Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Permasalahan Hotel Mahesa


__ADS_3

Raka menghentikan langkah kakinya demi mendengarkan penjelasan Daniel lebih jelas.


"Kenapa kejadian seperti ini baru ketahuan sekarang,Niel?" tanya Raka dengan raut wajah yang sedikit tegang. Dia sudah mempersiapkan kemungkinan buruk berita yang akan dia dengar dari Daniel.


"Masalah ini baru terdeteksi setelah satu orang karyawan hotel kita mengadukan ini pada salah satu teman dekatnya yang juga merupakan sepupu Bapak juga," jawab Daniel dengan suara yang sedikit tertahan. Mungkin dia tidak ingin Raka lebih terkejut.


"Maksudmu?" tanya Raka.


"Salah satu karyawan hotel kita ini kebetulan pernah menjadi teman kuliah Nona Tania, Pak. Setelah dia mengadu pada Nona Tania, kalau dirinya sangat aneh dengan struk gajinya yang tidak pernah terlihat di akun gajinya. Dan setelah dia mengadukan itu pada Tania. Tania berusaha mencari tahu di Hotel dan menghubungi bagian keuangan. Dan berhasil mendapatkan rincian struk gaji itu dan, ketahuan kalau Bastian merekayasa struk gajinya. Dan setelah itu karyawan tadi mencoba menanyakan struk gajinya beberapa pegawai yang lain. Dan ternyata inilah kenyataan yang sekarang kita hadapi, Pak."


Raka terkejut mendengar nama sepupunya Tania disebut. Kalau Tania mencoba mencari tahu masalah itu sampai ke dalam hotel tanpa sepengetahuan dirinya sebagai Presdir. Tentu dia sangat marah sekali.


"Siapa nama karyawan yang merupakan teman Tania itu?" tanya Raka.


"Namanya Ahra Kaniana Pak," jawab Daniel.


"Panggil dia dan menghadapku!" perintah Raka pada Daniel.


"Dia sudah berada di ruagan meeting Pak," jawab Daniel kemudian mempersilakan Raka untuk melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Sayang, bisakah kau kembali saja ke kamarmu. Aku sedikit ada urusan," kata Raka pada Ajeng yang dari tadi berdiri mematung di belakangnya.


"Oke, kalau begitu aku akan kembali ke kamarku," jawab Ajeng. Lalu Raka mendekatinya dan berbisik, "Aku akan kembali ke kamar, jadi tunggu ya!".


Ajeng mengangguk dan menyuruh Raka agar segera masuk ke dalam ruangan meeting. Raka pun segera mengajak Daniel masuk.


Dan begitu mereka masuk, mereka melihat sudah banyak orang yang berkumpul di sana. Dan Raka juga melihat beberapa Direktur yang ikut dalam pertemuan itu. Dan Raka juga melihat ada Tania juga di sana. Dia pun segera mendekati dan menyapanya.


"Sore Kak," sapa Tania pada Raka.


"Ya sore, bagaimana kabarmu?" tanya Raka pada Tania yang sudah lama mereka tidak bertemu.


"Baik Kak, Nenek Sarah juga baik," jawab Tania membeberkan keadaan neneknya meskipun Raka tidak menanyakan itu.

__ADS_1


Sebenarnya ada beberapa hal lagi yang ingin ditanyakan Raka pada Tania, tapi Daniel memberi tahunya kalau rapat atau meeting darurat itu akan segera dimulai. Raka pun segera dibimbung Daniel untuk menuju tempatnya yang sudah disediakan. Semua orang terlihat masih berdiri ketika Raka belum duduk di kursinya sebagai bentuk etika anak buah atau karyawannya Raka. Dan ketika Raka duduk, barulah mereka semua duduk di kursi. Raka kemudian melihat orang-orang yang hadir dalam ruangan itu, semuanya mempunyai raut wajah yang hampir sama. Yaitu sama-sama tegang dan panik karena baru kali ini, hotel mereka kecolongan seperti ini.


Daniel kemudian memimpin meeting itu dengan penuh wibawa dan juga komunikatif. Mereka semua pun membahas mengenai masalah ini, dari sesi dengar pendapat dan kesaksian dari perwakilan karyawan yang dipanggil, serta semua direktur juga menyampaikan segala bentuk kesaksian atau lebih tepatnya mereka sedang membela diri atas ketidaktahuan mereka kalau ada satu orang yang bisa berbuat curang.


"Aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut, segera bayar semua gaji dan bonus karyawan yang sudah semestinya mereka dapatkan, dan jangan sampai ada karyawan yang tidak mendapatkannya. Karena aku tidak mau masalah ini menjadi tambah besar kalau mereka mengadukannya pada orang lain atau media massa." Raka kemudian memberikan intruksi sebagai solusi untuk meredam demo atau membungkam para karyawan yang sudah didzolimi oleh Bastian.


"Baik Pak," jawab Richard bagian keuangan.


"Daniel, cari Bastian sampai ketemu. Tidak perlu lapor polisi. Karena aku masih belum yakin kalau dia bekerja sendiri, sewalah orang atau detekif swasta langgananmu itu untuk mencari keberadaannya," bisik Raka pelan dan tidak ada satu pun yang bisa mendengar itu.


Daniel kemudian menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


"Pertemuan ini sudah selesai sampai sini, dan saya harap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi!" kata Raka dengan tegas sambil berdiri dari kursinya dan akan meninggalkan ruangan itu.


Tania tiba-tiba mengejar dan menyusul Raka ke  luar ruangan itu.


"Kak Raka, aku ingin mengajakmu makan malam, apa Kakak ada waktu?" tanya Tania sambil tersenyum manis padanya.


"Oh Tania, maaf aku harus segera menemui istriku yang sudah menunggu," jawab Raka dengan wajah pura-pura menyesal karena tidak bisa memenuhi ajakan Tania itu.


"Iya, Ajeng."


Tania baru sadar kalau rupanya Raka dan Ajeng kembali lagi bersama. Dan Tania juga tahu kalau Ajeng sekarang adalah A.J Agustine. Seorang aktris Hollywood. Raka tak melihat kalau raut wajah Tania berubah menjadi dingin saat mendengar nama Ajeng.


"Nanti lain kali saja kita makan malam nya ya, hari ini aku sudah ada janji dengan Ajeng. Salam ya  buat Nenek di rumah. Nanti sebentar lagi juga aku dan Ajeng akan pergi ke rumah nenek untuk membicarakan pernikahan," ucap Raka sambil menepuk lembut bahu Tania. Dan Raka juga melemparkan senyumnya pada Ahra Kaniana yang berada di belakang Tania. Ahra teman dekat Tania yang menjadi blow**whistler untuk masalah ini.


Kemudian Raka dan Daniel berjalan meninggalkan tempat itu.


"Niel, bagaimana keadaan Laksmi?" tanya Raka menanyakan perkembangan keadaan Laksmi.


"Oh,i-itu, dia sudah agak membaik. Sekarang dia sedang ditemani kedua orangtuanya," jawab Daniel dengan raut wajah yang berusaha untuk senyum seperti tidak terjadi sesuatu. Mana mungkin dia mencerikan kalau dia diusir oleh Laksmi. Bisa-bisa dia ditertawakan oleh Bosnya yang kadang Daniel tidak pernah tahu kapan dia bisa sayang kapan dia jahil dan kapan dia bisa iseng padanya. Bosnya tidak bisa ditebak.


"Kalau begitu, cepat kembali ke rumah sakit, jangan sampai Laksmi menunggumu!" kata Raka sambil melemparkan kunci si Mulus pada Daniel.

__ADS_1


Daniel menangkap kunci mobilnya dengan sigap. Namun hatinya terasa mengeras ketika Raka mengatakan kalau Laksmi menunggunya. Dia sungguh sedih, kalau kenyataaanya malah kebalikannya.


Sementara Raka dengan berjalan tenang dan santai dia pun menuju lift untuk pergi ke kamar Ajeng dengan perasaan riang gembira. Meskipun dia baru saja mendapatkan masalah hotelnya, namun Raka sepertinya tidak mau membawa permasalahan itu ke depan Ajeng. Karena dia tidak mau kalau Ajeng menjadi ikut-ikutan memikirkan permasalahan yang dihadapi Hotel Mahesa.


Daniel kemudian berjalan lesu dan lunglai tidak ada semangat dalam dirinya. Dia merasakan setengah hatinya hilang.


Bersambung ...


\=\=\=\=Studio Author\=\=\=\=


Semua masalah hidup pasti selalu ada


Dia ada seperti bayangan yang selalu mengikuti


Tak bisa lepas dan tak bisa musnah


Dia akan tetap bersama dengan setiap embusan napas yang kita hirup


Jadikan itu sebagai bayangan tubuh kita di setiap ada cahaya di siang hari


Buat dia mengikuti apa yang kita lakukan. Kita tertawa dia pun akan mengikuti gerakan tawa kita


Jangan menyerah


Kalau kita bersembunyi di kegelapan


Masalah itu bukan hilang, tapi dia masih ada


#edisiGaje


"Thor, loe sehat?" tanya Daniel yang tiba-tiba datang ke studio dan menatap wajah Author.


"Kenapa loe Boon?"

__ADS_1


"Tumben?".


^.^


__ADS_2