Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Kasih Kakak Ipar Tak Sepanjang Galah


__ADS_3

Ajeng sedang membenarkan riasannya di depan cermin. Kemudian datanglah Raka menghampirinya dan memeluknya.


"Kamu sudah cantik Sayang, tidak usah nambah make up lagi!"ucap Raka sambil mencium leher Ajeng.


"Aku pakai riasan ini karena aku kan menjadi bintang iklannya. Gak ethis dong kalau aku keluar tidak pakai produknya," jawab Ajeng sambil memakai lip cream berwarna pink rose.


"Aduuh, bisa gawat dong. Makin banyak aja nanti laki-laki yang tergila-gila sama kamu," ucap Raka kemudian merapikan jasnya.


"Ya yang pentingkan aku cintanya sama Bang Raka seorang," jawab Ajeng sambil merapikan semua alat make up nya dan bersiap-siap untuk pergi bersama Raka.


Raka tersenyum cerah kemudian menarik tubuh Ajeng dan memeluknya erat. Ajeng buru-buru mendorong tubuh Raka agar tidak terlalu erat memeluknya.


"Apa kita tidak usah pergi ke rumah Bang Gor aja?" tanya Raka masih berusaha untuk memeluk Ajeng.


"Ya kan kita harus ke sana. Kasihan Bang Gor udah pesan sate segala," jawab Ajeng.


"Lagian kan ada si Daniel, kenapa harus aku yang beli," ucap Raka terlihat malas.


"Udah deh Kak, ayo kita jalan aja sekarang. Keburu sore!" ajak Ajeng.


"Heemmm."


Raka kemudian menurut dan berjalan di belakag Ajeng. Harusnya sore ini dan malam ini dia ingin bersantai dan berduaan dengan Ajeng di kamar hotelnya. Tapi sekarang dia harus segera menuju rumah Bang Gor karena sebuah titah Bang Gorila kesayangan Ajeng. Yaitu membeli sate kambing.


***   ****   ****


Raka dan Ajeng sudah berhasil membeli pesanan Bang Gor dan kedua pasangan tengil itu. Lima porsi sate ayam dan kambing pun segera menuju rumah Bang Gor. Sampai di sana, Ajeng dan Raka mendengar suara riuh dan ribut dari dalam. Suara tawa khas Bang Gor dan Daniel terdengar membahana sampai ke luar. Bahkan Ajeng dan Raka mendengar suara tawa yang lain. Suara perempuan yang tak pernah terdengar karena asing.


"Jeng, kok aku kayak ngedenger suara perempuan yang ketawa ya, tapi itu bukan suara tawa Mbak Merry kan?" tanya Raka pada Ajeng. Kedua tubuh mereka saling berimpitan karena sebuah fenomena dan keanehan yang terjadi di rumah Bang Gor.


Ajeng mengangguk dan lebih merapatkan tubuhnya lagi pada Raka. Dia sangat takut sekali.


"Bang Gor, kalau ngomong memang suka ada benernya. Jadi waktu itu Raka sampai terkencing-kencing gara-gara Abang bawa pisau mau sunat dia. Hahahhaa," terdengar suara Daniel bicara dan tertawa membawa-bawa namanya Raka.


"Mereka sedang ghibahin kamu Kak," ucap Ajeng setengah berbisik pada Raka.

__ADS_1


"Emang dasar Bang Gor itu suka buka aib orang," sambung Raka sambil mengusap telinganya yang terasa panas karena sedang dighibahin kakak iparnya sendiri.


"Hahahaaha. Aku jadi penasaran sama wajahnya kalau sedang takut sama loe Bang." Terdengar suara tawa dan suara perkataan dari Laksmi.


"Jeng, apa aku enggak salah dengar kalau Laksmi ketawa ya?" tanya Raka.


"Iya Kak, kayaknya yang ketawa tadi Kak Laksmi deh, bukan Kunti," jawab Ajeng.


"Ya udah ayo masuk!" ajak Raka menuntun Ajeng untuk masuk ke dalam rumah.


"Assalamulaikum!" ucap Ajeng dan Raka bersamaan.


"Waalaikumsalam!"


"Eh loe Tung, lama banget dah loe datangnya. Perut gue udah konser dangdutan mulu dari tadi," ucap Bang Gor kemudian langsung menyambar bungkusan yang dibawa Raka tanpa peduli dengan wajah Raka yang sudah cemberut karena Arya hanya menyambut kedatangan sate bukan dirinya.


Wajah Raka bertambah manyun ketika dia melihat raut wajah Daniel dan Laksmi yang menahan tawa dengan menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan telapak tangannya.


Tanpa dipersilakan tuan rumah Raka kemudian menepuk punggung Daniel agar mau menggeser duduknya lebih dekat ke Laksmi. Karena dia mau duduk di posisi yang Daniel tempati.


"Merry Sayang, dah siap kan meja makan dan nasinya?" teriak Bang Gor.


"Ya sudah ayo Boon, Beku kita makan!" ajak Arya atau Bang Gor pada Daniel dan Laksmi yang dia panggil dengan sebutan Beku alias Beruang Kutub.


"Ba-Bang, kok aku enggak diajak?" tanya Raka kecewa namanya tidak disebut.


"Kalian berdua udah makan kan, jadi enggak usahlah. Lagian di dapur cuma ada empat kursinya," jawab Arya santai kemudian menarik tangan Daniel supaya segera berdiri dengan Laksmi.


Raka tambah senewen dengan ucapan Bang Gor yang sudah pilih kasih.


"Baaangg, tegaaa bener deh sama adek ipar. Si Baboon emang siapanya Abang. Dia kan anak buahku Bang. Seharusnya aku yang disayang Abang," keluh Raka sambil memegang dadanya agar jantungnya tidak copot.


"Sudahlah Kak, biarkan saja. Nanti kita makan malam di luar saja ya!" hibur Ajeng sambil memegang mesra lengan Raka agar tidak merasakan sakit hati berkelanjutan.


"Jeng, kamu aneh enggak sih sama Abangmu?" tanya Raka.

__ADS_1


"Aneh kenapa?" tanya Ajeng kemudian sambil menarik Raka agar duduk di sofa.


"Kayaknya perhatian banget deh sama Daniel, yang jadi adik ipar aku kan Yang?" tanya Raka pada Ajeng.


"Kok kamu jadi kayak yang cemburu sama Daniel. Tenang Kak, kamu itu memang sudah dianggap adik ipar sama Bang Gor," ucap Ajeng mencoba menenangkan hati Raka.


"Nah terus si Daniel, kok dia kayak yang istimewa banget gitu di depan mata Bang Gor?" tanya Raka tak habis pikir.


"Mungkin Bang Gor kepengen punya adik cowok kali," jawab Ajeng asal.


"Terus selama ini aku dianggap apa sama Bang Gor?" seru Raka sedih.


"Hehehe, kok kamu sedih Kak, gitu aja kok sedih?" tanya Ajeng.


"Tuuuung, come here!" terdengar suara teriakan Bang Gor memanggil namanya.


"Nah tuh dipanggil. Ayo buru sana!" ucap Ajeng.


Raka segera beranjak dari tempat duduknya. Wajahnya langsung sumringah ketika Arya memanggilnya. Ini berarti sebenarnya Arya juga menyayanginya sebagai adik iparnya.


Raka kemudian melihat semua kursi di meja makan sudah penuh. Dan entah dia harus duduk bergabung di mana.


"Tolong kamu beliin air galon ya. Soalnya di enggak ada air minum!" ucap Bang Gor tidak mempunyai hati yang berkeprimanusiaan.


"Ya Allah Bang, aku kira Abang manggil aku buat ikut makan. Malah disuruh beli air galon pula." Bertambahlah emosi Raka pada kakak iparnya itu.


"Niel, kamu yang beli air galon gih!" ucap Raka memberikan titah.


"Eitttss, di rumah gue dia itu tamu gue, bukan anak buah loe ya!" seru Arya melarang Raka untuk menggantikannya membeli air galon.


Mendengar itu Raka hanya mendengus kesal. Dilihatnya wajah Daniel yang terlihat senang mendapatkan perlakuan khusus dari Bang Gor. Namun dia juga melihat wajah Laksmi yang terlihat ceria dari biasanya. Raka tidak melihat wajah dingin Lakmsi seperti biasanya. Dia nampak gembira di tengah-tengah keluarga Bang Gor.


"Hey kenapa loe masih di sini. Udah buru sana berangkat!" teriak Bang Gor pada Raka.


Raka pun dengan berat hati dan terpaksa harus membeli air galon. Dia pun mengambil galon kosong dan membawanya.

__ADS_1


Laksmi sungguh terhibur melihat pemandangan langka seperti ini. Kapan lagi dia bisa melihat seorang Raka mantan sutradara terkenal sekaligus Presdir dari Hotel Mahesa mengangkat galon atas perintah dari Kakak iparnya. Dia tersenyum dan tertawa melihat ketidakberdayaan Raka menghadapi perlakuan kakak iparnya itu.


Sementara itu ujung ekor mata Arya melihat perubahan ekspresi wajah Laksmi. Apakah dia berhasil membuat dataran Kutub Utara dari wajah Laksmi mencair?


__ADS_2