
Pandangan semua orang di ruangan itu mengarah kepada Arya, mereka menunggu jawaban sampai-sampai tubuh mereka seakan mematung.
Tubuh Danu bergetar, menunggu jawaban itu dengan gelisah dan dipenuhi rasa takut. Sesekali dia menyeka keringat dingin yang mengalir dengan saputangan yang dia pegang.
"Iya, itu benar, aku melakukannya," jawab Arya dengan tegas tanpa keraguan.
Mendengar jawaban tersebut, semua orang yang berada di ruangan tersebut pun terkejut. Terlebih lagi Danu, tubuhnya langsung berhenti keluar dan meninggalkan senyum lega di wajahnya.
"Sudah kubilang, kan! Sudah pasti dialah yang telah membuat anakku seperti ini!" ucap Ayahnya Danu yang murka sambil menunjuk-nunjuk Arya.
"Mohon untuk tetap tenang!" ucap Pak Dirga menenangkan Ayahnya Danu.
"Tenang?! Kau menyuruhku untuk tetap tenang di saat pihak sekolah membiarkan berandalan sepertinya berada di sekolah dan melukai anakku?"
Braak …!!!
Pak Dirga menggebrak mejanya dengan kuat, sehingga suasana pun langsung menjadi tenang kembali.
"Arya, ini adalah yang kedua kalinya kau melakukan kesalahan terberat selama kau bersekolah di sini. Aku sudah menjadi kepala sekolah di sini sejak sebelum kau ada di sini dan sebenarnya aku merasa sedih setiap kali mendengar kau terlibat dalam masalah.
"Melihat perubahanmu sejak beberapa bulan yang lalu, kupikir kau akan berubah menjadi lebih baik setelah kejadian setahun yang lalu, tapi sepertinya tidak. Aku Dirga selaku Kepsek SMA Gagak, dengan ini menskorsmu selama seminggu,"
"Mengskorsnya?! Itu terlalu ringan! Lebih baik kau mengeluarkannya dari sekolah ini!" bantah Ayahnya Danu yang tak terima.
"Aku adalah kepala sekolah di sini dan aku sudah memutuskan hukuman terbaik untuknya, jadi kau berhak untuk diam!"
Kata-kata dan nada suara Pak Dirga berhasil membungkam mulut Ayahnya Danu. Dia tak berani membantah lagi dan hanya bisa menahan amarahnya sambil mengerutkan keningnya karena tak puas dengan hukuman yang diberikan.
"Sudah selesai, kan? Kalau begitu aku pergi dulu." Arya menyeringai dan berjalan keluar dengan santainya dari ruangan itu.
__ADS_1
Beberapa saat setelah Arya keluar, Pak Alen kemudian berdiri dan bersiap untuk pamit kepada Pak Dirga.
"Terima kasih banyak sudah berbaik hati dan memaafkan kelakuan anak saya, saya memang seorang ayah yang tidak becus," ucapnya sambil sedikit membungkukkan badannya memberi hormat pada Pak Dirga.
"Tidak perlu sampai seperti itu Pak Alen, dia memang berbeda dengan Wulan, bahkan dia juga sudah ketinggalan jauh darinya. Tetapi, setiap kali aku melihatnya, aku selalu teringat kepada Wulan saat dia masih bersekolah di sini bersama Arya.
"Aku merasakan bahwa meskipun Arya seperti ini, dia adalah anak yang istimewa. Jadi, tolong didik dia lebih baik lagi, aku juga minta maaf karena telah membuatmu harus meninggalkan pekerjaanmu dan jauh-jauh ke sini hanya karena masalah kecil seperti ini,"
"Tidak apa-apa, lagi pula pekerjaanku juga sudah selesai, saya permisi."
Pak Alen mengakhiri pembicaraan dan berbalik hendak berjalan keluar sambil menjinjing tas kerjanya. Namun, ayahnya Danu tiba-tiba muncul di hadapannya dan menghalangi jalannya.
"Apa maumu?" ucap pak Alen dengan tatapan dingin.
"Untuk kali ini, anakmu akan baik-baik saja, tapi jika terjadi sekali lagi maka akan kupastikan dia berakhir di penjara, ingat itu baik-baik!" ancam ayahnya Danu dengan suara kecil.
Pak Alen mendengarkan ancaman tersebut dengan sikap tenang. Lalu, dia pun membalasnya dengan tenang pula.
Ayahnya Danu tak bisa berkata apa-apa saat mendengar balasan tersebut dan Pak Alen pun mulai melangkah keluar dengan tenang melewati Ayahnya Danu hingga menghilang setelah keluar ruangan.
"Haaaaa …!!!" teriak Ayahnya Danu yang kesal dengan reaksi dan balasan dari Pak Alen.
*****
Keesokan harinya, tepatnya di hari di mana seluruh murid kelas dua akan pergi camping. Romi mengajak Danu ke belakang sekolah. Danu yang tidak tahu maksud dari ajakan Romi tersebut tidak menaruh curiga apa pun padanya.
Buuk …!!
Begitu mereka sampai, tiba-tiba Romi meninju perut Danu dan menekan tubuhnya ke tembok dengan tatapan tajam yang diperlihatkan seakan ingin mendengar jawaban yang bagus.
__ADS_1
Untungnya tempat tersebut sepi dan hanya ada mereka berdua saja di sana sehingga Romi dapat melakukan tindakannya tersebut tanpa takut dilihat oleh orang yang sedang lewat.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Danu setelah rasa sakit di perutnya telah berkurang.
"Jangan banyak tanya! Katakan! Apa maksudmu dengan berbohong tentang kak Arya yang memalakmu kepada kepsek? Cepat katakan!" perintah Romi dengan keras.
"Oke oke, tapi tolong lepaskan aku dulu, kau tahukan luka di tubuhku akibat kejadian kemarin lusa masih belum sembuh?"
Romi menyipitkan kedua matanya, lalu dengan terpaksa dia pun segera melepaskan dan memberinya jarak darinya sebagai bonus.
"Sebenarnya kemarin setelah sabung orang dibubarkan, Alex datang padaku dan memberiku sebuah penawaran. Jika aku menutup mulut dan berbohong hingga Arya mendapat hukuman, maka dia akan berjanji tidak akan mengganguku lagi,"
"Jadi, kau melakukannya karena tergiur dengan penawarannya itu?"
"Aku terpaksa, mungkin … itu adalah satu-satunya kesempatanku untuk bisa lepas darinya."
Jawaban tersebut membuat Romi menggertakkan giginya karena kesalnya dia pada Danu. Romi tidak pernah menyangka kalau temannya itu akan sampai melakukan hal seperti itu hanya untuk bisa bebas dari Alex.
Sedikit demi sedikit kepala Danu mulai menunduk melihat wajah Romi yang terlihat marah dengan tindakan yang dia lakukan.
"Aku tidak mau diganggu lagi, aku … aku juga mau sekolah dan hidup tenang seperti orang lain, apa itu salah?" ujar Danu.
"Salah? Memang tidak! Tapi bukan begini juga caranya! Aku juga mau hidup tenang tanpa diganggu, tapi bukan dengan cara seperti ini, dia itu kakakku! Kenapa kau tega melakukan hal itu padanya?"
"Hah?! Kakak? Dia saja tidak pernah menganggapmu ada, apa kau lupa? Kau itu hanya adik tirinya. Harusnya kau berterima kasih padaku karena aku sudah memberinya pelaja-"
Buugh …!!
Sebuah pukulan kembali dilancarkan Romi yang kali ini mengenai ulu hati Danu dengan sangat keras. Perlahan-lahan Danu menjatuhkan dirinya hingga terduduk bersandar di tembok yang ada di belakangnya karena tak sanggup menahan rasa sakit dari pukulan tersebut.
__ADS_1
"Jangan bicara seenaknya! Kau tidak tahu apa-apa, memangnya kenapa kalau aku hanya adik tirinya?! Ibuku sudah meninggal empat tahun yang lalu dan sekarang aku hanya sebatang kara."
Kedua mata Danu terbuka lebar saat mendengarnya. Dia berteman dengan Romi sejak awal masuk SMA, jadi dia masih tidak tahu banyak tentangnya. Dan sekarang, akhirnya dia mulai mengerti mengapa Romi terus membela Arya dan mencoba mendekatinya meskipun dia tidak pernah sekalipun menganggap Romi ada.