Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Masih


__ADS_3

Suara alarm dari ponsel Ajeng terus-menerus berbunyi.


"Yang, Sayang. Ponselnya bunyi!" suara Raka membangunkan Ajeng yang tidur dalam dekapan Raka. Ajeng pun menyasar-nyasar tangannya mencari-cari benda durhaka itu yang menganggu nikmat tidurnya. Namun tangan Raka tidak mau melonggarkan pelukannya. Membuat Ajeng kesusahan menggapai ponselnya yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur.


"Kak, lepas dulu sebentar!" rengek manja Ajeng yang tak bisa bangun untuk menggapai ponselnya.


Raka dengan berat hati melonggarkan tangannya dan membiarkan Ajeng mengambil ponselnya.


"Astaga, sudah mau menjelang pagi Kak,!" pekik Ajeng. Namun badannya sangat lemas untuk turun dari tempat tidurnya. Padahal perasannya baru tidur beberapa menit saja. Setelah semalaman dia meladeni dan melayani suaminya Raka yang tak pernah puas.


"Nanti dulu, tunggu sepuluh menit lagi!" kata Raka kemudian menarik tubuh Ajeng lagi dan memeluknya lagi dengan mesra.


Ajeng menepuk-nepuk tangan Raka agar segera bangun dan mandi.


"Sebentar dulu Sayang, aku masih ingin tidur memeluk kamu," kata Raka tidak mau melepaskan tangannya dari tubuh polos Ajeng.


"Kak, ayo dong kita bangun!"


Raka tidak menjawab dia hanya menjawab dengan dengkuran yang halus. Ajeng kemudian melakuka kebiasaanya lagi. Mengosok-gosok hidung di dada Raka yang bidang membuat Raka berdehem karena geli.


"Kamu itu masih ingin tidur atau cuma pura-pura tidur sih?" tanya Ajeng. Kaki Ajeng sengaja mengusap-ngusap kaki Raka yang berbulu tipis itu. Dan membuat Raka mau tidak mau membuka matanya dan menatap wajah Ajeng yang berada di dalam dekapannya.


"Waduh kalau tadi alarm ponsel yang bunyi, sekarang alarm yang lain Yang," kata Raka sambil mengecup mesra bibir Ajeng yang ranum.


"Udah ah. Aku mau mandi, lepas dulu enggak!" ancam Ajeng meminta Raka melepaskan pelukannya.


"O-gah," jawab Raka rese dan tetap memeluk erat Ajeng sambil memberinya kecupan bertubi-tubi.


"Kakak! Hentikan aku tidak bisa napas!" teriak Ajeng yang kewalahan karena tingkah Raka yang seperti bayi.

__ADS_1


"Sekali lagi sebelum mandi!" pinta Raka.


Ajeng menolak dan mendorong Raka agar segera melepaskannya. Dia tidak mau kalau waktu berharga Raka akan hilang jika dia terus-terusan di kamar.


"Kamu kan harus segera siap-siap. Katanya kamu mau ketemu orang penting hari ini," kata Ajeng.


"Iya kamu bener," jawab Raka. Sebenarnya dia masih ingin bermesraan dengan Ajeng. Namun sepertinya dia harus merelakan quality time-ya bersama Ajeng.


"Ya udah, gih sana mandi!" suruh Ajeng.


"Bareng aja yuuk!" ajak Raka.


"Ah pasti ada maunya. Enggak ah, Kakak duluan aja, aku mau beresin tempat tidur yang kacau ini!" kata Ajeng.


"Ngapain diberesin, kan nanti ada service room yang beresin," kata Raka kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan dengan cueknya dia berpolos ria menuju kamar mandi. Ajeng hanya menertawakan bayi gedenya yang berjalan menuju kamar mandi.


"Sayang, cepet sini nyusuuul!" teriak Raka dari dalam kamar mandi.


Ajeng hanya tersenyum mendengarnya. Dia pun segera menyusul Raka yang kembali nongol kepalanya di pintu mengajak Ajeng untuk segera masuk.


"Dasar bayi lutung manja," gumam Ajeng kemudian menyusul Raka ke dalam kamar mandi.


Raka yang masih belum puas buka puasa itu benar-benar membuat Ajeng kewalahan namun tak mampu menolak segala keinginan bayi besarnya itu. Ajeng merasa kalau Raka yang sekarang tambah lebih manja dan tambah merepotkan Ajeng. Apa karena mereka sudah lama berpisah. Jadinya Raka lebih manja lagi dan lebih mencari perhatian Ajeng dibandingkan dengan sebelumnya.


Pagi itu mereka habiskan lagi waktu romantis mereka di dalam kamar mandi. Raka seperti tak ada habisnya menggauli istri sahnya itu meski belum sah secara agama. Ajeng pun sepertinya memang sebelas dua belas dengan Raka. Merasa kalau Raka sangat mencintainya bahkan lebih mencintainya saat ini. Lebih membuatnya berdebar, dan lebih membuatnya merasakan menjadi wanita yang seutuhnya. Meskipun Raka sangat manja padanya. Raka juga mampu memanjakan dirinya juga. Apakah karena Raka yang semakin dewasa. Atau karena jabatannya yang menjadi seorang Presdir. Telah membuatnya mempunyai karakter yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih perhatian padanya. Bahkan Ajeng melihat bagaimana dia juga sangat berwibawa dan tegas pada karyawannya.


Setelah mandi bersama, mereka kemudian memakai baju dan siap untuk pergi ke seorang rekan Raka yang seorang yaitu Pak William.


"Kak, siapa Pak William?" tanya Ajeng dengan rasa penasaran. Dia sekarang sudah cantik berbalut mini dress yang tidak terlalu minim tentunya.

__ADS_1


"Dia itu pengacara almarhum Papa dulunya," jawab Raka sambil memakai sebuah pakaian kemeja yang kasual yang baru datang yang diantar oleh Dian ke kamar Ajeng. Dian yang seharusnya libur pun, dengan terpaksa pagi-pagi mengantar baju ganti untuk bosnya itu.


Memang Raka adalah tipikal bos yang semena-mena tapi berhati malaikat. Meskipun merusak jadwal libur karyawannya itu. Raka berbaik hati memberikan bonus cash pada Dian. Tentu saja Dian sangat berterimakasih atas kemurahan hati bosny itu. Pantas saja Pak Daniel betah bekerja dengan Raka. Rupanya memang Raka selalu memberikan bonus tidak terduga.


"Kak, jadi kamu mau menjemputnya ke bandara sekarang?" tanya Ajeng melihat Raka yang sudah siap pergi itu.


"Iya, kamu mau ikut enggak menjemput?" tanya Raka.


"Eng, kayaknya aku mau pergi ke kamar Kak Laksmi saja deh, pengen tahu juga cerita tadi malam bagaimana pertemuannya itu," jawab Ajeng.


"Memangnya orang macam Lakmsi mau cerita gitu sama orang?" tanya Raka meragukan.


"Iya juga sih, tapi ah, bisa saja dia kali ini mau bagi-bagi cerita," jawab Ajeng.


"Hmmm, ya sudahlah aku berangakt dulu ya Sayang," ucap Raka sambil mengecup kening Ajeng.


"Ya, kamu hati-hati ya, padahal buru-buru amat, kan belum juga sarapan," kata Ajeng.


"Tidak keburu waktunya Yang, aku sudah terlambat sampai bandaranya," kata Raka kemudian kali ini mengecup bibir Ajeng.


"Gimana mau telat sarapan makan pagi. Orang sarapan tadi pagi kelamaan di kamar mandi," jawab Ajeng langsung dijawab Raka dengan tawa terkekeh.


Bersambung ...


Jangan lupa untuk mendukung author dengan memberi vote banyak, komen dan like. Semakin banyak semakin membuat level karya ini naik.


Kalau ingin cerita ini bisa bertahan. Buktikan dengan cara yang kalian punya. Hehhee.


Yang punya banyak koin. Bagi tip nya untuk author. Yang ingin memberikan tip atau hadiah tapi tidak punya koin. Bisa membeli dengan Gopay harga yang paling murah 14.000 atau pakai pulsa. Selamat berbagi! 😊 😍 😘 😚

__ADS_1


__ADS_2