Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Syarat Dari Bang Gor


__ADS_3

Sebenarnya malam itu Raka sudah tidak sabaran untuk mengajak Ajeng pulang. Namun sepertinya dia harus lebih lama lagi karena Bang Gor belum selesai mengatakan apa yang harus dia katakan pada Raka.Dan setelah sempat terpotong acara *reality*show "ritual panggilan alam" akhirnya Bang Gor kembali di tengah-tengah mereka semua. Tapi minus Daniel dan Laksmi, mereka sudah pulang duluan saat Bang Gor masih menuntaskan hajatnya di toilet, mereka berdua pamitan untuk segera pulang.


 


 


"Bang Gor, kali ini yang serius Bang!" kata Raka memohon pada Bang Gor yang terkadang tidak bisa ditebak saat serius dan bercandanya.


"Iya, gue kali ini serius ngomongnya Tung, makanya loe perhatikan dan jangan sampai loe cuma dengar dari telinga kanan dan keluar ke telinga kiri!" ucap Arya dengan wajah yang dia pasang serius.


 


 


Dan melihat wajah Arya yang sudah seperti itu, Raka hapal. Itu artinya Bang Gor dalam keadaan yang benar-benar serius tanpa embel-embel candaan atau lelucon. Jadi sebisa mungkin Raka harus serius menanggapinya. Kalau tidak Bang Gor akan terus mendzoliminya sebagai kakak ipar.


 


 


"Ini adalah rencana loe yang kedua kalinya bersama Ajeng. Dan gue enggak mau kalau ini gagal lagi. Gue enggak mau Ajeng disakiti dan terluka lagi dengan keluarga loe. Jadi syarat dari gue adalah ...."


 


 


Raka mendengarkannya dengan duduk sikap sempurna. Persis anggota Pramuka yang sedang mengikuti Pelatihan Dasar Pramuka.


 


 


"Syarat Abang apa?" tanya Raka mengulangi.


"Gue mau Ajeng menjadi satu-satunya Nyonya Mahesa. Segala apa pun yang loe punya, harus atas nama Ajeng. Dan ini untuk mencegah kalau Ajeng bisa disakiti dan dilukai lagi oleh anggota-anggota keluarga loe yang lain, apa loe bersedia?" tanya Arya.


 


 


"Tentu Bang, aku akan lakukan itu tanpa Abang dan Ajeng minta. Bahkan semua aset peninggalan Papaku juga akan aku urus atas nama Ajeng," jawab Raka tanpa harus berpikir panjang.


 


 


"Abang, kenapa ngomong begitu?" tanya Ajeng yang kelihatannya tidak setuju dengan syarat Abangnya itu.


 


 


"Gue enggak mau, adik gue ngalamin kehancuran hidupnya untuk kedua kalinya. Kalau semua aset atas nama milik Ajeng. Setidaknya Ajeng punya kekuatan dan derajat di mata keluarga loe!"tandas Arya.


 


 


"Bang, tidak gitu juga kali!" kata Ajeng tidak menerima syarat itu.


 


 

__ADS_1


"Denger ya Tung, gue dan Ajeng sebenarnya bukan orang yang gila harta dan matrealistis, tapi kami juga tidak mau direndahkan," kata Arya.


 


 


"Bang, justru kalau kata Ajeng, kalau Raka mengatasnamakan asetnya dengan nama Ajeng, sudah pasti keluarganya akan menganggap kita matre," ucap Ajeng dengan nada yang sedih.


 


 


"Jeng Sayang, dengerin aku. Kau jangan punya pemikiran jelek seperti itu, pokoknya aku memang sudah niat dari awal untuk memberikan semuanya untukmu," kata Raka sambil memegang dagu Ajeng.


 


 


"Baguslah kalau begitu, gue bisa lega dan tenang sekarang. Dan satu lagi ..." ucap Arya.


"Katanya satu Bang, Abang maruk juga," kata Raka sambil tertawa.


"Dengerin dulu, kalau enggak mau aku sabet pake sarung!" kata Arya gendek.


"Ampun Bang, iya Bang, nih aku dengerin, lanjutin Bang ngomongnya!" kata Raka.


 


 


Arya kemudian menarik napas panjang dulu sebelum dia melannjutkan lagi bicaranya.


 


 


 


 


Mendengar penjelasan Arya yang panjang lebar seperti itu, tentu saja membuat mulut Raka menganga. Kalau saja Ajeng tak membantu menutupnya kembali mungkin dia akan tetap dalam posisi sama. Dia terlalu takjub dengan cara bicara Arya. Belum lagi isi penjelasan yang disampaikan oleh Arya. Raka cukup heran juga dengan permintaan lain abang iparnya itu. Bagaimana mungkin dia melarangnya untuk memberikan dan membelikan barang-barang padanya.


 


 


"Bang, kenapa Abang menolak pemberian aku?" tanya Raka merasa aneh.


 


 


"Gue masih bisa beli sendiri dan gue juga tidak mau orang-orang memandang keluarga gue dan Merry hanya sebagai keluarga yang selalu mengandalkan loe. Loe pasti cukup pintar lah buat memahami apa yang gue maksud," jawab Arya.


 


 


"Bang Gor egois!" semprot Ajeng marah.


"Lho kok egois?" tanya Arya menatap wajah adik ter-unyunya itu.


"Abang nyuruh dia ngasih seluruh asetnya sama Ajeng. Tapi kenapa Abang sendiri yang menolak dan menghindari itu. Ajeng juga enggak mau Bang. Ajeng tidak mau memiliki banyak harta dan aset. Ajeng juga ingin kayak Abang dong!" teriak Ajeng penuh emosional.

__ADS_1


 


 


Raka hanya bisa melongo menyaksikan keributan ini. Dia baru melihat ada orang yang ribut karena tidak mau diberi harta dan materi. Selama ini yang dia tahu dan yang dia bayangkan, kebanyakan orang akan berusaha untuk mendapatkan harta dan materi dengan cara apa pun. Tapi kedua adik kakak ini malah membuat semua harta dan materi yang dia miliki tidak ada nilai dan harganya sama sekali. Buktinya mereka berdua tidak ingin menikmati semua fasilitas dan materi yang semisalnya Raka berikan.


 


 


"Nyet jangan rusuh deh loe, di masa depan kan loe bakal punya banyak anak. Tentunya materi dan aset itu akan menjadi milik anak-anak kalian berdua. Jadi kata siapa itu bisa jadi milik loe selamanya?" jawab Arya.


 


 


Ajeng hanya termenung mendengar ucapan Arya yang membuatnya menjadi teringat lagi. Teringat kalau dia seharusnya sudah mempunyai anak sebesar Shanum. Dan seharusnya mungkin saat ini Ajeng sudah seharusnya memiliki anak yang kedua.


 


 


"Sayang, sudah jangan banyak debat lagi. Pokoknya seminggu lagi kita akan menikah. Dan semua yang diminta Abang Gor akan aku penuhi setelah kita menikah nanti," kata Raka sambil memeluk bahu Ajeng.


 


 


"Ya sudah, buruan pulang sono udah malam, gue dan Merry masih harus ada aktivitas lain!" usir Arya tak tahu malu mengatakan secara gamblang kalau ada aktivitas lain dengan Merry.


 


 


Raka dan Ajeng hanya mesem-mesem mendengar ucapan Arya yang mengusir mereka secepat mungkin.


 


 


"Baik Bang, kalau begitu kita pulang sekarang. Kami juga harus melakukan aktivitas menyenangkan ..."


 


 


Taaakkkk.


 


 


Arya menjitak kepala Raka dengan sedikit keras.


 


 


"Awass loe, gue sunat lagi kalau loe sampe nyakitin adik gue lagi!" ancam Arya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2