
Acara makan malam romantis yang diidamkan Raka kini berubah menjadi makan malam keluarga di rumah Bang Arya. Sudah lama memang mereka tidak berkumpul seperti ini. Suasana yang langka di dapat setelah beberapa tahun.
Setelah makan duren mereka pun berkumpul lagi di ruang keluarga. Shanum juga nampak tidak mau lepas dari pangkuan Ajeng yang terus membelai rambut dan mencium Shanum membuatnya menjadi betah tak mau lepas. Raka jadi cemburu sama Shanum. Dirinya aja belum dipeluk, dibelai dan dicium Ajeng,malah keduluan sama anak Bang Gor itu.
"Tung, kok loe enggak bilang kalau Ajeng mau pulang ke rumah," tanya Bang Gor.
"Ya aku juga enggak tahu Bang, baru tahu tadi sore mau pulang dari kantor," jawab Raka masih melihat Shanum yang bergelayut manja di pangkuan Ajeng. Dalam hatinya kapan dia bisa bergelayut manja di pangkuan Ajeng seperti itu.
"Pantesan dari kemarin mata Abang sebelah kanan kedutan mulu, ternyata itu firasat kalau adik Abang yang peri peri biyutipul mau datang," ujar Bang Gor.
"Ah itu mah bukan karena firasat Ajeng mau datang, tensi darah Abang kan lagi tinggi?" ujar Mbak Merry.
"Nah lho, tensi Abang lagi tinggi, kenapa makan duren tadi?" tanya Ajeng.
"Maaf, Abang khilaf kalau urusan makan duren." Dengan tanpa dosa Bang Arya berujar.
"Kalau Abang kenapa-kenapa, bagaimana?" tanya Ajeng.
"Iya lho Bang, bahaya tau kalau tensinya naik jangan makan duren, nanti kalau stroke gimana?" Raka ikut menimpali.
"Loe mau gue stroke, Tung?" sewot Bang Arya dengan tatapan super nyetrum-nya.
"Ah enggak kok Bang, malah aku tuh pengen Abang sehat terus, bentar lagi kan Abang jadi wali nikah Ajeng lagi sama aku," sahut Raka takut salah ngomong lagi.
"Ada syaratnya kalau loe mau dinikahin lagi sama Ajeng."
"Lhoo, bukannya dulu udah lolos kan Bang? Yang itu Lutung sama Orang Utan, masa Abang lupa sih?" kata Raka cemberut.
"Gua berubah pikiran," jawab Bang Gor membuat hati Raka menjadi tambah ngenes.
"Syarat dari gue enggak susah kok, loe tinggal bilang iya aja kok!" kata Bang Arya malah justru membuat Raka menjadi tambah tegang.
"Aapan sih Bang, jangan bikin deg-degan dong!" Raka sangat panik takut dia tidak diluluskan gagal sudah dia menikah.
"Iyain dulu aja sih!" kata Bang Arya menambah rasa penasaran campur takut Raka.
"Ya sudah kalau enggak mau, itu sih terserah eloe," sahut Bang Arya.
"Abang kenapa sih, pake syarat-syarat segala?" protes Ajeng. Mendengar Ajeng yang protes Raka menjadi mendapat dukungan dari Ajeng.
"Loe diam aja Nyet, ini demi loe juga kok!" kata Bang Arya.
"Pokoknya loe tinggal iyain doang sih permintaan gue, apa susahnya sih," kata Arya mulai bete.
"Iya-iya deh. Aku udah bilang iya nih Bang. Terus apaan?" tanya Raka.
__ADS_1
Bang Arya nampak tersenyum puas dengan menggerak-gerakkan alisnya yang tebal. Senyumannya mirip senyuman ala joker membuat Raka sedikit bergidik. Mbak Merry mencubit pinggang suaminya itu yang sedang mempermainkan Raka.
"Awww Yang, jangan nyubit dong! Nanti kalau udah di kamar baru kamu boleh nyubit Abang," desis Arya membuat Raka hanya bisa mendengus kesal dengan ketengilan kakak ipar satu-satunya itu. Entah apa yang terjadi kalau Raka sampai punya kakak ipar model Bang Arya lima biji. Bisa-bisa dia mati kutu.
"Apaan sih Bang, jangan kumat deh gaje-nya!" timpal Ajeng.
"Pokoknya loe udah bilang iya Raka, awas kalau loe ngelanggar. Gue enggak segan-segan potong loe punya ...."
Raka shock mendengar ancaman Bang Gor seperti itu. Dia merasa kalau Bang Arya itu sungguh-sungguh mengucapkan memotongnya itu. Entah apa yang dimaksud Bang Arya perkara potong-potong itu. Raka mengira kalau Bang Gor bakal mengincar harta pusaka milik satu-satunya. Aset miliknya yang paling berharga. Mengingat itu Raka jadi bergidik. Yang menjadi pertanyaan dan masalah adalah apa syarat yang dimaksud Bang Arya.
"Oke, karena eloe udah bilang iya, aku akan menikahkan kalian lagi," kata Arya.
"Yeyyyyy, nikaaahh!" seru Raka.
"Shanum juga mau menikah Pah," kata Shanum ikut nimbrung. Membuat semua orang dewasa itu melotot dan terkejut. Astaga, seharusnya percakapan seperti ini memang tidak boleh di depan anak sekritis Shanum.
"Jangan dulu Shanum, Papa belum mau punya menantu," jawab Arya asal aja membuat Mbak Merry berinisiatif mengajak Shanum ke kamarnya. Daripada dia mendengarkan percakapan orang dewasa. Bisa-bisa bakal ada pertanyaan yang sulit yang akan dia lontarkan.
"Menikah itu hanya untuk orang yang sudah dewasa, Shanum kan masih kecil, untuk mengurus diri sendiri aja harus dibantu sama orang lain, bagaimana mau menikah. Kan kalu menikah itu harus bisa ngurus sendiri dan ngurus semua." Penjelasan Ajeng membuat Shanum sedikit paham. Dia pun berhenti mengoceh masalah pernikahan. Dia dibawa Merry masuk ke dalam kamarnya. Kamar bekas bunda dijadikan kamar Shanum. Sementara kamar depan Ajeng, dibiarkan kosong. Karena sengaja kalau Ajeng datang ke rumah dan menginap.
Setelah Shanum di bawa ke kamar. Perbincangan mereka pun dilanjutkan. Arya menanyakan persiapan pernikahan yang akan digelarnya untuknya dan Ajeng.
"Rencananya memang kapan kalian mau menikah lagi?"
"Terserah Ajeng," kata Raka sambil menatap wajah Ajeng yang kini tengah diserang dua tatapan. Satu milik Raka dan satu lagi milik abangnya Arya.
"Kalau Ajeng sih sebenarnya masih terikat kontrak film Caramel Girl yang belum mengizinkan Ajeng menikah."
"Kok gitu, emang ada peraturan kontrak seperti itu?" tanya Raka.
"Masalahnya film itu kan sukses, dan rencananya akan ada sekuel filmnya, dan Ajeng harus menjaga kontrak itu sampai tahun depan. Sebab Ajeng tidak boleh hamil duluan Bang, Kak Raka, maaf." Ajeng terlihat sangat menyesal mengatakan itu.
__ADS_1
Bahkan hati Raka seperti jatuh berkeping-keping saat Ajeng mengatakan itu semua. Seketika impiannya bersama Ajeng seperti berubah menjadi debu yang tersapu oleh badai topan.
"Kan urusan momongan bisa ditunda," jawab Arya seperti memberikan solusi.
Raka terlihat sedih dan nampak raut kecewa yang begitu jelas. Sungguh dia kecewa dengan jawaban Ajeng seperti itu.
"Kalian kan bisa menikah dengan menunda kehamilan. Kan bisa. Asal Tung loe kira-kira aja, jangan terlalu produktif jadi laki!" ucap Bang Gor.
Raka tidak menjawab pertanyaan becandaan Bang Gor. Hatinya sedikit terluka dengan kekecewaan yang mendalam. Ajeng lebih memilih karir keartisannya dibandingkan dengan dirinya dan pernikahannya. Raka sudah merasa umurnya sudah tidak muda lagi, kenapa dia harus menunda momongan. Raka tidak setuju dengan itu.
Raka tiba-tiba jadi diam dengan raut wajah yang kesal seperti orang yang kehilangan sendal bermerk dan berganti dengan sendal jepit saat pulang dari sholat Jumat. Rasanya itu yang membuat Raka tak bisa menerima kenyataan yang tidak sesuai yang dia dambakan.
Melihat Raka yang seperti itu, Ajeng lalu tertawa terpingkal-pingkal tak kuasa melihat sedihnya Raka. Dan ketika Raka yang sadar ditertawakan. Ajeng tambah semakin tertawa melihat raut kebingungan Raka.
"Kok kamu ketawa Jeng, kamu puas ya udah bikin aku kesal dan kecewa?" tanya Raka menunjukkan sedikit taringnya.
"Hahahaa, Kak, aku cuma bercanda kok tadi, hahaha, serius amat. Aku jadi mulas nahan ketawa nih," kata Ajeng.
"Maksudmu apa sih?" tanya Raka semakin ingin marah dengan sikap Ajeng yang menganggap ini adalah hal becandaan.
"Aku cuma boong Kak, enggak ada tuh kontrak yang melarang aku nikah dan hamil. Aku cuma niat isengin kamu. Masalah nikah, ayo kita menikah resmi secepatnya. Bagaimana kalau minggu depan," kata Ajeng sambil tertawa. Raka yang mau marah malah tidak jadi dengan ucapan Ajeng itu. Dia kemudian menghampiri Ajeng dan meraih kepala Ajeng dan menjepitnya dengan keteknya membuat Ajeng tertawa lepas sambil berusaha melepaskan diri.
"Addduh, aku kok kayak sedang melihat acara Discovery Channel." Raka menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pasangan suami istri siri itu yang sedang saling adu ketek.
Perasaan Raka jadi berubah seketika, perasaannya dari yang kehilangan sendal bermerk berganti sendal jepit usang. Rupanya sendal bermerknya disimpan merbot mesjidnya. (Jangan protes kalau garing, karena pas ngetik penulis inget kejadian itu).
__ADS_1