
"Niel masa iya aku dinner sama Ajeng dengan pakai celana dalam kekecilan seperti ini?" tanya Raka membuat Daniel tak kuasa menahan gelinya.
"Engak usah pake celana aja Pak," jawab Daniel langsung membuat Raka menjadi tambah senewen.
Daniel kemudian menyadari kalau Laksmi sudah tidak berada di ruangan kantor.
"Lho, kemana dia?"tanya Daniel.
"Siapa?" tanya Raka masih saja membenarkan celana masuknya.
"Ya siapa lagi kalau bukan calon istriku Pak," ucap Daniel.
"Keluar tadi," jawab Raka cuek. Dia lebih fokus sama celana yang menyiksa pusakanya.
"Lho kok malah pergi duluan sih, kan kita mau dinner di kafe," gerutu Daniel kemudian mencoba untuk menelepon Laksmi.
Raka membiarkan Daniel menelepon Laksmi. Dia kemudian mau tak mau harus memakai kembali celana dalam yang tadi dia pakai. Hikz, daripada dia tersiksa dan membuat adik kesayangannya kesakitan.
Dia kemudian pergi lagi ke kamar mandi untuk memakai kembali celana dalam yang tadi dia pakai. (Ssstt, jangan ada yang tahu kalau Raka memakai celana dalam bekas yang dia pakai).
"Pak, aku keluar dulu mencari Laksmi.Bapak selamat dinner dan buka puasa ya!"teriak Daniel sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Daniel pun keluar sambil membayangkan apa yang akan Raka lakukan saat dinner dengan celana dalam yang ketat itu.Dan tak lama dia pun tertawa tak jelas karena membayangkannya saja sudah membuat dia tertawa, apalagi kalau dia melihatnya langsung.
Selesai sudah Raka menggantinya. Dia pun kembali menata rambut dan wajahnya sebelum dia kembali ke kamar Ajeng. Tapi dia merasakan ketidaknyamanan lain.Celana dalam yang dia pakai sekarang kan sudah penuh dengan keringat. Apakah sudah ada bakteri yang menempel di sana. Raka sih berharap semoga saja dia tidak merasakan gatal-gatal di sekitar itu.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu ruangannya di ketuk. Raka sudah bersiap dan selesai berdandan.
"Masuk!" seru Raka mempersilakan masuk orang yang sudah mengetuk pintu. Dan Raka sudah mengira itu adalah Daniel yang kembali lagi.
"Hai!"
Raka menoleh ke arah pintu. Dan terkejut ketika melihat Ajeng sudah masuk. Dia sudah berpenampilan yang terlihat sangat cantik. Gaun yang sedikit menutupi bagian tubuh atasnya, hanya saja tetap kekurangan bahan bagian bawah. Karena kaki jenjang Ajeng yang indah tampak terekspos dengan sempurna.
"Kok kamu tahu aku di sini?" tanya Raka. Dia tahunya kan kalau Raka pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"Tadi Kak Laksmi yang ngasih tahu," jawab Ajeng kemudian menghampiri Raka yang sedang merapikan kemejanya.
"Kamu cantik sekali sayang!" puji Raka kemudian memeluk pinggang ramping Ajeng sambil menyorongkan wajahnya untuk mengecup Ajeng. Tapi Ajeng buru-buru menjauhkan wajahnya dengan menarik tubuhnya sedikit ke belakang.
Raka hanya manyun karena Ajeng malah menghindar.
"Jadi ini tempat kerjamu Kak?" tanya Ajeng kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan itu. Kemudian perlahan melangkah ke meja besar yang ada nama Raka Mahesa sebagai Presiden Direktur Hotel Mahesa.
"Iya Sayang, kamu mau lihat-lihat tempat kerjaku ya?" tanya Raka.
"Enggak juga sih, cuma pengen liat sebentar saja," jawab Ajeng kemudian kembali lagi mendekat Raka setelah selesai melihat meja kerja Raka.
"Terus sekarang kamu mau apa?" tanya Raka sambil mengedipkan matanya.
"Maksudmu Kak?" tanya Ajeng.
"Mumpung lagi enggak ada Baboon,kita bisa kangen-kangenan dulu di sini!" kata Raka menunjuk sofa empuk miliknya.
"Baboon siapa?"tanya Ajeng yang rupanya belum tahu kalau ada anggota baru di keluarga primatanya.
"Daniel."
"Lho kok bisa dipanggil Baboon?" tanya Ajeng ketawa.
"Ulah siapa lagi coba, pasti kamu bisa nebak!" seru Raka.
"Bang Gor, masa sih?" tanya Ajeng yang sudah menebak, siapa lagi coba yang biasa ngasih panggilan seperti itu kalau bukan abang semata wayangnya.
"Ya iyalah, siapa lagi coba menurutmu," ucap Raka.
"Oh, hehee, sejak kapan. Kok aku jadi pengen ketemu Bang Gor, udah lama enggak ketemu dia, hikkz," kata Ajeng sedih.
"Belum, habisnya kan Kak Laksmi mau menginap di sini, dia tidak mau kalau pulang ke rumahnya."
"Masa sih, bukannya karena kamu sudah terlalu kangen sama suamimu yang ganteng ini?" goda Raka sambil mencolek dagu istrinya Ajeng.
"Kangennya sih biasa aja, secara tiap hari juga sering teleponan, jadi enggak begitu berasa kangennya. Hiihii," jawab Ajeng tanpa berprikerinduan.
"Kamu gitu amat sih Jeng, aku itu kangennya luar biasa sama kamu, sini!" kata Raka sambil menarik tangan Ajeng dan memangkunya di sofa. Ajeng pun terkejut awalnya karena tubuhnya ditarik dan sekarang posisinya sudah berada di pangkuan Raka.
Aroma parfum Raka yang wangi membuat Ajeng sedikit tergoda untuk tidak menyentuh tubuh suaminya itu. Suara detak jantung keduanya terasa kencang. Meskipun suasana seperti ini bukan yang pertama kali untuk mereka. Tapi tetap saja, jika sudah tidak bertemu lama. Jantung dan hati mereka sukses berdesir seperti mereka baru saja berdekatan seperti ini.
Tak bisa menahan dengan sabar, Raka kemudian mendekatkan bibirnya ke arah bibir Ajeng. Ragu seperti anak SMA yang mau *first*kiss Raka hanya menempelkan saja bibirnya. Belum berani untuk membuka mulutnya untuk bisa menjelajahi setiap inchi bibir Ajeng yang sangat menggodanya. Baru saja dia mau membuka sedikit bibirnya. Tiba-tiba suara pintu dibuka membuat Raka dan Ajeng kaget. Spontan Ajeng langsung berdiri dari pangkuan Raka.
"Oppps, ma-maaf Pak menganggu acara buka puasanya, saya mau ngambil kunci mobil saya yang tertinggal," kata Daniel merasa tidak enak.Tapi sempat sekilas melihat ke arah tubuh bagian bawah Raka. Dan Raka pun sigap menutupnya dengan bantal sofa.
Ingin rasanya Raka itu mencakar wajah Daniel yang terlihat sedang menahan tawa karena dia men-delay acara buka puasanya.
Daniel kemudian buru-buru meninggalkan mereka yang terlihat cangung karena terciduk oleh Daniel.
Setelah Daniel pergi, Raka kemudian menarik tangan Ajeng lagi,tapi kali ini bukan di pangkuannya melainka di area kosong samping tubuhnya.
"Mau di sini, apa kita lanjutkan yang tadi di kamar?" tanya Raka tanpa malu-malu.
"Kita ke rumah Bang Gor yuuk?" jawab Ajeng malah membuat Raka menjadi gigit jari.
"Kok ke rumah Bang Gor sih?" protes Raka.
"Hmmm, aku pengen ketemu dia, soalnya udah lama banget aku enggak ketemu mereka langsung."
"Ya udah kita ke rumah Bang Gor dulu,mumpun masih sore," kata Raka mengabulkan keinginan Ajeng.
__ADS_1
"Kamu nyetir, enggak pakai supir?" tanya Ajeng.
"Biasanya aku suka antar jemput sama si Daniel. Berhubung tadi dia izin enggak masuk, aku bawa mobil kok," jawab Raka.
"Oke, ayoo berangkat!" kata Ajeng.
"Sebentar dulu Yang, masa kita enggak nerusin yang tadi sih, kepalang tanggung. Kiss aja!" paksa Raka kemudian memegang leher Ajeng dan langsung mendaratkan kecupannya di bibir milik Ajeng. Tak bisa menolak Ajeng pun menerima dan membalas setiap gigitan lembut Raka di bibirnya.
Tapi lagi-lagi mereka harus buru-buru melepaskan ciumannya ketika seseorang kembali lagi datang.
"Ma-maaf Pak, aku ganggu kalian lagi," kata Daniel menerobos masuk sambil menenteng kunci.
"Daniieeeeeel, mau kupotong gajimu?" kata Raka sambil berdehem penuh makna. Karena sepertinya Daniel sengaja bolak balik di timing yang pas.
"Ma-maaf Pak,jangan dong Pak! Kunci mobilnya saya salah ambil. Ini kunci mobil Bapak, kunci si Mulus ada di sini!" ujar Daniel sambil menunjuk sebuah kunci teronggok tanpa dosa di sofa sebrang Raka.
Dengan menundukkan kepalanya dia kembali keluar ruangan itu dengan setengah berlari, seolah takut kalau Raka akan menyemburkan napas apinya ketika dia marah karena dua kali dia menghentikan keasyikannya bercumbu dengan istrinya Ajeng.
"Kak, kita juga berangkat yuuk!" ucap Ajeng.
"Tapi Jeng, yang tadi bagaimana?" tanya Raka memelas.
"Masih banyak waktu Kak, ayo udah berangkat sekarang!" ajak Ajeng sambil menarik tangan Raka agar segera mau berdiri dan berangkat pergi ke rumah Bunda.
Dengan setengah hati Raka pun mengikuti Ajeng. Padahal dia tadi tengah sik asik dengan Ajeng, dan Baboon Kudaniel malah membuat semuanya menjadi ambyar.
Ajeng berjalan sambil menggandeng tangan kiri Raka menuju keluar ruangan kerjanya. Tiba-tiba Raka merasakan sesuatu yang seumur-umur dia menjadi lelaki dewasa yang keren tidak pernah merasakannya. Tak tahan Raka pun menggaruk-garuk pantatnya yang terasa gatal luar biasa.
Oh My God, apakah sekarang bakteri-bakteri dan kuman-kuman dari celana dalam yang kotor karena keringat dia pakai lagi sedang menari-nari tap dance di kulit area sensitifnya membuat dia ingin menggaruk-garuk pantatnya.
"Kamu kenapa sih garuk-garuk itu?" tanya Ajeng.
"Alamak, heehe. Entahlah," jawab Raka tidak mau jujur. Bisa-bisa Ajeng malah ilfil padanya.
Dengan langkah yang sengaja ia lebarkan agar lipatan celananya membantunya untuk menggaruk yang gatal, sengaja langkah Raka yang sedikit aneh itu membuat Ajeng jadi penasaran.
"Kamu keremian Kak?" tanya Ajeng yang aneh melihat sikap aneh Raka. Dan itu membuat wajah Raka jadi tambah merah.
"A-apa keremian?"
Raka mau pingsan mendengar Ajeng yang mendiagnosanya mengidap keremian.
Bersambung
Catatan : Bagi yang tidak tahu keremian, silakan cari di google. Tidak ethis author menjelaskannya di sini. Awowokkk
__ADS_1
Jangan lupa like dan spam komentar ya !