
Setelah makan malam bersama, meskipun Raka dan Ajeng hanya bisa menikmati suara sendok garpu dan piring beradu dari dapur dan sementara mereka berada di ruang tengah. Raka dan Ajeng sedang menonton televisi dengan posisi Ajeng tidur di pangkuan Raka, sementara Raka duduk sambil memegang kepalanya yang terasa pusing. Pusing karena tadi sempat kewalahan membeli air galon dan membawa lalu memasangkan sendiri ke dispenser dalam keadaan perut kosong. Dia belum sama sekali makan malam.
"Yang, jadi kita datang ke sini cuma jadi tukang pesan antar makanan dan angkut air galon, terus kita jadi pendengar dan penonton setia mereka yang sedang makan gitu?" desis Raka masih saja tidak terima dengan perlakuan Bang Gor.
"Kalo mau protes bilang saja langsung sana sama Bang Gor!" jawab Ajeng masih serius dengan acara TV yang sedang ditontonnya.
"Huuuft, tau gitu kita di kamar hotel aja tadi. Kan bisa mesra-mesraan, kangen-kangenan sama kamu Yang," ucap Raka sambl membelai wajah Ajeng.
"Apaan, enak di kamu dong Kak," balas Ajeng manyun.
"Lhoo, emangnya kamu enggak nikmatin Sa ...."
"Nikmatin apa Tung?" tanya Bang Gor sudah datang dan langsung menyambar remote TV di tangan Raka. Dan ada Daniel di belakangnya dengan wajah yang cengengesan padanya.
"Dasar Kudaniel tak tahu diri, hentikan cengengesanmu itu!" sungut Raka hanya ada di dalam hati.
"Hei Tung, kalau mau makan sana gih sama Ajeng di dapur, di sana masih ada Laksmi dan Merry!" ucap Bang Gor.
"Iya Juragan," jawab Raka dalam hati. Ini persis keadaan zaman penjajahan, di mana juragan dulu yang makan baru pembantunya.
What? Raka menjadi kepikiran seperti itu, seorang bawahan yang harus nunggu dulu majikannya makan, barulah dia bisa makan.
"Udah makan dulu sono! Pasti loe udah laper. O-ya sekalian bilangin ke Merry, bikinin kopi buat Abang dan Baboon!" ucap Bang Gor.
"Iya Bang!" jawab Raka berusaha untuk tersenyum manis di depan abang iparnya itu. Lalu dia menuntun tangan Ajeng menuju dapur. Di sana ada Laksmi yang sedang membantu Merry membersihkan meja.
"Mbak Merry!" panggil Ajeng manja.
"Hei Jeng, dah makan dulu!" kata Merry mempersilakan Ajeng dan Raka untuk makan.
"Sayang, nanti besok kita beli meja makan yang panjang dan kursinya juga buat di sini. Supaya tidak bergilir seperti ini kalau makan!" kata Raka melemparkan ide.
__ADS_1
"Iya," jawab Ajeng sambil menatap wajah Merry yang sepertinya shock mendengar perkataan Raka.
"Mbak Merry kata Babang Gor, suruh bikin kopi buat dia sama Baboon!" seru Raka sambil menyodorkan piringnya pada Ajeng minta diisiin nasi sama Ajeng.
"Biar aku saja Mbak yang buatin," ucap Laksmi bersedia.
"Kamu bisa seduh kopi?" tanya Mery.
Laksmi mengangguk, lalu Merry menunjuk ke arah lemari penyimpan persediaan sembako. Laksmi pun segera berjalan ke arah sana.
Gerak-gerik Laksmi terus dipantau oleh Ajeng dan Raka, mereka merasa ada yang aneh dengan Laksmi. Terutama Ajeng, sudah hampir lima tahun hidup bersama dengan Laksmi. Tentunya Ajeng bisa mengenal sejauh bagaimana karakter dan sifat Laksmi. Dan hari ini Ajeng melihat wajah Laksmi lebih cerah dari yang biasanya. Dan barusan juga Laksmi bersedia membuatkan kopi untuk orang lain. Terutama kopi untuk Daniel calon suaminya. Apakah Laksmi sudah mau membuka hatinya untuk Daniel?.
"Kak awas jangan banyak-banyak makan sate kambingnya, nanti tensi darahmu naik!" cegah Ajeng.
"Ah aku kan enggak punya hipertensi Sayang, yang jelas kalau makan sate kambing kata orang bisa menaikkan libido," ucap Raka gamblang dan terdengar oleh Laksmi dan Merry.
Merry hanya bisa mesem-mesem mendengar percakapan dua manusia itu. Sementara Laksmi terlihat gugup karena dia baru saja memakan banyak sate kambing, apakah yang diucapkan Raka barusan itu benar?. Bagaimana kalau itu benar. Apakah dia akan menggila seperti waktu di Berlin dulu.
Laksmi sudah sukses membuat dua cangkir kopi. Lalu dia segera membawanya ke ruang tengah.
"Jeng, aku mau nengok Shanum dulu di kamar, kalian makan yang banyak ya!" kata Merry. Akhirnya mereka hanya berdua di dapur.
"Yang, malam ini kamu mau balik ke hotel, apa ke rumah kita?" tanya Raka. Belum apa-apa Raka sudah menanyakan hal itu.
"Apaaaa!" Raka shock mendengar ucapan Ajeng yang lagi-lagi ingin menginap di rumah Bang Gor.
"Yah Yang, jangan dong. Masa udah siap-siap begini, kamu malah mau nginep di sini?" rajuk Raka mengambek.
"Hehehee, becanda aja kok Kak, terserah Kakak aja mau bawa pulang aku kemana," ralat jawaban Ajeng sambil mengedipkan sebelah matanya pada Raka. Membuat Raka menjadi lebih tak sabaran.
*** **** ****
Setelah selesai makan, Ajeng dan Raka pun kembali berkumpul dengan Bang Gor dan yang lainnya.
"Niel kamu belum antar pulang Laksmi ke rumahnya, nanti orangtuanya nyari-nyari lagi. Dari tadi siang belum pulang dari rumah sakit?" kata Raka baru sadar kalau Lakmsi kan baru pulang dari rumah sakit.
"Enggak apa-apa kok, aku udah kasih tahu Papa juga," jawab Laksmi.
"Dia masih betah di sini," kata Daniel sambil memegang pundak Laksmi yang duduk di sebelahnya. Laksmi tersenyum mesem sambil melotot ke arah Daniel dan memberi kode agar tangannya menjauh dari tubuhnya. Melihat mata Laksmi yang marah, buru-buru Daniel menyingkirkan tangannya dari pundak Laksmi.
"Hei Tung, jadi kapan loe mau gelar pernikahan loe?" tanya Bang Gor sambil menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Kalau enggak ada halangan, aku pengennya minggu depan udah bisa, semua dokumen ke KUA sudah ada yang ngurus, aku juga sudah kontek WO nya, aku dan Ajeng menyerahkan semuanya sama WO, kita tinggal fitting baju sama nyari cincin kawin saja. Semua staf hotel juga sudah aku kerahkan untuk menyiapkan seserahan," kata Raka.
"Keluarga loe gimana?" tanya Arya.
"Hmmm, aku belum bertemu dengan Nenek, tapi sepertinya tidak akan jadi masalah. Mungkin kalau keluargaku yang enggak bisa datang cuma Papa Tanu saja, dia kan sedang dirawat. Tapi Mama sepertinya bisa datang kok," jawab Raka.
"Terus kalau Bu Rika datang, Papamu siapa yang jagain?" tanya Arya.
"Mungkin Bayu yang jagain," jawab Raka menyebutkan kakak tirinya itu.
"Oh begitu," sungut Arya manggut-manggut.
"Jadi kamu belum membicarakanya dengan keluarga papamu itu?" tanya Arya. Terlihat ada sedikit kekhawatiran.
"Abang tenang saja, aku akan menemuinya sama Ajeng besok siang," kata Raka yang sepertinya tahu apa yang dikhawatirkan Arya.
"Tung, loe masih inget kan prasyarat yang gue minta sama loe, kalau loe mau nikah lagi sama Ajeng?" tanya Arya.
"Abang masih inget aja kalau yang itu. Tapi tadi Abang udah bertindak semena-mena sama aku!" celoteh Raka mengungkit kembali masalah yang tadi
"Gitu aja pake ngambek, gue kan lagi menjamu tamu khusus yang datang ke rumah ini. Nah eloe kan udah enggak aneh. Eloe udah dianggap keluarga di sini. Jadi tak usah loe jaim kalau mau makan pengen ditawarin segala," jawab Arya.
Raka tersenyum mendengar penjelasan dari Bang Gor. Iya juga sih, ah mungkin dia terlalu lebay menyikapi perlakuan Bang Gor.
"Ya udah deh Bang, maafin adik iparmua ini. Eh tapi tentang syarat itu, kan Abang belum ngasih tahu syaratnya apaan. Kemarin-kemarin aku cuma bilang oke -oke aja," sahut Raka.
"Ya, maka dari itu, gue masu ngasih tahu syaratnya sekarang," jawab Bang Gor sambil membetulkan posisi duduknya agar tampak lebih serius dan berwibawa.
Laksmi dan Daniel, kedua pasangan yang juga mau menikah menjadi ikut penasaran dengan ajuan syarat Bang Gor pad Raka.
"Oke Bang, apaaa itu?" tanya Raka sudah mulai serius ingin mendengarkan.
"Jadi begini, berhubung masalah ini masalah serius. Dan gue harus bisa menyampaikan ini dengan baik sama loe. Jadi dengar baik-baik ya!" kata Bang Gor dengan nada bicara yang serius.
"Iya Bang, aku udah mau dengerin nih baik-baik!" jawab Raka mulai mendekatkan posisi duduknya di depan Bang Gor.
"Siap nih, gue ...."
Duuuuut. Jebruttt. Bruuutt.
"Aduh sorry gue enggak bisa nahan, gue ke kamar mandi dulu ya!" seru Bang Gor buru-buru lari tunggang langgang menuju kamar mandi.
"Bang Goooooooooorr. Lucknut loe kentut depaaaaaan gueee!" teriak Laksmi sambil menutup hidungnya.
Sementara Raka, Daniel dan Ajeng mencoba menahan napasnya agar tidak mencium aroma yang dikeluarkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Apa maksud dari Bang Gor suruh dengar baik-baik adalah mendengarkan suara gas metana yang keluar dari perutnya.
__ADS_1
* Bersambung Gaeeess*
Auhtor : Kagak ada promosi dan kagak ada tebak-tebakan. Silakan isi sendiri di kolom komentar!