Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Daniel Di Rumah Bang Gor


__ADS_3

Sebuah tepukan keras menyambar pantatnya manakala dia masih ingin tertidur. Daniel langsung terperanjat ketika mengetahui kepala tepukan keras yang memukul pantatnya adalah kaki Bang Gor yang tak sengaja menyepak saat dia tertidur. Daniel menarik napasnya dengan kesal. Kenapa dia bisa berakhir menginap di rumah kakak ipar bosnya itu. Dan tidur hanya beralasan kasur lepet usang di ruang tengah depan televisi. Daniel melihat jam dinding sudah menunjukkan jam lima pagi dan dia melihat pemandangan menakjubkan lainnya. Dia melihat Bang Gor sedang menggaruk-garuk bokongnya itu.


"Huffft, bener-bener mirip gorilla," gumam Daniel. Dia kemudian duduk dan menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur di lantai dengan seekor gorilla yang tidak mau diam tidurnya.


Daniel kemudian berniat untuk pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Dan dengan langkah berjinjit dia pun melangkahi tubuh Bang Gor yang kembali meringkuk dengan kedua tangan mengepal di depan wajahnya. Daniel pun bergidik melihat itu, bagaimana tidak itu tangan bekas garuk-garuk bokong terus diusapkan ke wajahnya sendiri. Sungguh tidak sesuai saat makhluk itu sadar, tegas dan terkesan garang. Saat dia tertidur dia tak lebih dari seekor gorilla yang lucu meringkuk kedinginan di atas kasur lantai.


Daniel kemudian menuju dapur, di mana dia sudah melihat Merry sedang sibuk mencuci pakaian kotor sambil memasak air.


"Kau sudah bangun?" tanya Mbak Merry pada Daniel.


"Iya Mbak, aku mau cuci muka dulu ke kamar mandi," jawab Daniel sambil melangkah menuju kamar mandi.


Sampai di kamar mandi, dia pun melihat kamar mandi rumah milik Bang Gor itu. Sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Daniel membayangkan seorang Raka pernah mandi dan tinggal di rumah seperti ini. Itu sungguh sulit dibayangkan, bagaimana seorang Raka Mahesa yang kaya raya bisa betah di rumah ini.


Sambil mengambil air dari bak, Daniel pun kemudian memulai untuk mencuci mukanya agar lebih segar. Baru saja dia hendak mengguyur wajahnya dengan air. Sesuatu merayap di atas kakinya, dan otomatis Daniel pun berteriak kencang membuat Merry dari luar menggedor pintu kamar mandi sambil bertanya ada apa. Bahkan tak lama pun pintu terdengar didobrak. Dan muncullah Bang Gor yang sukses mendobrak pintu kamar mandi karena panik mendengar suara teriakan Daniel.


Daniel yang melongo sekaligus kaget tiba-tiba pintu di dobrak itu suaranya membuat sesuatu yang merayap di kakinya berlari menuju lubang pembuangan.


"Ada apa teriak-teriak?" tanya Bang Gor yang masih dengan muka bantal menanyakan sebab musabab Daniel berteriak.


"I-itu, tadi ada kecoaaa!" teriak Daniel dengan sorot mata yang ketakutan.


"Astaga aku pikir ular atau bom, kau teriak ketakutan hanya karena seekor kecoa" kata Arya merasa kesal. Selesai dia bicara, pundaknya langsung dipukul keras oleh Merry, istrinya.


"Bang, kenapa Abang pake acara dobrak pintu segala sih, lihat tuh jadi rusak pintu kamar mandinya!" protes Merry sambil memukul-mukul lembut tangan Bang Arya.


"Habisnya kan spontan, mana lagi tidur, jadi pikiran tidak sepenuhnya bisa mikir akibatnya," jawab Arya beralasan dengan omelan istrinya itu. Sudah bisa dipastikan kalau dobraknya pintu itu akan membutuhkan renovasi.

__ADS_1


"Makanya cek dulu! Lihat tuh jadi rusak kan?" Merry masih saja mengomel tak sadar kalau di sana masih ada Daniel yang terlihat kaku. Belum hilang rasa kagetnya dengan binatang yang paling membuat dia takut ditambah suara dobrakan pintu dari tendangan sang polisi yang persis kayak mengerebek penjahat.


"Bang Gor, aku mau pipis, terus gimana? Pintunya tidak bisa ditutup," kata Daniel dengan senyum dipaksakan karena menganggu keharmonisan suami istri yang sedang bertengkar.


"Pipis saja Boon, enggak bakalan ada yang ngintip!" tanya Bang Gor kemudian memberi kode istrinya untuk menjauh dari pintu kamar mandi.


"Ta-tapi Bang, masa iya aku pipis, pintunya terbuka seperti itu?" tanya Daniel yang merasa cukup tengsin juga.


"Biar gue yang jagain di depan!" kata Bang Gor kemudian membalikkan badanya dan menghalangi pintu kamar mandi yang rusak itu agar Daniel bisa pipis dengan sejahtera dan sentosa tanpa malu.


"Tetap saja aku malu Bang, aku enggak betah," kata Daniel menolak.


"Loe mau nanti kena kencing batu, terus loe punya masalah dengan prostat loe itu, loe nanti enggak bisa memfungsikan dengan baik pusaka mu yang berharga itu. Terus nanti bini loe bakal bla bla bla," Arya menakut-nakuti Daniel.


"I-iya Bang, kalau begitu saya akan pipis sekarang juga!" ucap Daniel segera melaksanakan hajatnya itu. Sementara Bang Gor hanya tertawa terkekeh mendengar Daniel yang ketakutan kalau barang berharganya itu tidak berfungsi. Daniel juga sangat ketakutan. Jangan sampai dia hanya bisa melakukan itu hanya sekali dalam seumur hidupnya. Dia kan masih muda dan masih ingin memproduksi keturunan yang banyak dengan Laksmi. Kalau dia sudah bermasalah dengan prostatnya bisa-bisa Laksmi akan menyesal menikah dengannya.


"Sudah?" tanya Bang Gor.


"Iya Bang, makasih!" ucap Daniel cengengesan karena merasa lega setelah sebelumnya merasa kaku karena menahan pipis.


"Haaaaaauuuuu ... syama syama haaiia," jawab Bang Gor sambil menguap lebar. Daniel yang sudah merepresentasikan Bang Arya seperti Gorilla sungguh tidak bisa menahan rasa tawa ketika Bang Gor menguap persis seperti gorilla sungguhan.


Sambil mengucek-ngucek matanya Bang Gor yang sepertinya baru 50% sadar itu kemudian berjalan menuju ruang tengah lagi.


"Bang, kayaknya aku mau pulang sekarang aja!" kata Daniel mau pamitan.


"Ya-ya -ya sok enggak apa-apa, pulang saja. Merry juga kayaknya belum bikin sarapan, sarapan di luar aja ya Boon!" ucap Arya seperti seorang kakak yang mau melepas adiknya berangkat sekolah.

__ADS_1


"Iya Bang, makasih. Abang jangan khawatir. Aku pamit dulu ya!" Daniel merasa Bang Arya memang sangat menyukainya. Benar kata bosnya kalau Arya sudah memberikan dia panggilan khusus. Perlakuan Arya akan seperti seorang abang pada adiknya. Padahal sebenarnya umur Raka dan Arya tidak jauh beda. Dan Arya dengan Daniel juga memang hampir sebaya, hanya beberapa bulan saja. Tapi entah kenapa karena Ajeng, baik Raka dan Daniel mengalir saja menganggap Arya itu sebagai seorang abang yang jauh terpaut usianya.


"Ya-ya, hati-hati!" kata Arya sambil menyodorkan tangannya. Daniel kemudian menatap tangan kanan Bang Gor itu. Tangan itu kan tadi bekas menggaruk-garuk bokong Bang Arya. Dan sekarang Bang Arya malah menyodorkan tangannya untuk dicium tangannya. Layaknya orang tua yang memberikan tangannya untuk dicium dengan takzim.


Agak lama dan ragu Daniel menatap tangan Bang Arya itu. Haruskah dia mencium tangan Bang Gor atau tidak?


"Boon, buruan katanya loe mau pulang. Gue mau buru ke kamar mandi nih udah mules!" kata Bang Gor cuek.


Menolak salah diterima bau. Tapi karena tidak mau menyakiti perasaan Bang Gor yang sudah menganggap dia sebagai adiknya. Daniel pun mau tidak mau mencium tangan Bang Gor itu sambil tahan napas.


Setelah itu Bang Gor pun buru-buru ke kamar mandi. Dan Daniel hampir pingsan setelah mencium tangan Bang Gor itu. Dan sindrome cauvade dan morning sicknya pun serasa mulai muncul kembali. Buru-buru Daniel segera masuk ke dalam mobilnya dan ingin segera sampai ke rumahnya.


*** Studio Author***


"Mak Kooonng!" rajuk Bang Gor datang.


"Kenapa loe" tanya Author jutek.


"Tumben Mak Kong jarang panggil aku buat promo lagi?" tanya Arya so sweet.


"Hfffttt, sok promoin lagi dong Bang Gor!" titah Author.


"Oke, ehhhhmm-heemm tes-tes. Reader jangan lupa untuk like dan komen. Untuk pemberian tip juga sangat ditunggu lho. Kalau kalian rajin ngasih koin atau tip penghasilan untuk author. Katanya dia siap crazy up lagi. wkwkwkwwkwk!


"Eh Bang Gor, kalau ngomong suka maksa!"


"Woyadong, reader yang baik akan menghasilkan semangat baik juga untu authornya. Tosss dong!" kata bang Arya sambil mengangkat tangannya untuk tos.

__ADS_1


"Ogah amat tos sama tangan bekas garuk-garuk kokobet,ikkkkkkh jijay!" seru Author kabur.


__ADS_2