
"Jeng, sebelum ke rumah Bang Gor, kita mampir dulu ke rumah ya!"kata Raka saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kenapa emangnya Kak?"tanya Ajeng.
"Hehee, ada yang penting dulu," jawab Raka, padahal dirinya akan berniat ganti seluruh pakaiannya yang sudah tidak nyaman dipakai.
Ajeng hanya menjawab, "Ya." Lalu Raka segera melajukan mobilnya menuju rumahnya, dia sudah tidak tahan dengan rasa gatal itu.
Ajeng hanya memperhatikan Raka yang terlihat resah seperti ada yang menganggunya. Hanya saja Ajeng pura-pura tidak melihatnya. Dia sibuk melihat jalanan Jakarta yang sudah lama tidak dia lihat.
Sementara Raka mencoba untuk bersikap cool dan gentelman meskipun dia dalam keadaan yang sangat tersiksa.
Sampai di depan rumah Raka. Dia pun segera turun dari mobilnya dan segera membuka pintu rumahnya. Disusul Ajeng yang turun dari mobil.
"Sayang aku ke kamar dulu, kamu santai-santai dulu aja ya!" kata Raka sambil berlari menuju lantai atas menyisakan Ajeng yang keheranan melihat Raka yang seperti kebelet pipis.
Ajeng kemudian masuk ke dalam rumah yang sempat dia tinggal bersama Raka, perasaannya sedikit bergetar karena dia kembali masuk ke dalam rumah ini. Rumah yang kembali mengingat orang-orang yang pernah membuat dirinya menangis. Nenek Sarah. Ajeng kemudian memperhatikan keadaan rumah setelah dia tinggalkan. Tidak ada yang berubah, masih seperti dulu. Ajeng pun duduk di sofa sambil menopang kaki. Perlahan dia melihat anak tangga menuju lantai dua. Ajeng pun dibuat penasaran. Seperti apa kamar dia yang dulu. Ajeng kemudian naik anak tangga perlahan sampai lantai dua.
Melihat pintu kamarnya dulu sedikit terbuka. Ajeng pun kemudian penasaran dan ingin mengecek keadaan kamar Raka dan kamarnya dulu. Apakah masih sama seperti dulu.Perlahan dia membuka sedikit lebar pintu kamar itu. Dan betapa terkejutnya Ajeng melihat Raka yang sudah berdiri di depannya.
"Kamu nyusul ke sini Yang?" goda Raka yang sekarang sudah berganti baju lagi.
"Ah aku cuma pengen lihat kamar, masih kayak dulu atau enggak," jawab Ajeng sedikit gugup. Takut niatnya itu disalahartikan oleh Raka.
"Masuklah," kata Raka sambil menarik tangan Ajeng masuk ke dalam kamar.
"Kamar kita masih kayak yang dulu, belum dirubah-rubah kok Sayang,"kata Raka.
Ajeng kemudian berjalan mengelilingi sudut kamar sambil menatap semua benda-benda di kamar itu. Sebenarnya lebih tepat melarikan diri dari tatapan Raka yang sedang dilanda kabut hasrat.
"Kamu masih nyimpan foto ini Kak?" tanya Ajeng menunjukkan sebuah bingkai foto dirinya dan Raka sebelum menikah. Foto itu di ambil ketika di halaman depan rumah orangtua Raka. Dan saat itu Raka belum bisa berjalan lagi karena kecelakaan itu.
"Masih dong, itu kan saat kita sebelum menikah," jawab Raka kemudian mendekat ke Ajeng.
"Kak, kok lemari ini belum diganti sih?" tanya Ajeng beralih ke lemari. Dia hanya ingin menghindar dari Raka yang sepertinya sudah siap menerkamnya.
"Kenapa, kamu mau diganti yang lebih besar, tenang saja. Aku akan belikan lemari yang besar khusus untuk baju-bajumu nanti," sahut Raka sambil tersenyum simpul. Rupanya dia tahu kalau Ajeng hanya mengalihkan perhatian Raka.
"Kalau bisa tempat tidurnya diganti juga dengan yang lebih besar!" kata Ajeng tetap berusaha mengalihkan agar Raka tidak aneh-aneh.
"Itu sih gampang, asal yang mau nempatinnya kapan bisa tinggal di sini lagi?" tanya Raka langsung membuat Ajeng tak berkutik.
"Itu, heehe ... kita lihat saja nanti," jawab Ajeng masih dengan penuh misteri.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita berangkat Yang!" kata Raka menarik pundak Ajeng untuk meninggalkan kamar. Raka akhirnya mengajaknya keluar kamar. Entahlah kalau berlama-lama di kamar, rasanya beda lagi. Takutnya dia tidak bisa mengendalikan dirinya di saat yang belum tepat.
Ajeng pun tersenyum dan menarik napas lega. Dia pun merangkul pinggang Raka dengan mesra berjalan menuju lantai bawah.
"Sayang, masa kita ke rumah Bang Gor, enggak bawa apa-apa. Apalagi tahu kamu pulang dari LA," kata Raka.
"Oh aku sudah maketin sih seminggu yang lalu, kayaknya sudah mereka terima hari ini atau kemarin."
"Oh begitu, kalau begitu kita beli duren aja deh sebagai barang bawaan ke sana."
"Ok sip. Aku udah lama enggak makan duren Kak," kata Ajeng dengan wajah yang terlihat senang.
Raka tersenyum melihat wajah cerah di sampingnya. Dia merasa mimpi kalau sekarang dia sedang bersama dengan Ajeng.
*** *** ****
"Nyeeeeeet, its that youuu?" teriak Arya. Entah kenapa dia menjadi sok English. Dia lupa kalau burungnya dalam sangkar meloncat-loncat gara-gara sarangnya yang dijatuhkan olehnya.
"Bang Gorrrr,Ajeng pulang Bang," teriak Ajeng langsung berlari menuju abang satu-satunya. Entah kenapa Raka yang melihat itu seperti dalam sebuah sinetron yang menayangkan dua orang yang bertemu lagi setelah sekian lama dengan suara backsound cicitan burung Bang Gor yang protes karena sangkar burungnya belum dibetulkan.
"Bang, Ajeng kangen Abang, kangen Mbak Merry, hikkkzz," sedu sedan Ajeng yang terharu dengan pertemuannya.
"Its really my beloved sister. Ai ken belipid," jawab Arya masih berusaha bicara bahasa Inggris dan itu hanya membuat Raka terpingkal.
"Hei Tung, way yu sten upder, tek may berd incu de hos, en kep in behain hos," ucap Arya kurang lebih artinya seperti ini. "Hey Tung, berdiri aja loe disitu, bawaain burung gua ke dalam, taro di halaman belakang!" seru Bang Arya menghentikan kegiatan Raka yang sedang menonton pertunjukkan pertemuan adik kakak itu.
"I-iya Bang," jawab Raka patuh. Seorang Presdir Hotel Mahesa begitu patuh dengan titah sang kakak ipar.
"Bang, lagi hobi baru nih, miara burung?" tanya Raka kemudian memungut sangkar burung berwarna biru metalik itu. Seekor burung cantik berwarna merah dan kuning langsung bercuit ria kesenangan ketika Raka mengangkat sangkar itu dari posisi terbalik.
"Bukan hobi baru sih, permintaan si Shanum yang kepengen punya lovebird, dan ngambek kalau enggak dibeliin," jawab Arya.
"Wah, Shanum bisa ngambek juga ya, bagaimana rupanya kalau dia lagi ngambek," sahut Raka penasaran.
"Jangan mau tahu dan lihat, yang ada loe bakal stress," jawab Arya sambil merangkul Ajeng masuk ke dalam.
"Yang Ajeng pulaaaang!" teriak Arya memanggil istrinya.
Merry pun keluar dan langsung menjerit histeris melihat Ajeng. Mereka pun berpelukan saling melepas rindu.
__ADS_1
Sementara Raka sibuk membawa sangkar burung ke dalam dan menyimpannya sesuai dengan intruksi Arya tadi. Lewat dapur dia melihat Shanum yang sedag duduk di meja makan sedang menulis.
"Shanum, Om Raka datang sama Tante Ajeng lhoo!" seru Raka.
Shanum kemudian melirik ke arah Raka dengan tatapan jutek. Raka langsung kaget melihat Shanum yang seperti itu. Jangan-jangan emang lagi ngambek.
"Shanuuuum!" seru Ajeng masuk ke dapur dan Shanum langsung menatap Ajeng. Sedetik dua detik dia masih tidak mengenal Ajeng. Tapi setelah dia ingat kalau itu adalah Tantenya. Langsung turun dari kursi dan berlari menuju Ajeng. Ajeng langsung mengendong Shanum dan menciuminya bertubi-tubi membuat Raka sekejap merasa iri,andai yang diciumnya adalah Raka. Dia merasa familiar sekali dari cara Ajeng memeluk dan menggendong Shanum.Ya dulu dia pernah melihat Ajeng melakukan hal yang sama pada Gea.
"Tante Ajeng pulang sama Om Raka," kata Shanum sambil menatap tajam Raka.
Srreeeeeet
Entah kenapa tatapan Shanum seperti sebilah samurai yang membelah tubuhnya. Ada apa dengan tatapan itu.
"Tante cuma berdua aja sama Om?" tanya Shanum.
"Iya emang kenapa?" tanya Ajeng heran. Seolah dia mengharapkan seseorang lagi yang datang bersamanya.
"Kan Shanum pernah bilang sama Om Raka, kalau kesini lagi harus ajak Om Baboon?"
Spontan Raka mengelus dadanya. Rupanya itu yang membuat tatapan Shanum setajam samurai. Gara-gara Baboon Kudaniel tidak ikut.
Ajeng yang mendengar Shanum menyebut Om Baboon menjadi tertawa. Sepertinya Shanum sangat suka dengan sekretarisnya Raka itu.
"Om Raka enggak bawa Om Baboon, tapi Om Raka bawa sesuatu buat kalian,"kata Raka sambil berjalan.
"Apaan?" tanya Shanum, Bang Gor kompak.
"Dureeeeeeeen."
__ADS_1
**** Lanjut ke Chap 61 ****