala Arya seperti ingin menusuknya.


Arya melihat pedangnya itu dengan mata melotot, dia berusaha sekuat tenaga untuk bergerak tetapi tetap saja tak berhasil.


"Kenapa? Kenapa kau melihat pedangku dengan mata seperti itu? Apa karena kau terkejut melihat pedangku yang penuh dengan karat?" tanya Dante.


Dante merasa kesal melihat mata dan ekspresi Arya saat melihat pedangnya. Dia pun mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk bersiap menusuk kepalanya. Setelah beberapa saat, Dante pun menjatuhkan pedangnya dengan cepat dan bersamaan dengan itu, sebuah suara pun terdengar berusaha menghentikan aksinya.


"Hentikan!"


Jleb!

__ADS_1


"Hentikan tindakanmu Dante!" teriak suara itu lagi.


Meskipun suara tersebut telah berusaha untuk menghentikannya, tetapi sayangnya pedangnya telah mendarat terlebih dahulu.


Arya membuka matanya perlahan dan betapa terkejutnya dia melihat pedang berkarat milik Dante malah tertancap di tanah tepat di depan matanya, bukan di kepalanya.


"Aku hanya bercanda, bocah," ujar Dante sambil tersenyum sinis kepada Arya.


Setelah itu, Dante memalingkan pandangannya ke belakangnya untuk mencari tahu siapa pemilik suara yang telah mengganggunya sambil menunjukkan ekspresi kekesalannya.


"Siapa yang berani menggangguku?" tanyanya untuk mencari tahu.


Seorang pria berambut pirang panjang dan mengenakan jubah hijau di atas seragam Demon hunternya seperti Dante datang bersama dengan X yang berjalan di belakangnya.


"Sudah cukup! Tindakanmu itu selalu saja keterlaluan!" ucap pria berambut pirang itu lagi.


"Memangnya apa urusanmu, Eden? Aku hanya memberesi orang yang akan mengganggu misi kita. Lalu, urusanmu untuk membuka gerbang ke Altera memangnya sudah selesai?" sahut Dante yang tak senang dengan kehadirannya.


"Masih belum, sihir pengganggu yang dipasang oleh para penyihir terlalu kuat. Sekarang aku jadi tidak heran kenapa sebelumnya kita kehilangan kontak dengan kelompok pemburu agmar G-34,"


"Kalau begitu pergi sana! Urus urusanmu sendiri dan jangan urus urusanku!"


"Maaf, sebenarnya tujuanku ke sini bukan hanya untuk memberitahu itu saja, tetapi ada permohonan dari Rena yang harus dikabulkan," 


"Cih, permohonan apa?"


"Keluargaku sejak zaman dahulu memiliki tradisi untuk mengabulkan permohonan terakhir para buronan yang ditangkap. Jadi, hilangkan tekanan energi spiritmu yang menekan tubuh bocah itu sekarang!"


"Kalau aku tidak mau?"


Dante menarik pedangnya yang masih tertancap dan berdiri menghadap Eden, dia berniat memancing amarahnya dan melepaskan lebih banyak energi spiritnya dengan ganas sambil menyeringai.


"Haa … sepertinya binatang memang tidak akan bisa mengerti jika diajak bicara. Itu berarti pertempuranlah yang bisa membuatnya mengerti," sindir Eden dengan wajah datar.

__ADS_1


__ADS_2