
Kevin Liu kemudian memandang wajah Daniel yang terlihat gugup dan pucat.
"Maaf jika kedatangan saya ini lancang, tapi saya bersungguh-sungguh ingin menikahi putri Bapak," ucap Daniel kemudian sambil menautkan jari-jari dari kedua tangannya. Jelas sudah kalau dia memang gugup.
"Sejak kapan kau mengenal Laksmi?" tanya Kevin Liu.
"Itu dua bulan yang lalu," jawab Daniel.
"Di mana kau bertemu pertama kali dengan Laksmi?" tanya Kevin Liu.
"Di LA," jawab Daniel dengan perasaan yang tak karuan. Tubuhnya berkeringat dingin karena tatapan dari Kevin Liu membuat dirinya sedikit gentar.
"Kenapa kau ingin menikahi putriku?" tanya Kevin Liu lagi. Cara dia berucap dan pertanyaannya sama persis seperti seorang detektif polisi.
"Karena aku ingin membahagiakan putri Bapak dan juga ingin membesarkan calon bayi ...." Daniel menelan salivanya untuk bisa melanjutkan ucapannya. Apakah akan ada sebuah tamparan dan bogem mentah dari seorang Kevin Liu. Laki-laki berusia hampir lima puluh tahun lebih tapi tubuh dan staminanya sepertinya masih terjaga. Pasti kalau sebuah tamparan dan bogem mentah darinya akan terasa sakit. Usia mungkin seperti Bang Iwan Fals tapi tenaga pukulan dan bogem mentahnya bisa jadi masih seperti Iko Uwais.
"Calon bayi?" tanya Kevin Liu dengan sorot mata yang tajam.
"Eh-begini Pak, maksud saya itu, gimana ya ceritainnya," kata Daniel ragu. Dia melirik wajah Kevin Liu yang sudah terlihat angker dan horor.
"Apa kamu bikin anak saya hamil?" tanya Kevin Liu mulai menatap wajah Daniel dengan tatapan menusuk.
Mendengar itu, Daniel langsung turun dari sofa dan berlutut di depan Kevin Liu. Sementara papanya Laksmi itu sepertinya kaget melihat Daniel yang tiba-tiba berlutut.
"Maafkan saya Pak, saya khilaf, tapi saya akan bertanggung jawab. Untuk itu saya ingin menikahinya. Dan izinkan saya menjadi suami Laksmi," kata Daniel sambil menundukkan kepalanya. Dia sudah siap sekali menerima pukulan, tendangan, tamparan, atau bahkan sebuah benda terlempar ke wajah dan tubuhnya Daniel akan terima. Dia sudah siap menerima segala reaksi dari Kevin Liu.
"Apa kau menodainya, atau kalian melakukannya karena sama-sama suka?" tanya Kevin Liu.
"Kita melakukannya tanpa paksaan Pak ...." Daniel belum menyelesaikan kalimatnya namun tubuh jangkung kekarnya terasa diangkat. Apakah Kevin Liu sekarang sedang mengangkat tubuhnya.
Tubuh Daniel sekarang berdiri tegak di hadapan Kevin Liu. Daniel takut untuk melihat wajahnya, jadi dia hanya memejamkan matanya siap menerima tamparan Iko Uwais. Tubuhnya yang lumayan kekar saja bisa terangkat oleh Kevin Liu. Apalagi tamparan dan pukulannya yang akan mendarat di wajah suci tanpa noda milik Daniel. Daniel memejamkan mata sambil mengatupkan giginya. Bersiap kalau sampai tamparan dan bogem mentah Kevin Liu bisa menyebabkan giginya terlempar dari mulutnya.
Sedetik dua detik, tiga detik, sampai lima detik Daniel menunggu tamparan ternyata dia belum merasakan sesuatu yang mendarat di wajahnya. Daniel kemudian memberanikan dirinya untuk membuka kedua matanya. Pertama dia membuka sebelah matanya dan melihat wajah Kevin Liu yang sedang serius menatap wajah Daniel. Lalu baru Daniel memberanikan membuka kedua matanya. Dia melihat wajah Kevin Liu sedang menatap dirinya dengan ekspresi yang sulit Daniel pahami. Marah, kecewa, sedih, atau ....
Kevin Liu kemudian memeluk tubuh Daniel sambil berkata," Saya akan mengizinkanmu untuk menikahi putri berhargaku, terima kasih kau sudah membuatnya kembali."
__ADS_1
Daniel shock mendengar jawaban Kevin Liu. Apakah dia salah mendengar atau ini hanya mimpi.
"Buat dia kembali merasakan kebahagiaan, buat dia kembali lagi tersenyum, itu syarat yang kau harus penuhi jika kau ingin menikahi putriku Laksmi!" sambung Kevin Liu.
"Oh ...eh ... si-siap Pak, benarkah Bapak mengizinkanku?" tanya Daniel tak percaya dia melepaskan pelukan Kevin Liu.
"Tentu saja, aku sudah ingin punya menantu dan cucu," kata Kevin Liu sambil tersenyum.
"Te-terimakasih Pak, kalau begitu ... nanti aku akan menghubungi kedua orangtuaku dan melamar Laksmi secara resmi," ujar Daniel mengusap wajahnya. Perasaannya seperti melayang. Dia tak mengira kalau ternyata jalannya sangat mudah.
"Apa kalian saling menyukai?" tanya Kevin Liu.
"I-itu ...."
"Tidak mudah memang Laksmi membuka hatinya kembali untuk seorang laki-laki. Dia menjadi orang yang berbeda setelah calon suaminya meninggal karena kecelakaan. Sering menyendiri dan tak pernah terlihat ceria lagi. Bahkan sudah hampir lima tahun ini, dia tak pernah kembali lagi ke rumah. Saya dan mamanya sungguh berharap kalau Laksmi bisa melupakan tragedi itu dan kembali membuka hati untuk orang lain."
Daniel menyimaknya dengan baik. Dia juga mengetahui itu. Calon suaminya Shane meninggal karena kecelakaan mobil di menjelang hari pernikahannya. Itu merupakan pukulan terberat yang dialami Laksmi.
Kevin Liu tersenyum puas. Wajahnya terlihat penuh pancaran kebahagiaan yang tak bisa terlukiskan. Mungkin hal ini yang ditunggu olehnya.
"Beberapa orang memang datang ingin menikahi Laksmi, tapi ...."
"Tapi kenapa Pak?" tanya Daniel. Dia juga merasa kalau dirinya bukan siapa-siapa.
"Laksmi tidak pernah mau menerima mereka dan menolaknya," kata Kevin Liu.
Daniel juga merasakan keraguan. Apakah Laksmi juga akan menolaknya.
"Saya juga merasa kalau saya akan ditolak Laksmi." Daniel merasa kecil hati.
__ADS_1
"Tapi kalian sudah ... itu artinya Laksmi juga menyukaimu, kalau tidak, tidak mungkin kalian melakukan itu kan?" tanya Kevin Liu memukul bahu kekar Daniel sambil tertawa.
"Anak gadisku masih suci, tidak mungkin aku akan melepaskan kesempatan ini. Kau jangan sampai kabur sebelum Laksmi melahirkan!"
"I-itu tidak mungkin Pak, saya sudah mencintai Laksmi meskipun baru beberapa kali bertemu. Entahlah Laksmi sudah mengunci hati saya, saya tidak mungkin membuka hati saya lagi untuk perempuan lain." Keluarlah kalimat alay Daniel yang membuat Kevin Liu menjadi tertawa.
"Kita akan atur pernikahan kalian, sekarang aku akan menelepon putriku, kau tunggu sebentar!" kata Kevin Liu kemudian mengambil ponselnya.
Daniel menjadi dag dig dug mendengar kalau papanya akan menelepon Laksmi di jam ini. Bukankah di sana sudah tengah malam. Apa mungkin Laksmi akan menjawab teleponnya.
"Hey Princess, kamu sudah tidur?" terdengar suara Kevin Liu yang sudah tersambung dengan Laksmi.
Daniel merasakan ada percikan kembang api di hatinya saat dia mendengar sayup-sayup suara Laksmi. Meski bukan orangnya langsung, entah kenapa mendengar suaranya yang sayup-sayup dan tak jelas itu, Daniel rasanya ingin salto.
"Hmm, maaf papa ganggu kamu, papa ingin tanya sama kamu," kata Kevin Liu sambil menatap wajah Daniel yang terlihat seperti kepiting rebus. Dia kemudian sengaja mengubah mode suara menjadi loud speaker.
"Tanya apa Pa tengah malam ini, Laksmi harus istihat, besok Laksmi harus berangkat pagi sama Ajeng."
"Sebentar saja Nak, Papa mau tanya, apa kamu mau menerima lamaran seseorang?" tanya Kevin Liu.
"Apa, lamaran? Aduh Pa, sudah Laksmi bilang, Laksmi tidak mau menikah. Kenapa Papa tanyain ini lagi?"
Praaak. Hati Daniel seperti retak mendengar jawaban Laksmi.
"Beneran kamu menolak, kamu tidak akan menyesal nanti?" tanya Kevin Liu.
"Iya Pa, aku tak akan menyesal," jawab Laksmi tegas dan jelas.
Jleb. Kali ini jantung Daniel seperti ditusuk belati. Daniel memegang dadanya yang ngilu. Perkataan Laksmi barusan sangat menghujam jangtung dan hati Daniel sekaligus.
__ADS_1