
Hati Arya seketika terasa hancur saat mendengarnya, rasanya begitu sakit bagaikan ditusuk oleh ribuan jarum sekaligus. Tatapannya melebar seakan tidak ingin mempercayainya. Namun, tak ada yang bisa diperbuatnya selain menerima kenyataan pahit tersebut.
Cklek .…
Pintu masuk ke kamar tersebut tiba-tiba dibuka dari luar dan seorang pria berkacamata dengan berkemeja putih berdasi masuk beberapa langkah ke dalam kamar tersebut sambil menjinjing sekantong jeruk.
Andika melihat atmosfer dalam kamar tersebut yang terasa aneh dan menanyakan penyebabnya, "Apa yang baru saja kulewatkan?"
"Re-rena …," ucap Arya pelan dan lesu.
"Aku kenapa?"
Tiba-tiba Rena muncul dari balik tubuh Andika sambil bertanya karena penasaran. Sontak saja Arya pun terkejut mendengar dan melihat Rena yang berada di depan matanya dalam keadaan baik-baik saja.
"Re-rena?! Kau … masih hidup?"
"Tentu saja, memangnya siapa yang bilang aku mati?" jawab Rena yang merasa aneh dengan pertanyaan Arya.
Arya masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan langsung melirik tajam ke arah Wulan untuk menuntut penjelasan. Tetapi saat menoleh, Arya malah melihat Wulan yang tengah berusaha menahan tawanya dengan sebelah tangannya dan mengambil jaketnya dengan tangannya yang lainnya.
"Dasar kau …!!!"
Arya merasa sangat kesal, dia segera mengambil sebuah botol air yang berada di atas meja dekat ranjangnya dan melemparnya ke arah Wulan. Namun, Wulan segera menunduk hingga membuat botol air yang dilemparnya tersebut mengenai dahi Andika.
Kacamatanya pun jatuh, namun untungnya Rena berhasil menangkapnya dan mengembalikannya kepada Andika. Setelah kejadian itu, dengan cepat Wulan pun kabur dari kamar itu sebelum Arya mengamuk lebih parah lagi.
"Rasanya seperti deja vu," batin Rena.
"Kenapa kau ke sini dasar Mata Ganda!" ucap Arya yang masih kesal.
"Bisa tidak kau berhenti memberiku julukan aneh? Namaku Andika!"
"Hah! Apa itu berarti kau lebih suka kau ku panggil Kacamata?"
Andika memakai kembali kacamatanya tanpa menyahut perkataan Arya dan dia pun berjalan ke arah meja di kamar itu untuk meletakkan sekantong jeruk yang dia bawa.
__ADS_1
"Ada apa? Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Arya sambil menatap Andika yang berjalan santai ke arah sofa dan kemudian duduk di sana dengan kaki yang disilangkan.
"Tentu, ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Tapi … aku bingung dari mana aku harus memulainya, karena itu aku memutuskan untuk menyalakan rokokku dulu," sahut Andika sambil mengeluarkan rokok dan korek dari saku bajunya, lalu menyalakannya.
Setelah dinyalakan, embusan asap pertama yang diembuskan Andika keluar dari mulutnya. Rena yang duduk tidak jauh darinya terpaksa harus mengibaskan tangannya agar asap rokok tersebut segera menghilang dari pandangannya.
"Karena insiden agmar di Gunung Seribu, sekitar 16 siswa SMA Gagak menghilang, alias tewas dimakan habis oleh agmar yang kau lawan. Pagi harinya camping dibatalkan dan semua murid langsung dipulangkan ke rumah mereka masing-masing,"
"Lalu … apa yang terjadi dengan agmar itu? Seingatku aku gagal mengalahkannya,"
"Agmar itu dikalahkan oleh Torak dan Bella menyelematkanmu dengan kemampuan penyembuhannya," sahut Rena.
"Bella? Bagaimana dia melakukannya?"
"Sama seperti Rian, dia adalah pengguna kekuatan supernatural dan kekuatannya berasal dari dalam liontin tua peninggalan kakeknya. Setelah kami selidiki, beberapa generasi sekali keluarga Bella akan memiliki seorang keturunan yang mampu menarik keluar kekuatan dari dalam liontin tersebut, dan penyembuhan adalah salah satu dari kemampuannya," jelas Andika.
"Jadi … itu sebabnya para Demon hunter waktu itu mengincar Bella ya?"
"Bukan Demon hunter," kata Rena cepat.
Andika menghisap rokoknya dan mengembuskannya lagi, kali ini Rena sedikit terbatuk-batuk karena tidak sengaja menghirup asapnya.
"Yang kau katakan itu benar, Rena. Tapi ada sedikit kekeliruan dalam pengetahuanmu terhadap penyihir," jelas Andika yang mencoba untuk membenarkannya.
"Apa?"
"Sebenarnya Demon hunter terbagi menjadi tiga jenis, yang pertama adalah manusia, yang kedua elf, dan yang ketiga adalah penyihir. Sesuai namanya, penyihir adalah manusia yang hanya mampu menggunakan sihir, mereka tidak memiliki kekuatan seperti para Demon hunter kebanyakan.
"Sejak zaman dahulu, penyihir dan Demon hunter manusia seringkali mendapat diskriminasi dari elf dan kerajaan elf itu sendiri. Tetapi, karena para penyihir tidak dapat bertarung melawan agmar di garis depan, akhirnya mereka pun mendapat perlakuan yang jauh lebih buruk dari Demon hunter manusia.
"Karena itu, pemberontakan penyihir yang terjadi 400 tahun pun terjadi dan para penyihir saat itu menyatakan berpisah dengan organisasi Demon hunter.
"Puncaknya, sepuluh tahun yang lalu para penyihir kembali beraksi dan melakukan penyerangan yang membuat mereka ditetapkan sebagai musuh yang harus langsung dibunuh jika bertemu dengan mereka. Itulah penyihir yang kita kenal sekarang, para penyihir yang merupakan musuh kita para pasukan revolusi selain para elf," jelasnya.
Setelah itu Andika terdiam sejenak sambil menghisap kembali rokoknya beberapa kali. Dalam keheningan yang terjadi sesaat itu, pintu kamar yang telah tertutup kembali terbuka dan Pak Alen pun muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Ayah?" ucap Arya pelan dengan nada kebingungan.
Pak Alen tidak menghiraukan Arya dan kemudian berjalan cepat ke arah Rena. Rena yang melihatnya berjalan ke arahnya pun segera berdiri karena merasa tidak pantas dan ….
Plaaak …!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya yang membuat kepalanya berputar ke arah kanan saking kerasnya tamparan tersebut.
"Dasar tidak tahu diri! Sudah kubiarkan kau tinggal di rumahku, tapi inikah balasanmu? Teganya kau membuat anakku seperti ini!" bentak Pak Alen kepada Rena.
Arya yang melihat tindakannya tersebut merasa amat sangat terkejut dan tidak terima dengan tindakan yang ayahnya lakukan kepada Rena. Dia ingin sekali melakukan perhitungan kepada ayahnya tersebut, namun dirinya langsung terjatuh ke lantai begitu dia mencoba untuk turun dari ranjangnya.
Karena tindakannya tersebut, Andika pun segera menghampiri Arya dan menolongnya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin tulang rusukmu patah lagi?" kata Andika sambil membantunya kembali ke atas ranjangnya.
Setelah berhasil berdiri, tiba-tiba Arya mendorong Andika dan memaksakan dirinya untuk berjalan ke arah ayahnya. Namun, dengan cepat Andika kembali dan mengunci kedua tangan Arya dari belakang sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Lepaskan aku dasar Kacamata! Biarkan aku menghajar laki-laki sinting yang ada di sana!" teriak Arya sambil terus memberontak sekuat tenaga tanpa memikirkan luka-lukanya yang bisa saja bertambah parah.
"Tenanglah dasar bocah idiot! Dia itu ayahmu! Kendalikan emosimu!" balas Andika yang tetap berusaha menahannya.
"Ayah apaan? Memangnya ke mana saja dia ketika aku membutuhkannya? Dan sekarang tiba-tiba dia datang dan main tampar seenak jidatnya, dia itu tidak lebih dari seorang penge-"
"Cukup!" teriak Rena.
Teriakannya tersebut seketika membuat Arya dan Andika berhenti. Dengan wajah yang kini tertunduk, Rena pun mulai berjalan keluar dan pergi dari kamar tersebut dengan perasaan sedih.
"Re-rena!" panggil Arya yang malah tidak dipedulikan.
Arya mengerahkan tenaganya secara tiba-tiba dan berhasil lepas dari Andika. Niatnya ingin menyusul Rena, namun dirinya langsung tersungkur begitu dia baru mengambil langkah pertama.
Pak Alen segera mendekat dan berjongkok, dia juga mengulurkan tangannya hendak membantu anaknya itu untuk kembali berdiri. Namun, Arya langsung menolaknya mentah-mentah dan berusaha merayap keluar dengan kedua tangannya.
"Haa … kau benar-benar tidak memberiku pilihan lain," ucap Andika dengan jarum suntik yang sudah siap di tangannya.
__ADS_1
Andika mendaratkan jarum suntik di tangannya tersebut ke tubuh Arya dan tak butuh waktu lama kesadaran Arya pun perlahan mulai menghilang.