
Raka buru-buru bangun dari lantai sebab terjatuh dari kursinya ketika nomor dari orang yang dirindukannya memanggil.
"Ajeng!" sapa Raka dengan hati yang deg-degan.
"Hai Kak, masih di kantor?" tanya Ajeng ceria. Tapi hati Raka udah mau lompat keluar.
"I-iya sayang, aku di kantor."
"Oh, lagi ngapain?" tanya Ajeng.
"Lagi kepikiran kamu," jawab Raka kemudian duduk lagi di kursinya. Wajahnya merona dengan wajah tersipu. Jantungnya berdetak kencang, dan hatinya terasa hangat dengan jutaan kembang api yang menyala. Apa benar Ajeng sekarang ada di Hotel Mahesa.
Terdengar suara tawa Ajeng yang renyah yang membuat Raka gemas ingin segera berada di depannya.
"Kamu di mana?" tanya Raka deg-degan.
"Aku baru saja sampai. Capek banget Kak. O-ya, sudah dulu ya. Yang semangat kerjanya, bye-bye!" kata Ajeng.
"Eh-eh, tunggu dulu Sayang!" kata Raka belum selesai tapi sambungan telepon itu sudah terputus.
Raka menjadi tambah senewen dengan kelakuan Ajeng seperti itu, entah kenapa Ajeng sangat mudah membuat dirinya menjadi tambah geregetan.
Raka menjadi teringat Daniel. Dia tadi udah bikin dia kegeeran aja kalau Ajeng katanya ada di Hotel Mahesa.
Tok Tok Tok
Terdengar bunyi suara pintu ruangannya di ketuk. Lalu muncullah Dian masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf Pak, ada telepon dari Pak Bastian," kata Dian menyerahkan ponselnya.
"Bastian, ada apa seorang Manager Hotel meneleponnya?" tanya Raka dalam hati.
"Iya Halo?" jawab Raka.
"Pak maaf saya mengganggu Bapak dan lancang, ada seorang tamu hotel ingin dilayani langsung oleh Bapak Presdir langsung," kata Bastian seorang Manager yang bertanggung jawab dengan semua pelayanan tamu hotel.
"Memangnya tamunya siapa?" tanya Raka malas.
"Dia tidak mau menyebutkan identitasnya, karena kalau Bapak tidak datang katanya dia akan membuat Hotel ini memiliki citra buruk, katanya sih dia seorang influencer yang banyak folllowernya di media sosial."
Raka sangat kesal mendengarnya.
"Memangnya kamu tidak bisa atasi itu?" kata Raka.
"Saya udah meminta Pak Hendri berpura-pura jadi Presdir, dia malah marah, karena dia tahu wajah Presdir Hotel Mahesa," jawab Bastian.
Raka menggerutuk kesal, karena belum selesai hilang rasa betenya karena dikerjain Daniel. Sekarang urusan tamu hotelnya harus dia sendiri yang turun tangan. Raka merasa kerjaan seluruh karyawannya tidak becus.
__ADS_1
"Bagaimana ini Pak, dia sudah mulai siaran langsung di akun media sosialnya tuh, bisa jadi nanti benar dia akan menjelekkan citra Hotel Mahesa."
"Ok-Ok. Aku sekarang turun. Lantai berapa?" tanya Raka.
"Lantai 17."
"Oke. Kau tunggu di pintu lift!" Raka kemudian memberikan ponsel itu pada Dian. Raka kemudian berjalan sambil membenarkan dasinya yang tadi sudah berantakan karena ditarik dan dilonggarkan setelah meeting tadi.
Melewati lorong kantor. Raka sempat memperhatikan wajah-wajah mereka yang terlihat sedang tersenyum ke arahnya. Raka hanya membalas senyuman mereka dengan tatapan dingin ala bos-bos. Membuat semuanya menjadi kembali fokus pada pekerjaannya di depan layar komputernya. Raka ditemani Dian, pengganti sementara Daniel nampak mengikuti langkah kaki Raka yang panjang. Sambil merapikan penampilan yang harus tampil sempurna, Raka memasang kembali dasi dan melihat pantulan tubuh dan penampilannya di pintu lift yang kini terbuka dan Raka langsung masuk ke dalam lift. Dian langsung menekan tombol 17. Sementara Raka kembali melihat ponselnya yang kosong tanpa notif. Dia kemudian teringat dengan Daniel. Sebelum dia menemui tamu itu, Raka kemudian mencoba menelepon Daniel. Dan langsung diangkat.
"Hei Baboon! Kau ketahuan ngerjain aku, sekarang kau di mana?" tanya Raka dengan nada yang emosi.
"Ketahuan apa sih Pak, aku sedang bawa mobil ini menuju Hotel," jawab Daniel.
"Baguslah kalau begitu, cepat datang karena aku ingin memberi pelajaran padamu!" kata Raka kesal.
"I-ya Pak, aku sedang mengendarai mobil ini, tidak bisa sambil teleponan," kata Daniel langsung menutup teleponnya. Dan itu malah makin membuat Raka kesal.
Tring
Pintu terbuka dan mereka sudah sampai lantai 17. Di depan pintu lift memang sudah ada Bastian. Dia pun sambil membungkuk memohon maaf karena Raka sudah sampai turun ke sini untuk melayani seorang tamu.
"Dia itu apa sih? Youtuber, Endorser atau artis Toktok. Kenapa kau takut sekali?" dumel Raka pada Bastian.
"Maaf Pak, sepertinya memang dia itu mengenal Bapak, jadinya dia bisa mengancam seperti itu," jawab Bastian membela diri.
"Iya Pak, dia seorang perempuan dan sekarang dia sudah berada di dalam kamar."
"Nah kalau dia sudah di kamar, kenapa minta saya melayaninya?" kata Raka aneh.
"Jangan pikir kalau aku ini Presdir plus-plus yang bisa nemenin tamu sembarangan. Kamu kira aku pria rendahan?" bentak Raka kesal pada Bastian.
"Ma-maaf Pak, bukan itu maksudnya. Tapi sebaiknya Bapak temui dia saja dulu!" kata Bastian kemudian menunjuk sebuah pintu kamar.
Raka kemudian mengetuk pintu itu dengan lembut meski hatinya setengah hati ingin melakukan itu. Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Kemudian Raka melongo ketika ternyata tamu itu adalah Laksmi Dewi.
"Laksmi!" seru Raka terkejut.
"Kau lama sekali!" sahut Laksmi marah.
"Jadi tamu rese dan alay ingin dilayani Presdir Hotel Mahesa itu kamuu?" tanya Raka geregetan sekali melihat wajah Laksmi yang tanpa dosa itu. Tatapan super dingin biasa dari Laksmi dan tanpa ekspresi melihat Raka yang kesal dan geregetan.
"Kenapa? Kau merasa keberatan jika ada tamu yang ingin dilayani langsung oleh Presdir. Lagipula tamu hotelnya memesan kamar yang paling super mewah di hotel ini. Tidak salah kan kalau tamunya ingin dilayani oleh Presdirnya langsung. Minimal membuat tamu senang dengan pelayanana keramahan dari Presdirnya," kata Laksmi membuat kepala Raka seperti mau pecah.
"Oke-oke!" jawab Raka sambil memegang kepalanya.
"Kau baru datang, dan apa yang kau inginkan sekarang, apa perlu aku panggilkan Daniel?" kata Raka.
__ADS_1
"Tidak usah. Bukan aku yang harus kau layani juga. Tamu di sebelah kamarku." Perkataan Raka membuatnya tahan napas.
Tok tok tok
Ceklek
"Masuklah. Dia yang harus kamu layani!" kata Laksmi kemudian menutup pintu dengan bantingan pintu tepat di depan wajahnya. Raka langsung mengerjapkan matanya begitu angin hempasan pintu itu menerjang kedua bola matanya yang indah.
Raka menelan salivanya ketika dia melihat pintu kamar sebelah kamar Laksmi sedikit terbuka. Raka melirik Bastian yang sepertinya sedang menutup wajahnya dengan gerik yang aneh. Apa itu, apa Bastian sekarang tengah menertawakannya.
"Saya kembali ke tempat saya lagi Pak," ucap Bastian pamit sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya. Dan Raka sempat menangkap kalau Bastian sedang tertawa geli tertahan karena melihat dirinya Presdir dibuat semena-mena oleh wanita bernama Laksmi Dewi itu.
Kemudian Raka pun masuk dengan berbagai macam perasaan. Takut, cemas, penasaran. Apakah pikiran dan hatinya sekarang ini sesuai. Kalau dia berharap sekali ini adalah Ajeng. Tapi kalau bukan, apakah dia kecewa.
"Permisi!" seru Raka kemudian perlahan masuk ke dalam. Kamar hotel itu memang luas. Terdapat sebuah ruang tamu yang memisahkan dengan kamar tempat tidur. Tapi tidak ada jawaban. Perlahan Raka pun memberanikan dirinya masuk lebih dalam lagi ke ruangan berisi tempat tidur berukuran King Size dari kamar hotel itu. Tidak ada orang.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dan Raka sejenak tahan napas karena melihat siapa yang barusan keluar dari kamar mandi itu.
Seorang wanita hanya berbalut handuk kimono dengan rambut terurai basah. Kondisi tubuh orang umumnya kalau habis mandi. Dan Raka merasakan kalau sekarang jantungnya sudah pindah ke bawah perutnya setelah mengenali wanita itu.
"Ajeng!" seru Raka.
"Surprise," sahut Ajeng sambil menampilkan senyum menggemaskan di depan Raka yang sekarang nampak shock melihat keberadaan Ajeng di sini.
Raka mengucek-ngucek matanya berapa kali untuk memastikan kalau itu Ajeng. Bahkan dia menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan keras. Takut ini adalah sebuah mimpi.
"Kamu kaget Kak, aku ada di sini?" tanya Ajeng kemudian berjalan mendekati Raka.
"Stop, tahan di situ!" kata Raka memundurkan tubuhnya ke belakang. Cukup shock juga rupanya.
"Kenapa?" tanya Ajeng menahan tawanya.
"Kamu beneran Ajeng?" tanya Raka.
"Iya ini aku Ka, Ajeng. AJ Agustine," kata Ajeng menambahkan nama artisnya.
"Kalau kamu beneran Ajeng, stop di situ. Ini berbahaya!" kata Raka sambil menutup matanya.
Ajeng tertawa melihat tingkah Raka seperti itu.
"Bahaya apa sih?" tanya Ajeng tetap maju mendekati Raka.
"Wah alarm di kepalaku ini sudah menyala ini. Its very danger. Jika kamu terus maju ke sini Ajeng dengan kamu yang masih pakai handuk seperti itu!" kata Raka dengan wajah yang merah. Maklum sudah enam minggu empat hari tiga belas jam dia tidak bertemu Ajeng setelah di Berlin.
"Kalau aku tidak maju, aku enggak bisa ambil pakaianku di sana!" kata Ajeng sambil menunjuk koper yang masih teronggok cantik di belakang Raka.
Wajah Raka sudah merah seperti kepiting rebus melihat wanita yang dia rindukan selama ini. Dan saat bertemu Raka sudah disuguhkan pemandangan yang akan memancing lelaki mana pun jika melihat seorang wanita hanya berbalut handuk. Persis di depan dia saat ini.
__ADS_1
"Ajeng Agustina, kau sudah membangunkan macan yang tertidur," desis Raka.