Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
023 - Tiga Sekawan


__ADS_3

"Iya, kami baik-baik saja. Tanpa terluka, tergores, ataupun kurang satu apa pun," jawab Arya.


"Bukan, bukan yang itu maksudku. Maksudku apa kalian tidak apa-apa karena telah menyalahkan semua kejadian pada malam itu kepada Victor?" tanya Nanda membenarkan maksud dari pertanyaannya.


"Memangnya kenapa? Apa kau sudah mulai peduli dengannya?" tanya Arya dengan tatapan tajam.


"Haa … kau masih belum mengerti ya? Kalian itu menggunakan cara yang sama dengan cara yang dia lakukan dulu untuk menjatuhkan kalian, menurutmu apa masalah ini akan berjalan dengan lancar?"


"Kalau menurut dugaanku, seharusnya ini berjalan lancar. B*j*ng*n seperti dia mana mungkin bisa ditangkap, apa pun kasusnya dan apa pun tuduhan, dia selalu bisa lolos dengan mudah," jelas Rian yang akhirnya ikut bersuara.


Arya berdiri dari duduknya dan berbalik menatap pemandangan dari atas sana karena dia sudah mulai merasa jenuh dengan suasana yang dirasakan.


"Jadi, apa tujuan sebenarnya kau ke sini? Pastinya bukan untuk membahas kejadian pada malam itu atau untuk menghibur kami, kan?" tebak Arya dengan pandangan yang masih menikmati pemandangan.


"Hahahahaha! Tepat sekali! Tebakanmu benar-benar tepat!" puji Nanda.


"Tidak, itu cuma kebetulan saja,"


"Jadi, aku ke sini untuk memberitahu bahwa lusa semua murid kelas dua akan melakukan camping ke Gunung Seribu selama beberapa hari. Jadi, selama kelas dua camping, aku juga tidak akan ada di sekolah," 


"Camping? Di Gunung Seribu?" ucap Arya dengan sedikit terkejut.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" 


"Tidak, tidak ada."


Rian memperhatikan reaksi yang ditunjukkan Arya. Lalu, dia pun angkat bicara untuk menjelaskan maksud dari reaksi Arya tersebut.


"Kak Wulan kuliah di luar kota dekat dengan lokasi Gunung Seribu," jelas Rian.


"Ooo … begitu ya? Kalau begitu Kak Wulan bisa kembali ke sana dengan kami. Tapi, kira-kira kapan dia akan kembali ke Kampusnya?" 


"Percuma saja, semalam dia sudah kembali ke sana, dia bilang ada urusan mendadak yang harus segera diselesaikannya," jawab Arya cepat karena tak ingin Nanda kecewa.


Nanda menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti, sebenarnya sangat berat untuknya jika Wulan harus kembali pergi secepat itu, karena masih ada banyak hal yang masih belum sempat dia bicarakan dengannya.


"Sayang sekali, padahal ini adalah kesempatan langka bisa berpergian dengannya, hiks," ujar Nanda sambil berakting menyapu air mata yang menetes keluar yang sebenarnya tak ada sedikit pun.


"Jadi … sekarang kau tinggal bertiga dengannya di rumah, kan?" goda Nanda sambil mendorong Arya pelan dengan siku kanannya.

__ADS_1


"Apaan?" balas Arya yang tak mengerti.


"Tidak perlu pura-pura tidak tahu, sebagian murid di sekolah ini sudah tahu kok,"


"Pura-pura apa? Tahu apa? Tolong katakan dengan jelas!"


"Rian! Jelaskan!" perintah Nanda dengan sedikit bergaya sombong.


"Baik!" 


Kemudian Rian mulai mengubah posisi duduknya menjadi lebih serius dan menoleh menatap Arya dengan serius pula.


"Arya, sejak hari pertama Rena bersekolah di sini, kau mulai terlihat tertarik padanya, bahkan kau juga sering terlihat dekat dengannya. Karena itu, kami pun dapat menyimpulkan bahwa kau mungkin punya rasa padanya, apa itu benar?"


"A-apa?! Itu sama sekali tidak benar! Rian, sebaiknya kau jangan percaya gosip seperti itu!" bantah Arya.


"Tidak perlu malu, di usiamu sekarang memang sudah seharusnya seperti itu," goda Nanda lagi.


Arya menggertakkan giginya tanpa mau membalasnya. Lalu, dia pun menyerah untuk berdebat dengannya dan memutarkan kedua bola matanya ke arah lain.


"Tenang saja, aku pasti akan mendukungmu," 


"Mendukung apa? Di antara kami itu memang tidak ada apa-apa,"


Suara Nanda mengecil dan kemudian dia mendekat ke telinga Arya. Seketika Arya pun terkejut dengan tindakannya dan wajahnya menjadi memerah sesaat saat mendengar kalimat lanjutannya di telinganya.


"Jangan kau apa-apakan Rena saat Romi sedang tidak ada, ya!"


Kalimat yang diucapkannya itu membuat Arya kesal dan dengan cepat dia berusaha menangkap Nanda. Namun, Nanda berhasil menghindarinya dengan lihainya dan mendaratkan sebuah tinju tangan kanan ke ulu hati Arya sebagai balasan.


"Da-dasar kau Nanda…!!" gerutu Arya sambil meringis menahan sakit di ulu hatinya.


Tiiiinngg …! Tiiiinngg …!


Nanda kemudian segera berlari ke arah pintu menuju ke bawah karena bel tanda berakhir istirahat baru saja berbunyi. Namun, sebelum dia turun, Nanda berbalik sesaat dan mengatakan sesuatu kepada Arya.


"Soal pukulanku itu aku minta maaf. Tapi, kalau soal yang kukatakan tadi itu aku tidak bercanda. 


Jika kau melakukan sesuatu pada Rena, maka aku sendiri yang akan menghajarmu! Ingat itu baik-baik, Arya!" kata Nanda dengan menekan suara di kalimat terakhirnya.

__ADS_1


Setelah itu, Nanda pun menuruni tangga dan meninggalkan mereka berdua. Ketika Nanda sudah tak tampak lagi, Arya pun menghela napas lega.


"Maaf, aku tahu gosip itu tidaklah benar, tadi itu aku hanya ingin mencoba mengikuti suasana saja," jelas Rian sambil meminta maaf.


"Ya, aku tahu itu. Memang seharusnya kau begitu agar kau lebih terlihat terbuka pada semua orang," 


"Kalau begitu, kapan kau akan menembak Nanda? Aku tahu kau sudah sejak lama menyukainya,"


"Kau benar, tapi aku akan menunggu sampai aku bisa menjadi pahlawan dalam ramalan 200,000 tahun. Dan saat itu tiba, aku akan menyatakan perasaanku padanya.


"Waktu sampai saat itu tiba mungkin terlalu lama, tapi itu jauh lebih baik daripada diriku yang sekarang yang masih lemah dan tidak bisa  diandalkan,"


"Begitu ya. Jadi, bagaimana kalau nanti sepulang sekolah kita berburu agmar lagi? Batas waktunya juga tinggal beberapa hari lagi," ajak Rian.


"Maaf, tapi nanti aku ada urusan yang harus kuselesaikan sendiri, kita berburunya besok saja. Lagi pula, akhir-akhir ini aku tidak bisa menemukan agmar level dua di mana-mana. 


"Yang selalu tampak hanya satu kuntilanak di dalam gang depan sekolah dan satu pocong di dalam toilet sekolah. Yang dihitung cuma level dua ke atas, kan?" jawab Arya sambil berjalan menuruni tangga.


Rian merasakan ada sesuatu yang sedang Arya sembunyikan darinya. Tetapi dia tidak mau bertanya lebih dalam dan langsung mengikutinya turun dari atap menuju kelas mereka.


*****


Jam pelajaran kembali berlanjut hingga akhirnya jam pelajaran terakhir di hari itu pun usai. Semua murid SMA Gagak berhamburan keluar kelas, sebagian ada yang langsung pulang dan ada juga yang pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas walau hanya ada segelintir saja yang melakukannya.


Romi berjalan di sepanjang trotoar bersama dengan teman dekatnya Danu. Di sepanjang perjalanan raut wajah mereka berdua tampak gelisah dengan pandangan yang mengarah ke bawah.


"Hei, Romi. Bagaimana kalau kita kabur saja?" ajak Danu.


Romi menghentikan langkahnya dan mengangkat wajahnya perlahan. Danu yang merasa heran pun berhenti dan berbalik ke arah Romi yang sedikit tertinggal di belakangnya.


"Ada apa, Rom?"


"Maksudmu kabur dan langsung pulang ke rumah kita masing-masing? Meskipun kita melakukannya, hal buruk akan terjadi pada kita besoknya," balas Romi.


"Tapi, aku merasakan akan ada hal buruk yang akan terjadi jika kita pergi ke sana,"


"Ya, kau benar. Jika kita kabur kita mungkin akan selamat hari ini, tapi besoknya di sekolah kita tidak akan selamat! Mereka pasti akan membuat hari esok akan jauh lebih buruk dari hari ini jika kita tidak ke sana, apa kau mau?" jelas Romi sekali lagi dengan rinci.


"Te-tentu saja tidak, tapi …,"

__ADS_1


"Tapi kalian harus tetap ke sana," sambung seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang dan merangkul bahu Romi.


Kejadian tersebut membuat Romi dan Danu terkejut. Bulu kuduk mereka mulai berdiri dan keringat mereka pun keluar karena ketakutan.


__ADS_2