
Daniel terlihat merengut di depan meja kerjanya sambil melihat sebuah kartu undangan pernikahan. Wajahnya terlihat tidak enak dilihat, karena begitu ditekuk dan aura wajahnya sama persis seperti orang yang terlilit hutang miliyaran. Saking sedihnya, dia tidak sadar kalau dari tadi Raka memperhatikannya begitu dia masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa kamu Niel?" tanya Raka setelah selama sepuluh menit lebih dia memperhatikan wajah Daniel yang tidak berubah ekspresi mukanya itu.
"Pak," jawab Daniel menyadari kehadiran Raka di dekatnya. Dia tidak berani memandang wajah Raka.
"Ada apa dengan surat undangan itu?" tanya Raka melihat Daniel hanya membolak-balik surat undangan itu dengan wajah yang bermuram durja.
"Bapak tega, kenapa bisa duluan Bapak yang nikah siiiihhh?" teriak Daniel pada akhirnya meluapkan kekecewaan dan kekesalannya.
"Oh jadi itu yang bikin muka kamu dari tadi kayak pakaian lecek?" tanya Raka menahan tawanya.
"Padahal seharusnya aku dan Laksmi yang duluan nikah," ucap Daniel kembali dengan nada protesnya.
"Siapa yang paling gercep dia yang akan duluan lah," jawab Raka sambil menahan senyum.
"Aku kan juga gercep Pak. Kalau enggak gercep mana mungkin Laksmi bisa hamil," kata Daniel yang langsung dijitak bosnya.
"Kan yang penting kalian akan menikah kan?" tanya Raka.
"Ya iyalah Pak, tapi itu masih bulan depan, dan aku kan pengen cepat bulan madu. Harusnya kita bulan madu bareng Pak," kata Daniel yang masih mengharapkan kode keras bulan madu gratis dari Raka.
__ADS_1
"Kamu tenang aja Niel, aku sama Ajeng tentunya akan bareng berangkat bulan madunya. Oke!" sahut Raka berbaik hati.
"Assyiiik, gratisaaann!" seru Daniel.
"Maunya kamu gratis mulu," ucap Raka sambil mendengus.
"Mumpung punya bos yang baik, kenapa enggak aku manfaatin,"gumam Daniel pelan sambil ketawa evil. Hanya saja itu bisa terdengar jelas oleh Raka.
"Gue bos di sini, tapi kenapa di rumah Bang Gor, kok loe jadi Tuan Rajanya ya?" tanya Raka tak habis pikir.
"Ya itu karena Bang Gor suka sama saya Pak," balas Daniel dengan menampilkan senyum kotaknya.
"Apa yang disuka dari kamu sih, wajah gantengan aku kemana-mana, duit banyakan aku kemana-mana, tapi kenapa Bang Gor lebih suka kamu daripada aku?" tanya Raka dengan suara yang pelan. Tapi perkataanya yang narsis justru sengaja dia keraskan volume suaranya agar bisa terdengar jelas oleh Daniel.
"Sepertinya Bang Gor lebih suka dengan kepintaran saya Pak," jawab Daniel membalas dengan jiwa yang narsis, sengaja dia lakukan karena memang dia lebih pintar dari Raka. IQ nya aja sepertinya lebih tinggi dari Raka. Hanya faktor nasib sepertinya yang Raka lebih jauh dan lebih segala-galanya dari Daniel.
"Ahh Bang Gor emang sengaja kayak gitu, biar aku panas dan kesel," ucap Raka tak mau mengakui kelebihan Daniel itu.
Daniel hanya manyun mendengar sangkalan Raka itu. Dia kemudian memandang lagi surat undangan pernikahan Raka dan Ajeng yang akan dilangsungkan besok Hari Minggu di Hotel ini.
"Masih sama, dia hanya bisa ketawa kalau udah kumpul sama Bang Gor dan Bapak. Aku mencoba mencairkan suasana kalau sedang dekat sama dia. Jangankan untuk tersenyum, merespon pun tidak," jawab Daniel dengan nada penuh kesedihan.
"Kok bisa ya, padahal kan seharusnya orang kalau menikah itu kan senang dan semangat menyambutnya?" tanya Raka.
"Dia kan menikah sama aku terpaksa Pak," kata Daniel dengan raut wajah yang sedih.
"Iya juga sih, kok aku jadi kepikiran membuat film dengan judul " Terpaksa Menikah dengan Sekretaris Ganteng," kata Raka sambil berusaha untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
"Mentang-mentang mantan sutradara, Bapak suka sekata-kata bikin judul film. Eh tapi boleh juga tuh dijadiin judul novel Pak, hheeeehe aku amat terlalu ganteng Pak" ujar Daniel.
"Yach Kudaniel, aku kasih pujian baru setinggi pohon kelapa, kamu nanggapinya setinggi langit. Kamu emang ganteng tapi masih gantengan aku!" ucap Raka kembali lagi narsis.
"Huffft, iya Bapak lebih tampan." Daniel mengalah daripada nanti kalau dia menanggapinya salah, bisa-bisa tiket bulan madu gratisnya hangus.
"Ckkkk sudahlah Niel, lebih baik kau fokus saja dulu sama pernikahannya. Nanti baru deh kamu pikirkan bagaimana caranya agar Laksmi bisa menyukaimu!" ucap Raka memberikan nasihat.
"Ok Pak," jawab Daniel.
"Sekarang siapkan meeting kita, seharusnya hari ini kita sudah bisa mendapatkan keputusan tentang persiapan pembukaan cabang hotel!"
__ADS_1
"Baik Pak!" kata Daniel kemudian dia mengambil telepon interkom-nya untuk memanggil beberapa staff yang ikut dalam proyek pengembangan cabang hotel Mahesa.
....
"Pak, saya sudah mengumpulkan semuanya untuk bertemu di aula rapat, sepuluh menit lagi kita menuju ke sana!" ucap Daniel.
"Baiklah."
"Oh ya, satu lagi, apa kau sudah membereskan ruangan bekas Arabella?" tanya Raka.
"Sudah Pak, sesuai permintaan Bapak kemarin, kita sudah menyiapkan ruangan itu untuk Nona Tania Pak," jawab Daniel memberikan laporan.
"Oke," kata Raka puas mendengar laporan Daniel.
"Pak, jadi itu rencana itu sudah Bapak pikirkan matang-matang?" tanya Daniel menanyakan hal lain pada Raka.
"Rencana yang mana?" tanya Raka tidak mengerti Daniel sedang membicarakan rencana yang mana.
"Bapak mau pindah ke Seoul sama Ajeng?" tanya Daniel.
"Ya, kalau rencana dan proyek ini disetujui tentunya aku harus pergi ke sana bukan?" jawab Raka.
"Terus bagaimana di sini?" tanya Daniel.
"Ada Tania dan tentunya Troy juga akan berada di sini," jawab Raka.
"Pak, kenapa harus ke Seoul sih, kenapa bukan ke Spanyol aja buka cabang Hotel kita di sana?" tanya Daniel.
"Kenapa kamu enggak mau ikut aku gitu ke Seoul?" tanya Raka.
"Bukan begitu sih Pak, yang ada nanti aku kalah saing sama Oppa-Oppa Korea di sana, terus nanti Laksmi naksir sama orang Korea di sana," jawab Daniel.
"Soalnya prospeknya bagus di sana. Wisata di sana sedang populer, banyak orang-orang yang ke sana. Dan apalagi orang Indonesia. Kan bagus kalau ada Hotel dari Indonesia di sana," jawab Raka memberikan alasan.
"Ohh, aku pikir karena istri Bapak kan senang Kpop terutama Betees itu ...."
"Itu juga jadi satu alasan terkuat sih. Aku pengen membahagiakan Ajeng, supaya dia bisa sering ke sana bertemu dengan idolanya," jawab Raka.
"Apa Bapak tidak masalah dengan itu, Bapak tidak cemburu?" tanya Daniel heran.
"Kenapa harus cemburu, ya mana mungkin lah Ajeng bisa berpaling dariku," jawab Raka percaya diri.
"Ya udah deh terserah Bapak, tapi kalau saya pasti cemburu kalau Laksmi mengidolakan salah satu dari mereka," ucap Daniel.
__ADS_1
Raka hanya tertawa mendengarnya, "Ayo kita harus segera ke ruangan meeting!" ajak Raka.