Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Ada yang retak tapi bukan gelas


__ADS_3

Daniel membawa mobilnya ke sebuah restoran yang sebelumnya sebenarnya sudah ia reservasi dulu. Restoran itu terletak di daerah Cilandak, Jakarta. Sebuah restoran yang menyediakan berbagai menu khas nusantara.


 


 


Sesampainya di restoran itu. Seorang pelayan restoran langsung menunjukkan tempat yang sudah direservasi Daniel. Sebuah ruangan yang terdiri dari tiga meja makan. Hanya Daniel sudah menyewa khusus ruangan itu agar tidak ada pengunjung lain ke ruangan itu. Laksmi merasa tersanjung karena melihat usaha Daniel yang ingin menunjukkan betapa dia menghargai seorang Laksmi yang bukan dari orang biasa. Jadi dia bisa menyesuaikan dengan tingkat dan gaya Laksmi. Daniel menyeret kursi ke belakang untuk Laksmi duduki. Sebuah sikap yang gentleman dan romantis. Namun wajah arogan dan dingin Laksmi belumlah memudar.


 


 


Seorang pramusaji datang dan memberikan buku menu. Daniel dan Laksmi kemudian melihat daftar menu. Kemudian mereka saling menyebutkan beberapa pesanan mereka.


"Mas ada susu hangat, aku boleh minta itu dulu ya!" kata Laksmi.


"Baik Mbak, ditunggu ya pesanannya!" kata pramusaji itu kemudian langsung meninggalkan ruangan itu. Daniel terlihat terkejut dan sedikit panik juga.


"Kamu kenapa?" tanya Laksmi melihat perubahan wajah Daniel yang pucat.


"Ka-kamu pesan susu?" tanya Daniel terlihat parno.


"Memangnya kenapa, kamu enggak suka?" tanya Laksmi heran dengan Daniel.


"Masalahnya aku terkena sindrom ngidam simpatik yang aneh. Biasanya aku  tidak pernah jijik dan tidak pernah bauan sama sesuatu."


 


 


Laksmi mendengar cerita Daniel dengan rasa takjub. Apa sampai segitunya papa dari calon bayi yang dikandungnya mengalami hal seperti itu juga.


"Sejak kapan?" tanya Laksmi.


"Dua mingguan mungkin, dan itu udah cape banget harus bolak balik kamar mandi tiap hari cuma buat muntah-muntah tidak jelas saat mencium aroma yang biasa tidak pernah aku merasa bau. Ini menjadi tidak kuat baunya."


"Mbak ini susu hangatnya."


 


 


Pramusaji tadi sudah menghidangkan susu hangat itu di atas meja, tepat di depan Laksmi. Sementara ekspresi muka Daniel sudah terlihat panik, karena aroma susu hangat yang khas dan kuat itu mulai mengusik penciumannya dan perutnya. Daniel menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Membuat Laksmi percaya kalau memang rupanya Daniel benar-benar seperti orang yang mau ngidam yang anti bau. Dan anehnya memang dirinya belum menemukan dirinya jijik atau bau dengan aroma tertentu. Tapi yang jelas kayaknya dia hanya hobi makan dan terus makan. Maka dari itu berat badan Laksmi terlihat lebih isi.


"Akan aku habiskan dengan cepat!" kata Laksmi dengan langsung meneguk habis susunya.


"Padahal ini enak dan segar lho!" kata Laksmi menggoda Daniel sedang mual itu.

__ADS_1


"Aku lebih suka susu yang lain," jawab Daniel masih menutup hidungnya.


"Susu apa?" tanya Laksmi tanpa curiga sedikit pun dengan ocehan Daniel.


"Susu tanpa pengawet yang langsung dari sumbernya," kata Daniel disusul dengan suara tawanya.


 


 


Laksmi yang paham maksud dari Daniel pun mendengus kesal dengan lelucon yang tidak guna dari mulut Daniel. Ekspresinya menjadi tambah dingin.


"Bercanda Beb, jangan ngambek dong, tahu enggak kalau muka kamu kayak gitu, aku kayak di dalam kulkas. Dingiiiiin ngett!" kata Daniel sambiel memeluk tubuhnya seperti orang yang benar kedinginan.


Laksmi masih memandang wajah Daniel dengan datar tanpa ekspresi. Daniel yang mengerti kalau memang tidak mudah membuat princess di depannya ini tersenyum dan tertawa. Dia tersenyum dan tertawa jika dia menurutnya itu harus.


 


 


"Daniel, masih bisakah kamu tertawa di saat aku akan mengatakan hal yang serius padamu?" tanya Laksmi dengan tatapan tanpa rasa.


"Tertawa itu adalah obat awet muda Beb, banyak tertawa itu bisa tambah lebih awet muda!" kata Daniel tanpa beban.


"Tapi masih bisakah kamu tertawa, setelah aku mengatakan hal ini padamu?" tanya Laksmi.


 


 


"Aku memang mengandung putramu, hasil dari hubungan kita pada malam itu. Tapi aku tidak bisa membuat keputusan yang adil untuk semua orang," kata Laksmi.


"Semua orang, kok banyak amat," gumam Daniel.


 


 


Tak lama kemudian semua pesanan makanan mereka sudah datang. Pramusaji kemudian menatanya dengan cantik di meja mereka.


"Kita makan dulu!" kata Laksmi kemudian mulai mengambil sendok dan garpunya. Mulai menyantap makanan yang sudah dia pesan. Karena kondisinya yang sedang hamil dan banyak makan. Laksmi tampak lahap menyantapnya. Tapi tidak dengan Daniel. Dia masih kepikiran dengan perkataan Laksmi tadi. Rasa penasaran dan rasa gelisahnya membuat dia tidak berselera seperti biasanya. Dia hanya mengaduk-ngaduk pesanannya dengan tatapan kosong dan pikiran yang melayang kemana-mana.


 


 


Daniel menatap wajah Laksmi yang tengah menyantap makan malamnya. Dia begitu menunggu, apa yang akan disampaikan Laksmi padanya.

__ADS_1


"Makanlah yang bener!" kata Laksmi perhatian juga.


"I-iya, ini juga," jawab Daniel sambil menyembunyikan rasa penasarannya.


 


 


Setelah selesai makan, kemudian Laksmi melanjutkan perbincangannya tadi pada Daniel.


"Lanjutkan yang tadi Beb, apa maksudmu tidak adil bagi semua orang."


"Daniel, kehamilan ini memang tidak diduga dan sebenarnya aku tidak menginginkannya. Tapi aku tidak bisa melenyapkannya. Karena dia tidak berdosa. Aku sedang mencari solusi sendiri awalnya. Aku akan besarkan anak ini sendiri, tanpa kau juga tahu. Tiba-tiba Papaku menelepon dan mengatakan kalau ada seseorang yang melamarku dan ingin menikahiku. Aku bingung karena Papa selalu mendesak. Aku takut kalau aku menikah dengan orang itu. Itu juga tidak adil buatnya, karena aku sudah hamil anak dari lelaki lain. Dan akan betapa malunya keluarga Papa jika aku hamil tanpa ayah. Itu sebabnya aku menghubungi demi semuanya bisa terselesaikan. Meskipun, sebenarnya hatiku merasa berat untuk meminta tanggung jawabmu."


"Jangan begitu, walau bagaimana pun aku akan bertanggung jawab Beb."


"Terimakasih Niel. Tapi satu hal juga yang tadi. Ini tidak akan adil juga buatmu," jawab Laksmi dengan wajah yang tertunduk.


"Tidak adil bagaimana?" tanya Daniel merasa gemetaran. Dia tidak  mau ada sesuatu yang menghalanginya untuk  menikahi Laksmi.


"Aku masih mencintai Shane!" kata Laksmi pelan sambil menundukkan kepalanya. Nyaris tidak terdengar oleh Daniel. Namun meskipun pelan, hati Daniel terasa sakit mendengar ucapan Laksmi. Namun Daniel tidak ingin terlihat lemah di depan Laksmi. Ada yang retak terdengar, tapi bukan gelas yang dipegang Daniel. Melainkan hatinya.


 


 


Bersambung.


 


 


Curhat author...


 


 


Bertahan di sini meski ( Ku menangis membayangkan ,,, betapa kejamnya dirimu akan diriku)


Jangan pelit kasih vote, like, dan komen. Padahal kalian bisa lho beli koin seharga Rp.14.000,- agar bisa memberi tips agar novel ini bisa tumbuh bermekaran (Hhmmm, just imagination, siapa tahu ada yang baca).


 


 


 

__ADS_1


 


WKwkwkwkw


__ADS_2