Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Telepon dari Laksmi


__ADS_3

"Kau kan belum tahu siapa yang mau menikahimu Nak," ucap Kevin Liu berusaha merubah niat Laksmi.


"Tidak perlu Pa, karena Laksmi memang tidak mau menikah. TITIK," jawab Laksmi kontan membuat Daniel ingin pingsan.


"Laksmi, kau tidak boleh bicara seperti itu. Pokoknya kamu harus menikah bulan ini juga, dan kamu harus pulang dalam minggu ini juga. Kalau tidak Papa tidak akan mengakui kamu lagi sebagai putri Papa, mengerti!" kata Kevin Liu sambil menutup sambungan teleponnya. Awalnya manis dan rupanya percakapan dua ayah anak itu berujung perselisihan.


 


 


"Pak, saya harus bagaimana?" tanya Daniel dengan nada kecewa.


"Kau sungguh mencintai Laksmi kan, bukan perasaan sesaat?" tanya papanya Laksmi.


"Iya Pak, aku mencintainya."


"Kalau begitu aku akan memaksa Laksmi menikah denganmu. Laksmi sebenarnya orangnya penuh kasih sayang, namun karena hatinya yang belum bisa melupakan Shane, jadi dia begitu. Apa kau bisa tahan dengan itu semua?" tanya Kevin Liu.


"Aku bisa Pak, aku akan mencoba membuat Laksmi juga mencintaiku." Daniel begitu mantap. Meskipun dia sendiri belum tahu bagaimana caranya memikat Laksmi untuk bisa menyukai dan mencintainya.


"Kalau begitu, dalam minggu ini kita akan gelar pernikahan kalian," kata Kevin Liu membuat hati Daniel berbunga-bunga kembali.


"Apakah Laksmi akan pulang ke Jakarta?" tanya Daniel.


"Dia pasti pulang," jawab Kevin.


"Kalau begitu aku akan mempersiapkan segalanya," kata Daniel.


 


 


Kevin Liu tersenyum melihat keseriusan Daniel.


"Oke, undang orangtua mu untuk makan malam dengan keluarga saya!" kata Kevin Liu.


"Baik Pak, saya dengan senang hati dan merasa tersanjung, tapi Pak," ucap Daniel ingin menyampaikan sesuatu pada Kevin Liu. Yaitu segala kekurangannya.


 


 


"Saya hanya berasal dari keluarga sederhana, Mama dan Papa saya hanya seorang dosen sebuah universitas, apakah Bapak tidak keberatan dengan status sosial keluarga saya?" tanya Daniel ragu dan malu.


"Itu tidak jadi masalah, mau kamu berasal dari keluarga apa pun, yang penting kamu punya niat untuk membahagiakan putriku. Lihat saja dia, Laksmi mempunyai segalanya dari saya, tapi apa dia terlihat bahagia. Kamu tidak usah khawatir, saya percaya kamu orangnya bertanggungjawab dan bisa membahagiakan Laksmi bukan dari berapa banyak materi dan hartamu, tapi cinta tulus untuknya."


 


 


Daniel tersenyum puas mendengar pernyataan Kevin Liu yang seolah menjadi angin penyegar di padang pasir tandus. Sore itu Daniel pulang dari kantor Kevin Liu dengan perasaan senang dan lega campur waswas. Senang dan lega karena mendapat restu dari papanya Laksmi. Tapi sekaligus waswas karena Laksmi ternyata sangat sulit dia taklukan.


 


 


***   ***  ***


 


 


Hari minggu siang, Raka kedatangan Daniel di rumahnya. Wajah Daniel yang tampak sumringah sudah tertebak Raka. Pasti dia akan membawa kabar bagus.


 

__ADS_1


 


"Pak, sebentar lagi aku akan menikah," kata Daniel sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


 


 


Raka mendengar kabar bagus itu tentu saja kaget campur senang. Akhirnya Kudaniel alias Baboon akan menikah juga.


"Jadi Papanya Laksmi merestuimu?" tanya Raka.


"Iya, minggu ini kita akan pertemuan keluarga," jawab Daniel.


"Wah langsung ngebut nih, kok aku jadi ngiri," kata Raka mengusap dadanya.


"Ngiri kenapa, kan Bapak sudah?" tanya Daniel.


"Aku mau nikahnya itu meriah Niel. Kan kemarin aku cuma nikahnya siri?" kata Raka.


"Oh iya ... itu juga dalam rumah.Hehehe."


"Berarti alamat kamu duluan nih yang nikah," tukas Raka.


"Bisa jadi -bisa jadi," kata Daniel nyebelin membuat Raka teriak kesal.


"Huaaaaaa. Terus aku kapan?"


"Kita nikah massal aja yuk Pak, biar rame," seru Daniel.


"Eh apaan, ogah aku mau sama Ajeng nanti nikahnya di Hotel Mahesa di Bali," khayal Raka sudah membayangkan.


"Khayal dulu aja Pak,gratis," ejek Daniel sambil tubuhnya bergetar karena ada sesuatu yang bergetar di saku celananya.


"Eh ada telepon rupanya, hah ini kan nomor dia," kata Daniel menunjukkan layar ponselnya pada Raka.


 


 


 


"Apaan .. pphhhhhfff." Raka tertawa melihat nama kontak yang ditulis Daniel.


"Sebentar Pak, aku mau angkat telepon dari calon istriku dulu!" ujar Daniel kemudian berdiri dan meninggalkan Raka yang terlihat sebal.


 


 


"Halo!" sapa Daniel pelan. Grogi karena calon istri menelepon.


"Halo, ini nomor Daniel?" kata Laksmi bertanya.


"Iya ini aku," jawab Daniel dengan wajah merona seperti bunga mawar merah yang merekah.


"Aku menelepon karena ada sesuatu yang harus aku beritahukan padamu," kata Laksmi langsung pada inti.


"A-apa itu?" tanya Daniel deg-degan. Sampai saat ini memang Laksmi belum pernah menghubunginya setelah kejadian di Berlin itu.


"Aku hamil."


 


 

__ADS_1


Daniel tidak kaget mendengarnya karena dia juga sudah tahu. Tapi dia merasa heran karena Laksmi baru mengatakannya sekarang.


"Aku mau dijodohkan Papaku. Dan aku tidak mau menikah. Tapi ...."


 


 


Daniel terhenyak. Bukankah papanya Laksmi tidak memberitahu siapa yang ingin menikahi Laksmi.


"Aku pasti akan dipaksa oleh Papaku untuk menikah, padahal kondisiku saat ini sedang hamil anakmu Niel," kata Laksmi.


 


 


Daniel merasa bingung harus menjawab apa.


"Kenapa kamu diam Niel, kamu harus tanggungjawab!"ucap Laksmi.


"A-aku mau tanggungjawab kok sayang, eh Laksmi," kata Daniel.


"Kalau begitu, aku akan kenalkan kamu dengan Papaku, aku tidak mau menikah dengan lelaki lain. Apalagi aku sudah hamil anakmu. Laki-laki itu akan marah dan Papa pasti malu. Jadi kau harus menikahiku!" kata Laksmi membuat hati Daniel jadi kembang kempis.


"Mm-maksudmu aku ...."


"Kalau kamu tidak mau, aku akan menggugurkan kandungan ini," ancam Laksmi.


"Ja-jangan, itu anakku. Aku akan menikahimu sayang, eh Laksmi," jawab Daniel bingung. Bingung karena rupanya Laksmi belum diberi tahu siapa laki-laki yang melamar ke papanya. Apa dia harus memberi tahu kalau pria yang akan dinikahkan dengannya adalah dirinya sendiri.


"Kalau begitu, aku akan pulang ke Jakarta, dan kita akan menemui Papaku!" kata Laksmi.


 


Daniel mau saja dia memberitahu soal itu. Tapi Laksmi malah keburu menutup sambungan teleponnya.


"Aduuh, kenapa cepat dimatiin sih teleponnya, aku kan baru mau bilang kalau yang mau menikahinya itu aku, huuft. Ya sudahlah biar nanti dia tahu sendiri," kata Daniel sambil tersenyum.


"Kenapa?" tanya Raka penasaran.


"Laksmi ngajak aku cepat-cepat menikah!" kata Daniel menambah bumbu ceritanya.


"Masa sih, ah aku enggak percaya," ujar Raka.


"Dia mau pulang minggu ini ke Jakarta untuk ketemuan sama aku," jawab Daniel.


"Apaaaa dia mau pulang!" teriak Raka histeris.


"Kenapa emangnya?"


"Apa Ajeng ikut pulang ya?" tanya Raka.


"Tanya saja sama kamu!" jawab Daniel. Mode on friendship.


"Kalau enggak ikut pulang, dia nanti sendirian di LA," kata Raka cemas.


"Eh tapi, Laksmi enggak tahu kalau dia mau dinikahi sama aku oleh papanya, jadi ceritanya dia mau menolak permintaan Papanya dan mengajak aku untuk bertemu papanya dan ingin menikah denganku. Bukankah itu lucu?" kata Daniel.


"Apa, jadi begitu? kalau begitu biarkan saja menjadi kejutan untuknya!" kata Raka.


"Iya betul, dia pasti kaget."


"Tapi ... kalau dia pulang bagaimana dengan Ajeng, dia bisa pulang enggak ya?" tanya Raka menjadi galau.


Bersambung ....

__ADS_1


Ayo dong votenya. Komen dan like ya jangan lupa!


__ADS_2