Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
030 - Keberangkatan (2)


__ADS_3

Langkah demi langkah Rena langkahkan kakinya mendekati kamar Arya dengan pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. 


Semakin dia mendekat jantungnya semakin berdetak kencang, entah karena takut dengan sikap Arya yang akhir-akhir ini tidak bersahabat dengannya atau takut tindakannya akan kepergok oleh seseorang.


Rena berdiri di depan pintu kamar Arya, matanya memandangi pintu tersebut untuk beberapa saat. Dia menarik napas dan kemudian memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok!


Beberapa saat berlalu, namun tak ada respon apa pun setelahnya.


Tok tok tok!


Rena mengetuk pintu itu sekali lagi tetapi hasilnya sama saja seperti sebelumnya. Lalu, dia pun menoleh ke kiri dan ke kanan, serta menoleh ke bawah tangga untuk memastikan keadaan.


"Sepi, pak Alen dan Romi sama sekali tak terlihat, apa langsung aku panggil saja ya?" gumamnya.


Setelah terdiam untuk membuat pertimbangan, akhirnya Rena memutuskan untuk langsung memanggil Arya dari luar kamarnya.


"Arya! Apa kau ada di dalam? Ada yang ingin kubicarakan!" panggilnya.


Tak lama berselang setelah dia memanggil Arya, suara langkah kaki yang turun dari ranjang pun terdengar dan mulai mendekat ke arah pintu. Pintu tersebut pun terbuka sedikit dan muncullah Arya yang menatap Rena dengan tajam dari balik celah pintu yang terbuka sedikit.


"Ada apa?"


"Agmar yang aku buru muncul di kaki Gunung Seribu dan dia yang seharusnya berlevel dua kini naik menjadi level tiga. Aku dan Rian berencana untuk pergi ke sana untuk menyelamatkan kak Bella dan yang lainnya," jelasnya.


Tidak seperti Rian, Arya terlihat begitu terkejut saat mendengarnya, matanya sempat melebar, tetapi keterkejutannya itu tak bertahan lama dan tatapannya menjadi kembali tajam.


"Jadi, apa kau memanggilku karena kau ingin aku membantumu begitu?" tebak Arya.


"Benar, kami berdua sudah berencana untuk berkumpul di belakang sekolah sebentar lagi, apa kau mau ikut?" 


Braaak …!!!


Arya sama sekali tidak memberi jawaban dan malah menutup pintu kamarnya dengan keras. Rena kesal dengan perlakuan Arya tersebut dan memutuskan untuk segera pergi dari sana.


Di dalam kamar, Arya merebahkan dirinya kembali ke atas ranjangnya dan mulai mencoba mengingat kembali setiap kejadian yang telah dia lalui semenjak dia mendapat kekuatan yang sama dengan para Demon hunter.


"Sejak kapan ini semua dimulai?" gumamnya.

__ADS_1


Ketika dirinya sedang melamun sambil menatap langit-langit kamarnya, tiba-tiba seekor kucing hitam muncul dan menatapnya dari jendela kamarnya. Arya menoleh dan memperhatikan kucing tersebut sesaat dengan tatapan seakan-akan mengenali kucing hitam itu.


Arya bangkit dan duduk di atas ranjangnya sambil berkata ke arah kucing itu, "Apa maumu? Apa kau masih belum mengerti?" 


Kucing tersebut mengakhiri tatapannya dan melompat turun ke lantai kamar. Perlahan tubuh kucing itu mulai membengkak dan membesar hingga berubah kembali ke wujud aslinya, yaitu wujud seorang gadis yang adalah Rena.


"Apa kau benar-benar tidak mau ikut?" tanya Rena memastikan.


"Kenapa kau memastikan hal itu lagi? Bukankah yang kulakukan tadi sudah cukup jelas?"


"Kalau begitu jelaskan, apa alasannya? Apa karena kau tidak peduli dengan keselamatan Bella atau yang lainnya? Atau kau masih marah dengan Rian?"


"Kau ingin alasan?" ucap Arya sinis.


Arya bangkit dari ranjangnya dan berjalan mendekati Rena. Rena merasa sedikit takut melihat tatapan tersebut, tetapi dia tetap berdiri di tempatnya sambil menundukkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya.


Ketika Arya telah berada di depan Rena, dia berdiri sejenak tanpa melakukan apa-apa. Lalu, tanpa disangka-sangka Arya langsung memegang leher Rena hingga memaksanya untuk melihat wajah Arya yang berada lebih tinggi darinya.


"Alasannya adalah, karena dirimu," jawab Arya pelan yang kemudian mendorong tubuhnya menjauh.


"Tunggu, apa?" 


"Jadi, hanya karena itu kau tak mau ikut membantu? Lalu … kenapa waktu itu kau mau menolongku?"


"Itu karena aku tidak bisa menolak permintaan orang yang membutuhkan bantuan,"


"Terus bagaimana sekarang? Dan bagaimana dengan Bella? Aku dengar dari Rian kalau malam itu kau berniat membiarkannya, tapi pada akhirnya kau malah ikut menolongnya,"


"Diam," ucap Arya pelan.


"Memangnya apa bedanya dengan sekarang? Apa kau ingin membiarkannya dulu setelah itu kau pergi menolongnya seperti kejadian yang lalu?"


"Aku bilang diam …!!!" teriak Arya dengan keras.


Teriakan tersebut membuat Rena terkejut. Dengan wajah yang kini merah padam, Arya menarik tangan Rena dan menariknya ke arah pintu kamar.


Dia membuka pintu tersebut, lalu mendorong Rena dengan kasar keluar hingga jatuh terduduk di depan kamarnya.


"Akan aku katakan sekali lagi! Aku tidak akan ikut dengan kalian dan jangan harap aku akan datang membantumu!"

__ADS_1


Braakk …!!


Arya menutup kembali pintu kamarnya dengan keras setelah memberi jawaban sekali lagi. Rena masih terduduk di depan pintu kamar Arya dengan perasaan yang juga masih terkejut.


Setelah beberapa saat, tiba-tiba Romi datang dari arah tangga mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.


"Apa kau tidak apa-apa?" 


Suara tersebut membuat Rena menoleh ke arah Romi, wajahnya terlihat sedikit ketakutan dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Ya, aku tidak apa-apa," jawab Rena bohong sambil menerima uluran tangan Romi.


"Sebenarnya … bagaimana kau bisa masuk ke kamar kak Arya? Setahuku dia tidak pernah membiarkan orang lain masuk ke dalam kamarnya selain kak Wulan, dan kenapa dia begitu marah padamu?"


Rena terdiam membisu seakan tak mau menjawabnya, dia juga menundukkan kepalanya seperti orang yang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, bukan hal penting. Tapi, tolong kembalikan album foto yang kupinjam hari itu, ya," balas Rena sambil berlalu menuruni tangga dengan pelan.


"Kau mau ke mana?" tanya Romi penasaran dengan tingkahnya itu.


Rena berhenti sejenak mendengar pertanyaan itu dan menoleh ke arah Romi sesaat.


"Aku ada urusan, nanti malam kalian makan saja duluan, tidak perlu menungguku karena aku akan pulang sangat terlambat," jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.


*****


Di belakang sekolah, Rian duduk menunggu seseorang yang akan datang sambil termenung, sesekali dia menengok ke kiri dan ke kanannya, memastikan kehadiran orang yang sedang ditunggunya. Namun, tak lama kemudian, akhirnya orang yang ditunggunya tersebut pun tiba.


"Maaf aku terlambat," ucap Rena membuka pembicaraan.


"Tidak apa-apa, di mana Arya?"


Rena tidak langsung menjawab, wajahnya terlihat agak murung saat mendengar Rian menyebut nama itu dan pandangannya pun jadi diarahkan ke bawah karena merasa tak enak untuk menjawabnya.


"Dia menolak untuk ikut," jawab Rena dengan terpaksa.


"Jadi dia masih marah ya? Sebaiknya kau tidak perlu terlalu memikirkannya, karena setahun yang lalu saat setelah Victor menjebak kami, Arya juga marah seperti itu hingga beberapa hari," jelasnya berusaha menenangkan.


"Begitu ya. Oh ya, di mana bantuan yang kau maksud itu?" 

__ADS_1


__ADS_2