
"Apa aku sudah terlihat cantik?" tanya Ajeng sambil berdiri di depan cermin. Hari ini dia memakai sebuah dress yang paling mahal dan bagus di antara pakaiannya yang dibawa ke Jakarta.
"You are so beatiful always, sayang," puji Raka berdiri di belakang Ajeng lalu memeluk pinggang ramping Ajeng.
"Apa aku terlihat berbeda dibandingkan lima tahun yang lalu Kak?" tanya Ajeng sambil menggenggam kedua tangan Raka yang melingkar di pinggangnya.
"Ya, kamu tambah cantik dan menawan," jawab Raka sambil menggosok-gosok hidungnya di leher Ajeng dan itu membuat Ajeng menjadi geli.
"Kalau demikian, apakah Nenekmu akan menerimaku sekarang?" tanya Ajeng membuat Raka sedikit terhenyak, jadi dari tadi Ajeng bertanya maksudnya adalah seperti itu. Dia merasa kalau dirinya masih belum bisa direstui Nenek Sarah.
"Tentu saja, kau jangan risau Ajeng, bagaimana pun reaksi Nenek nanti, kau harus ingat kalau aku mencintaimu. Dan aku akan lebih dan lebih mencintaimu setiap harinya. Aku tidak akan membiarkan apa pun yang akan menghalangi kita," jawab Raka dengan tegas dan sungguh-sungguh.
Ajeng tersenyum lega mendengarnya. Dia sangat beruntung kalau Raka mencintainya begitu besar.
"Ya sudah kita berangkat sekarang!" ajak Ajeng sambil melepaskan pelukan Raka, namun tangannya tidak melepaskan genggaman tangannya. Keduanya pun berjalan keluar kamar. Hari ini mereka akan bertemu dengan Nenek Sarah dan semua keluarga di rumah utama keluarga Mahesa.
Ajeng sengaja hari ini ingin terlihat lebih elegan dan lebih berbeda dari biasa. Ya sekarang, dia adalah seorang aktris kenamaan Hollywood. Tidak akan ada lagi kekhawatiran dia dianggap rendahan oleh keluarga Mahesa. Meskipun sebenarnya Ajeng tidak mau menyombongkan status sosialnya sekarang, dia rasa dia perlu menunjukkan siapa Ajeng yang sekarang di depan keluarga Raka yang dulu sempat memandang hina dan rendah padanya.
Keduanya nampak serasi dan selaras dalam berpenampilan hari itu. Raka yang memang sudah tampan terlihat lebih mempesona dengan balutan jas semi formalnya berwarna abu-abu dan cocok dengan dress yang dikenakan Ajeng. Keduanya pun bersiap menuju mansion keluarga Mahesa. Di mana di sana Nenek Sarah beserta dengan anggota keluarga yang lain berada.
**** **** ****
Ini adalah kali pertamanya Ajeng menginjak mansion keluarga Mahesa. Dulu dia tidak punya kesempatan untuk dibawa ke sana. Sekarang adalah waktunya. Di mana dia harus bisa membuktikan pada semuanya kalau dia memang layak bersama dengan Raka.
Saat mobil mereka berhenti di depan pintu utama masuk ke dalam rumah, seorang pekerja di rumah itu membukakan pintu untuk mereka berdua. Keduanya pun turun dari mobil. Raka kemudian mengapit lengan Ajeng, dan dia menatap wajah Ajeng yang terlihat gugup.
"Tenang Sayang, aku akan selalu bersamamu!" ucap Raka untuk menenangkan kegugupan Ajeng hari ini.
Ajeng kemudian tersenyum lebar karena Raka seperti merasakan kekhawatiran Ajeng.
Sampai di dalam rumah, Ajeng melihat hanya ada satu orang yang sedang duduk di sana. Dan Ajeng bisa melihat kalau itu adalah Tania. Kali ini Ajeng juga melihat perubahan yang mencolok dari Tania sejak lima tahun yang lalu. Kini dia adalah seorang gadis dewasa dan matang. Penampilannya sungguh modis dan terlihat elegan. Ajeng bisa menebak kalau Tania sudah menjadi salah satu eksekutif muda.
"Hai Kak, Hai Jeng!" sambut Tania hangat.
__ADS_1
"Hai." Ajeng mencoba membalas sambutan Tania.
"Silakan duduk, aku akan ke atas dulu memanggil Nenek kalau kalian sudah datang," ucap Tania kemudian hendak berjalan menuju ke atas, namun saat Tania akan berjalan melewati mereka, entah kenapa langkah kaki Tania selip, kakinya terantuk dan alhasil badannya menjadi kehilangan keseimbangan. Dan karena refleks Raka melepaskan apitan lengannya pada Ajeng lalu menyambar tubuh Tania agar tidak terjatuh.
"Aduuh, ssh. Astagaa maaf Kak," ucap Tania karena tidak sengaja kepalanya membentur kepala Raka. Hampir saja bibir mereka bertemu.
"Hati-hati sih kalo jalan!" teriak Raka. Kemudian dia melihat Tania yang meringis dan Raka melihat kalau Tania memakai high heels. Tidak biasanya dia memakai itu.
"Kau kan tidak biasa pakai high heels, kenapa maksa pakai itu?" tanya Raka memarahi Tania. Dia memarahi atas dasar karena dia adalah kakak sepupunya yang sudah wajar mengatakan itu.
Namun Ajeng yang melihat pemandangan itu berbeda, dia bisa melihat wajah Tania yang bersemu merah karena dia hampir saja mencium bibir Raka. Nyaris menempel dan Ajeng melihat itu semua. Dia itu tersenyum sinis.
"Usaha yang bagus Tania, kau pikir kau tidak tahu kalau kau menyukai Raka?" gumam Ajeng dalam hati.
Ajeng kemudian menarik tangan Raka kembali dan menyatukan jari jemarinya dengan jari Raka lalu mengajaknya untuk segera duduk.
Tania pun sadar diri, kemudian dia pun segera melanjutkan langkahnya meski sedikit tertatih karena insiden kaki terantuk tadi.
"Om Adi sama Tante Lisa, Troy dan juga Khansa. Kamu sudah pernah bertemu dengan mereka sebelumnya kan?" tanya Raka pada Ajeng.
Ajeng mengangguk kalau dia memang pernah bertemu dengan mereka.
Mereka lantas duduk di atas sofa, Ajeng melihat seisi ruangan yang besar luas dan mewah itu. Beberapa furniture di ruangan itu juga sepertinya bukan barang biasa. Ajeng takjub juga melihat rumah mewahnya keluarga Mahesa. Namun Ajeng lebih senang melihat wajah Raka ketimbang yang lainnya. Nampak Raka sekarang yang gugup, malah kelihatannya dia jauh lebih gugup dibandingkan dengan Ajeng sebelumnya. Ajeng tersenyum melihat raut wajah Raka. Ajeng kemudian menggaruk hidungnya dan dia pun mulai mendengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga.
Nenek Sarah dengan ditemani Tania terlihat turun untuk menemui mereka. Raka dan Ajeng pun berdiri untuk menyambut kedatangan Nenek Sarah.
"Selamat datang di rumah Raka!" ucap Nenek Sarah menyongsong memeluk cucunya. Lalu Nenek berhenti di depan Ajeng, wajahnya terlihat kaku dan mencoba untuk tersenyum.
"Apa kabar Nek?" tanya Ajeng sopan.
"Baik," jawab Nenek pendek.
"Kalian sudah makan?" tanya Nenek Sarah.
"Kebetulan belum Nek," jawab Raka.
"Kalau begitu, Tania beritahu Hana untuk menyiapkan makan siang di meja makan!" perintah Nenek Sarah.
"Baik Nek," jawab Tania patuh. Lalu dia pun segera berjalan ke ruangan belakang menuju dapur.
"Duduklah!" Nenek Sarah pun mengajak mereka untuk duduk di sofa.
__ADS_1
"Di mana Om Adi dan Tante Lisa?" tanya Raka.
"Mereka tadi sedang pergi keluar sebentar untuk mengurus sesuatu," jawab Nenek duduk dengan anggun dan penuh wibawa di depan Ajeng.
"Kemana Troy dan Tante Khansa?" tanya Raka kembali.
"Mereka kalau jam segini belum bangun, tambah kalau ini adalah weekend," jawab Nenek Sarah bersikap tenang. Namun ujung matanya melirik ke arah Ajeng yang sedang duduk dengan sikap tenang seperti seorang putri kerajaan.
Raka hanya menghela napas panjang dan Ajeng dia hanya mendelikkan matanya sekejap. Sepertinya memang pertemuan ini tidak akan berjalan lancar karena semua anggota keluarga Mahesa belum kumpul.
"Kedatangan kalian kemari sangat mendadak, terutama Nenek, Nenek tidak tahu kalau kalian masih berhubungan," ucap Nenek Sarah dengan tatapan yang sedikit tajam membuat hati Ajeng kembang kempis karena merasa trauma. Dia teringat dengan perkataan Nenek Sarah beberapa tahun yang lalu.
Raka kemudian mencoba tersenyum pada neneknya lalu berkata, "Raka dan Ajeng tidak bisa dipisahkan walau banyak orang yang berusaha memisahkan kami," ucap Raka.
Nenek kemudian menatap wajah Ajeng yang terlihat tenang dan terkesan tidak ada beban. Padahal sebenarnya Ajeng tegang luar biasa. Hanya dia sudah berlatih harus bisa mengendalikan dirinya dan harus terlihat tenang. Ini sudah menjadi hal yang biasa Ajeng hadapi kalau dia sedang gugup, panik dan cemas saat berada di tengah kegiatan keartisannya di Amerika.
Bersambung
"Cos ah ah im in the stars night
So watch me bring the fire and set the night alight
......
King Kong kick the drum rolling on like a rolling stone
(Dynamite~ BTS)
"Wah Jeng, loe nyanyiin lagu baru BTS. Kenapa ada King Kong di liriknya," ucap Author kegeeran.
"Kebetulan aja Mak Kong, jangan geer dulu!" kata Ajeng.
"Ya aku pikir dia inget sama GUE," ucap author narsis.
"Sayang bukan Lutung atau Gorilla yang disebut!" kata Ajeng.
"Ga lucu dan kurang lucu dan enggak menjual kalau pake kata Gorilla," jawab Author.
~ Jangan lupa votenya ya!
__ADS_1