Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Acara Manjakan Laksmi


__ADS_3

Laksmi sudah dinyatakan sehat setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Kevi Liu, papanya Laksmi menghubungi Daniel agar bisa menjemput dan mengantar Laksi ke rumahnya. Tentu saja Daniel dengan senang hati menjemput Laksmi di rumah sakit. Setelah meminta izin pada Raka untuk bisa menjemput Laksmi di rumah sakit, Daniel pun segera melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat Laksmi dirawat. Kedua orangtua Laksmi tidak bisa menjemput Laksmi karena ada urusan mendadak di kantor perusahaannya.


Begitu sampai di rumah sakit, Daniel kemudian mengurus kepulangan Laksmi. Setelah mengurus semua administrasinya, Daniel langsung menemui Laksmi di ruangan rawatnya. Dia melihat Laksmi berwajah datar seperti biasanya. Tampaknya dia tidak senang dengan kehadiran Daniel yang akan mengantarkannya pulang ke rumah orangtuanya


"Bagaimana keadaanmu, apa sudah baikan?" tanya Daniel sambil berusaha memasangkan sabuk pengaman untuk Laksmi begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Tidak usah, aku bisa sendiri," cegah Laksmi menolak kebaikan hati Daniel yang ingin memasangkan sabuk pengaman.


Daniel berusaha tersenyum memaklumi keadaan Laksmi. Memang tidak mudah menghadapi seorang Laksmi yang berhati dingin.


"Wajahmu masih terlihat pucat, bagaimana kalau kita cari makanan yang bisa membuatmu segar dulu?" tanya Daniel kemudian memasangkan sabuk pengaman untuknya sendiri sebelum dia menyalakan mesin mobilnya.


"Tidak usah, langsung saja antarkan aku ke rumah!"


Daniel manyun mendengar jawaban dari Laksmi yang terdengar malas.


"Dengar ya Beb, aku ngajak kamu makan juga bukan demi memanjakanmu. Aku cuma kasihan sama calon anakku. Mungkin beberapa hari ini dia kurang mendapatkan asupan makanan yang enak," jawab Daniel memakai alasan itu agar Laksmi mau untuk makan. Padahal dia juga sebenarnya ingin memanjakan Laksmi yang umum dilakukan pasangannya.


Laksmi pun hanya terdiam mendengar jawaban Daniel yang seperti iyu. Kemudian dia pun pasrah ketika Daniel menyalakan mobilnya dan meninggalkan parkiran rumah sakit.


"Mulai hari ini, aku yang bertanggungjawab atas kesehatanmu," kata Daniel sambil terus menyetir.


Laksmi hanya bisa mendesah tanpa niat menjawab dengan ucapan. Daniel melihat wajah Laksmi yang murung tanpa semangat hidup.


"Apa ada yang sedang kau pikirkan?" tanya Daniel menginginkan Laksmi agar lebih terbuka kepadanya.


"Tidak ada."


"Beneran?" tanya Daniel tidak percaya.


"Memang kenapa. Apa kalau aku ceritakan, apa kau bisa mencari solusinya?" tanya Laksmi berbalik.


"Siapa tahu aku bisa mencari solusinya. Aku dikenal sebagai Raja Solusi di Hotel Mahesa. Bosku Raka saja mengakui itu," jawab Daniel sombong.

__ADS_1


Laksmi kemudian menoleh ke arah Daniel setelah mendengar ucapan Daniel yang menyebut dirinya Raja Solusi. Menatap wajah Daniel dalam-dalam sampai Daniel pun menjadi salah tingkah.


"Kenapa?" tanya Daniel sambil membagi fokusnya pada jalan dan juga wajah Laksmi yang terus menatapnya dengan dalam  dan juga setajam mata elang.


"Benarkah kau bisa cari solusinya?" tanya Laksmi kurang yakin.


"Tentu saja, katakan saja apa yang menjadi beban pikiranmu itu!" Daniel meminta Laksmi untuk mengatakan apa yang menganggu pikirannya.


"Aku tidak yakin kau bisa," kata Laksmi kemudian memalingkan wajahnya lagi ke depan dan tidak mau membahas lebih lanjut lagi topik yang tadi.


Daniel hanya bisa menghela napas panjang mendengar keraguan Laksmi dengan kemampuannya itu.


"Baiklah kalau begitu, selamanya kau akan tidak punya solusi dan terus-menerus terganggu."


Daniel kemudian lebih konsentrasi dengan mobilnya dan lebih banyak diam. Laksmi juga seolah tidak mau diajak bicara lagi.


***  ***  ***


Daniel mengajak Laksmi ke sebuah restoran dan memesan banyak makanan untuknya.


Laksmi memandang semua menu makanan yang tersaji di atas meja. Air liurnya memang sedikit menetes melihat begitu banyak makanan khas Indonesia yang sudah lama dia tidak cicipi. Hampir lima tahun di LA dia tidak pernah menemukan menu selengkap ini.



"Pakai diliat doang, ayo makan!" kata Daniel.


Sebenarnya Laksmi sedikit malu dan ragu. Awalnya kan dia yang menolak untuk diajak makan. Tapi begitu banyak menu yang dihidangkan. Dan sepertinya Daniel sangat tahu apa-apa saja yang ingin dia makan. Daniel tersenyum melihat ekspresi wajah Laksmi yang sedikit ternganga melihat semua makanan itu.



"Ayo Sayang, makan yang banyak!" seru Daniel seolah memberi aba-aba pada Laksmi.


Kemudian Laksmi segera memulai acara memanjakan lidah, mulut dan perutnya dengan semua makanan yang sangat dia rindukan. Daniel kemudian mencoba membantu Laksmi menyendokkan nasi ke dalam piringnya. Laksmi kemudian tanpa malu-malu lagi segera mencoba semuanya.

__ADS_1


Daniel tersenyum puas melihat ibu hamil di depannya kini tengah berselera makan lagi. Dan rencananya untuk membuat wajah Laksmi yang terlihat pucat jauh lebih baik daripada sebelumnya.


"Pokoknya aku sekarang menjadi ahli gizi kamu Beb, setiap hari kamu harus makan enak agar dede bayinya sehat," kata Daniel sambil menyeruput jus melonnya. Sebenarnya dia sedikit terganggu dengan aroma arang dari sate ayam dan ayam bakar di meja. Masa-mana ngidam dan mencium aroma yang kuat Daniel belum bisa melepaskan itu semua. Entahlah, tapi itu sedikit terobati melihat Laksmi yang makan lahap tanpa memedulikan Daniel yang sedang berusaha keras menahan rasa mualnya karena aroma-aroma masakan itu.


"Kamu kenapa tidak makan?" tanya Laksmi baru menyadari kalau dari tadi Daniel hanya minum.


"Melihatmu makan sudah buat aku kenyang kok Beb," jawab Daniel sambil menatap Laksmi.



Laksmi pun ogah kembali bertanya lebih jauh karena pasti akan menjawabnya dengan berlebihan lagi. Dia pun melanjutkan mencicipi semua makanan itu. Meskipun tidak semua jenis makanan dia habiskan, Laksmi hanya mencicipi setiap jenis makanan yang ada di meja itu.


Setelah kenyang, Laksmi menutup makannnya dengan meminum jus jeruk. Dia kemudian melihat Daniel yang sedang menatap wajahnya lagi. Sebenarnya Laksmi agak risih dengan tatapan Daniel itu. Namun berhubung karena Daniel sudah mengajaknya makan semua makanan yang dia inginkan, dia tidak banyak protes dan mencoba membalas kebaikan Daniel hari itu dengan tidak banyak bicara hal yang sebenarnya ingin dia lontarkan pada Daniel. Dia sangat ingin mengatakan kalau dia tidak ingin ditemani Daniel, dia tidak mau kalau Daniel terus-menerus menatapnya dengan penuh cinta. Dan dia tidak mau Daniel bersikap manis dan romantis padanya. Semua itu ingin dia katakan pada Daniel. Dia merasa risih dan tidak suka dengan perlakuan dan sikap Daniel padanya. Meskipun dia tahu kalau perasasan Daniel padanya memang tulus.


"Kalau sudah kenyang, ayo kita pergi dari sini!" kata Daniel mengajak Laksmi pergi dengan mengulurkan tangannya pada Laksmi. Namun Lakmsi tidak menggapainya, karena dia bisa berdiri sendiri. Dia pun berdiri tanpa bantuan tangan Daniel.


Daniel mengusapkan tangannya yang ditolak itu ke kepalanya. Sambil terus tersenyum Daniel kemudian berjalan menuju mobilnya bersama dengan Laksmi.


"Aku sudah kenyang, jadi antarkan aku ke rumah sekarang!" pinta Laksmi.


"Baiklah Tuan Putri, kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang sekarang. Tapi ini baru jam empat sore, bagaimana kalau kita pergi dulu ke suatu tempat," kata Daniel.


"Apa, kemana?" tanya Laksmi berteriak.


"Nanti juga kamu tahu. Aku mau sekalian ke sana. Kebetulan arahnya sama dengan arah rumahmu," jawab Daniel membuat Laksmi keki. Dia sebenarnya tidak ingin berlama-lama lagi bersama Daniel.


"Memangnya kau mau ajak aku ke mana?" tanya Laksmi.


"Pokoknya ikut aja dulu, please!" kata Daniel.


Laksmi hanya merengut kesal. Rasanya dia ingin protes, namun apa daya karena perutnya sudah kenyang dan puas dengan traktiran Daniel tadi. Jadi dia tidak bisa menolak ajakan Daniel.


"Kamu jangan bikin aku cape ya, soalnya aku baru saja dari rumah sakit!" kata Laksmi.

__ADS_1


Daniel tidak menjawab dengan ucapan, dia hanya meresponnya dengan suara terkekeh. Laksmi pun menjadi curiga.


__ADS_2