
Pertemuan tidak terduga dengan Ajeng membuat Kyle menjadi penasaran dengan hubungan Ajeng dan Raka. Oleh karena itu, Kyle secara sengaja menghubungi Raka setelah sekian lama tidak berkomunikasi.
.
.
.
Sementara Raka yang baru saja mengetahui kalau Ajeng berada di Los Angeles dan sekolah akting di sana, dia merasa kalau dia ingin pergi ke sana dan bertemu dengan Ajeng. Tapi sebelumnya dia pun aktif mencari info-info Ajeng di dunia maya. Dan dia lebih terkejut rupanya Ajeng sudah terjun di beberapa film pendek dan pemeran pendukung di sebuah film lokal di sana. Raka kemudian mendownload seluruh film Ajeng untuk dia tonton. Ada satu hal yang sangat dia khawatirkan dan dia juga penasaran. Yaitu mengenai skinship Ajeng di film-film itu. Dia sungguh tidak rela kalau ada satu pria yang menyentuh Ajeng. Maka dari itu Raka menghabiskan waktu seharian menonton habis film-film yang dibintangi Ajeng. Dan rupanya itu aman semua. Ajeng tidak memerankan sebuah peran romantis yang mengharuskannya beradegan mesra atau beradegan panas dengan lawan mainnya. Raka cukup senang dan tenang, dia sungguh tidak rela kalau Ajeng harus berciuman ataupun adegan ranjang dengan lawan mainnya. Dia berpendapat kalau Ajeng hanya miliknya seorang. Jangan ada orang lain yang bisa menyentuhnya selain dirinya.
Meskipun Raka cukup bangga dengan kemampuan akting Ajeng, tetap saja dia merasa tidak tentram aman sentosa kalau Ajeng harus berkarir di dunia akting. Pasti suatu saat Ajeng kalau bermain di judul lain, yang Raka takutkan adalah Ajeng harus melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan. Dan Raka menginginkan kalaupun Ajeng harus berakting, dia jangan sampai melakukan adegan terlarang itu.
Saat Raka hendak melayangkan tubuhnya di atas ranjang unttuk tidur, sebuah dering telepon menghentikannya.
"Siapa orang yang tega jam sekarang menelepon di jam satu malam seperti ini?" batin Raka. Dia pun meraih ponselnya untuk memeriksa. Betapa terkejutnya ketika melihat nama siapa yang tertera di ponselnya. Ini adalah panggilan internasional, pantas saja. Kyle yang meneleponnya dari belahan dunia yang lain. Tentu saja kondisi waktu yang berbeda membuat Raka tidak jadi marah.
"Halo."
"Hai, apa kabarmu?" tanya Kyle terdengar ringan.
"Baik, ada apa kamu meneleponku, kau tidak tahu kalau di sini adalah jam tidur?" sinis Raka sedikit.
"Maaf, aku lupa."
"Ada apa, pasti ada yang penting sampai kau meneleponku setelah beberapa tahun?"
"Hemmm, aku cuma mau memberi tahu kalau proyek film The Caramel Girl yang pernah mau kau garap itu ...."
"Kenapa, apa kau yang akan mensutradarainya?" sahut Raka memotong. Dia jadi malas sebenarnya membahas itu. Film itu memang harusnya sudah ia garap beberapa tahun yang lalu. Tapi keburu ada masalah lain yang menimpanya.
"Ya itu benar."
"Hum. Ya selamat, semoga sukses dan film itu booming," kata Raka tulus.
"Ya terima kasih, tapi ada sedikit kejutan yang ingin aku sampaikan padamu."
"Kejutan?" Raka pun sedikit penasaran dengan kejutan itu.
"Kami baru saja meng-casting para pemeran di film itu, dan kami baru saja mendapat pemeran utamanya."
"Ya, terus ...."
__ADS_1
"Aku minta pendapatmu tentang aktris bernama A.J Agustine."
"A.J Agustine, siapa dia, apa dia pendatang baru?" tanya Raka yang tidak ngeh kalau itu adalah nama Ajeng.
"Raka, She is you ex-wife, right?"
"Apa. Mantan istri, m-m-maksudmu Ajeng?"
"Ya."
"Astaga, bagaimana bisa dia ...?" Raka kehilangan kata-kata untuk menjawab Kyle.
"Bagaimana menurutmu?"
"Kyle, please jangan lakukan itu. Aku tahu secara keseluruhan naskah film itu. Tidak, jangan lakukan!" Raka panik mendengar kalau Ajeng akan memerankan tokoh Vivian, karena di sana ada adegan di mana Vivian harus beradegan panas.
"Kenapa, kamu tidak rela, apa kau masih mencintainya?" tanya Kyle penasaran. Sebenarnya dia ingin Raka mengerjai Raka. Naskah itu sudah dirombak total oleh penulisnya, dan tidak ada adegan panas, yang ada hanya adegan ciuman romantis saja.
Raka tidak berani menjawab isi hati yang sesungguhnya di depan wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu. Raka pikir itu tidaklah sopan.
"Ternyata kau masih mencintainya." Kyle tersenyum puas.
"Please, bisakah kau ganti saja jangan dia!" Raka memohon.
"Apa aku saja yang memerankan Zao Chen," ucap Raka ngaco.
"Hahahaaa. Kau masih mencintainya tapi kenapa malah membuatnya pergi darimu?" tanya Kyle.
"Itu, sudahlah tidak bisa aku ceritakan. Hubunganku memang rumit."
"Datanglah ke sini, kau bisa melihat proses syutingnya, aku sudah lama tidak bertemu denganmu. Apa kau tidak mau menemuinya?" tanya Kyle.
"Sebenarnya, aku ingin sekali. Tapi mungkin dia tidak mau bertemu denganku!"
"Kau dari dulu memang terlalu rumit, sampai kapan kamu terus pengecut. Dan kenapa kau malah bertunangan dengan wanita itu?" tanya Kyle membahas Arabella. Pasti dia juga mengikuti berita pertunangannya itu.
"Susah dijelaskan, dan aku masih sibuk dengan pekerjaanku di sini. Dan tidak bisa ke sana."
"Sayang sekali, padahal aku ingin mempertemukan kalian. Dan aku juga ingin mengenalkan seseorang padamu."
"Siapa?"
__ADS_1
"Calon suamiku."
"Apa dia masih orang yang sama atau orang lain?" tanya Raka. Meskipun hubungan asmara mereka sudah selesai. Baik Kyle dan Raka sekarang sudah melupakan kisah itu. Malah Kyle yang pertama duluan move on, sementara Raka membutuhkan waktu lama untuk melupakan Kyle.
"Bukan, dia seorang pengusaha IT," jawab Kyle.
"Syukurlah, aku pikir kau masih berhubungan dengan orang itu."
"Ah itu masa lalu, pokoknya aku merindukanmu, aku ingin bertemu dan bicara banyak hal padamu."
"Baik, kalau aku sudah banyak waktu kosong, aku akan ke LA. Tapi please, urusan tadi pertimbangkanlah, jangan jadikan Ajeng sebagai pemeran Vivian!"
Kyle hanya tertawa mendengarnya.
"Apa kau merasa puas dengan menyiksaku dengan sengaja memberi tahu ini?" tanya Raka sedikit dengan nada kesal.
"Ya aku puas. Tapi, sebenanrnya naskah yang kau baca dulu dengan naskah film yang sekarang itu banyak revisi. Dan scene itu sudah tidak ada Raka. Jadi Ajeng akan save. Ya, kalau cuma sekedar kissing boleh ya?"
Raka terkejut mendengarnya. Tapi adegan kissing juga Raka tidak rela. Bagaimana ini?
"Ta-tapi ...."
"Kamu tidak berniat untuk menghalangi karirnya,kan?" tanya Kyle.
"Tapi ...."
"Kamu harus profesional, dan dia juga pasti marah kalau kamu ikut campur. Status kalian sudah bukan suami istri lagi."
"Tapi aku dan dia belum resmi bercerai." Raka tidak bisa menjelaskannya pada Kyle. Karena dia tidak mungkin mengerti. Hubungannya dengan Ajeng memang rumit. Menikah siri dan bercerai pun tidak jelas wujudnya bagaimana. Yang jelas Raka belum menjatuhkan talak dan itu artinya secara agamanya Ajeng masih istrinya.
"Selamat istirahat, dan maaf sudah menganggumu malam-malam."
Kyle kemudian menutup panggilannya. Raka yang tadinya sudah mengantuk, setelah Kyle meneleponnya menjadi tidak bisa tidur. Karena dia resah membayangkan Ajeng yang berciuman dengan laki-laki lain. Bahkan dirinya membayangkan Ajeng berhubungan intim dengan orang lain.
"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk."
Sukses Raka tidak bisa tidur malam itu. Dia terus resah dan gelisah memikirkan Ajengnya.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk memberikan dukungan terus untuk Author dengan cara memberi Like, komen yang banyak, vote yang banyak.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mendukung.