Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Bad Mood


__ADS_3

Raka masih menatap layar monitor di mejanya. Dan dirinya merasa terkejut ketika Daniel sudah berada di samping mejanya.


"Niel kamu tuh kayak hantu tau, datang tiba-tiba udah di situ?" kata Raka.


"Bapaknya aja yang terlalu fokus dengan laya monitor, jadinya enggak sadar kalau saya sudah di sini dari tadi," jawab Daniel.


"Ada apa Niel?" tanya Raka masih mengggerakkan mousenya. Entah apa yang dia kerjakan.


"Pak, besok saya izin enggak masuk kerja, boleh tidak?" tanya Daniel dengan wajah yang terlihat senang. Sepertinya ada sesuatu yang bagus terjadi.


"Emangnya kamu mau kemana Niel?" tanya Raka ingin tahu.


"Aku mau nyari cincin untuk Laksmi," jawab Daniel sambil tersipu.


"Apa?cincin?" Raka terlihat iri melihat wajah Daniel yang sedang berbahagia itu.


"Iya Pak."


"Emang kamu udah tahu ukuran jari Laksmi?" tanya Raka meragukan Daniel akan salah dengan ukuran jari Laksmi.


"Aku udah memegang tangan dan jarinya Pak, jadi aku tahu," jawab Daniel.


"Memangnya kau sudah berapa kali memegang tangan Laksmi sampai hapal?" tanya Raka dengan wajah yang sirik. Sirik karena Daniel sebentar lagi akan bertemu dengan pujaan hatinya. Sementara dirinya, entah kapan dia bisa bertemu dengan Ajeng.


"Baru satu kali sih Pak, tapi aku bisa tahu lah kira-kira ukurannya. Kan aku sering membantu bos-bos saya yang dulu membelikan cincin untuk para istrinya dan para kekasihnya," kata Daniel menceritakan masa lalunya.


"Hebat dong, aku juga mau lah mencari cincin buat Ajeng," kata Raka juga tertarik.


"Lho kok jadi Bapak ikut-ikutan, besok kan Bapak harus meeting dengan klien Pak," kata Daniel mengingatkan.


"Karena kamu tidak ada, bagaimana saya bisa meeting," sahut Raka.


"Sudah saya siapkan materi dan bahannya," desis Daniel sambil menunjukkan dokumen yang sekarang sudah berada di atas meja kerja Raka.


"Sejak kapan itu ada di situ?" tanya Raka.


"Tadi saya barusan yang menyimpannya ketika Bapak masih melamun memainkan layar monitor," jawab Daniel gemas dengan Raka.


"Oh, tapi tetap saja saya tidak bisa kalau kamu tidak ada Niel," ujar Raka terlihat berat melepas Daniel untuk izin tidak masuk kerja.


"Kan ada Dian Pak, dia akan membantu dan menggantikan saya sementara," ucap Daniel sambil tesenyum yang melihat wajah Raka yang ditekuk.


"Hfffffft, memangnya kapan gitu Laksmi datangnya," tanya Raka.


"Katanya hari ini berangkatnya," jawab Daniel.


"Berarti Ajeng akan ditinggal sendiri di sana, aku jadi cemas," ucap Raka sambil kembali lagi melamun dengan keadaan Ajeng yang tinggal sendiri.


"Ya sudahlah, kalau kamu memang ingin izin ke sana," jawab Raka dengan wajah yang lemas.


"Terimakasih Pak."


Daniel kemudian meninggalkan meja Raka dengan langkah penuh semangat. Raka memperhatikan wajah Daniel terakhir dia mendapatkan telepon dari Laksmi. Wajahnya sering sekali tersenyum. Padahal sebelum-sebelumnya dia selalu galau dan terlihat murung sebelum dia pada akhirnya mendapat telepon dari Laksmi. Perubahan sikap dan wajah Daniel sekarang lebih ceria dan lebih berwarna dibanding dari biasanya.

__ADS_1


"Dasar Baboon bucin," dengus Raka pura-pura kesal melihat anak buahnya itu yang terlihat senang.


*** **** **** ****


Keesokan harinya ...


Raka dari kemarin dan semalam tidak bisa menghubungi Ajeng. Raka sampai uring-uringan karena merasa Ajeng sengaja tidak mengaktifkan ponselnya agar dia menjadi cemas dan khawatir. Apalagi dia ditinggal sendiri oleh Laksmi yang pulang ke Jakarta.


Raka menjadi frustasi gara-gara ini. Padahal dia sebentar lagi mau meeting dengan beberapa klien penting Hotel Mahesa. Namun situasi hatinya sekarang sedang tidak bagus. Belum lagi hari ini Kudaniel tidak bakalan masuk kerja. Jadi bertambahlah level kekesalannya. Raka kemudian hanya memutar-mutar tubuhnya di kursi putar di meja kerjanya. Pikirannya tertuju dengan acara meeting, namun hati dan perasaaanya masih cemas. Takut tejadi sesuatu pada Ajeng.


Entah sudah beratus miscall yang dia buat untuk Ajeng, karena merasa khawatir. Karena sampai siang Raka belum mendapatkan kabar dari Ajeng dan ditambah tidak aktiv pula nomornya.


"Pak, kita sudah siap meeting." Dian sudah berada di ruangan Raka dan memberi tahu Raka kalau harus segera bersiap-siap menuju ruang meeting. Dengan perasaan yang yak menentu karena cemas tidak ada kabar dari Ajeng, Raka terlihat malas untuk meeting kali ini.


Tampak jelas kalau Raka terlihat sedang kehilangan fokusnya. Beberapa kali Dian mengetuk meja Raka untuk membuat Raka sadar kalau dia harus fokus memperhatikan semua presentasi anak buahnya di depan klien-kliennya.


Selama hampir satu jam Raka mengikuti meeting itu dengan perasaan yang tak menentu. Dia tidak bisa konsentarasi karena terus menerus kepikiran Ajeng. Dan setelah meeting itu selesai, dia segera mencoba untuk menghubungi Ajeng lagi. Dan ternyata masih saja belum aktif. Raka sampai kesal dibuatnya.


Tring


Sebuah notif pesan masuk ke dalam ponselnya. Sebuah pesan gambar dari Daniel. Dia meminta pendapat Raka untuk pilihan cincinnya untuk Laksmi.


Pak kira-kira cincin lamaranku untuk Laksmi yang mana?


Raka melihatnya hanya mendengus kesal. Karena Daniel akan memilih cincin untuk wanita pujaan hatinya yang sebentar lagi akan datang.


Saat Raka hendak masuk ke dalam ruangan kerjanya lagi. Sebuah keributan pun terjadi di lorong lantai kantornya. Beberapa pegawai terlihat nimbrung pada satu meja. Mereka tidak sadar kalau Presdir mereka sedang memperhatikan mereka.


"Tuh bener kan, fotonya. Dia benar-benar menginap di sini," seru salah satu pegawainya.


"Kok aku yang jadi deg-degan sih," sahut salah satu karyawan bigos yang lain ikut-ikutan.


Raka yang mencuri dengar obrolan gosip mereka berdehem agar mereka menyadari kehadirannya.


"Eh, ada Pak Presdir!" seru mereka.


"Eh ada Bapak."


Mereka segera berlarian ke mejanya masing-masing setelah melihat kehadiran Raka di situ. Raka pun cuma memandang wajah para karyawannya yang tadi sempat bergosip ria dengan tatapan tajam. Padahal ini kan belum jam makan siang atau jam istirahat.


Raka kemudian kembali ke ruang kerja dengan langkah yang terlihat diseret. Apakah karena gara-gara ponsel Ajeng yang tidak aktif membuat Raka menjadi seperti kehilangan nyawa saja. Belum sempat dia masuk ke dalam ruangannya. Dia mendengar suara ribut-ribut lagi. Dan Raka pun sengaja tidak segera masuk karena ingin mengetahui apa yang mereka ributkan.


"Kayaknya Pak Presdir tidak tahu ya, kalau dia menginap di sini?" salah satu suara anak buah Raka super bigos. Raka mencoba menguping dari jauh.


"Wah, kenapa mereka membawa-bawa aku segala dalam gosip mereka?" batin Raka.


"Coba kalau media tahu ya, Hotel Mahesa bakal trending lho?"


Raka menjadi penasaran, tadi namanya yang disebut-sebut, sekarang nama Hotel Mahesa yang disebut. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Raka kemudian dikagetkan dengan kehadiran Dian yang sudah berada di belakangnya.


'Astaga, sejak kapan kau berada di situ?" tanya Raka. Entah kenapa dia jadi gampang terkejut.


"Dari tadi juga aku di sini, Bapaknya saja yang tidak sadar, Bapak kenapa sih jadi aneh?" tanya Dian yang melihat Raka itu hilang fokus. Dirinya padahal dari tadi mengikuti langkah kaki Raka dari belakang. Tapi Raka sendiri tidak sadar.

__ADS_1


"Pak, sepertinya Bapak harus minum air putih banyak, agar Bapak tidak fokus seperti ini," ucap Dian.


"Maaf, saya kurang fokus karena sedang memikirkan sesuatu," jawab Raka kemudian membuka pintu ruangannya dan masuk sambil melonggarkan ikatan dasinya. Dia merasa lelah dan bosan. Baru satu hari tanpa Daniel. Dia sungguh merasa tidak fokus dan kurang konsen bekerja.


Raka kemudian langsung duduk di kursi putarnya dan menghadap ke jendela terbuka di belakangnya. Di mana terlihat pemandangan kota Jakarta dari atas ini. Sambil melamun teringat kalau Daniel akan segera menikah. Sementara dirinya, dia seharusnya sudah menikah resmi. Tapi apa di kata, sekarang Ajeng di LA. Jangankan ingin menikah, untuk sekedar bertemu saja tidak bisa.


Nada dering ponselnya membuyarkan lamunannya tentang Ajeng. Tertera nama Baboon Mutan memanggil.


"Ada apa dia menelepon. Pasti mau nanyain perihal pilihan cincin tadi," gumam Raka.


"Halo Boon."


"Pak, Bapak di mana?" tanya Daniel terdengar panik.


"Di kantor, emangnya kenapa?" tanya Raka terdengar santai.


"Bapak pasti tidak percaya ini?" kata Daniel.


"Apa sih, kalau kamu cuma mau manas-manasin aku pakai cincin, aku enggak peduli," sahut Raka malas.


"Kyaa Pak, aku jamin Bapak akan berterimakasih sama saya," kata Daniel.


"Emang apaan, sampai kamu yakin begitu. Sudah ah aku lagi bad mood," jawab Raka hendak mematikan sambungan telepon.


"Bener ya, kalau aku kasih tahu dan ini bakal bad mood bapak jadi good mood. Bapak harus gratisin Hotel Mahesa jadi gedung pernikahan aku sama Laksmi," kata Daniel.


"Haahahaaha, jangankan gratisin gedungnya, saya akan biayain kamu honeymoon segala. Eiits tapi apaan dulu sampai kamu segitu senengnya?" kata Raka.


"Bener nih Pak, asyik kalau begitu."


Daniel malah cengegesan kesenengan. Sementara Raka sudah mulai bete menunggunya.


"Wooy Niel, buruan apa sih. Jadi nambah bikes tau?" kata Raka sudah bete.


"Pak, mantan Bapak , eh maaf istri Bapak sekarang ada di Hotel Mahesa," kata Daniel.


"Apa?"


Buuuuk.


Raka terjatuh dari kursi putarnya saking kagetnya.


"Apaan tuh Pak. bunyi gedebug?" tanya Daniel.


"Sepatu saya jatuh," jawab Raka.


"Sepatu, kok suaranya kenceng begitu kayak orang yang jatuh?" tanya Daniel heran.


"Sepatu sama orangnya, sudah tahu kamu nanya. Tadi apa maksudmu Ajeng ada di sini. Kamu mau nge-prank saya?" tanya Raka emosi. Dia tahu kalau Ajeng kan bilang kalau dia ada jadwal syuting iklan yang padat. Kenapa si Daniel mengigau kalau Ajeng ada di Hotel Mahesa. Kapan dia pulangnya dan naik pesawat dan sampai ke Jakarta.


"Tu-tunggu, itu berarti nomor dia tidak aktif?" pikiran Raka bergelayut ke sana kemari.


Tuut Tuut

__ADS_1


Raka melihat kalau ada panggilan lain masuk, dan itu nomor ....


Bersambung ...


__ADS_2