Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
019 - Misi Penyelamatan (1)


__ADS_3

"Lebih baik kita mundur dulu, kita minta si Tua Bangka dan si Kacamata untuk menangani masalah ini, aku akan coba menghubungi mereka." 


Rian terdiam sejenak dan akhirnya menyetujui rencana Arya, mengingat kelompok yang membawa Bella sangatlah berbahaya.


"Mundur? Untuk apa? Meminta bantuan? Kau hanya akan membuang-buang waktu saja karena temanmu akan lebih dulu dibawa ke Dimensi Dasar sebelum kau sempat menyelamatkannya," ujar Victor yang tiba-tiba datang dan bergabung dalam pembicaraan mereka.


Arya dan Rian menoleh ke belakang yang mana kini Victor berdiri di belakang mereka sambil menyeringai. Tatapan tidak bersahabat diperlihatkan oleh mereka berdua kepada Victor, terlebih lagi Rian yang terlihat sedang memendam dendam padanya.


"Apa maumu b*ng**t?!" umpat Rian.


"Wah, ada yang tidak tahu terima kasih. Padahal kalau bukan karena aku yang menghabisi semua agmar itu, sekarang kau sudah pasti mati karena Arya masih sibuk dengan agmar lemah itu," balas Victor.


Rian tidak bisa lagi menahan dendamnya dan mulai melangkahkan kakinya mendekati Victor. Namun, Arya segera menghentikannya dengan menarik pergelangan tangannya.


"Aku tahu kau masih dendam dengan yang dia lakukan dulu dan aku juga demikian. Tapi, untuk malam ini cukup sampai di sini saja," ucap Arya kecil kepada Rian.


Rian paham akan kekhawatiran Arya dan situasi yang sedang mereka hadapi. Oleh karena itu, dia pun mundur dan mencoba untuk meredakan emosinya.


"Aku tidak tahu apa alasanmu tadi membantuku. Tapi yang jelas, sekarang sudah selesai dan kita tak ada hubungan apa-apa lagi," kata Arya yang berniat berbalik dan pergi bersama Rian.


"Alasan? Apa kau membutuhkannya? Kalau iya maka alasannya adalah karena kita masih belum memulai apa yang seharusnya kita mulai," 


"Apa maksudmu?" tanya Arya yang berhenti dan menoleh kembali ke arahnya.


"Kau tak akan mengerti jika aku menjelaskannya sekarang. Jadi, ayo aku akan membantu kalian menyelamatkan teman kalian yang mereka tangkap," ucap Victor sambil berbalik.


"Apa? Kau sedang bercanda?"


"Memangnya aku sedang terlihat bercanda?" 


"Aku ikut," sahut Rian.


"Apa yang kau katakan?"


"Bella perlu bantuan, dia harus diselamatkan. Meskipun harus dengan bantuannya!"


Arya melihat ada tekad kuat dalam tatapan yang Rian tunjukkan padanya. Oleh karena itu, dia pun tak dapat menghalanginya lagi.


"Baiklah, tapi dengan apa kita mengejar mereka?" tanya Arya yang akhirnya ikut serta.


Victor tidak menjawab dan hanya menoleh ke beberapa motor yang tergeletak di atas jalanan yang ditinggalkan oleh beberapa anak buah Herman yang terluka.


Sepertinya Rian dan Arya mengerti dengan apa yang dimaksudnya. Mereka bertiga pun menaiki motor-motor tersebut dan melaju kencang di jalanan melewati orang-orang yang mulai tersadar setelah pingsan akibat penghalang yang tadi diciptakan.


Gedung-gedung besar dan jalanan yang ramai telah mereka lewati. Setelah melaju kencang selama beberapa menit, akhirnya mereka sampai di pinggir kota.

__ADS_1


"Itu dia!" ucap Victor saat melihat sebuah rumah besar bertingkat yang berdiri di tepi belokan jalan di depan.


"Apa?!"


Victor tak memperdulikan Arya yang tak sempat mendengar ucapannya dan melajukan motornya ke kecepatan maksimal. Jaraknya semakin dekat dengan pintu gerbang dari rumah besar bertingkat tersebut.


Dua penjaga yang merupakan anak buah Herman menyadari kehadiran Victor segera mengeluarkan sebuah pistol dan bersiap untuk menembak ke arahnya.


"Dasar bodoh!" 


Braakk …!!!


Victor melompat dari motornya dan mendarat dengan sempurna dengan menggunakan velis miliknya, sedangkan motornya terus melaju hingga menabrak salah satu penjaga hingga tewas menghantam gerbang.


Satu penjaga lagi yang masih tersisa sempat terkejut, tetapi dia pun segera mengarahkan pistolnya membidik Victor. Namun sayang, Victor sedikit lebih cepat darinya dan akhirnya membunuhnya dengan sebuah belati hitam yang menusuk kepalanya.


Tak berselang lama, Rian pun tiba dengan menjatuhkan dirinya, motor yang dikendarainya terseret dan menabrak pintu gerbang hingga terbuka dengan paksa. Lalu dia pun bangkit dengan lukanya yang kembali pulih.


"Hah! Kau benar-benar gila," ujar Victor memandangi Rian.


Mendengar itu Rian pun menatap ke arah Victor dengan tatapan dingin.


"Kau yang gila."


Sesaat kemudian, Arya pun tiba dengan mata yang terbelalak. Dirinya seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh mereka berdua.


"Kalian berdua benar-benar gila," gumam Arya pelan.


"Apa yang kau ucapkan itu?" tanya Victor yang merasa malu sendiri.


"Kenapa kau dengan tega membunuh mereka?"


"Hah! Apa kau pikir mereka orang baik-baik? Mereka itu penyihir!"


"Pe-penyihir?" 


"Ee … Arya, sepertinya bicaranya nanti saja," terang Rian.


Arya dan Victor mengarahkan pandangannya ke halaman yang berada di balik pintu gerbang. Di sana terlihat ada beberapa orang berseragam hitam dengan pedang di salah satu tangan tengah berjalan mendekati mereka.


"Teman besarmu itu benar, kita harus menghabisi mereka terlebih dulu. Jika kau tidak mau membunuh mereka, maka biarkan aku sendiri yang melakukannya."


Victor segera membentuk velisnya menjadi beberapa belati dan melesatkannya dengan sangat cepat hingga melubangi tengkorak mereka tanpa ada yang sempat menangkisnya.


Kemudian, Victor mulai maju perlahan hingga masuk ke dalam rumah besar tersebut sambil terus melesatkan belati hitamnya ke setiap kepala musuh yang muncul, sedangkan Arya dan Rian hanya bisa berjalan mengikutinya dari belakang tanpa berani ikut campur.

__ADS_1


*****


Di dalam rumah besar tersebut, Herman dan beberapa anak buahnya tengah menyeret Bella yang sudah terikat dan dilakban mulutnya menuju ke sebuah ruangan yang dijaga oleh dua orang penjaga.


"Buka pintunya!" perintah Herman.


Kedua penjaga tersebut pun segera membuka pintu tersebut. Saat pintu dibuka, cahaya lampu dari luar dengan cepat masuk ke dalam ruangan yang gelap dan akhirnya menerangi beberapa utas tali yang berada di lantai.


Herman tertegun melihat tali-tali tersebut yang seharusnya mengikat seseorang. Dia pun marah dan langsung membanting salah satu penjaga ke lantai dengan keras.


"Di mana dia?! Dia mana yang satunya?!" bentaknya dengan napas yang menderu-deru.


Penjaga yang satunya bergidik ketakutan melihat tingkah Herman. Karena dia tak mau bernasib sama, maka dia pun menjawab sambil menunjuk ke dalam ruangan.


"Apa maksud Anda? Bukannya dia ada di …."


Ucapannya terhenti saat melihat seseorang yang seharusnya berada dalam ruangan tersebut kini telah tiada.


"Mana? Dia tidak ada di dalam! Padahal kalian hanya perlu menjaganya tapi kenapa dia bisa kabur, hah?!"


Kedua penjaga tersebut tertunduk diam, tak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Tiba-tiba, seseorang datang dari arah belakang dan menghampiri Herman yang masih dalam keadaan marah.


"Bos!"


"APA?!" bentaknya.


"Bocah-bocah yang kita habisi tadi datang dan sekarang mereka sedang menuju ruangan tengah," lapornya.


"A-apa?! Ba-bagaimana bisa mereka selamat?" 


"Maaf, saya juga tidak tahu. Tapi, Victor datang dengan mereka dan sepertinya dia memban-"


Bugh!


Sebuah bogem mentah dari Herman mendarat ke wajahnya hingga membuatnya jatuh begitu mendengar nama Victor disebutkan.


"Victor …!! Bocah itu selalu saja mengganggu pekerjaanku! Kali ini dia tidak boleh dibiarkan, karena jika kali ini kita gagal maka Tuan akan marah besar dan membunuh kita semua!" gumamnya.


"Sudahlah! Kalian berdua kirim saja dia dulu ke Dimensi Dasar, sebagian cari yang satunya lagi, sedangkan sisanya ikut aku. Kita akan menghabisi Victor dan bocah-bocah itu!"


"Siap!" jawab beberapa anak buah Herman secara serentak.


"Ta-tapi Bos, Tuan menyuruh kita untuk kita membawa yang satunya lagi bersama dengan gadis itu," 


"Aku tahu, tapi lebih baik mengirim satu daripada tidak sama sekali."

__ADS_1


__ADS_2