
Suara bel pintu kamar hotel terdengar berbunyi bertalu-talu. Maksudnya bunyinya konstan dan sepertinya orang yang menekan bel pintu seperti mempunyai kekuatan seribu kecepatan cahaya.
"Woii sabaaar!" teriak Raka yang sudah tahu itu pasti Daniel yang datang. Tak sabaran dan super panik karena berita ayang beb-nya sakit.
Raka kemudian membuka pintu hotel dan benar dugaannya. Daniel tanpa permisi langsung menerobos masuk ke dalam.
"Mana dia?" tanya Daniel dengan suara panik.
"Ssstt!" Ajeng memberi kode pada Daniel agar dia tidak membuat keributan alay-nya di dalam kamar.
"Apa dia tidur?" tanya Daniel sambil berjalan mendekati tepi ranjang di mana tubuh Laksmi berbaring lemah.
Daniel kemudian meraba kening Laksmi yang panas. Dia melihat bibir Laksmi yang bergetar seperti kedinginan.
"Kita bawa ke rumah sakit. Aku takut dengan kondisinya yang sedang hamil," ucap Daniel sambil berusaha untuk membangunkan tubuh Laksmi.
"Kau kuat menggendongnya?" tanya Ajeng yang melihat Daniel sudah siap menggendong Laksmi.
"Tentu saja aku kuat," jawab Daniel percaya diri.
"Pak, tolong Bapak yang membawa mobil!" kata Daniel sambil melempar kunci mobilnya pada Raka. Tentu saja Raka spontan menangkap kunci mobil yang dilempar Daniel. Tapi sesaat kemudian dia mengernyitkan dahinya. Kenapa dia seperti menjadi seorang supir pribadi Daniel sekarang. Namun melihat wajah Daniel yang terlihat panik, Raka urung untuk protes pada anak buahnya yang melunjak itu.
Daniel kemudian menggendong tubuh Laksmi yang hampir setengah berat badannya itu. Ajeng kemudian membawa beberapa perlengkapan milik Laksmi. Sementara Raka berjalan di depan diikuti Daniel dan Ajeng di belakangnya. Mereka kemudian menuju lift dan turun ke lantai basement. Tempat Daniel memarkir mobilnya di sana.
Raka melihat Daniel yang masih menggendong tubuh Laksmi dengan hati-hati.
Sampai di depan mobil Daniel yang notabene adalah mobil pemberian Raka itu, Daniel membawa tubuh Laksmi masuk. Dan sepertinya Laksmi sudah tidak sadar, karena buktinya dia tidak terbangun saat digendong tadi.
"Ayo Pak cepat jalan!" seru Daniel kembali lagi memerintah Raka. Dan Raka hanya bisa menuruti tanpa bisa protes karena dia tidak mah mengacaukan kepanikan dan keresahan calon ayah itu.
"Baik Tuan Muda," jawab Raka dengan memakai kata Tuan Muda dengan maksud menyindir. Tapi dasar Daniel dia tidak merasakan sindiran itu. Dia malah sedang mengusap-usap kening Laksmi yang terlihat berkeringat dengan sapu tangan yang dia bawa. Sementara Ajeng baru masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Raka.
"Laksmi Sayang," panggil Daniel agar Laksmi bisa mendengarnya.
Raka hanya cemberut mendengarnya. Lalu dia pun segera melajukan mobilnya ke sebuah rumah sakit yang terdekat dari hotelnya.
"Beib, kamu kenapa sih?" tanya Daniel sambil memegang tangan Laksmi.
Ajeng mencoba melihat ke kursi belakang. Laksmi tidak mau membuka matanya. Namun Ajeng melihat sudut mata Laksmi seperti ada benda cair berwarna bening yang terjatuh.
"Apa dia menangis lagi? Tapi kenapa dia tidak mau membukakan matanya?" gumam Ajeng dalam hatinya.
"Apa telah terjadi sesuatu padanya. Sepertinya dia terlihat tertekan," pikir Ajeng sambil menatap wajah Daniel yang sedang berada di sampingnya menyandarkan kepala Laksmi ke dada Daniel.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Daniel kemudian turun dari mobil sambil menggendong Laksmi lagi menuju ruang gawat darurat. Para petugas medis yang kebagian piket menangani pasien darurat yang datang segera gerak cepat membantu Daniel membawa Laksmi memakai brankar dan menuju ruang pemeriksaan. Raka kemudian memarkirkan mobil ke tempat parkir tak jauh dari pintu gerbang IGD. Sementara Ajeng sudah turun duluan tadi bersama Daniel.
Setelah memarkirkan mobil, Raka kemudian menyusul mereka masuk ke dalam.
*** **** ****
"Ajeng, bagaimana keadaan Laksmi?" tanya Raka saat Ajeng baru keluar dari ruang pemeriksaan dokter. Raka tidak ikut ke dalam karena dibatasi. Jadi dia menunggu di ruang tunggu.
"Kata dokter Kak Laksmi Anemia, sama stres," jawab Ajeng sambil duduk di samping Raka.
"Stres, kok bisa stres orang kayak Laksmi?" tanya Raka heran.
"Ya bisa dong, Kak Laksmi juga kan manusia biasa kayak kita."
"Ya maksudnya apa yang bisa bikin dia stres, orangtuanya kaya, dia punya calon suami mau jadi ibu, mau nikah pula," timpal Raka masih tidak percaya kalau orang seperti Laksmi bisa terkena stres.
"Hati orang dan dalamnya siapa yangt ayu Kak, bisa saja dia memendam sesuatu di hatinya sampai dia bisa stres." Ajeng terlihat jengkel melihat jawaban dari Raka.
"Tekanan darahnya tinggi, asupan makanannya pun kurang gizi. Dan ditambah Kak Laksmi banyak pikiran. Makanya jadi sakit," sambung Ajeng lagi.
"Kasihan."
"Apa dia banyak pikiran karena sebentar lagi mau nikah?" ucap Ajeng menggumam.
"Kak Laksmi sepertinya memang belum siap kelihatannya untuk menikah," jawab Ajeng.
"Kasihan si Baboon dong, kalau memang begitu" seru Raka memikirkan nasib anak buahnya itu.
"Kalian juga aneh-aneh juga sih waktu di Berlin. Coba kalian tidak pergi ke bar. Tidak mungkin tuh kejadian Kak Laksmi sama Daniel melakukan itu. Pasti sekarang tidak seperti ini."
"Lho kok kamu nyalahin gitu, kalau bukan karena itu tidak mungkin kita juga melakukannya kan Yang. Dan kalau bukan itu juga, aku sama kamu enggak bakal kayak gini. Bisa bertemu lagi," jawab Raka mengambil hikmah dari kejadian itu.
"Kita yang senang, tapi mereka?" balas Ajeng.
"Sudah tenang aja, biarkan itu menjadi urusan mereka saja Yang. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana rencana persiapan pernikahan kita."
Ajeng hanya menoleh ke arah Raka dengan wajah masam.
"Kak, emangnya Kakak pengen cepet-cepet nikah?" tanya Ajeng.
"Ya iya dong, masa enggak," jawab Raka menaikkan kedua alisnya berkali-kali.
"Atur saja sama Kakak, aku mau nemenin Kak Laksmi dulu," jawab Ajeng kemudian beranjak berdiri dari tempat duduknya namun segera ditahan oleh Raka.
__ADS_1
"Kan sudah ada si Baboon, ngapain ke sana. Kamu nemenin aku di sini!" seru Raka menarik Ajeng untuk duduk di kursi.
Beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka berdua. Namun di antara banyak orang yang lewat, ada beberapa orang yang mengenal Ajeng dan Raka.
"Eh itu kan A.J Agustine sama Raka!" pekik mereka histeris.
"Mbak A.J kan. Pemain film Caramel Girl?" tanya seorang perempuan muda.
"I-iya." Ajeng kaget karena banyak orang yang mengenalnya.
"Mbak minta foto sama tanda tangannya dong!" pinta mereka.
"Eh, ya boleh-boleh," jawab Ajeng ramah.
Mereka pun mulai ramai bergantian foto bareng dan meminta tanda tangan Ajeng. Sementara Raka dicuekin.
"Mbak kok bisa ada di sini?" tanya salah satu penggemar.
"Managerku sakit dan dirawat di sini," jawab Ajeng.
"Ooh."
Semakin lama semakin banyak orang dan penggemar yang berkerumun di sekitar Ajeng. Sampai-sampai Raka harus minggir jauh dari mereka karena kakinya terinjak-injak. Dengan wajah kesal Raka melihat kerumunan itu. Bahkan dia juga tidak bisa melihat wajah Ajeng secuil pun.
"Huuffft. Rasanya kok kayak orang yang terbuang aku ini," gumam Raka.
"Tega bener deh itu penggemar, aku sampai disingkirkan. Dan kenapa pula cuma Ajeng yang diminta tanda tangan sama foto bareng. Aku juga kan sutradara terke ....."
"Mantan Sutradara Tung, inget cuma MANTAN. M-A-N-T-A-N."
Raka menengok kanan dan kirinya karena mendengar sesuatu. Dan baru sadar kalau itu suara Author.
"Jangan pakai masuk ke adegan dong Thor!" teriak Raka.
"Ku menangis membayangkan ... betapa kejamnya dirimu atas diriku ....."
"Diem loe Thor, kagak usah nyanyi seolah-olah ini sinetron sebelah yang ada backsound song-nya!"
"Ku hanya diam, menangis menahan segala ......"
Pletaaaakk!!!
"Dasar Author Lucknut."
__ADS_1