
Raka tak tahan lagi dengan situasi seperti ini. Dia pun menerobos kerumunan orang-orang yang masih meminta tanda tangan dan foto bareng dengan Ajeng. Lalu dia menarik tangan Ajeng dan segera mengajak Ajeng agar Ajeng bisa ikut bersamanya pergi dari tempat itu.
"Maaf ya semuanya, aku harus ajak Ajeng pergi dulu, karena ada urusan mendadak," ucap Raka mencoba membelah kerumunan orang itu.
Ajeng hanya bisa tersenyum dan meminta maaf pada orang yang belum sempat kebagian tanda tangan dan foto bareng dengannya.
Setelah jauh dari kerumunan para penggemar, Raka menarik napas lega sambil melihat wajah Ajeng yang terlihat lelah.
"Enggak percaya kalau sekarang aku punya istri yang tenar," sungut Raka sambil memandang Ajeng yang menatapnya dengan senyuman puas.
"Apa kau bahagia?" tanya Raka penasaran dengan perasaan Ajeng setelah mengalami hal seperti ini.
Ajeng tidak menjawabnya. Dia hanya menarik lengan kekar Raka lalu mengajaknya berjalan menuju parkiran.
"Jadi artis terkenal internasional loh, A.J Agustine. Woooow banget!" seru Raka. Entah bangga atau kesal dengan nada suara Raka seperti itu.
"Kenapa kamu Kak?kayaknya kamu enggak senang kalau aku banyak penggemar?" tanya Ajeng menangkap aura negatif dari nada ucapan Raka.
"Ya jelas senang lah. Tapi aku pasti tidak senang kalau sampai penggemarnya laki-laki," jawab Raka dengan nada ketus.
"Kenapa tidak senang, mereka juga kan penggemar," jawab Ajeng pura-pura tidak paham dengan sifat cemburu yang dianut Raka sekarang.
"Ya, takutnya kalau mereka enggak sopan sama kamu bagaimana? Aku kan tidak mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa dan digrepe-***** sama mereka," jawab Raka memberikan alasan.
"Ya enggak bakalan lah Kak, aku juga bakal jaga diri dan bisa melindungi diri kalau ada orang yang berbuat macam-macam sama aku," kata Ajeng mencoba membuat Raka pengertian padanya.
"Yang, tapi benaran ya, aku ngerasa kalau kamu lebih terkenal dari ini. Mungkin aku merasa tersiksa," kata Raka jujur.
Ajeng kemudian diam terpaku dan menatap wajah Raka yang menatapnya dengan sorot mata yang sendu. Ajeng tahu dan paham ketakutan Raka seperti itu.
"Kamu tenang saja Kak, aku tidak akan mengecewakanmu dan menyakiti perasaanmu dengan jalan yang aku pilih ini,"kata Ajeng sambil mengusap-usap tangan Raka yang sekarang kini berada dalam genggamannya.
Raka mencoba tersenyum ikhlas memahami apa yang diinginkan Ajeng. Dan Raka tidak berani lagi terlalu jauh untuk menghalangi apa yang ingin dijalani Ajeng sebagai artis.
"Aku lapar Kak, bagaimana kalau kita makan?" kata Ajeng mengajak Raka agar bisa sedikit beranjak dari situasi kurang enak karena masalah penggemar tadi.
"Oke,kamu mau makan di mana?" tanya Raka kemudian membuka pintu mobil Daniel.
"Di rumah."
"Apa?" tanya Raka.
"Iya, di rumah kita. Aku sudah lama tidak mencicipi nasi goreng khas Bangka Tamse," jawab Ajeng.
"Bangka Tamse?" tanya Raka sambil mengernyitkan alisnya. Tidak tahu nasi goreng siapa yang dimaksud.
"Iya, itu loh, nasi goreng Bangka Tamse. Bang Raka Tampan Sekali dengan bumbu spesial," jawab Ajeng sambil menahan tawanya. Karena baru kali ini dia bisa menggombal.
Raka yang sudah duduk di belakang setir langsung saja menoleh ke wajah Ajeng sambil tertawa manis karena gombalan Ajeng tadi sukses membuat dia sedikit terbang.
__ADS_1
"Baiklah, kita ke rumah. Aku akan buatkan AJ Agustine nasi goreng Indonesia dari Sutradara terkenal Raka Mahesa yang ..."
"Mantan Kak, Mantan Sutradara terkenal, hhihihih," ejek Ajeng meralat ucapan Raka tadi.
Dan Raka berhenti bernapas sebentar. Dia seperti merasakan dejavu, dia seperti pernah mendengar ucapan Ajeng barusan. Tapi, ya sudahlah dia tidak mau memikirkan. Yang penting dia akan menuju pulang ke rumah bersama Ajeng. Dan yang jelas kalau dia pulang ke rumahnya, dia bisa lebih beromantis-ria lagi bersama Ajeng di sana tanpa ada gangguan.
Bahkan Raka lupa kalau dia meninggalkan Daniel yang kini tengah menemani Laksmi yang terbaring sakit.
**** **** ***
Daniel duduk di kursi samping tempat tidur Laksmi yang tengah tertidur dengan tangan diinfus. Menatap wajah Laksmi yang tengah memejamkan matanya. Sudah sejam lebih dia menemaninya, dan Laksmi belum terbangun sejak dia dibawa dari hotel tadi. Daniel merasa khawatir dengan keadaan Laksmi sekarang.
Karena sudah mulai beranjak malam, Daniel berencana mau memberi kabar pada orangtua Laksmi. Dan baru saja dia mau beranjak dari tempat duduknya. Sekilas dia melihat di sudut mata Laksmi keluar tetes mata. Dan Daniel kaget, kenapa matanya terpejam tapi matanya mengeluarkan air mata. Daniel kemudian urung untuk berdiri lagi. Dia kemudian menghapus bulir-bulir air mata yang menetes dari mata Laksmi.
"Laksmi bangunlah, kau mungkin belum makan apa pun dari pagi!" ucap Daniel pelan.
Tidak ada respon dari Laksmi hanya bibir Laksmi yang terlihat gemetar dan membuat Daniel semakin tidak tega melihat keadaan Laksmi yang seperti ini. Apakah karena dia sedang mengandung, dan itu membuat kondisi badan Laksmi yang rentan sakit. Atau apakah ada sesuatu yang membebani pikirannya sehingga dia bisa jatuh sakit seperti ini.
Daniel kemudian merasakan sesuatu yang baru saja menembus hatinya dan mmbuat hatinya berlubang ketika Laksmi kembali lagi menyebut nama Shane.
"Maafkan aku, hikkz, Shane jangan pergi!"
Daniel menyingkirkan rasa sakit hatinya terlebih dahulu, dia kemudian menggenggam tangan Laksmi sambil mencoba membangunkan Laksmi dengan berbisik di telinganya.
"Laksmi, ini Daniel. Sayang bangunlah!"
"Bangunlah Sayang!" ucap Daniel di telinga Laksmi.
Beberapa kali Daniel berusaha membangunkan dan menyadarkan Laksmi dari mimpi buruknya. Dan usahanya berhasil saat kedua mata Laksmi perlahan terbuka. Dan Daniel langsung mengarahkan wajahnya ke dekat Laksmi. Dia ingin Laksmi melihatnya sebagai objek pertama yang dilihatnya.
__ADS_1
"Daniel."
"Iya, kau sudah bangun dan sadar. Syukurlah!" ucap Daniel sambil membelai pipi Laksmi dengan lembut.
"Kau ... kenapa masih di sini?" tanya Laksmi lirih.
"Kenapa tanya. Tentu saja aku akan di sini menemanimu sampai kamu sehat," jawab Daniel. Meski hatinya sedikit terluka. Karena pertanyaan Laksmi membuktikan, kalau sebenarnya dia sudah tahu dan sadar kalau Daniel membawanya ke rumah sakit,menemaninya di periksa dokter. Dan dia bertanya kenapa Daniel masih berada di sisinya. Apakah dia berharap Daniel segera pergi?.
"Tidak usah, kau pergi saja. Biar aku ditemani Ajeng, panggil dia saja!" jawab Laksmi mencoba mengalihkan pandangannya. Dia mencoba menghindari kontak mata dengan Daniel.
"Aku kan calon suami mu, tentu aku akan ...."
"Aku mohon, tinggalkan aku. Dan beritahu Ajeng kalau aku ingin ditemaninya!" jawab Laksmi.
"Ajeng sepertinya sedang pergi ke luar dengan Raka. Biarkan mereka bersama dulu. Aku tahu mereka juga dalam keadaan sedang saling melepas rindu. Tidak bisakah kamu membiarkan mereka berdua dulu. Di sini kan bisa aku yang menemanimu," jawab Daniel mencoba untuk bersikap santai dan gentle, meski sebenarnya hatinya merasa terluka dan harga dirinya direndahkan.
"Aku tidak siap, beri aku waktu untuk menyesuaikan ini Daniel. Please!" jawab Laksmi dengan sedikit tertahan suaranya.
"Kalau begitu aku akan menghubungi papamu dan memberi tahu kalau kau dirawat di sini," kata Daniel kemudian menelepon Kevin Liu untuk memberitahu kalau putrinya di rumah sakit.
Laksmi membiarkan Daniel menelepon orangtuanya itu. Dia masih tidak mau melihat Daniel. Dia benar-benar tak ingin melakukan kontak mata dengan Daniel.
Daniel menyadari itu dan sedikit membuatnya gemetaran. Tapi dia tidak ingin menunjukkan dirinya lelaki lemah di depan Laksmi.
"Pak, Laksmi dirawat di RS Harapan. Bisakah Bapak kemari!" Daniel menelepon papa Laksmi.
"...."
Setelah menelepon Kevin Liu. Daniel kemudian menyampaikan pesan papanya pada Laksmi.
"Sebentar lagi papa mama mu datang kemari. Apa kau yakin kau tidak mau aku menemanimu?" tanya Daniel.
Laksmi merespon dengan anggukan kepala dengan cepat.
"Baiklah, aku akan menungggumu di depan ruangan ini, kalau kau butuh sesuatu. Aku ada di depan," kata Daniel kemudian berdiri dan meninggalkan Laksmi sesuai permintaan Laksmi. Meskipun dia tidak mau meninggalkan rumah sakit.
Laksmi kemudian menatap punggung Daniel yang keluar dari ruangan dia dirawat. Dengan tatapan sedih dan terluka Laksmi kemudian menangis terisak. Terlihat jelas kalau dia sedang menyesali sesuatu. Dan dia memang seperti terbebani oleh sesuatu.
Sementara Daniel termenung duduk di kursi tunggu tepat di depa ruangan Laksmi. Dia memegang dadanya yang terasa sesak. Dia merasakan hal yang tidak masuk akal. Kenapa hatinya sakit sekali. Dan kenapa dia cemburu pada orang yang sudah meninggal. Harus bagaimana dia menghadapi ini semua. Cemburu karena Laksmi memanggil nama orang yang masih berada di hatinya. Meskipun orang yang disebut itu sudah tidak ada di dunia ini. Tetap saja Daniel merasa sakit dan cemburu.
__ADS_1