Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Buka Puasa


__ADS_3

Ajeng tak berhenti memuji wibawa Raka di depan anak buahnya tadi.


"Kak, aku tuh enggak nyangka banget ya, kamu bisa jadi begitu," gumam Ajeng saat Raka menggandengnya mesra lagi menuju kamar Ajeng.


"Kenapa, apa kamu makin terpesona denganku?" tanya Raka narsis.


"Mulai lagi deh narsisnya," gumam Ajeng sambil mengerucutkan bibirnya dan membuat Raka menjadi tambah gemas.


"Kamu belum tahu aja kalau aku sudah meeting dengan para Direktur dan pemegang saham Hotel."


"Wah pasti keren," tebak Ajeng.


 


 


"Padahal aku tak berkutik dan tak berdaya kalau Daniel tak ada saat meeting," batin Raka. Ajeng tidak tahu kalau Raka sangat bergantung pada sekretarisnya itu.


 


 


"Eh ngomong-ngomong ini kan sudah malam. Apa dia masih di rumah Bang Gor ya?" tanya Ajeng mulai khawatir.


"Sudahlah jangan mikirin Baboon dulu, mikirin kita aja Jeng," kata Raka kemudian memberi kode agar Ajeng segera membuka pintu kamar hotelnya.


 


 


Ajeng hanya menggelengkan kepalanya. Lalu membuka pintu kamarnya. Sampai di dalam kamar, begitu pintu di tutup. Raka langsung memeluk tubuh Ajeng dari belakang. Ajeng mencobe melepaskan pelukan Raka dengan pelan.


"Kak, jangan peluk dulu!" kata Ajeng meronta tidak mau dipeluk.


"Kenapa?" tanya Raka tidak mau melepaskan pelukannya.


"Aku gerah Kak," jawab Ajeng beralasan.


"Kalau gerah, buka saja ya?" kata Raka nakal.


"Enak saja main buka. Enggak ah. Awas dulu ikh!" kata Ajeng yang merasa risih dan geli ketika dagu Raka menyentuh leher Ajeng.


"Enggak mau, aku pengen peluk kamu gini," kata Raka tidak mau melepaskan pelukannya.


 


 


Akhirnya Ajeng hanya pasrah dipeluk seperti itu oleh Raka. Sebuah keputusan yang salah memang mengizinkan Raka masuk lagi ke dalam kamarnya. Bukan tidak mungkin, kalau malam ini Raka tidak akan melepasnya lagi. Begitu lama Raka menunggu kesempatan ini. Dan Ajeng  tahu, kalau sebentar lagi Raka akan meminta jatah buka puasanya. Tapi sebelum itu, Ajeng tidak mau melakukan itu dengan keadaan tubuhnya yang gerah dan tidak nyaman.


"Kak, biarkan aku mandi atau membersihkan badan dulu kek, aku tidak nyaman bau keringat seperti ini!" pinta Ajeng.


"Ya sudah," jawab Raka kemudian melepaskan pelukannya dan membiarkan Ajeng pergi ke kamar mandi.Raka kemudian sambil menunggu Ajeng. Dia pun melonggarkan bajunya dengan membuka kancing bajunya dan memamerkan otot perutnya yang seksi karena Raka terus menerus menjaga dan merawatnya agar Ajeng kagum padanya.


 


 


Raka kemudian melihat kaca kamar hotelnya dan melihat pemandangan gemerlap ibu kota di balik jendela kamarnya. Sebuah pesan masuk dan membuat bunyi notifikasinya terdengar. Dan Raka pun melihat pesan dari siapa.


 


 


Pak, Shanum dan papanya bener-bener ya!


Aku sampe nginep nih di rumah Bang Gor.


Bapak lagi enak buka puasa


Aku suruh nginep di sini.

__ADS_1


Bang Gor terus ngajak maen PS.


Tolooooooooooooongg!


 


 


Raka yang membaca itu mau tidak mau dia tertawa terpingkal-pingkal.Rupanya Daniel juga kena getahnya.


"Eh tapi kasihan juga kalau begitu," batin Raka ternyata masih tidak tega.


 


 


Kemudian Raka pun menelepon Daniel.


"Halo!"


"Halo Pak!" kata Daniel dengan suara lemas.


"Kamu masih di rumah Bang Gor?" tanya Raka.


"Iya Pak, aku terlalu lemas untuk pulang ke rumah," jawab Daniel.


"Nah terus kamu tidur di mana?" tanya Raka.


"Di ruang tengah sama Bang Gor," jawab Daniel.


"Hah, apa kok bisa?" tanya Raka.


"Dia kecapean habis main PS sama saya Pak, dia malah tidur di sini masing meluk stick PS nya pula," kata Daniel.


"Gila tuh Bang Gor, kelewatan bener!"


"Enggak apa-apa sih Pak, aku juga seneng. Sudah lama enggak main kayak gini," kata Daniel.


"Kenapa harus datang Pak, besok kan hari liburku!"kata Daniel setengah berteriak.


"Oh iya, aku lupa. Ya sudah selamat tidur meluk Gorilla ya Baboon!" kata Raka so sweet.


"Heemm Pak, Bapak juga selamat memeluk istrinya. Jangan lupa minum obat kuat pak!" kata Daniel terkekeh.


"Tidur loe Boon, apaan loe ngomong obat kuat segala?"


 


 


Terdengar suara Bang Gor yang sedang menggertak Daniel. Buru-buru Raka menutup teleponnya takut keburu Bang Gor merebut ponsel Daniel dan akan menceramahinya panjang lebar.


 


 


"Habis teleponan sama siapa Kak?" tanya Ajeng yang baru keluar memakai lingeri seksi membuat Raka terpana. Persis yang dia bayangkan setiap malamnya kalau dia kesepian.


"Daniel, katanya dia nginap di rumah Bang  Gor karena kemalaman," kata Raka sambil mendekati Ajeng.


"Oh, kasihan dia," gumam Ajeng dengan sorot mata yang sedih.


"Terus sama aku tidak kasihan?" tanya Raka sambil berusaha mendekati Ajeng. Namun Ajeng lagi-lagi menghindar dari Raka.


 


 


"Sayang jangan bikin aku tambah gemas dong!" kata Raka yang masih tetap berusaha untuk menjangkau tubuh Ajeng. Namun Ajeng selalu bisa berkelit. Raka yang melihat itu pun menjadi tambah kesal. Sebenarnya Ajeng hanya ingin menggoda dan mencoba kesabaran Raka.


"Kalau Kakak bisa memeluk aku dari depan. Aku akan pasrah aja!" kata Ajeng mencoba memberi tantangan pada Raka.

__ADS_1


"Bener nih?" tanya Raka bersemangat.


 


 


Dia pun segera melepas bajunya, sehingga nampaklah badannya yang bagus dengan otot-otot menawan. Roti sobek Raka yang mengoda membuat Ajeng tersenyum takjub.


 


 


Raka pun kemudian dengan gerakan perlahan akan memeluk tubuh Ajeng dari depan. Namun Ajeng berhasil menghindar. Dengan gerakan lincah, Ajeng bisa menepis tangan Raka yang akan memeluknya. Raka kemudian tak mau putus asa. Dengan berbagai usaha Raka pun mencoba memeluk Ajeng dari depan. Namun Ajeng selalu bisa menghindar dari sergapan Raka denga sambil tertawa.


 


 


Tak menyerah Raka terus mencoba menangkap Ajeng dengan cara menyudutkan Ajeng sampai ke tembok sampai Ajeng  pun tidak bisa lari lagi Hingga pada akhirnya Raka hendak menjangkaunya. Ajeng tak disangka membuat sebuah gerakan yang membuat Raka sedikit terkejut. Tangan Ajeng menyambar tangan Raka dan segera memutar tubuh Raka sampai akhirnya Raka pun berteriak mengadu.


 


 


"Kenapa kamu lemah sekali Kak?" tanya Ajeng meledek.


 


 


Tidak terima disebut lemah. Raka kemudian membalikkan keadaan. Ajeng sekarang berada dalam genggaman Raka yang sudah bisa memeluk tubuh Ajeng.


"Sekarang kau tidak bisa menolak lagi!" kata Raka sambil tersenyum melihat kedua manik mata Ajeng yang terlihat terperangkap dalam jurang pesona wajah tampan Raka.


 


 


Tanpa penolakan lagi, Raka kemudian berhasil mengecup bibir Ajeng tanpa penolakan lagi. Kemudian dengan sekali angkat, Raka pun menggendong tubuh Ajeng dan membawanya ke atas tempat peraduan malam.


 


 


Hanya Raka dan Ajeng yang tahu apa yang terjadi pada mereka di malam itu. Yang jelas keduanya sangat bahagia meneguk manisnya cinta mereka.


 


 


Bersambung.


 


 


Kumpulkan terus dukungannya untuk author ya!


Dengan memberikan vote poin yang banyak.


Like dan juga komentar kalian supaya author mengetahui keberadaan kalian wahai pembca setia EEX.


Dan bagi yang belum mengirimkan tip. Yuuuk berbagi tip pada author yang menyayangi kalian.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2