
Raka tak habis-habisnya memandang wajah Ajeng meskipun dia sedang menyetir mobil. Meskipun itu hanya sesekali. Ajeng yang sadar kalau Raka dari tadi memperhatikan wajahnya menjadi salah tingkah.
"Kak, fokus nyetir mobilnya. Nanti kalau kecelakaan gimana?" seru Ajeng meminta Raka agar bisa lebih fokus ke jalan.
"Iya sayang, habisnya kalau memandang wajahmu itu tidak pernah bikin bosan," kata Raka sambil tertawa.
Ajeng mencubit paha Raka yang sudah menggombal itu.
"Awww, jangan cubit di situ Yang," kata Raka manja. Wajahnya berubah menjadi merah. Ajeng berhasil membuat dirinya menjadi tambah gemas dan sudah tidak tahan lagi.
"Emang kenapa?" tanya Ajeng malah makin menjadi mencubit Raka. Kali ini cubitan mengarah pada wajah Raka. Tentu saja Raka tidak bisa mengelak, karena dirinya sedang menyetir mobil. Tapi dia malah seperti keenakan dicubit Ajeng. Melihat itu, Ajeng menjadi berhenti, lalu kembali lagi diam. Memperhatikan wajah Raka yang nampak serius menyetir.
"Yang, aku kangen sama kamu," gumam Raka namun dia terlihat serius memperhatikan jalan raya.
"Aku juga kangen Kak," jawab Ajeng membuat jantung Raka semakin dangdutan koplo tak karuan. Rasanya dia sudah tak sabar sampai di hotel.
"Kalau kamu kangen aku juga, boleh dong malam ini kita ...." Raka tidak berani melanjutkan perkataannya karena takut dikeplak Ajeng. Dia kan tidak bisa menebak isi kepala dan isi hati Ajeng. Sehebat apa pun laki-laki kadang tidak bisa memprediksi hati seorang wanita.
"Boleh apaan?" tanya Ajeng pura-pura tidak mengerti kebutuhan suaminya itu.
"Heemm, masa sih kamu tidak mengerti?" tanya Raka terlihat menekuk wajahnya.
"Enggak Kak, aku enggak paham. Aku udah cape, dan pengen cepet tidur. Badan Ajeng udah pegel-pegel ini, Shanum luar biasa sekali. Tahu sekali kalau tidak pernah ketemu langsung sama tantenya. Jadi ngerasa balas dendam manja dan kolokannya sama aku."
"Ah aku juga mau balas dendam sama kamu kayak si Shanum," kata Raka malah ikut-ikutan.
"Kamu mau apa balas dendam sama aku?" tanya Ajeng.
"Shanum aja bisa balas dendam dengan manja dan kolokannya secara lima tahun dia baru ketemu tantenya yang cantik. Jadi aku juga akan balas dendam.Mau manja-manja sama kamu. Kan sudah lama juga aku enggak manja-manja," kata Raka dengan ekspresi lucu. Persis anak kecil yang cemburu karena kakaknya dapat jatah yang banyak, dan dia merasa iri karena jatahnya yang sedikit.
"Asal jangan kelewatan aja manjanya. Kalau kelewat manja, bisa-bisa nanti aku kewalahan Kak," kata Ajeng menahan malu sambil menutup sebagian wajahnya yang memerah.
__ADS_1
Raka yang melihat ekspresi malu Ajeng menjadi tambah gemas. Dan dia rasanya sudah tak sabar untuk segera sampai di hotel.
"Yang, kamu dengan Laksmi memang tidak ada jadwal yang penting di sana?" tanya Raka. Hal ini sudah dia ingin tanyakan sebenarnya.
"Kak Laksmi sudah mengatur ulang jadwalku Kak. Jadi aku dan Kak Laksmi sengaja ke sini untuk mempersiapkan pernikahnnya dengan Daniel."
"Oh jadi kamu juga sekalian gitu?" tanya Raka mengggoda.
"Memang kamu mau menunda lagi Kak?" tanya Ajeng.
"Tidak mau, kita pokoknya harus segera menikah resmi Jeng!" kata Raka.
"Apa Kak Raka yakin, Nenek Sarah bagaimana, apa dia masih belum merestuiku?" tanya Ajeng. Jelas wajahnya terlihat sedih ketika menyebutkan nama Nenek Sarah. Orang yang telah mencoba memisahkannya dengan Raka lima tahun yang lalu.
"Dia pasti merestuimu Yang,"kata Raka yakin.
Ajeng pun tersenyum mendengar jawaban Raka. Meski hati kecilnya merasa kalau tidak mudah bagi seorang seperti Nenek Sarah akan merestuinya. Tapi Ajeng tidak mau memusingkan itu. Karena dia sudah yakin dengan perasaan Raka padanya. Meskipun tidak direstui keluarga Mahesa. Yang penting Raka begitu mencintainya.
**** *** ****
Raka mengajak Ajeng untuk naik lift khusus untuk para Direktur dan orang-orang yang mempunyai jabatan penting di Hotel Mahesa itu. Karena sudah malam, memang sudah tidak ada orang yang menggunakan lift khusus itu. Jadi hanya ada Raka dan Ajeng. Suasana sangat sepi. Karena memang sudah hampir jam sebelas. Raka kemudian merangkul tubuh Ajeng di dalam lift. Ajeng hanya tertawa kecil karena Raka sudah terlihat tak bisa mengendalikan dirinya.
"Kak, awas tanganmu itu lagi apa?" tanya Ajeng berbisik. Memang di lift itu hanya ada mereka berdua. Tapi tetap saja Raka jangan berbuat sesuatu di dalam lift.
Memang saat itu tangan kanan Raka sedang merangkul pinggang Ajeng yang ramping. Tapi ujung tangan kanan Raka itu tidak bisa diam.
Raka hanya tertawa terkekeh menanggapi pertanyaan Ajeng. Dia kemudian mengecup pipi Ajeng dengan kilat.
"Kak," pekik Ajeng protes karena Raka malah mengecup pipinya.
Tring
__ADS_1
Pintu lift terbuka, padahal saat itu Raka baru saja hendak mengulangi kecupan mesranya di pipi Ajeng. Dan rupanya begitu pintu lift terbuka ada Bastan yang akan masuk ke dalam lift. Begitu dia sadar siapa yang dia temui di lift. Buru-buru Bastian menundukkan kepala karena dia baru saja melihat Raka yang akan mengecup pipi Ajeng itu.
"Malam, Pak!"kata Bastian menyapa. Namun dia tidak berani mengangkat kepalanya. Takut kalau nanti Raka malah menegurnya karena tidak sopan.
"Malam, kamu belum pulang Bas?" tanya Raka.
"Belum Pak, saya baru selesai membuat shift karyawan Pak. Dan barusan saya juga baru habis menerima komplenan dari tamu hotel di lantai ini!" jawab Bastian dengan sopan.
"Wah jadi kamu lembur?" tanya Raka. Raka tidak menanyakan perihal komplenan tamu hotel yang disinggung Bastian.
"Ma-af Pak!" kata Bastian merasa bersalah. Dia tahu prinsip Raka. Bagi Raka, kerja lembur itu adalah aib. Aib karena itu adalah cermin dari orang yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu.
Peraturan Presdir, memang melarang semua karyawannya bekerja di atas jam normal. Bukan karena tidak mampu membayar uang lembur. Tapi itu adalah bentuk untuk mendisiplinkan semua karyawannya. Semua pekerjaan harus selesai tepat waktu sebelum jam pulang. Kalau misalkan ada pekerjaan yang tidak selesai. Raka menyarankan untuk menyelesaikannya besoknya. Namun sudah pasti pekerjaan yang sebelumnya akan menumpuk pekerjaan yang harus dikerjakan hari itu juga. Dengan begitu akan mengganggu ritme pekerjaan.
Jadi Raka memang ingin semua karyawannya disiplin. Pekerjaan yang harus selesai satu hari harus selesai satu hari. Jika pekerjaan itu harus selesai dua hari, maka pekerjaan itu harus selesai dua hari. Jika harus dikerjakan secara lembur. Waktu untuk keluarga akan berkurang. Dan Raka tidak mau itu. Semua jadwal pekerjaan karyawannya harus sesuai dengan standar pekerja di Indonesia. Tidak ada lembur. Dia tidak ingin mengambil waktu untuk keluarga karyawannya. Dia tidak mau kalau bekerja di Hotel Mahesa, semua karyawan dibuat susah dengan jarang berkumpul dengan keluarganya karena seringnya lembur.Dan Raka juga selalu memberikan bonus bagi karyawan yang sering mengerjakan pekerjaannya dengan tepat waktu tanpa harus lembur. Jadi jarang sekali Raka menemukan orang yang lembur sampai malam di hotelnya. Kecuali memang shift bekerjanya malam.
"Apa kau ada masalah Bas?" tanya Raka yang sangat heran karena Bastian bisa lembur.
"Maaf Pak, tadi sore saya harus antar anak saya ke rumah sakit, jadi pekerjaan saya sempat tertunda. Karena tidak ingin pekerjaan saya menumpuk besok hari, saya kerjakan hari ini," jawab Bastian merasa bersalah. Dia pasti kena marah atau bisa jadi kena SP.
"Oh, jadi anakmu sakit? kenapa kau bukan menjaga anakmu yang sakit!suruh wakilmu mengerjakanya!" kata Raka.
"Dia juga sedang sibuk dengan pekerjaan lain Pak," jawab Bastian.
"Ya sudah tidak apa-apa. Kalau urusannya sakit, kau bisa membuatnya pengecualian dengan peraturan Hotel ini!" kata Raka berbaik hati.
"Terima kasih Pak."
"Pulanglah. Jaga anakmu. Kamu tak usah masuk dulu kalau begitu besok. Suruh yang lain menggantikanmu."
"Baik Pak, terimakasih!" kata Bastian sambil berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
Ajeng yang mendengar dan melihat interaksi karyawan dengan presdir merasa takjub dengan wibawa Raka di depan karyawannya tadi. Seorang Raka yang dulu dia kenal. Orangnya cuek dan kadang suka slengean, bisa juga menjadi seorang Presdir yang disegani karyawannya. Sebagai seorang mantan sutradara yang tidak tahu dunia manajemen bisnis. Ajeng sungguh sangat terkagum-kagum melihat Raka.
Melihat Ajeng yang hanya bengong. Raka segera merangkul Ajeng dan segera menuju menuju kamar Ajeng.