
Kita tinggalkan kisah Raka dan Ajeng sejenak. Author kali ini akan mengulik dulu percintaan Daniel dengan pujaan hatinya Laksmi Dewi.
Daniel masih menunggu Laksmi yang belum turun dari kamar hotelnya. Katanya dia sedang berganti pakaian. Daniel menjadi berdebar menunggu Laksmi seperti menunggu datangnya mempelai wanita di altar pernikahan. (Tidak berniat apapun, Author menceritakan keyakinan dan kepercayaan Daniel berbeda dengan Raka).
Hati Daniel nyut-nyutan merasa seperti orang yang punya penyakit jantungan. Menunggu di lobi hotel tempat dia bekerja, sama rasanya menunggu mempelai wanita di depan pendeta yang akan menikahkan mereka.
Setelah lama menunggu, akhirnya bidadari pujaan hatinya muncul juga. Jantung Daniel semakin sakit seperti ada seekor gajah yang sedang goyang dumang di jantungnya. Laksmi sangat cantik dan anggun dengan balutan gaun malam berbahan beludru dengan warna hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang sudah cerah bersinar. Laksmi menghampirinya dengan wajah yang masih terlihat arogan dan dingin. Tapi tidak dengan Daniel. Dia justru tidak melihat wajah arogan nan terkesan jutek itu. Daniel melihat wajah Laksmi itu sungguh membuat dirinya tergila-gila.
"Laksmi wajahmu itu bohlam lampu apa bukan sih?" tanya Daniel dengan ternganga.
"Bohlam lampu, maksudmu?" tanya Laksmi heran.
"Soalnya mataku silau banget karena lihat wajahmu begitu terang," jawab Daniel mencoba menggombal.
"Apaan sih, enggak lucu!" seru Laksmi sambil memukul dada Daniel dengan hand bag-nya.
Daniel hanya tersenyum kecut menerima pukulan Laksmi. Ternyata gombalannya tidak membuat Laksmi tersenyum.
"Mahal sekali senyuman itu Laksmi," batin Daniel dalam hati.
Daniel kemudian segera berjalan beriringan dengan Laksmi menuju depan gedung hotel. Dimana sudah terparkir mobilnya Si Mulus hadiah bonus dari Raka. Ternyata doanya bersama Raka tempo dulu manjur juga. Kalau dia akan membawa Laksmi dengan Si Mulus.
Sampai di dalam mobil, Daniel sempat melihat dulu wajah Laksmi yang masih saja cuek.
"Kau mau makan di mana?" tanya Daniel sebelum dia menyalakan mobilnya.
"Terserah," jawab Laksmi tanpa melihat wajah Daniel.
"Kalau makannya di kafe temanku kamu mau?" tanya Daniel.
"Terserah," jawab Laksmi.
"Atau ke resto langgananku bagaimana?"
"Terserah."
Daniel menarik napas panjang karena jawaban Laksmi yang terkesan malas.
"Kalau aku nyium kamu?"
__ADS_1
"Terserah, eh apa?" kata Laksmi terkejut karena mendengar ucapan jebakan Daniel.
"Asyiik, kamu sudah bilang terserah tadi ya, aku pokoknya mau nyium kamu," kata Daniel mulai nyosor.
Duuuuunnng
Lakmsi langsung menoyor kepala Daniel.
"Habisnya kamu bilang terserah mulu, aku pancing pake nyium juga, kamu masih bilang terserah."
"Jangan nyosor dong Niel. Aku enggak suka sama laki-laki yang nyosor duluan," kata Laksmi marah.
"Becanda sayang, eh Laksmi. Ooooooooohh jadiiii kamuuuu enggak suka laki-laki yang nyosor duluan, pantaslah kalau kamu suka nyosor duluan. Dulu juga di Berlin kamu nyosor aku duluan. Tapi aku enggak protes tuh," kata Daniel sambil terkekeh dan mulai menyalakan mobilnya. Dia melirik wajah Laksmi yang semakin kesal. Saking kesalnya dia membuang muka ke jendela samping.
"Kamu kan calon istriku, jadi jangan kaget ya, kalau aku nyosor duluan," ancam Daniel sambil terus menahan tawanya.
Laksmi hanya mendengus kesal dan terlihat tak mau menanggapi ucapan Daniel. Daniel tidak tahu dan tidak melihat kalau dirinya tersenyum sebenarnya. Hanya saja gengsinya terlalu tinggi untuk menampilkan senyumannya itu di depan Daniel.
"Laksmi, kok malah diem, kamu enggak tidur kan?" tanya Daniel masih menyetir tapi dia tidak mendengar suara apa pun dari Laksmi.
"Mendingan kamu lihatin mukaku, supaya anak kita nanti miripnya sama papanya." Kembali lagi Daniel mencoba mengambil perhatian Laksmi.
"Muka papanya jelek, jadi jangan harap bisa mirip denganmu," jawab Laksmi judes.
"Kok jelek, orang banyak yang bilang aku mirip Oppa Korea yang ganteng. Si Shanum aja keponakan Ajeng bilang aku mirip Kim Tae Hyung BTS." Sengaja Daniel membual nama itu, karena dia pernah denger dari Shanum kalau nama itu adalah orang yang tampan katanya. Hanya saja dia belum sempat searching di Gooble.
"Ppffhhhhhhh ...." Terdengar suara tawa dari Laksmi. Dan sumpah itu membuat wajah Daniel sangat sumringah. Bagaimana tidak senang, dia belum pernah melihat senyuman Laksmi. Tapi tadi dia mendengar suara tawa tertahan dari Laksmi. Apakah ucapannya sangat lucu sehingga Laksmi menjadi tertawa.
"Kok kamu ketawa Beb?" tanya Daniel malah memanggil dengan Bebeb.
"Kim Tae Hyung darimana kamu, enggak ada mirip-miripnya. Kamu tuh lebih mirip ke Kim Soo Hyun," kata Laksmi sekarang menatap wajah Daniel sambil tertawa.
"Siapa, Kim Soo Hyun?" tanya Daniel tak tahu.
"Ada deh," kata Laksmi tersenyum menawan. Daniel merasa tubuhnya disirami air hangat ketika melihat senyuman Laksmi yang begitu indah.
"Nah gitu dong senyum, kan enak dipandang mata. Daripada wajahnya kayak lemari es. Lebih cantik kalau senyum." Daniel merasa puas dan bahagia melihat Laksmi bisa tersenyum.
Mendengar itu Laksmi lansung menatap wajah Daniel yang kembali fokus ke depan jalan. Laksmi menatap wajah Daniel yang entah kenapa sejak turun dari kamarnya, laki-laki itu sudah membuatnya secara tak sadar tersenyum. Meskipun dia harus tersenyum sembunyi-sembunyi. Dan pujian Daniel barusan tentu membuat hatinya terasa hangat.
"Awas, jangann lihatin mukaku Beb. Nanti kamu bisa melubangi pipiku dengan sinar laser dari matamu!" kata Daniel.
__ADS_1
Laksmi tersenyum kembali mendengar ocehan Daniel. Dia pun segera memalingkan wajahnya ke depan jalan, tak mau terlalu tenggelam dalam pesona Daniel. Dia masih belum bisa sepenuhnya membuka hatinya untuk Daniel. Meskipun Daniel terlihat tulus padanya. Tetap saja Laksmi belum terlalu yakin Daniel bisa membuat papanya merestuinya. Laksmi tidak ingin menikah dengan calon pilihan papanya itu. Dengan kondisinya yang sekarang ini, memang hanya Daniel-lah juru selamatnya. Laksmi tak mau keluarga besarnya malu kalau rupanya dia sudah mengandung seorang bayi dari laki-laki lain.
"Niel, kamu tidak merasa keberatan jika aku memintamu bertanggung jawab?" tanya Laksmi serius.
"Keberatan gimana, aku orangnya bertanggung jawab kok," kata Daniel tetap tidak kehilangan fokusnya menyetir.
"Kita kan melakukan itu tanpa cinta Niel. Itu karena pengaruh ketidaksadaran," kata Laksmi mencoba ingin tahu jawaban jujur dari Daniel.
"Kamu yang tidak sadar, tapi aku sadar kok. Aku juga menginginkannya." Daniel terdengar gemetaran mengatakannya. Seperti menyatakan perasaannya langsung pada Laksmi.
"Huh," seru Laksmi mendengus. Daniel hanya mengingikan bukan karena perasaannya.
"Kamu tenang aja, aku akan menjadi yang terbaik untukmu Beb. Jangan terlalu dianggap sulit. Kamu cukup memberiku senyuman setiap hari dan sejumput cinta. Tak usah banyak-banyak dulu. Kamu boleh mengangsur cintamu padaku. Tapi cintaku padamu aku bayar lunas tanpa cicil," kata Daniel membuat Laksmi kembali lagi tertawa. Kali ini lebih keras dibandingkan dengan yang tadi.
"Aku serius Beb, bukan lagi menggombal," sambung Daniel merasa kalau Laksmi sudah mengiranya sedang menggombal.
"Kalau aku harus mengangsur cinta sama kamu, berapa tenornya?" tanya Laksmi dengan suara tawa yang tertahan.
"Seumur hidup."
Laksmi terkejut mendengarnya.
"Wah sampai aku nenek-nenek cicilan ku belum lunas?" tanya Laksmi.
"Iya, sampai nenek-nenek, dan sampai aku mati."
Laksmi hanya bengong mendengar ucapan Daniel yang seperti itu. Entah kenapa Daniel yang ceplos-ceplos itu tak disangka akan memberinya sebuah jawaban seperti itu.
Curhat author :
Kalian masih ingin cerita ini dilanjut di sini enggak?
__ADS_1