Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Teleponan Dengan Ajeng


__ADS_3

Malam harinya. Setelah mendengar Daniel menerima telepon dari Laksmi. Raka pun menjadi gelisah. karena mendengar kalau Laksmi akan pulang ke Jakarta. Sementara dia belum mengetahui apakah Ajeng akan pulang dan tetap di LA. Kalau misalnya Laksmi hanya sendiri pulang. Dan Ajeng pasti sendirian di sana tanpa teman. Raka mengkhawatirkan itu. Maka dari itu malam harinya Raka sengaja menelepon Ajeng untuk menanyakan hal itu.


 


 


"Halo," Raka menyapa Ajeng di ujung sambungan telepon malam itu dengan peraaan riang.


"Iya Ka, belum tidur?" tanya Ajeng karena tahu seharusnya jam segini adalah waktu tidur.


"Belum sayang, aku mau telepon kamu dulu sebelum bobo," jawab Raka sambil memeluk guling di tempat tidurnya.


"Hmm, ada apa Kak?" tanya Ajeng.


"Ya kangen kamu, pake tanya segala," Raka sedikit mengambek karena Ajeng yang tidak peka.


"Kangen melulu, tapi enggak pernah ngusahain buat datang ke LA," sahut Ajeng bete.


"Eh iya, maaf sayang, soalnya kerjaanku di sini masih sibuk. Kamu lagi ngapain sekarang?" tanya Raka mengalihkan pembicaraan.


"Aku lagi di salon sama Kak Laksmi," jawab Ajeng.


"Salon, ngapain?" tanya Raka heran. Dia sungguh cemburu jika Ajeng bersolek tapi dia tidak bisa menikmati melihatnya.


"Mau ganti model rambut," jawab Ajeng.


"Ganti model rambut, emangnya kamu ganti model kayak gimana?" tanya Raka gemes mendengar suara Ajeng.


"Kayak orang lah," jawab Ajeng sambil tertawa membuat penasaran Raka.


"Awas ya kalau tambah cakep aku enggak rela pokoknya," omel Raka.


"Lho kok enggak boleh tambah cakep sih Kak?" protes Ajeng.


"Soalnya aku enggak bisa lihat langsung," jawab Raka kesal.


"Hemm itu alasannya, nanti aku kirim hasilnya sama kamu," sahut Ajeng sambil cengengesan.


"Kenapa sih mau ganti model rambut, kan udah bagus model sekarang?" tanya Raka.


"Soalnya ini untuk keperluan syuting iklan Kak, aku jadi model kosmetik brand ternama lho di Amerika. Jadi untuk itu image rambut aku harus sesuai denga produk mereka," jawab Ajeng langsung dijawab sebuah tangisan pilu dari Raka.


"Kenapa kamu Kak?" tanya Ajeng heran mendengar Raka malah terdengar menangis. Tapi Ajeng tahu itu menangis bohongan.


"Kalau kamu jadi bintang model kosmetik, sudah pasti banyak orang yang tergila-gila sama kamu sayang, terus banyak cowok yang naksir," kata Raka tidak terima dengan perubahan Ajeng yang menjadi superstar.


"Tapi kan hati Ajeng cuma buat satu orang," jawab Ajeng.


"Ah masa sih, kok aku jadi tambah kangen," kata Raka sambil menggigit ujung sarung bantal gulingnya.


"Kangen apanya sih, dari tadi ngomong kangen mulu," tanya Ajeng.


"Ya kangen semuanya Yang, kangen nguyel-nguyel kamu, kangen bobo bareng,"kata Raka tidak terasa ujung sarung bantal gulingnya jadi basah karena dia gigit-gigit.

__ADS_1


"Tuh kan kamu otaknya ke sana terus Kak, jadi kamu kangen aku cuma begitu aja ya, dasar laki-laki mesum!" sewot Ajeng.


"Ikh jangan ngambek dong sayang, gitu aja marah. Aku kan laki-laki, punya kebutuhan sebagai pria dewasa. Tentu saja otakku ke sana terus," kata Raka memberi alasan.


 


 


Ajeng tidak menjawab sepertinya memang beneran ngambek. Mungkin karena Raka terlalu terbuka dan langsung berbicara ke arah sana.


 


 


"Yang kok diem, maafin aku deh, kalau aku salah ngomong!" kata Raka menjadi tak enak hati. Dia rela menahan hasrat demi setianya pada Ajeng.


 


 


"Aku enggak marah kok, cuma lagi mikir aja," jawab Ajeng.


"Mikir apa gitu Yang?" tanya Raka.


"Hmm ... enggak deh enggak jadi," kata Ajeng malah bikin penasaran Raka.


"Kok gitu sih, huuuft. Ngomong-ngomong Yang, apa kamu udah tahu?" tanya Raka.


"Tahu apa Kak?" tanya Ajeng mulai penasaran.


"Apa, nikah. Sama siapa. Terus Kak Laksmi gimana dong. Dia kan lagi hamil?" tanya Ajeng menjadi panik.


"Ya mau nikah sama Laskmi, siapa lagi. Orang dia udah bucin banget sama Laksmi," jawab Raka.


"Oh begitu, syukurlah, aku kira Daniel mau lari dari tanggunjawab dan menikah dengan wanita lain," sahut Ajeng.


"Makanya, kalau Laksmi nanti pulang minggu ini, kamu mau pulang juga enggak ke sini?" tanya Raka.


"Jadi Kak Laskmi mau pulang?" tanya ulang lagi Ajeng.


"Iya, dia kan mau nikah. Tapi aku mau cerita sesuatu ya. Tapi ini rahasia," kata Raka.


"Rahasia. Apa itu?" tanya Ajeng mulai tertarik.


"Kamu janji dulu, kamu jangan kasih tahu Laksmi dulu!" kata Raka.


"Oke-oke, apa itu?" tanya Ajeng sudah tidak sabaran.


"Jadi begini, Daniel melamar langsung Laksmi ke Papanya Laksmi, terus Papa Laksmi meminta Laksmi untuk menikah dengan orang yang melamarnya yaitu Daniel. Nah Laksmi belum tahu kalau orang yang dimaksud Papanya itu adalah Daniel. Dia malah langsung terang-terangan meminta Daniel untuk bertanggungjawab menikahinya dan berusaha mencega niat Papanya yang mau menikahkan dia dengan orang yang melamarnya. Jadi Laksmi belum tahu kalau itu adalah orang yang sama. Makanya Daniel ingin memberikan kejutan untuk Laksmi. Kamu jangan kasih tahu dulu ke Laksmi!" pinta Raka.


"Oh jadi begitu?" tanya Ajeng dengan tertawa geli. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Laksmi saat tahu.


"Aku enggak nyangka lho, kalau Laksmi sampai ngajak nikah duluan secara gamblang sama Daniel," seru Raka.

__ADS_1


"Iya ya, mungkin karena sebenarnya Kak Laksmi tidak mau menikah dengan orang selain Daniel."


"Makanya kamu aku mau tanya, kamu mau pulang kesini juga enggak?" tanya Raka.


'Eng ... gimana ya. Sepertinya aku tidak bisa Kak, kan aku lagi sibuk banget di sini. Syuting iklan juga ini udah mulai padat minggu ini. Kayaknya aku tidak bisa pulang dulu," jawab Ajeng tentu saja membuat hati Raka kecewa berat.


"Berarti kamu nanti di sana sendirian?" tanya Raka berubah cemas.


"Iya."


"Bahaya kalau begitu, pulang aja sih, syutingnya bisa ditunda enggak sih?" tanya Raka.


"Tidak bisa Kak," jawab Ajeng.


"Siapa sutradaranya, aku  mau kontak dia?" tanya Raka meminta nomor sutradaranya.


'Aku tidak punya Kak, itu yang ngatur biasanya Kak Laksmi, aku cuma jadi artis. Urusan jadwal dan lain-lain sudah diatur Kak Laksmi dibantu oleh Agnes."


"Hufft ... ya sudahlah kalau tidak bisa pulang. Aku nanti hanya bisa menahan rindu yang menggebu ini," ucap Raka mulai berkata-kata gombal.


"Hemm sabar ya sayang, pasti kita ketemu lagi, eh udah dulu ya, sekarang giliran aku nih," kata Ajeng.


"Iya," jawab Raka tidak bersemangat.


"Bye. Mimpi indah ya, jangan lupa mimpiin aku Kak," kata Ajeng menutup teleponnya.


 


 


Raka kemudian mematikan ponselnya dan menatap gulingnya dengan sendu


"Kapan guling ini berubah jadi kamu Yang?" tanya Raka bicara sendiri.


 


 


***  Studio Author ***


 


 


Masak masak sendiri, makan makan sendiri


***Cuci baju sendiri, tidurku sendiri ...


Hidup serasa kaku, bagaikan angka satu***


Meranalah ... kini merana.


"Diem loe Thor, loe ngeledek gue?" semprot Raka sambil melempar guling yang sudah basah karena liur.

__ADS_1


"Busyeet, ni guling di apaain Tung?" tanya Author.


__ADS_2