
"Maaf, malam ini aku tidak bisa mengantarmu pulang karena aku sudah membuat kakakku menunggu lama di rumah," jelas Rian.
"Tidak apa-apa, mungkin sebaiknya memang harus begitu,"
"Kalau begitu sampai jumpa besok di sekolah."
Rian bangkit dari duduknya dan pergi menembus gelapnya malam meninggalkan Bella sendiri di taman yang sepi. Dalam waktu singkat, tubuh Rian yang besar dan gagah tersebut pun hilang dari pandangan Bella.
Drrrtt …!! Drrrtt …!!
Ponsel Bella berdering dan ternyata ada sebuah panggilan yang masuk. Ia melihat nomor yang tertera di sana dan dia pun terkejut. Bella tahu betul nomor siapa yang tertera di layar ponselnya itu dan seketika keringat dinginnya pun bercucuran keluar dari pori-pori kulitnya.
Sebenarnya Bella tak mau mengangkatnya, apalagi bicara dengan orang yang meneleponnya itu. Namun, dia tiba-tiba teringat dengan sebuah perkataan untuk tidak mengabaikan telepon dari mereka sehingga dengan terpaksa Bella pun mengangkatnya.
"Ha-halo?"
"Lama sekali kau mengangkatnya, apa kau sedang berpikir untuk mengabaikan telepon dariku?" tebak orang dari balik telepon.
"Te-tentu saja tidak,"
"Baguslah. Sekarang kau sedang berada di mana? Apa kau tidak lupa kan kalau besok adalah hari yang penting untuk rencanaku? Apa aku perlu mengirim orang untuk menjemputmu?"
"Ti-tidak perlu! Aku akan segera pulang, ya aku akan segera pulang," jawab Bella dengan cepat.
Setelah itu, Bella pun mengakhiri panggilan tersebut dan langsung berlari secepat mungkin menuju rumahnya yang berada agak jauh dari taman tersebut.
Dia berusaha untuk berlari secepat mungkin, secepat yang dia bisa agar bisa sampai dengan cepat di rumahnya dan mereka tidak perlu menjemputnya.
*****
Keesokan harinya, matahari bersinar sangat cerah hingga membuat suhu udara pun terasa panas. Udara boleh panas, tapi suasana kantin tetap saja ramai dengan murid-murid yang kelaparan sehabis mengikuti pelajaran.
Bella dan Nanda berjalan bersama menembus keramaian di kantin sambil membawa semangkuk bakso di atas nampan mereka. Mereka mencari meja kosong untuk menyantap makanan mereka, namun sayangnya semua terlihat sudah penuh.
Di saat Nanda sedang sibuk mencari meja yang masih kosong di sekelilingnya, Bella akhirnya menemukan orang yang sedari tadi dicarinya dan mengajak Nanda untuk ke sana.
"Nan, di sebelah Rena kosong tuh, duduk di sana saja, yuk!" ajak Bella.
"Boleh."
Mereka berdua pun berjalan ke arah Rena yang sedang asyik duduk menyantap jajanannya. Rena yang menyadari kehadiran mereka pun segera menoleh.
"Ren, kami boleh makan di sini?" tanya Nanda meminta izin.
"Tentu, silakan," sahut Rena mempersilakan mereka duduk.
"Oh ya! Kak Nanda, terima kasih soal yang kemarin ya! Kakak benar-benar hebat!" puji Rena.
"Kau ini, tidak perlu memuji segala, itu sudah jadi kebiasaanku," balas Nanda merendah.
"Memangnya apa yang terjadi kemarin?" tanya Bella yang penasaran.
__ADS_1
"Kemarin Rena dijahili sama anak-anak kelas dua di toilet, untung aku sedang berada di sana," jelas Nanda dengan bangga.
"Ee … Rena, apa benar kau tinggal di rumah Arya untuk sementara?" tanya Bella lagi.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Apa?! Kau benar-benar tinggal seatap dengan orang itu?" tanya Nanda tidak percaya.
"I-iya, tapi hanya untuk sementara saja,"
"Ooo …,"
"Maafkan aku Rena, kita baru berteman belum lama ini. Tapi, aku terpaksa melakukan ini, jadi sekali lagi maafkan aku," batin Bella.
"Apa Kak Wulan ada di rumah?"
Rena sedikit terkejut mendengarnya. Dia sama sekali belum pernah berkata apa pun pada Bella tentang Wulan yang ada di rumah.
"Dari mana kau tahu?" tanya Rena penasaran.
"Be-berarti tebakanku benar ya?"
Rena menatap Bella dengan dalam sesaat dan merasakan ada yang sedang tidak beres dengannya.
"Iya, dia sedang ambil cuti dua minggu, ada perlu apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan secara langsung dengannya, apa nanti malam kau bisa menemaniku untuk berbicara dengannya, Rena?"
Setelah itu mereka bertiga pun tertawa kecil dan segera menghabiskan jajanan mereka dengan perasaan yang mengganjal di hati Rena, sampai bel pun akhirnya berbunyi.
*****
Malam pun tiba, di saat orang-orang berada di rumah mereka untuk bersantai sambil menikmati malam, Arya malah menyelinap ke atap gedung sekolahnya secara diam-diam seorang diri.
Sesampainya di sana, terlihat ada seorang pria yang dibencinya tengah berdiri di tepi atap, seorang pria yang merupakan musuhnya sejak setahun yang lalu.
Arya menyesal karena di pertemuan sebelumnya dia tak sempat menghajarnya. Sedikit demi sedikit amarah dan kekesalannya muncul saat pria tersebut menoleh dan menyeringai ke arahnya.
Tanpa menahan diri lagi, Arya langsung mengeluarkan energi spiritnya dan memunculkan sebilah pedang yang tersarung di pinggang sebelah kirinya.
"Tadi aku kira kau tidak akan datang, dimana gadis itu?" tanya Victor.
"Maksudmu Rena? Dia tidak akan datang karena malam ini aku sendiri yang akan menghabisimu!"
Sriiingg …!
Arya menarik pedangnya dan mengarahkan ujungnya ke arah Victor seperti sedang menantangnya.
"Haa … ternyata kau masih menyimpan dendam padaku ya?"
"Jangan banyak omong lagi! Aku sudah dengar semuanya dari Rian bahwa kau itu memiliki kekuatan supernatural! Jadi keluarkan kekuatanmu itu dan hadapi aku!"
__ADS_1
Victor menatap Arya sesaat lalu tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa?"
"Maaf, maaf ya Arya. Aku memintamu ke sini bukan untuk bertarung melawanku, melainkan untuk memainkan stage kedua!"
"Apa?"
"Kita sudah lama tidak bertemu dan bermain. Jadi mari kita bermain lagi selagi sempat,"
"Jangan bodoh kau! Membuatku dalam masalah kau sebut bermain-"
Kata-kata Arya terpotong, bukan karena Victor memotong ucapannya, melainkan karena Arya terkejut melihat ada butiran-butiran aneh berwarna hitam legam seperti pasir muncul di sekitar Victor.
Butiran-butiran tersebut semakin banyak dan melayang-layang dengan leluasa di udara yang terkadang membentuk sesuatu.
"Kau ingat belati hitam yang menyerangmu di stage pertama? inilah wujud aslinya," jelasnya.
Arya terkejut mendengar kebenaran tersebut, saking terkejutnya sampai-sampai dia pun melotot. Reaksi yang ditampilkan Arya adalah reaksi yang diharapkan Victor untuk dilihatnya.
"Inilah kekuatan supernaturalku! Aku menamakannya dengan 'Velis'. Sesuai artinya, aku bisa membuat ini menjadi apa saja yang aku inginkan, senjata atau pun pertahanan, keren bukan?"
"Sebenarnya aku disuruh untuk langsung menangkapmu, tapi itu tidak seru sama sekali. Jadi, bagaimana kalau kita bertarung terlebih dulu? Jika kau menang maka aku tak akan muncul lagi dihadapanmu sampai kapan pun, tapi jika aku menang maka kau-"
Drrrtt …!! Drrrtt …!!
Victor hendak melanjutkan penjelasannya, tetapi kata-katanya terpotong karena suara ponsel milik Arya yang tiba-tiba berdering.
"Maaf, silakan dilanjutkan," ucap Arya setelah mematikan ponselnya.
"Jika aku menang-'
Drrrtt …!! Drrrtt …!!
Lagi-lagi ponsel Arya berdering dan memotong ucapan Victor.
"Hahaha! Maaf, silakan dilanjutkan."
Arya tertawa singkat dan mematikan ponselnya sekali lagi.
"Jik-"
Drrrtt …!! Drrrtt …!!
Untuk yang ketiga kalinya ponsel Arya kembali berdering dan kali ini Victor merasa jengkel dan membentak Arya dengan keras.
"Kau angkat saja dasar bodoh!"
"Sabar, tidak perlu marah," balas Arya sambil menahan tawanya.
"Halo,"
__ADS_1
"Dasar Arya sialan! Kenapa kau baru mengangkatnya sekarang?!" kata Wulan dari balik telepon.