
Raka sedang memandang tubuh bagusnya di cermin. Perut roti sobeknya yang selalu terjaga karena seminggu 3 kali selalu rajin nge-gym terlihat sempurna dia lihat. Sambil tersenyum dia melihat pantulan tubuhnya yang hanya berbalut handuk itu. Dia menunggu Daniel datang membawanya baju untuk makan malam romantis dengan Ajeng. Dan setelah makan malam, dia akan buka puasa setelah enam minggu empat hari lima belas jam. Raka kemudian menyemprotkan parfum Prancisnya ke seluruh tubuhnya. Dia tidak mau kalau Ajeng sampai komplen lagi dengan bau badannya itu.
Sudah hampir sejam Raka menunggu Daniel, sampai dia berlumut di kamar mandi di ruangan kantornya. Raka sampai merasa kesemutan berdiri lama-lama di kamar mandi dengan keadaan setengah telanjang.
"Pak Raka oh Pak Raka!" teriak Kudaniel di luar kamar mandi.
Raka segera keluar kamar mandi menuju ruangan kantornya untuk menemui Daniel dengan keadaan berpolos ria ( bagian bawah tentunya dibalut handuk).
"Huaaaa ... Kyaaa."
Terdengar suara teriaka perempuan menggema di ruangannya. Raka segera menutup tubuh bagian atasnya dengan kedua tangannya.
"Laksmi, kenapa kau ada di sini?" tanya Raka heran karena Laksmi datang bersama Daniel.
"Kenapa kau telanjang seperti itu di kantor Raka?" tanya Laksmi tak berkedip melihat tubuh Raka yang bagus itu. Daniel yang melihat itu langsung menghalangi pandangan Laksmi dan menutup Raka dengan tubuhnya. Sehingga Laksmi tidak bisa melihat pemandangan bagus dari roti sobek itu.
Sementara Daniel melotot tajam pada Laksmi. Entah mencoba melindungi bosnya atau dia merasa cemburu karena Laksmi terlihat sangat menikmati penampilan Raka yang setengah polos itu sampai tak berkedip kalau Daniel tak menjentrikan jarinya di depan wajah Laksmi.
Dibuyarkan dengan jentikan jari Daniel, Laksmi langsung menampilkan wajah arogannya di depan Daniel.
"Mana bajuku?" tanya Raka.
Daniel segera melempar paper bag ke arah Raka yang langsung ditangkap Raka.
"Apa semuanya sudah dibeli Niel?" tanya Raka untuk memastikan.
"Sudah Pak, Bapak cek saja!" jawab Daniel tak menggeser tubuhnya sedikit pun untuk menghalangi pandangan Laksmi yang tertuju ke arahnya dengan tatapan tidak senang karena menghalanginya.
Setelah Raka kembali ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya barulah Daniel kemudian menarik tangan Laksmi dan membimbingnya untuk duduk di sofa.
"Kamu jangan ngiler gitu dong liat badannya!" ucap Daniel dengan nada tidak suka.
"Siapa yang ngiler. Kau jangan mengada-ada!" balas Laksmi sambil mengibaskan rambutnya.
__ADS_1
Melihat wajah Laksmi dengan sikapnya yang dingin dan arogan membuat Daniel ingin sekali mencubit pipinya yang benar kata Ajeng mulai chubby karena sering makan. Daniel refleks melihat perut Laksmi yang saat ini sedang memakai dress selutut yang sangat cocok dengan warna kulitnya. Perutnya belum terlihat membesar memang. Tapi Daniel merasakan kehadiran Daniel Juniorsebentar lagi.
"Lagian kenapa kamu ajak aku ke sini?" tanya Laksmi sambil melihat-lihat isi ruangan kantor Raka.
"Biar kamu nemenin aku dulu sambil ngasih baju buat Pak Raka, sekalian kamu juga harus tahu tempat kerja calon suamimu!" kata Daniel sambil tersenyum.
"Calon suami." Pandangan Laksmi berubah menjadi tatapan yang sepertinya mengekspresikan mual dan jijik.
"Iya, kamu kan ingin aku menikahimu," tanya Daniel.
"Iya sih, tapi sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan juga padamu ....."
"Danieeeeeeell!" terdengar suara teriakan Raka di dalam kamar mandi.
Tergopoh-gopoh Daniel mendatangi pintu kamar mandi.
"A-ada apa Pak?" tanya Daniel gugup.
"I-itu karena aku tidak tahu ukuran pusaka Bapak, eh maksudnya aku tidak tahu ukuran celana dalam Bapak," sahut Daniel gelagapan sambil membayangkan celana dalam itu kekecilan dan ketat.
"Terus gimana ini Babooon kurang ajar ya memang dasar kamu, kamu bisa beli lagi enggak?" kata Raka masih dengan cara berteriak.
"Ma-maaf Pak, sepertinya tidak bisa. Lebih baik Bapak pakai aja dulu yang itu, cuma buat makan malam doang kan Pak, nanti habis juga kan Bapak lepas lagi. Kan mau buka puasa," sahut Daniel sambil menahan tawa geli.
"Awas ya kamu Niel, kalau sampai barang pusakaku lecet sebelum buka puasa. Kamu saya sunat. Kamu kan belum sunat!" teriak Raka. Dia juga tidak punya pilihan. Menyuruh Daniel kembali lagi untuk membeli celana dalam lagi sama saja dia harus menunggu lama lagi.
Daniel tidak menjawab karena dia sudah kembali menghampiri Laksmi yang sedang menunggunya.
"Pak Raka sama Nyonya Ajeng mau dinner di sini, apa kita juga sekalian dinner romantis juga?" tanya Daniel dengan sikap yang manis di depan Laksmi.
"Oke, memang ada yang ingin aku sampaikan padamu sebelum besok kita ketemu sama Papaku," jawab Laksmi.
"Siplah," kata Daniel sambil menahan senyum karena Laksmi belum tahu siapa yang dimaksud Papanya itu. Lelaki yang melamar dan ingin menikahi Laksmi adalah dirinya sendiri.
"Tapi aku tidak mau di restoran hotel ini, aku ingin sebuah cafe biasa aja yang nyaman untuk ngobrol," ucap Laksmi tapi dia tidak menatap wajah Daniel sekali pun. Sungguh cuek dan dingin.
"Baiklah terserah kamu saja," jawab Daniel.
__ADS_1
Laksmi kemudia berdiri dan disusul Daniel untuk siap-siap berangkat ke kafe. Dan saat itulah Raka keluar dari kamar mandi dengan wajah yang merah.
"Pak saya mau pergi makan malamnya di kafe saja," kata Daniel.
"Daniel aku kurang merasa nyaman ini," keluh Raka dengan wajah yang seperti sedang menahan sesuatu.
Daniel dan Laksmi memperhatikan sikap Raka yang tak biasa. Kedua kaki Raka nampak melengkung dan seperti sedang menahan sesuatu di balik celananya yang dipakai.
"Apa Bapak baik-baik saja?" tanya Daniel merasa khawatir.
Raka kemudian terlihat menarik celana bagian belakangnya yang terasa ketat. Ekspresi dan cara menarik celana dalam yang nyangkut di belahan bokongnya itu sangat lucu. Raka tampak kesakitan dan berulang kali menarik celana dalamnya yang terasa nyangkut ini dengan wajah yang terlihat tersiksa.
"Niel, gimana aku bisa makan malam dengan nyaman dengan Ajeng kalau terus cemas seperti ini?" kata Raka.
"Bapak khawatir kenapa?" tanya Daniel.
"Bukan cemas khawatir. Tapi CEMAS, Celana Masuk ke sini terus!" kata Raka sambil menarik dan mencoba melonggarkan celana di balik celana panjangnya. Daniel dan Laksmi hanya bisa menahan tawa melihat Raka yang tersiksa terus-menerus menarik celana yang nyangkut itu karena kekecilan sehingga membuat bagian celana dalamnya itu nyangkut di lubang analnya.
"Ma-Maaf Pak, habisnya gimana dong Pak?" tanya Daniel.
"Apa kau punya solusi selain memaksa aku harus memakai dalaman yang kekecilan ini?" tanya Raka dengan wajah yang memang sudah sangat tersiksa dengan celana kecil dan ketat itu.
"Eng ....Bapak kan punya sarung yang biasa Bapak pakai buat sholat, pakai itu saja pak!" kata Daniel dengan wajah Albert Einstein yang baru saja menemukan sebuah teori energi.
"Kau pikir aku budak mau disunat," balas Raka sambil hendak memukul Daniel tapi tidak jadi.
Laksmi kemudian membalikkan badannya agar senyum dan tawanya tidak terlihat oleh kedua orang yang kini sedang beradu argumen tentang sarung. Laksmi kemudian berniat untuk memberi tahu Ajeng. Dia pun keluar dari kantor Raka.
Bersambung ...
Author meminta maaf jika sampai saat ini belum bisa update beberapa bab dan hanya bisa satu bab. Karena author punya banyak anak. Extraordinary Ex ini adalah anak ketigaku. Dan aku masih fokus anak ke satu ku yang masih butuh perhatian lebih dulu.Tapi Author usahakan untuk update tiap hari. Semoga kalau ada waktu bisa update 2 -3 bab sehari lagi.
__ADS_1
Terimakasih, jangan lupa like, koment dan vote ya.