
Daniel menatap wajah Laksmi yang terlihat tenang setelah mengatakan itu semua padanya. Hatinya memang sedikit sakit mendengar ucapan Laksmi seperti itu.
"Jadi. Aku sengaja mengatakan ini agar kamu tidak terlalu berharap pada ...."
"Tak jadi masalah kok Beb." Daniel tidak mau mendengar apa pun lagi. Jadi Daniel tidak mau menggubris itu.
"Niel, apa kamu tidak masalah menikah denganku. Tapi mungkin aku akan membuatmu ...."
"Sudah aku katakan.Aku tak masalah. Jangan kamu mencoba mengungkit ini lagi ya!" kata Daniel mencoba untuk tersenyum. Meski hatinya pilu tapi dia juga tidak mau terlihat lemah hati di depan Laksmi.
Laksmi menatap wajah Daniel dengan tatapan tak percaya.
"Dasar bodoh, apa kau tidak sakit hati dengan ini semua?" tanya Laksmi mempertanyakan sikap masa bodoh Daniel.
"Sudah aku katakan,aku sudah membayar lunas cintaku padamu dengan anakku. Jadi pantang aku minta kembalian. Tenanglah jangan sungkan dan tidak enak padaku. Aku lebih baik sakit hati daripada aku tidak bisa menemuimu dan juga anakku.Kau tahu selama hampir dua bulan ini aku resah dan gelisah karena tidak tahu kabarmu."
Laksmi merasakan tenang kalau Daniel mengetahui.
"Ini memang tidak adil buatmu Niel. Tapi aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Semua ini memang terlalu tidak buat kita semua."
"Sudah, sudah, jangan dilanjutkan. Ayo kita pulang!Kau pasti merasa lelah. Biasanya Bumil kan cepat lelah."
Daniel kemudian mengajak Laksmi untuk pulang dari restoran itu. Laksmi diam-diam memperhatikan wajah Daniel. Yang sekarang lebih diam sebelum dia mengatakan kalau dia masih mencintai Shane. Tunagannya yang sudah meninggal.
"Beb,besok ketemu dengan Papamu jam berapa?"tanya Daniel saat di mobil.
"Jam delapan malam."
"Baiklah. Bagaimana kalau bertemunya di restoran Hotel Mahesa saja. Aku akan menyediakan tempat khusus untuk pertemuannya. Jadi supaya kamu tidak cape bolak baliknya!" kata Daniel masih fokus dengan jalan.
"Aku akan memberi kabar Papa kalau begitu," jawab Laksmi sambil kembali memandang wajah Daniel.
"Dia memang tampan, penyayang. Dan dia juga sabar menghadapiku," gumam Laksmi melihat wajah Daniel dari samping. Karena Daniel dengan penuh serius menyetir mobil. Padahal yang sebenarnya adalah Daniel tidak ingin terlihat lemah di depan Laksmi.
Selebihnya perjalanan pulang mereka setelah makan malam memang terasa sepi. Daniel lebih banyak diam dan terlihat kalau dia sedih.
*** **** ****
Keesokan harinya di kantor. Wajah Daniel tanpa lesu dan tidak bersemangat. Berbeda dengan Raka. Dia terlihat segar dan bugar dua kali lipat dari hari sebelumnya. Daniel menduga, kalau Raka yang terlihat bugar dan segar itu karena dia sudah buka puasa.
"Niel, kenapa dengan mukamu hari ini. Sumpah enggak enak banget dilihatnya?" tanya Raka pada sekretaris kesayangannya itu.
"Entahlah Pak, aku jadi lemas begini. Apa masih gara-gara ngidam. Dan Bapak, astaga Bapak lebih segaran setelah buka puasa semalam," kata Daniel dengan wajah yang iri.
"Buka puasa apaan Niel,boro-boro. Semalam tuh aku nginap di rumah Bang Gor. Dan tahu enggak ulah apa lagi Shanum anak Bang Gor itu?" kata Raka merasa kesal dengan kejadian semalam.
__ADS_1
Flash back ...
"Menginap di sini saja Tante!"kata Shanum.
Ajeng yang memang berniat pulang lagi ke hotel bersama Raka menjadi tidak enak.
"Ya menginap di sini saja!" kata Mbak Merry.
"Thet rait sister.Stey hir in awer hos," kembali lagi Bang Arya dalam mode Englishnya yang bikin pusing Raka mendengarnya. Sementara bagaimana ini Raka sudah panik karena acara buka puasanya batal.
"Oke,aku juga kangen sama kamarku," seru Ajeng membuat hati Raka menjadi mencelos. Bukankah seharusnya dia kangen dengannya.
"Aku pengen tidur sama Tante Ajeng!" seru Shanum membuat mata Raka hampir meloncat dari tempatnya.
"Oke, Shanum tidur sama Tante."
Flash Back end ...
"Haahahaaa, jadi Bapak gagal maning buka puasanya?" goda Daniel merasa puas. Setidaknya Raka merasakan pahit yang dia rasakan sekarang.
"Seneng banget ya dengar aku gagal?" tanya Raka sambil menatap wajah Daniel yang tadi ditekuk mendengar ceritanya barusan berubah menjadi happy.
"Bukan seneng Pak, tapi aku merasa ada temannya kalau Bapak gagal karena Shanum. Dan aku gagal romantis juga gara-gara Shane," kata Daniel.
"Apa, kok bisa?" tanya Raka kepo.
"Makanya bikin mood saya hari ini kurang baik. Eh tapi kenapa Bapak gagal buka puasa. Kok Bapak terlihat cerah dan semangat. Pasti ada hal bagus yang lain ya?" tanya Daniel.
Raka senyum-senyum penuh misteri di depan Daniel.
"Ada apa sih Pak, cerita dong!" kata Daniel.
"Enggak ah!" kata Raka sengaja membuat Daniel kesal dengan langsung meninggalkan Daniel dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
Daniel pun hanya bisa menebak-nebak hal bagus apa yang didapat Raka.
"Pak Raka kenapa Anda bikin aku penasaran saja, apaa sih?" tanya Daniel meggerutu di depan meja kerjanya. Dia kemudian memandang foto Laksmi yang dia pajang dekat monitor layar komputernya. Hatinya kembali lagi terasa perih.
"Huufft, aku pasti bisa kan meyakinkan Laksmi. Kalau aku akan menjadi yang terbaik buatnya," gumam Daniel menyemangati dirinya.
"Daniel.Bawa dokumen yang harus saya baca dan tanda tangan hari ini!"seru Raka di balik mejanya di sana.
Daniel pun harus segera kembali konsentrasi bekerja pagi ini. Dan harus menyingkirkan terlebih dahulu urusan sakit hatinya karena satu buah nama itu.
"Ini Pak!" kata Daniel sambil menyerahkan setumpuk dokumen itu pada Raka Dan dia malah memergoki Raka yang sedang asyik dengan ponselnya. Dan seperti biasa, Raka tidak menyadari kedatangan Daniel yang sudah berada di sampingnya. Dan sudah pasti dia akan marah-marah lagi kalau dia kaget setelah dia sadar sudah berada di sampingnya.
"Eh kirain Bapak sedang chat-an dengan Ajeng. Kenapa Bapak sedang melihat-lihat dalaman wanita!" seru Daniel melihat layar ponsel Raka yang banyak gambar-gambar *l*ingerie seksi.
"Astaga Daniel! sejak kapan kau di situ?" kata Raka yang kemudian diikuti gerak bibirnya oleh Daniel. Dia sudah menebak kalau Bos-nya itu akan mengucapkan hal yang sama lagi.Ketika dia sedang fokus di meja kerjanya. Raka selalu tidak sadar dengan kehadiran Daniel. Tapi bukan pekerjaaan Hotel yang sedang dia fokusi. Rupanya dia sedang asyik melihat-lihat jenis pakaian wanita itu.
"Bapak sedang apa sih. Saya laporin Ajeng kalau Bapak sering lihat begituan!" ancam Daniel.Meski sebenarnya dia hanya bercanda.
"Maksud kamu apa?Aku kan cuma lagi lihat-lihat model lingerie untuk Ajeng."Raka beralasan.
"Ohh begitu. Hmmm, memangnya buat apa?" tanya Daniel rasa ingin tahunya yang besar.
"Ya buat dipake Ajeng lah," kata Raka.
"Oooo."Daniel hanya ber-oh saja lalu meninggalkan Raka yang terlihat garang karena terciduk oleh anak buahnya sendiri sedang memilih-milih lingerie untuk Ajeng di saat jam kerja.
Daniel hanya memandang wajah Raka yang sumringah seperti itu. Apakah Raka terlihat senang seperti itu karena dia sedang mempersiapkan malam khususnya dengan Ajeng.
Daniel pun harus kembali fokus dengan pekerjaannya. Meskipun dia masih sedikit galau.
**** Studio Author ****
"Mr Gor, where are yoouuuuuu?" Kali ini author mode on English memanggil cast kesayangan.
"Yes aim hir. Wats going on Thor?" tanya Arya penuh gaya yang nyentrik.
"Please tell the reader as Mr Gor used to say!" titah Author.
"Oce Thor. Ai gadit."
"Jangan lupa untuk memberikan supportnya untuk novel ini dengan memberikan koin sebanyak-banyaknya. Like dan koment di bab ini biar rame. Vote juga yang banyak."
"Bang Gor, kenapa enggak pakai English?"
"Takut enggak paham,hahahaha," kata Bang Gor ngeles.
"Ckckckckck,Bilang aja sih kalau enggak bisa."
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan koin untuk author sebagai bukti penghargaan dan tanda cintanya untuk Author hanya dengan membeli koin 100 seharga Rp.14.000,- bisa dengan Gopay.