
Ajeng duduk di meja makan sambil menatap manja Raka yang sekarang sedang menyiapkan bahan masakan untuk membuat nasi goreng yang dipesan Ajeng tadi.
Persis seperti melihat seorang chef profesional, Ajeng selalu dibuat kagum dengan laki-laki yang bisa memasak. Karena dia sendiri tidak pandai memasak. Abangnya Arya bahkan lebih jago. Dan Ajeng menjadi malas belajar masak semenjak remaja jika di rumahnya sudah ada yang pintar memasak. Dan sekarang pun setelah dewasa, ada orang yang pandai memasak untuk dirinya, Ajeng merasa beruntung.
"Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu?" tanya Raka dari tadi memperhatikan Ajeng yang menatapnya sambil senyum-senyum.
"Ya karena lagi seneng aja," jawab Ajeng sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya di atas meja.
"Ya iyalah, kapan dan di mana lagi kamu nemuin laki-laki tampan yang pintar masak," timpal Raka memuji dirinya sendiri.
"Tapi masih jago Bang Gor kayaknya kalau masak," kata Ajeng.
"Bang Gor pinter masak juga?" tanya Raka.
"Ya iyalah, sejak aku SD,SMP, SMA sampai kuliah, pokoknya Bang Gor adalah ahli giziku setiap hari," jawab Ajeng.
"Oh begitu, enggak nyangka tipe galak kayak Bang Gor bisa pinter masak," kata Raka sambil cekikikan.
"Nanti kapan-kapan kita undang Bang Gor dan suruh dia masak, gimana?" tanya Ajeng.
"Wah, ide bagus itu. Nanti weekend depan deh. Kita adain masak bareng di sini. Kita ajak juga Daniel sama Laksmi."
"Ya, ya, ya. Pasti rame dan seru."
.
.
.
Dua piring nasi goreng spesial sudah terhidang di atas meja. Dengan penuh semangat dan decak kagum, Ajeng melihat hasil karya Raka. Dan sebelum memakannya, Ajeng menyempatkan dirinya untuk memotret nasi gorengnya itu yang akan dia upload ke media sosialnya dengan caption Nai Goreng Bangka Tamse.
Raka yang melihat Ajeng sumringah makan nasi goreng buatannya membuat dia menjadi lebih kenyang hanya melihat Ajeng senang dan sumringah seperti itu.
"Pokoknya kamu harus selalu gembira dan ceria Jeng!" batin Raka.
"Habiskan dong Yang!" kata Raka meminta Ajeng untuk menghabiskan nasi gorengnya.
"Tentu saja aku mau habiskan, sayang dong kalau enggak dimakan sampe habis," jawab Ajeng sambil tak berhenti mengunyah.
Mereka pun bercanda dan saling melemparkan guyonan sehingga ruang makan yang hanya ada mereka berdua terasa ramai dan hangat. Dan hal ini tentu saja membuat Raka menjadi lebih bahagia, karena sudah lama sekali rumah ini tidak ada suara perempuan, suara canda tawa dan suara malam erotis di kamar. Sudah lama sekali itu tidak terjadi di dalam rumah ini.
Tiba-tiba ada suara nada dering ponsel yang berbunyi. Dan itu ternyata berasal dari ponsel Raka.
"Daniel menelepon. Astagaaa! Mobilnya kan sama kita di bawa," ucap Raka merasa bersalah. Kemudian dia menggeser tombol hijau untuk mengangkat sambungan teleponnya.
"Halo Niel!" sapa Raka.
"Pak, barusan tadi Dian menelepon saya. Katanya di Hotel sedang ada masalah Pak," ucap Daniel terdengar panik.
"Masalah apa?" tanya Daniel mulai merasa ada yang tidak beres.
"Sepertinya ada satu karyawan Bapak yang membuat masalah di sana," jawab Daniel.
"Apa maksudnmu Niel, bicara yang jelas!" kata Raka mulai sedikit terpancing emosi.
"Lebih jelasnya Bapak langsung ke Hotel saja, saya juga sedang di jalan menuju sana naik taksi," ucap Daniel.
"Oke, sekarang aku akan kesana."
__ADS_1
Klik.
Raka memutuskan sambungan telepon lalu menatap wajah Ajeng yang sedang menatapnya dengan wajah yang kebingungan dan heran.
"Ada apa Kak?" tanya Ajeng pada Raka. Raut wajah Raka terlihat panik.
"Ada masalah di hotel, kamu mau di sini atau mau ikut lagi ke hotel?" tanya Raka pada Ajeng.
"Aku ikut saja," kata Ajeng.
"Habiskan dulu makannya, nanti kita baru berangkat!" Raka kemudian mengisikan air minum ke dalam gelas Ajeng yang sudah kosong. Lalu tanpa berbicara apa-apa lagi, keduanya menghabiskan nasi goreng itu dengan perasaan yang tidak enak. Karena merasa kepikiran dengan kabar yang disampaikan Daniel tadi.
Dan setelah keduanya selesai makan nasi goreng Bangka Tamse. Mereka pun segera pergi kembali lagi ke hotel dengan mobil Daniel. Sepanjang perjalanan menuju sana, Raka terlihat serius dan tegang. Ajeng hanya berusaha untuk menenangkan Raka agar lebih fokus dalam menyetir. Dan sepertinya memang ada sesuatu yang gawat dan darurat telah terjadi di sana. Kalau tidak, tidak mungkin mereka memanggil Presdirnya langsung turun meninjau ke Hotel.
Raka dan Ajeng kemudian sampai di lantai gedung parkiran hotel. Di depan gerbang menuju kantornya sudah ada Daniel menunggunya. Dan begitu Raka datang. Dia langsung menghampiri Raka dengan memberinya sebuah jas formal. Sementara Daniel juga sudah mengenakan pakaian formalnya.
"Ada apa Niel, ini kan akhir pekan, ada masalah apa?" tanya Raka sambil memasang jasnya dan dibantu oleh Daniel mendadaninya di lorong menuju ruang meeting.
"Pak, Bastian dia sudah memalsukan semua data untuk gaji dan bonus karyawan hotel."
"Apa? Kok bisa?" tanya Raka tidak percaya kalau Bastian tega berbuat itu.
"Semua karyawan gaji yang dipalsukan dan digelapkan Bastian adalah karyawan shift 1, dan sekarang mereka komplen dan menunggu kejelasannya di ruang meeting. Saya sudah mengumpulkannya dalam satu ruangan," kata Daniel.
"Jadi maksudmu Bastian memanipulasi data gaji dan bonus karyawan yang seharusnya menjadi hak karyawan. Dan uang itu diambil olehnya. Begitu maksudnya?" tanya Raka menyimpulkan informasi yang disampaikan oleh Daniel.
Daniel mengangguk.
"Astaga, sekarang dia ada di mana?" tanya Raka.
"Dari semalam tidak bisa dihubungi, dan kita sudah menyuruh orang mengecek ke rumahnya. Dan rumahnya sudah kosong. Katanya sudah pindah tadi pagi," jawab Daniel dengan sedikit ketakutan. Walau bagaimanapun dia juga merasa bersalah. Bastian adalah Manager yang sempat dia rekomendasikan olehnya. Daniel berani merekrut dia, karena dia tahu track record kerjanya sangat bagus. Namun kali ini, Bastian malah membuat dirinya dalam masalah.
"Dia menghilangkan sisa jejaknya semalam Pak," jawab Daniel dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh Raka.
"Laporkan segera dia Niel. Kita harus segera menemukan dia."
"Berapa nominal uang gaji dan bonus yang dia gelapkan?" tanya Raka pada Daniel.
"Sekitar 2 miliyar Pak," jawab Daniel.
"Apa, banyak sekali!" seru Raka tidak percaya.
"Rupanya, dia sudah berbuat curang seperti ini sudah satu tahun lebih Pak, dia mencoba memanipulasi data kerja shift karyawan dengan mengambil sejam gaji dan bonus karyawan kita selama satu tahun lebih. Memang kalau dihitung perkaryawan, Bastian memotong gaji satu karyawan selama satu bulan antara 1 juta sampai 2 juta. Tinggal kalikan dengan jumlah karyawan kita hampir 300 karyawan selama satu tahun."
Raka mendengarkan penjelasan Daniel sambi terus berjalan menuju ruang meeting.
"Bagaimana selama satu tahun dia berulah dan baru kali ini ketahuan?" tanya Raka sambil memicingkan matanya pada Daniel.
"Eng, itu karena ...."
Raka menunggu jawaban Daniel dengan memandang wajah Daniel yang terlihat panik bercampur ketakutan. Sementara Ajeng yang mengikuti mereka di belakang hanya bisa mendengar dan menyimak pembicaraan mereka tanpa bicara.
**** Bersambung ****
"Tumben Thor?" sebuah suara yang tak asing terdengar di kepala Author.
__ADS_1
"Kenapa. Ada perlu apa muncul di sini?" tanya Author judes,jutek tidak bersahabat pokoknya.
"Katanya mau hiatus?"
"Huuuffttt, iya nih."
"Kenapa Thor?"
"Sibuk."
"Sibuk apaan loe?"
"Udah deh Bang Gor jangan kepo. Nanti aku tambah enggak mood buat ngehalu nya," jawab Author.
"CKCKCKCK ... paling sibuk ngebucin," timpal Bang Gor.
"Promo Bang!"
"Nah, giliran muncul pasti suruh promo." Bang Gor mendesis.
"Abang kan ambassador novel ini."
"Tapi gue enggak pernah digaji loe," jawab Bang Gor.
"IKHLAS BERAMAL ya!"
"Hmmm, baiklah karena Arya Caesar itu adalah orang yang baik, rendah hati, baik hati, rajin beramal dan rajin bersedekah."
"JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE YANG BANYAAAAK YAAA!"
__ADS_1